Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.23 Teh camomile


__ADS_3

"Kamu belum sarapan, kan?" tanya mami Luci ketika Livia sedang menyiapkan obat untuknya.


"Nanti saja, aku belum lapar kok. Sekarang lebih baik Mami minum obatnya dulu, ya," jawab Livia sambil mengulurkan tangan berisi beberapa butir obat yang harus diminum Mami Luci setiap harinya.


"Terimakasih, Livia," ujar Mami Luci sambil menerima obat dari Livia kemudian meminumnya.


Livia tampak tersenyum tipis ketika melihat mami Luci selalu meminum obatnya dengan teratur.


"Maaf, karena masalah keluarga kami kamu jadi ikut terbawa," ujar Mami Luci setelah dia meminum air putih untuk membantunya menelan semua obat.


"Jangan bilang begitu, Mami. Livia tidak apa-apa, kok." Livia menggeleng pelan dengan kerutan halus di keningnya.


Perkataan mami Luci sungguh menyentil ujung hatinya. Karena sebenarnya, kedatangannya ke dalam keluarga ini berniat untuk memunculkan berbagai masalah bahkan mengancurkan keluarga dan perusahaan.


Namun, kini sosok wanita lembut di depannya malah meminta maaf padanya hanya kerena masalah yang sama sekali tidak ada hubungan dengan mami Luci. Livia tahu, jika semua masalah ini ada di luar kendali mami Luci. Kini, mertuanya itu malah mengkhawatirkannya, seseorang yang menginginkan masalah terus hadir di dalam keluarganya. Sungguh, hati Livia kini merasa sedikit tidak nyaman karenanya.


"Terimakasih juga karena sudah membawa mami ke luar dari ruang makan yang terasa sesak itu," sambung mami Luci lagi sambil mengusap pelan tangan Livia yang kini tampak duduk di depannya. Sorot mata sendu itu, membuat hati Livia semakin merasa sakit dan bersalah.


Livia menghembuskan napas pelan, sungguh hatinya selalu merasa hangat setiap kali mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh Mami Luci. Rasa rindu akan kasih sayang seorang ibu membuatnya hati kecilnya merasa nyaman dengan semua perlakuan mami Luci padanya. Namun, logikanya yang selalau mengingatkan pada dendam dan tujuannya berada di keluarga ini, membuat Livia terus menyangkal dan menghindar dari rasa nyaman yang perlahan terus masuk ke dalam sudut hatinya.


...❤️‍🔥...


"Apa maksud kakek sebenarnya? Kenapa sekarang kakek malah memberikan posisi di kantor pusat bahkan tanpa bertanya sama aku dulu?!" Daniel tampak menatap tajam laki-laki di depannya, tangannya terkepal erat, dada naik turun selaras dengan napasnya yang memburu.


"Tolong turunkan emosi Anda dulu, Tuan muda. Saya tidak akan mengizinkan Anda untuk menemui Tuan besar jika Anda dalam keadaan tidak terkendali seperti ini," ujar Karlo yang sejak tadi menghalangi Daniel yang ingin menemui kakek Banu.


Keduanya kini sedang berada di halaman belakang, sementara kakek Banu yang tampak sedang menikmati sore di rumah kaca milik Mami Luci tidak jauh dari sana.

__ADS_1


"Benar kata Karlo, Kak. Kakak harus tenangkan diri dulu sebelum bertemu kakek. Kakek tidak akan mendengarkan Kakak kalau kakak menemuinya dengan keadaan seperti ini." Danis yang baru saja menyusul pun tampak ikut menenangkan kakaknya.


Daniel melirik tajam pada Danis yang langsung menutup mulut rapat, walau tampak tak terima karena merasa terintimidasi oleh Karlo dan Danis pun, tak ayal mengikuti perkataan kedua orang itu. Daniel menarik napas pelan kemudian menghembuskan napasannya kasar, dia melakukan itu berulang kali, hingga napasnya perlahan menjadi setabil kembali.


"Sekarang aku sudah boleh masuk?" tanya Daniel sambil menatap wajah Karlo dengan sorot mata kesal. Nada suaranya pun terdengar penuh tekanan dan sedikit sarkas.


"Silahkan." Karlo tampak menggeser tubuhnya beberapa langkah ke sisi hingga memberikan jalan untuk Daniel dan Danis melewatinya.


"Dari tadi kek!" gerutu Daniel sambil mulai melangkahkan kakinya melewai Karlo.


