
Livia baru saja sampai di depan meja kepala sekretaris saat tiba-tiba pintu ruangan Daniel terbuka dengan kemunculan Danis di belakangnya. Laki-laki yang terkenal sebagai pemain wanita itu terlihat hanya memakai kemeja yang tiga kancing bagian atasnya terbuka dengan rambut yang terlihat berantakan.
"Kak, sudah datang. Ayo masuk," ujar Danis dengan senyum sumringah.
"Eum," jawab Livia sambil mengekor Danis.
Tadi, sewaktu kepala sekretaris memberitahu kedatangan Livia, kebetulan sekali Daniel sedang ke toilet jadi dia terpaksa menggantikan untuk mengangkatnya. Sungguh, mendengar kedatangan Livia, Danis merasa seperti sedikit memiliki angin segar. Setidaknya Danis berharap kalau Livia bisa sedikit mengurangi sedikit menghibur dan menenangkan kemarah Daniel yang bahkan tak makan dengan benar sejak tiga hari yang lalu.
Sejauh yang Danis tahu, selama ini Daniel tidak pernah lagi bisa terlalu keras pada Livia, entah karena alasan apa. Namun, Danis mengira kalau kakaknya sudah mulai luluh pada sikap Livia.
"Kak, ada Livia datang," ujar Danis begitu dia masuk ke ruang kerja kakaknya yang sudah tiga hari ini menjadi tempat dia memeras keringat dan otak dalam sekali waktu.
Livia tertegun, dia sempat terkejut ketika melihat penampakan ruang kerja suaminya yang jauh dari kata rapih. Ada kertas berkas yang berserakan di atas meja, laptop dan komputer yang menyala, juga baju bekas yang tergantung di sandaran sofa secara tak beraturan.
Ini lebih kacau dari tempat bermain anak-anak, batin Livia menatap seluruh ruang kerja suaminya.
Daniel yang tengah sibuk dengan laptop dan berkas di tangannya kini refleks langsung mengangkat kepala hingga badannya terlihat tegap. Pandangannya terhenti pada manik mata berwarna hitam yang tampak memiliki sorot cukup rumit hingga sulit untuk diartikan, keduanya sempat bertaut walau hanya beberapa detik saja.
Livia menatap wajah lusuh dan lesu juga kalut seorang Daniel, itu terlihat sekali dari penampilan Daniel hari ini. Suami yang selama ini selalu terlihat sempurna itu, kini tak jauh berbeda seperti Danis, keduanya sama-sama kacau.
"Ngapain kamu bawa dia ke sini?" tanya Daniel setelah bisa menguasi dirinya sendiri, kemudian mengalihkan perhatiannya kembali pada berkas dan layar laptop di depannya.
"Aku disuruh mami membawakan makanan untuk kalian berdua," jawab Livia sebelum Danis sempat menjawab pertanyaan Daniel. Dia berjalan menuju ke meja di depan Daniel kemudian menyimpan paper bag di tangannya ke depan laki-laki itu.
Daniel sedikit melirik paper bag yang livia taruh di atas tumpukan berkas yang berserakan kemudian kembali mengalihkan perhatiannya pada berkas di tangannya dengan wajah tak acuh.
__ADS_1
"Bawa kembali atau kamu juga bisa membuangnya. Aku tidak butuh perhatian darimu," ujar Daniel dingin.
Livia terkekeh ringan sambil duduk santai di kursi yang ada di depan Daniel. Sikap Livia, tentu saja membuat Daniel dan Danis kini mengalihkan perhatian mereka pada wanita itu. Kening kedua kakak beradik itu pun tampak bertaut saking terkejut bercampur bingung, melihat sikap Livia yang tampak berbeda.
"Jangan terlalu percaya diri, Tuan. Aku tak setega itu untuk membuang masakan mami Luci. Tapi--" Livia mengelus pelan paper bag itu sambil mengubah wajahnya dengan raut miris.
"Kamu menyuruh ibuku memasak?!" Daniel langsung menggebrak meja sambil melotot tajam ketika Livia bahkan belum sempat menyelesaikan ucapannya.
"Aku tidak pernah bilang kalau mami Luci memasak," jawab Livia tak acuh, seolah dia sedang memutar perkataannya yang tadi.
"Tadi kamu bilang ini masakan mami?" tanya Daniel masih dalam keadaan berdiri di depan Livia dengan mata memerah menahan marah.
