
Daniel tampak duduk bersila dengan kepala menunduk dalam bersama Danis, Livia, dan Mami Luci, di sampingnya. Baju koko yang dia pakai membuatnya tampak berbeda dari biasanya. Begitu juga dengan Livia. Wanita itu tampak memakai kerudung pasmina untuk menutupi rambutnya. Pasmina berwana senada dengan gamis dan baju koko Daniel itu terlihat sangat cocok di kulit putihnya.
Hari ini adalah hari ketujuh setelah meninggalnya kakek Banu dan hari terakhir mereka mengadakan pengajian untuk almarhum kakek Banu. Selama seminggu ini, suasana berduka sangat kental terasa di rumah besar keluarga Hartoyo itu. Semua orang jarang sekali melakukan aktifitas di luar kamar, hanya sesekali Livia tampak berjalan mondar-mandir karena sibuk melayani suami dan ibu mertuanya. Daniel dan Danis pun tak pernah berangkat ke kantor. Mereka hanya akan bekerja dari rumah.
Walau mereka bukanlah keluarga yang taat beragama, tetapi setiap malamnya selalu banyak orang yang datang untuk mengikuti pengajian rutin itu. Seperti saat ini, tamu yang hadir sudah memenuhi tenda yang masih terlihat berdiri di depan rumah keluarga Hartoyo. Mulai dari anak-anak sampai para tetua di sekitar rumah dan beberapa tamu dari teman-teman kakek Banu yang masih hidup pun ada di sana.
Livia terdiam dengan mata yang memanas dan air membendung di pelupuk. Pengajian ini, seperti sedang mengorek luka lamanya sekaligus menampar keras ke dalam relung hatinya. Dia selalu teringat semua jenazah keluarga dan para pekerja rumahnya dulu, yang entah dimakamkan di mana. Livia sadar, dia memang bukan orang yang taat beragama, bahkan sebelum menikah dengan Daniel, dirinya mungkin bisa dikatakan tidak memiliki agama. Namun, kini perlahan dia bisa mengingat saat dulu waktu kecil, ibunya sering memakaikan dirinya kerudung dari selendang kecil seperti sekarang ini.
Setiap kali dia berada di tengah pengajian itu, dadanya terasa begitu sesak, seolah ada banyak belati yang tengah menusuknya dengan sangat keras. Livia harus terus menahan segala rasa sakitnya hanya untuknya sendiri, di sini, tidak ada yang tahu luka lamanya. Tidak ada yang tahu bagaimana sulitnya dia berjuang untuk tetap hidup di dunia ini, hingga merasa kehidupan ini adalah bagian dari hukuman yang Tuhan berikan untuknya.
Maafin, Via, Mamah, Ayah, Kakak. Via masih gak bisa nemuin makan kalian semua, batin Livia sambil mendongakkan kepala, menahan air yang hampir saja lolos dari pelupuk matanya.
... ❤️🔥...
Waktu hampir menunjukkan pukul dua belas malam ketika Livia baru saja melangkahkan kakinya menaiki setiap anak tangga rumah besar keluarga Hartoyo itu untuk menuju kamarnya dan Daniel di lantai dua. Akhirnya setelah tujuh hari berturut-turut harus terus memaksakan diri untuk selalu kuat dalam menahan lelah tubuh dan juga hatinya, kini hanya satu harapannya begitu sampai di dalam kamar.
Tidur. Satu hal yang beberapa hari ini sangat sulit untuk dia dapatkan. Setiap kali dia menutup mata, selalu ada mimpi tentang kejadian berpuluh tahun lalu yang membuat dirinya kembali terbangun dan tidak bisa kembali menutup mata.
__ADS_1
Rasa sakit karena dirinya menjadi satu-satunya orang yang hidup dari keluarga Gasendra membuat luka di dalam hati Livia semakin besar. Apa lagi, sampai saat ini, dia belum juga menemukan di mana makan semua anggota keluarga dan pekerja rumahnya. Sementara bekas rumahnya yang dulu, kini sudah dijadikan sebuah gedung, yang dua tahun lalu sudah berhasil Livia beli lagi.
Livia tersenyum ketika mendapati tak ada Daniel di kamar itu. Entah ke mana laki-laki itu sekarang, dia sama sekali tidak perduli. Mungkin sekarang Daniel sedang menghabiskan waktunya di kamar kakek Banu, seperti malam-malam sebelumnya. Laki-laki yang sudah berstatus sebagai suaminya itu selalu kembali ke kamar ketika hampir subuh setelah semalaman tinggal di kamar kakeknya.
