Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.60 Pingsan


__ADS_3

"Don't worry, daddy will help you from here, my daughter. Quickly complete your mission, i can not wait to meet you, dear ... i really really miss you."


Senyum Livia semakin mengembang walau terlihat air yang menggenang di matanya. "I miss you too, Dad. I will soon complete this mission and return to you. I promise," janji Livia dengan satu tetes air mata yang berhasil lolos begitu saja membasahi pipinya.


Setelah percakapan yang cukup lama, Livia pun megakhirinya setelah meminta tolong pada ayah angkatnya itu, untuk mencari tahu lagi tentang kejadian yang menimpa keluarganya sebelum dirinya diangkat menjadi anak oleh Andrew. Tentu saja, dengan senang hati laki-laki yang sudah mulai menua itu mau membantunya. Keluarga angkatnya memang tidak pernah mengecewakan dirinya dalam segala hal.


Sementara itu, dari balik gorden, Daniel tampak berdiri mematung sambil mengepalkan tangannya. Matanya memerah, menahan gejolak rasa yang menyesakkan dada.


Aku sudah mengiranya sejak tahu siapa dirimu sebenarnya, tapi mendengar semuanya dari mulutmu sendiri ternyata tetap saja terasa menyakitkan, Livia, batin Daniel sambil mulai melangkahkan kakinya perlahan. Dia kembali merebahkan diri di atas ranjang pada posisi semula, ketika merasa jika sebentar lagi Livia akan kembali masuk ke kamar.


Benar saja perkiraan Daniel, baru beberapa saat Daniel berada di posisinya kembali, dia bisa mendengar suara pintu kaca terbuka yang dilanjutkan suara langkah kaki mendekat padanya, hingga ranjang yang sedikit bergoyang karena Livia yang duduk di sisinya.


Daniel perlahan membuka mata, melihat punggung Livia yang terlihat sedang menenggak air minum. Beberapa kali wanita itu tampak menghembuskan napas pelan. Daniel langsung menutup matanya kembali ketika melihat Livia menoleh padanya, dia bisa merasakan jika Livia terus menatapnya dalam waktu yang cukup lama, hingga akhirnya Livia merebahkan diri dengan posisi masih membelakangi Daniel.


Mereka sama-sama terdiam dengan mata terbuka. Keduanya tidak ada yang bisa tertidur hingga akhirnya fajar mulai datang dan memaksa Livia untuk bangkit dan bersiap untuk melakukan rutinitas pagi harinya.


Daniel bangkit dan duduk di ujung ranjang ketika mendengar pintu kamar kembali tertutup setelah Livia ke luar, dia menatap daun pintu itu dengan sorot mata nanar. "Aku tidak akan menghalangi kamu, Livia. Lakukan apa yang kamu inginkan, setelah itu hiduplah dengan bahagia," ujar Daniel tanpa ragu, walau dadanya terasa begitu sesak.


...❤️‍🔥...


Livia melihat Daniel yang sedang duduk di sisi tempat tidur sambil memegang dasi yang belum dia pakai. Wanita itu menghembuskan napas pelan, pandangannya sudah mulia kabur, dengan keringat dingin di keningnya.


"Ekhm!" Livia berdehem pelan sambil menormalkan raut wajahnya, kemudian mulai berjalan menghampiri Daniel.

__ADS_1


Kerutan di kening Daniel tampak terlihat semakin dalam, ketika dia menyadari jika wajah Livia telihat pucat. Daniel berdiri lalu menghampiri Livia dengan langkah lebarnya, dari wajahnya, terlihat sekali jika laki-laki itu kini tengah khawatir.


"Livia, kamu sakit?" tanya Daniel dengan tangan terangkat hendak menyentuh kening Livia.


"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit pusing," jawab Livia sambil menampik tangan Daniel yang hampir menyentuh kulit keningnya, dia kemudian mengambil dasi di tangan Daniel dan maju selangkah mendekat untuk memasangkan dasi di leher Daniel.


Namun, baru saja Livia mengalungkan dasi itu di leher Daniel, tiba-tiba Livia ambruk, kesadarannya menurun hingga dia tak mampu lagi menopang tubuhnya sendiri.


