Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.46 Mulai dekat


__ADS_3

"Aku yakin kamu bukanlah mantan TKW biasa, Livia. Katakan sekarang, siapa kamu sebenarnya?!" sentak Karlo.


"A--aku." Livia sengaja mengantung perkataannya, dia kemudian membungkukkan tubuhnya dengan kaki mengunci kaki Karlo kemudian sedikit mengangkat tubuh laki-laki itu dengan sedikit gerakan kaki dan bantuan beban tubuhnya sendiri, hingga akhirnya Livia berhasil membanting tubuh Karlo.


"Argh!" Karlo mengerang menahan sakit di sekitar punggungnya hingga pinggang karena mendarat tepat di lantai tanpa aba-aba. Tatapan curiga kini semakin dalam pada Livia, dia semakin yakin jika Livia bukanlah wanita sembarangan. Buktinya, Livia bahkan dengan mudah menjatuhkannya yang tentunya memiliki ilmu bela diri yang tidak akan mudah dikalahkan oleh seorang wanita biasa.


"Aku adalah istri Daniel. Jika ingin tau ebih dalam, cari tau sendiri, jangan seperti preman yang hanya bisa mengancam seorang perempuan," ujar Livia kemudian memilih segera pergi dari sana, meninggalkan Karlo yang masih duduk di lantai dengan rasa sakit di punggungnya dan kecewa karena tak berhasil mendapatkan hasil yang dia mau.


"Dia benar-benar membantingku, bahkan tanpa melihat kalau aku sudah tidak muda lagi. Akh, pinggangku!" Karlo berteriak menahan sakit ketika dia berusaha untuk bangun, tubuhnya yang sudah jarang dilatih kini merasa sakit hanya karena satu kali dibanting oleh seorang perempuan seperti Livia.


Dengan susah payah dan tangan berpegangan erat pada pembatas tangga, Karlo yang sudah tidak muda itu pun berusaha berjalan menaiki satu per satu anak tangga. Sesekali ringisan menahan sakit terdengar darinya.


...❤️‍🔥...


"Bagaimana keadaan kakek sekarang?" tanya Daniel untuk yang ke sekian kalinya, dia baru saja pulang dari kantor dan menyempatkan diri untuk datang ke rumah sakit lebih dulu sebelum pulang.


"Semakin parah, dia terus saja melupakan sesuatu yang baru saja terjadi, dan mulai sulit untuk dibujuk makan. Dia terus saja menceritakan masa mudanya dan Tuan Karsa pada setiap waktu," jelas Karlo yang terus mendampingi kakek Banu di rumah sakit.


Daniel menatap ke arah dalam ruang rawat kakek Banu melalui kaca kecil di pintu, dia melihat masih ada Livia di dalam yang sedang duduk dengan pandangan tak lepas dari kakek Banu yang tampak sudah tertidur.


"Livia masih di sini?" tanya Daniel, dia merasa khawatir karena kini berarti Mami Luci hanya sendiri di rumah.


"Iya. Tadi, dia membawakan makan malam untuk Tuan besar, katanya itu masakan Nyonya Luciana," jawab Karlo.

__ADS_1


"Oh," angguk Daniel, kemudian berjalan masuk ke dalam ruang rawat kakek Banu.


Sementara itu, Livia tengah menatap wajah yang sudah dipenuhi dengan keriput dengan sorot mata yang sangat rumit dan sulit untuk diartikan. Kedua tangan yang dia simpan di atas pangkuan pun terlihat mengepal kuat, menahan berbagai rasa yang kini semakin mendesak hingga terasa perih di dalam dada.


"Kamu belum boleh mati kakek tua, kamu harus melihat keluargamu hancur dan perusahaan yang kamu banggakan itu berpindah tangan menjadi milikku, dan itu karena kebodohan cucu kebangganmu," gumam Livia dengan suara yang sangat lirih hingga orang lain tak bisa mendengarnya.


"Berusahalah untuk sembuh, Tuan," gumam Livia lagi dengan suara yang lebih kencang, saat telinganya mendengar suara pintu terbuka.


Dia kemudian menoleh pada pintu masuk, senyum tipis terukir di bibir merah mudanya ketika melihat Daniel yang berjalan menghampirinya. Livia pun hendak beranjak agar kursinya bisa digunakan oleh Daniel, tetapi laki-laki itu lebih dulu menekan pundak Livia agar wanita itu tetap di sana.


