
Livia memasuki kamarnya saat jarum jam sudah menunjuk pada angka sembilan malam. Gelap dan hening. Hanya itu yang kini menyambut kedatangan Livia. Dia baru saja datang setelah mengantarkan kakek Banu ke rumah sakit dan memastikan jika tidak terjadi masalah yang serius pada laki-laki tua itu.
Livia menghembuskan napasanya kasar sambil menghidupkan lampu kamar, tetapi pergerakannya kini terhenti dengan tubuh yang tiba-tiba saja terasa kaku. Di depannya kini bukanlah seperti kamar yang selama ini telah dia tinggali bersama Daniel, ini terlalu berbeda hingga butuh beberapa saat untuknya meyakinkan diri jika itu memang kamarnya dan Daniel.
Barang-barang yang jatuh dan pecah hingga hancur memenuhi semua lantai yang sebelumnya dia tinggalkan dalam keadaan bersih bahkan tanpa ada setitik debu pun yang dia biarkan menempel di sana. Buku, pajangan, guci, dan bunga yang berserakan membuat kepalanya kini mulai terasa pening kembali dengan segala masalah yang ada di dalam rumah ini. Angan-angannya untuk segera membersihkan diri dan beristirahat setelah pulang ke rumah, kini sirna sudah. Ternyata keadaan di dalam kamarnya tidak lebih kacau dari semua yang sudah terjadi hari ini.
Suara botol kaca yang menggelinding pun mengalihkan perhatiannya, dia menatap ke arah sofa tempatnya biasa tidur, kini Livia kembali melihat dengan jelas, tumpukan botol minuman keras, dengan Daniel yang kembali terlihat mabuk hingga hampir tidak sadar.
"Dasar brengsek!" geram Livia sambil mengepalkan tangannya erat, wajahnya yang tadi tampak lelah kini terlihat memerah dengan pembuluh darah di tengah alisnya terlihat jelas.
Livia sudah tidak bisa bersabar lagi dengan semua kebiaan buruk Daniel yang terus melampiaskan kemarahannya pada minuman keras dan mabuk. Dia tahu bagaimana bahayanya minuman itu, bahkan Andrew saja sampai melarang semua keluarga dan anggota mafia untuk meminum minuman haram itu.
Namun, kini dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, seseorang yang sudah terlanjur bergantung dengan minuman keras setiap kali mendapatkan masalah. Menjadikan minuman itu sebagai obat untuk rasa sakit yang dia derita, tanpa tahu apa akibat yang mungkin bisa dia dapatkan dari semua itu.
"Sialan!" Livia berjalan cepat menghampiri Daniel yang tengah duduk bersandar di kursi dengan tubuh yang hampir ambruk dan kepala menunduk dalam. Amarah yang sejak tadi berusaha Livia tahan kini sudah hampir sampai di ubun-ubun akibat ulah Daniel.
Plak!
Satu tamparan kencang berhasil Livia daratkan di pipi sebelah kiri Daniel, hingga laki-laki itu langsung menoleh ke samping dengan tubuh yang oleng.
"Dasar pengecut! Untuk apa kamu melampiaskan penderitaanmu pada minuman seperti ini, heh? Dari pada begini, lebih baik kamu bunuh diri saja sana!" sentak Livia sambil kembali melayangkan tangannya untuk menampar Daniel lagi.
__ADS_1
Namun, pergerakannya terhenti ketika Livia melihat Daniel yang tak melawan dan kini malah duduk meringkuk sambil terisak, persis seperti seorang anak yang kehilangan arah. Perlahan Livia mengendurkan ototnya di lengan dan menurunkan tangannya hingga kini menjuntai di sisi tubuhnya.
"Terus aku harus bagaimana lagi? Di sini terlalu sakit." Daniel menepuk dadanya sambil meringis seolah benar-benar ada luka di sana.
"Aku bingung harus mengeluh pada siapa, sementara aku adalah sandaran di keluarga ini. Aku adalah anak pertama dan tulang punggung keluarga yang tidak boleh terlihat lemah di depan orang lain." Daniel berbicara disertai isak tangis lirih dan air mata yang mengalir begitu saja.