"Livia?!" Daniel dengan sigap menahan tubuh Livia agar tidak jatuh menyentuh latai, hingga kini wanita itu terkulai lemah dalam pelukannya.


"Livia? Kamu dengar aku? Kamu kenapa sebenarnya?" Daniel berseru panik sambil mencoba membangunkan Livia.


Livia bergumam pelan saat tenglinganya samar mendengar suara Daniel yang terus memanggilnya. Sungguh, hanya untuk membuka mata saja terasa sangat sulit, apa lagi menggerakkan tubuhnya.


Setelah melihat Livia nyaman, Daniel terburu-buru ke luar dari kamar dan menggedor pintu kamar Danis. "Ada apa sih, Kak. Aku baru saja mau turun," ujar Danis dengan wajah malasnya. Tadi malam dia terlalu larut bermain game hingga lupa waktu.


"Cepat hubungi dokter, dan beri tahu pelayan untuk membawa alat kompres ke kamarku, sekarang!" ujar Daniel cepat, kemudian segera kembali ke kamarnya tanpa memperdulikan pertanyaan dari adiknya.


"Dokter? Siapa yang sakit? Kak!" teriak Danis saat melihat Daniel pergi meninggalkannya. Namun, semua pertanyaan Danis hanya bisa kembali dia telan tanpa mendapatkan jawaban, laki-laki itu pun memilih cepat mengambil ponsel untuk menghubungi dokter sambil berjalan menuju ke lantai satu.


Mami Luci yang sudah bersiap di meja makan kini ikut panik ketika mendengar Danis meminta alat kompres pada pelayan yang ada di sana.


"Siapa yang sakit, Danis? Kenapa kamu minta alat kompres?" tanya Mami Luci.

__ADS_1


"Gak tau, Mami, Kak Daniel yang minta itu. Aku juga sudah menghubungi dokter, " jawab Danis sambil duduk di samping ibunya.


"Apa Livia sakit? Tadi mami lihat wajahnya pucat, tapi pas mami tanya, katanya dia gak apa-apa, " ujar Mami Luci menerka.


"Gak tau juga, nanti aku tanyakan sama kak Daniel," jawab Danis sambil mengambil satu potong roti lapis kemudian segera berjalan kembali menaiki tangga dengan sisa roti di tangan kiri sementara tempat untuk kompres berada di tangan kanannya.


Sampai di depan pintu kamar Daniel, Danis bingung sendiri ketika melihat kedua tangannya sibuk memegang alat kompres dan roti yang belum dia habiskan. Akhirnya dia mengigit rotinya kemudian mengetuk pintu.


"Masuk!"


Begitu terdengar suara Daniel mempersilahkan masuk dari dalam, Danis langsung membuka pintu dengan mulut penuh oleh roti. "Ini alat kompresnya--"


Ucapan Danis terhenti ketika melihat Daniel sedang mencoba membangunkan Livia yang masih saja tak sadarkan diri. Dia terburu-buru melangkah menghampiri kakaknya sambil mengambil roti di mulutnya. Wajahnya terlihat sangat khawatir.


"Livia sakit? Kenapa dia? Kok sampe pingsan, Kakak apain Livia?" tanya Danis tanpa jeda sama sekali.


"Berisik! Sana, cepetan siapin air buat kompres," kesal Daniel tanpa menghiraukan ocehan Danis.


"Iya," angguk Danis memaklumi kekhawatiran kakaknya karena melihat Livia tak sadarkan diri.


"Livia, kamu jangan bikin aku khawatir kayak gini dong. Sebenarnya ada apa yang terjadi sama kamu?" gumam Daniel sambil terus menggengam tangan Livia.


Debar jantungnya sudah tak menentu sejak tadi, Daniel terlalu khawatir pada kondisi Livia. Selama ini Daniel tidak pernah melihat Livia sakit apa lagi sampai pingsan. Ini adalah pertama kalinya, dan itu terjadi ketika Daniel sudah mengetahui semuanya. Laki-laki itu, kini begitu takut terjadi sesuatu yang akan membuatnya kehilangan Livia.

__ADS_1


"Bangun, Livia ... buka mata kamu, ya. Aku mohon," gumamnya lagi sambil mencium tangan Livia, dengan mata yang mulai terasa memanas.


__ADS_2