"Itu memang masakan mami," angguk Livia bagaikan seorang yang tidak memiliki pendirian hingga membuat Daniel dan Danis bingung karena perkataannya.
"Jadi mami memasak?!" Kini Danis pun ikut bersuara.
"Livia! Kamu jangan membuatku bertambah pusing, atau kamu akan tahu akibatnya! Cepat katakan siapa yang memasak semua ini, heh? Aku akan pastikan kamu ke luar dari rumahku sekarang juga kalau sampai kamu membiarkan mami memasak semua ini!" Daniel sudah sangat geram pada Livia. Pikirannya sedang sangat kacau dengan semua pekerjaan yang menumpuk ini dan sekarang Livia datang malah mmebuatnya harus pusing dengan perkataan wanita itu yang terus berpurat-putar.
"Ya sudah, kalian tinggal makan saja, apa susahnya." Livia kembali berucap acuh sambil mengambil salah satu berkas di atas meja Daniel kemudian membacanya.
"Ck!" Daniel berdecak kesal sambil mengusap wajahnya dengan gerakan kasar. Kepalanya mendongak dengan napas yang memburu karena lelah menahan emosi, sedetik kemudian kedua tangannya kini bertumpu di sisi meja dengan tubuh membungkuk hingga wajahnya hanya tinggal berjarak beberapa sentimeter saja dari wajah Livia.
Livia terdiam, dia membalas tatapan Daniel dengan santainya, walau kemudian dia memilih memundurkan tubuhnya hingga menempel pada sandaran kursi dengan wajah yang dia halangi menggunakan kertas di tangannya.
Tidak! Ini tidak bisa dia biarkan. Tiba-iba saja, jantungnya terasa berdebar begitu cepat, ketika hembusan napas hangat beraroma mint itu terasa menyentuh muka hingga sedikit rambutnya. Livia memejamkan mata sambil sedikit menundukkan kepala, berusaha menenangkan debar jantung yang begitu mengganggunya ini.
__ADS_1
Sial! umpatnya dalam hati.
"Danis, siapkan makanan ini sekarang, kita akan memakannya!" ujar tegas Daniel tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas di depan wajah Livia.
"Siap, Kak!" jawab Danis sambil beranjak dan mengambil paper bag di atas meja lalu membawanya ke pantry.
Daniel menatap kepergian adiknya dengan posisi yang sama hingga kemudian menutup pintu. Dia menyeringai tipis pada kertas di depan wajah Livia seolah sedang menatap wajah wanita itu kemudian kembali duduk tenang dengan tatapan yang tak teralihkan.
Livia perlahan menurunkan kertas di tangannya ketika merasakan sudah tidak ada hembusan napas lagi yang terdengar. Matanya melirik sedikit wajah suaminya yang sudah kembali memperhatikan layar laptopnya.
Ish, dasar aneh! batin Livia berdecak lirih.
"Ekhm!" Livia berdehem cukup kencang sambil kembali menegakkan tubuhnya dan mengambil salah satu berkas yang ada di sana.
"Aku mengenal seseorang yang mungkin bisa membantumu untuk menjadi investor, kalau kamu mau aku bisa bicara dengannya," ujar Livia tiba-tiba.
"Jangan sok tahu. Kamu hanya seorang mantan perawat bukan perja di perusahaan, mana ngerti dengan masalah seperti ini," jawab Daniel tak percaya dengan ucapan Livia.
Livia mengedikkan bahu acuh sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kemudian memilih mengalihkan pandangan ke sembarang arah.
"Aku hanya menawarkan, kalau kamu tidak mau, ya sudah!" ujar Livia dengan wajah tak perdulinya.
Daniel mengerutkan keningnya, dia kemudian melirik Livia dengan sorot mata yang rumit. Walau dirinya tidak percaya dengan ucapan Livia, tetapi kebutuhan dan rasa lelah yang sudah mendera membuatnya cukup penasaran dengan perkataan Livia.
Apalagi ketika Daniel mengingat tempat kerja Livia sebelum bekerja di rumahnya yang bahkan tidak pernah tahu dimana pastinya. Mungkin saja pengusaha yang ingin Livia kenalkan padanya adalah mantan majikannya. Jika benar, bukankah Daniel bisa mencari tahu tentang Livia darinya, sekaligus mendapatkan investor baru.
__ADS_1
"Siapa dia?"