"Kamu masih di sini?" tanya Daniel memilih berdiri di samping Livia dengan tangan tak lepas dari pundak wanita itu.


"Heem," angguk Livia.


Hanya sekitar sepuluh menit mereka berada di dalam sana, hingga akhirnya Daniel mengajak Livia untuk pulang bersama. Keduanya pun tampak berjalan bersama menyusuri koridor rumah sakit hingga sampai di parkiran. Sesekali Daniel tampak mencuri pandang pada Livia yang berjalan di sampingnya.


"Kamu tinggalkan saja mobilnya dan ikut di mobilku, biar nanti orang rumah yang aku suruh ambil ke sini," ujar Daniel ketika mereka sudah sampai di parkiran.


Livia mengangguk dan memilih masuk ke mobil yang dibawa oleh Daniel. Mereka berdua pun akhirnya pulang menggunakan mobil yang sama.


...❤️‍🔥...


"Kamu tidak bisa memecat anakku begitu saja, Daniel! Awas saja, aku akan melaporkan semua ini sama kakekmu!" teriak Murti ketika Daniel baru saja turun dari mobil. Tampaknya wanita paruh baya itu sudah menunggunya pulang sejak lama.

__ADS_1


"Julio terbukti melakukan korupsi dan menyalahgunakan kekuasaan di perusahaanku. Jadi, sebagai CEO apa lagi yang harus aku lakukan selain memecatnya?" ujar Daniel dengan wajah santainya.


"Dia datang ke sini atas perintah kakekmu, jadi tidak ada orang yang bisa memecatnya dari kantor selain kakekmu sendiri!"


"Kamu!" Daniel hampir saja membentak Murti jika saja dia tidak mengingat jika wanita di hadapannya itu masihlah ibu tirinya.


"Kakek sedang sakit, dia tidak bisa lagi mengurus perusahaan. Jadi untuk saat ini akulah yang menggantikannya dan mengambil semua tanggung jawabnya di kantor," jelas Daniel masih mencoba untuk menahan emosinya dan berkata dengan sopan pada wanita yang lebih tua darinya itu, walau kedua tangannya terlihat terkepal erat di sisi tubuhnya.


"Tidak bisa! Pokoknya besok aku akan melaporkan semua perbuatanmu sama kakekmu di rumah sakit." Murti masih saja kukuh dengan pendiriannya.


Daniel mengepalkan tangannya, hatinya menjadi panas kembali karena semua ucapan tak tau diri wanita di depannya. Ingin sekali Daniel memberikan satu pukulan untuk wnaita itu jika saja dia tidak sadar dengan keadaan. Dengan mata merah dan pembuluh darah di lehernya yang menonjol, Daniel membawa kakinya satu langkah mendekat pada Murti, hingga kini meraka hanya tersisa jarak sedikit saja, karenanya Murti harus mendongak untuk melihat wajah Daniel yang memiliki tinggi jauh darinya.


"Silahkan saja kalau berani. Tapi, jika sampai ada apa-apa pada kondisi kakekku, jangan salahkan aku jika tante dan anak tante itu akan benar-benar tinggal di jalanan!" geram Daniel sambil menatap tajam wajah Murti. Dia kemudian memilih untuk melanjutkan langkahnya masuk ke rumah tanpa mau melihat lagi ke belakang.


Livia yang melihat itu semua tampak tersenyum miring, dalam diam dia memperhatikan semua perbincangan dan pergerakan yang Daniel dan wanita itu lakukan di depan matanya sendiri.


"Mari Nyonya," ujar Livia kemudian berjalan cepat menyusul langkah Daniel dengan seringai mengejek di bibirnya. Dia sangat menikmati rasa puas saat melihat Murti dan Julio yang tampak menderita karena ulahnya.


...❤️‍🔥...


"Daniel, Tuan besar ... dia ... dia anfal!" ujar Karlo dari sambungan telepon dengan nada suara yang sangat khawatir dan panik.


"Apa?! Aku ke rumah sakit sekarang!" Daniel yang baru saja sampai di kantor setelah ada rapat di luar pun kembali memutar langkahnya menuju ke rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2