Livia terdiam, tangannya tiba-tiba saja terasa lemas dengan hati yang juga terasa perih. Entah mengapa dia seperti bisa ikut merasakan kesedihan Daniel. Kebahagiaan yang harusanya ada di saat melihat Daniel hancur, kini malah berganti dengan rasa sesak di dalam dada.
Livia mendongak, mencoba meredam rasa panas di kelopak mata dan air yang mulai membendung di pelupuk.
Tidak, Livia. Jangan begini. Seharusnya kamu bahagia, bukan malah ikut menangis bersama dengan laki-laki yang telah membunuh seluruh keluargamu, batin Livia mencoba memupuk kembali dendam yang bersarang di dalam dada.
Setelah merasa lebih tenang dan sesak di dalam dadanya mulai menghilang, Livia kini kembali menatap wajah sendu Daniel, dia kemudian menarik Daniel dan membawanya menuju ke kamar mandi.
Livia kemudian membuka kran shower itu hingga kini air dingin perlahan membasahi tubuh Daniel dan dirinya sendiri yang masih berdiri di dekat kaca.
"Mabuk seperti ini, tidak akan membuat kamu lepas dari masalah. Minuman itu malah nisa membuat kamu mendapatkan masalah baru," ujar Livia sambil tetap berdiri dengan bersidekap dada. Dia sama sekali tidak perduli dengan tubuhnya yang ikut terciprat oleh air shower.
"Dingin ... dingin ...." Setelah lebih dari setengah jam mengguyur tubuh Daniel, kini laki-laki itu mulai sadar dan menggigil.
"L--Livia? Tolong aku, dingin," ujar Daniel lagi dengan mata yang masih merah dan suara bergetar. Walau begitu, Livia tahu jika pengaruh alkohol di tubuh Daniel sudah mulai berkurang.
__ADS_1
"Ayo bangun, kamu harus segera ganti baju." Livia perlahan menurunkan tubuhnya yang juga mulai merasa dingin, tetapi dia berusaha untuk menahannya. Livia kemudian membantu Daniel untuk bangun dan memapahnya menuju walk in closet.
Livia membawa Daniel menuju kursi yang ada di sana kemudian menuntunnya untuk duduk. Dengan tujuan gemetar Daniel pun menurut dan duduk di sana. Namun, ketika Livia hendak berdiri untuk mengambil handuk dan baju ganti Daniel, laki-laki itu tiba-tiba menahan tubuhnya, hingga Livia kembali menatap wajah Daniel dengan kening berkerut cukup dalam.
"Kamu juga basah, pasti kamu juga kedinginan." Daniel kini menyadari keadaan Livia. Namun wanita itu menggeleng kepala sambil melepas tangan Daniel dari tubuhnya.
"Aku tidak apa-apa," jawab Livia sambil mulai menegakkan lagi tubuhnya.
"Aku ambilkan handuk dulu, kamu tunggu di sini," ujar Livia sambil kembali berjalan menuju lemari yang biasanya berisi handuk bersih dan jubah mandi. Dia kemudian mengambil baju Daniel dan menyiapkannya.
"Kamu ganti baju dulu, biar aku ganti di kamar mandi," ujar Livia setelah menyiapkan semua keperluan Daniel.
Namun, ketika Livia baru saja membawa kakinya satu langkah menjauh dari Daniel, suaminya itu lebih dulu mencekal tangannya hingga dia terpaksa menghentikan langkahnya dan berbalik kembali untuk menatap Daniel.
Daniel tampak menatap Livia dengan sorot mata yang rumit, hingga Livia bahkan tidak bisa untuk mengartikannya. Dia kemudian tersenyum tipis sebelum akhirnya berkata dengan nada suara yang terdengar tulus. "Terima kasih."
Deg!
Livia hampir saja tersedak salivanya sendiri ketika mendengar kata-kata ajaib yang tiba-tiba saja ke luar dari mulut pedas dan arogan Daniel. Selama dia bekerja di sini dan kini menjadi istrinya, sepertinya baru kali ini, Livia mendapatkan kata sederhana itu.
Livia hanya mengangguk sebagai jawaban kemudian memilih segera pergi dari sana. Entah kenapa, hatinya terasa terus berdebar. Livia bahkan sampai memegangi dadanya tepat pada bagian jantung, untuk meredam debar yang semakin cepat saja.
__ADS_1
Ada apa denganku? Kenapa bisa seperti ini?