Daniel selalu berpesan tak mau diganggu. Livia yang sudah lelah memberikan pengertian pada Daniel, kini dia memilih untuk mengacuhkan laki-laki itu, asalkan dia tidak menyentuh lagi minuman beralkohol. Dengan membiarkan Daniel untuk berdiam diri di kamar kakek Banu, dirinya tak harus memperlihatkan kelemahannya pada laki-laki itu.
Setelah mengganti pakaian dengan baju tidur, Livia langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa yang masih menjadi tempat tidurnya. "Aku mohon, untuk malam ini biarkan aku tidur tenang sampai besok pagi," ujarnya sebelum akhirnya menutup mata dengan hembusan napas pelan.
...❤️🔥...
Namun, kini ada yang berbeda, matanya kini beralih pada meja kerja kakek Banu yang masih terlihat rapih dengan laptop dan ponsel di atas sana. Ya, saat dia dibawa ke rumah sakit, laki-laki tua itu sudah jarang sekali menggunakan ponselnya, hingga di saat dia meninggal Karlo menyerahkan barang terakhir yang dipegang oleh kakek Banu itu padanya.
Perlahan dia beranjak dari sofa tempatnya duduk sejak beberapa jam lalu, kemudian beralih pada kursi kerja kekek Banu yang terlihat masih terawat dengan baik sampai sekarang. Tangannya mengambil ponsel yang sudah satu minggu ini hanya dibiarkan tergeletak begitu saja.
Dia melihatnya dengan seksama hingga akhirnya mencoba untuk menyalakannya, tetapi sanyang sekali ponsel itu ternyata sudah habis daya. Daniel akhirnya memutuskan untuk mengisi daya lebih dulu sebelum mencoba menyalakannya lagi.
Daniel kini beralih pada laptop di depannya, dia mencoba membuka dan menyalakan benda itu. Ternyata, berhasil menyala. Daniel tersenyum saat melihat laptop itu pun tak dikunci, hingga mudah untuknya mengoprasikan benda canggih itu.
__ADS_1
Laki-laki itu tampak menggeleng lemah dengan mata berkaca-kaca, ketika melihat layar utama laptop kakek Banu yang masih menggunakan foto dirinya yang masih kecil bersama dengan almarhumah neneknya.
"Kakek pasti sekarang udah seneng karena udah bisa ketemu sama nenek, ya? Udah gak kangen lagi sama nenek," gumam Daniel dengan tatapan tetap ada layar laptop di depannya.
Perlahan, tangannya mulai membuka beberpa file yang tersimpan di sana, mulai dari foto dan video jaman dulu yang ternyata masih tersimpan dengan rapih, hingga tiba-tiba saja tubuhnya menegang ketika melihat sebuah video yang menunjukan sebuah acara ulang tahun gadis kecil dengan gaun pesta berwarna merah muda.
"Olivia Aymar Gasendra?" gumam Daniel dengan wajah yang memucat dan ingatan yang dipaksa untuk kembali pada masa lalu. Apa lagi dia bisa melihat sendiri jika dirinya dan Danis ada dalam video itu dengan senyum ceria.
"Kenapa aku bisa lupa nama lengkap Oliv --anaknya om Pras?" Kerutan di kening Daniel tampak terlihat sangat dalam hingga alisnya hampir bertaut.
"Kenapa nama Oliv sama seperti nama Livia? Apa mungkin--" Ucapan Daniel dengan mata melebar itu terhenti ketika sebuah pikiran melintas di kepalanya.
"Enggak, enggak mungkin dia Oliv. Oliv adalah gadis kecil yang sangat ceria dan manja, Livia jelas sangat jauh berbeda dengan Oliv." Daniel menggeleng lemah dengan jantung yang berdebar hebat. Ingatan tentang masa kecil menjelang remajanya, di saat dia bertemu dengan gadis kecil yang memiliki sipat periang dan sedikit manja itu pun berputar bak sebuah film.
Daniel lupa, jika kehidupan bisa merubah seseorang. Manusia tidak mungkin tetap sama ketika sudah beranjak dewasa. Seiring berjalannya waktu dan banyaknya yang dilalui seseorang, maka perubahan itu pasti terjadi. Entah itu lebih baik, atau mungkin tersesat dan memilih jalan yang memperburuknya.
"Karlo, bisa ke kamar kakek sekarang? Aku mau bicara!"
__ADS_1