"Tolong atur emosinya, ya, Tuan." Tanpa ragu ataupun takut Karlo membalas gerutuan Daniel sambil tersenyum tipis.


Laki-laki berusia lebih dari lima puluh tahun itu sudah sangat lama bekerja dengan kakek Banu, dia bahkan sering menjadi teman main Daniel ketika masih kecil. Makanya, dia sama sekali tidak takut pada cucu dari tuannya itu. Sebaliknya, dia malah sudah menganggap Daniel seperti anaknya sendiri.


"Ck!" Daniel hanya berdecak pelan sambil melanjutkan langkahnya. Sungguh, sebenarnya dia juga sudah merasa dekat dengan laki-laki paruh baya itu, hanya saja Karlo memang lebih banyak menyebalkannya dibandingkan dengan baiknya. Laki-laki yang sangat setia pada kakeknya itu bahkan tidak bisa berpaling atau diajak kerja sama, semenjak dirinya masih kecil sampai sekarang.


Daniel membuka pintu rumah kaca itu dan bersiap untuk melangkah ketika melihat Julio tengah menemani kakek Banu di sana. Daniel yang sudah hampir masuk ke dalam, kini tampak menghentikan langkahnya dengan tangan mengepal erat. Danis yang awalnya bingung dengan sikap sang kakak, kini tampak menghela napas pelan kemudian bersiap untuk kembali menenangkan kakaknya yang pastinya akan uring-uringan karena merasa didahului oleh Julio.


"Aku mau mandi!" tanpa menunggu Danis menyelesaikan ucapannya Daniel lebih dulu menyela sambil membalikan badan dan melangkah lebar meninggalkan Danis yang bahkan belum sempat mencerna ucapan singkat kakaknya.


"Haish!" Danis mendesah pelan sambil menggelengkan kepala, dia kemudian memilih untuk menyusul kakaknya yang dipastikan tengah memendam amarah di dalam dada.


...❤️‍🔥...


Livia baru saja ke luar dari kamar Mami Luci, setelah menemani mertuanya itu berjalan sore di sekitar komplek. Dia memgernyitkan keningnya katika melihat Daniel yang berjalan dari pintu belakang dengan wajah memerah dan langkah cepat. Livia yakin jika kini suaminya itu sedang menahan amarah karena sesuatu.


"Mungkin dia sudah tau keputusan kakek," gumam Livia sambil mulai melangkahkan kakinya ke dapur untuk membuat teh camomile.

__ADS_1


...❤️‍🔥...


"Hei, kamu, berhenti!"


Livia baru saja akan menaiki anak tangga pertama ketika ada suara seseorang yang menghentikannya. Livia menoleh pada arah suara dengan wajah datarnya.


"Anda memanggil saya?" tanya Livia.


"Ya kamu lah, memang ada siapa lagi di sini?" ujar sinis wanita yang Livia kenalan bernama Murti itu.


"Ada apa ya?" Tak mau meladeni sikap sombong wanita paruh baya di depannya Livia memilih untuk bersikap biasa saja.


"Kamu bawa teh, kan? Kebetulan sekali, aku sedang ingin minum teh hangat," ujarnya sambil mengulurkan tangan hendak mengambil cangkir teh di tangan Livia tanpa sopan santun sama sekali.


Namun, Murti harus menerima rasa kecewa ketika tangannya kalah cepat dengan Livia yang lebih dulu mengangkat cangkir teh di tangannya untuk menghindari sikap kurang ajar Murti.


"Maaf, teh ini untuk suamiku. Kalau Anda mau silahkan buat sendiri di dapur," ujar Livia kemudian memutar tubuhnya sambil mulai melangkahkan kakinya menaiki anak tangga tanpa memperdulikan wajah merah Murti yang menahan amarah karena sikap Livia.


"Sialan! Awas saja nanti kalau anakku berhasil merebut posisi Daniel, aku pastikan kamu terusir dari rumah ini!" gumam Murti dengan mata tajam menyorot Livia dan tangan mengepal erat.


Beberapa saat kemudian, Livia membuka pintu kamar Daniel dengan sangat hati-hati, setelah memastikan Daniel tidak ada di sana, Livia masuk kemudian menyimpan cangkir teh camomile buatannya di atas meja, kemudian mengambil baju Daniel yang selalu bercecer di hampir seluruh lantai kamar, lalu kembali ke luar dari kamar.


.


Daniel menghirup napas pelan ketika baru saja ke luar dari walk ini closet dengan pakaian santainya. Aroma teh camomile yang menguar di seluruh kamar membuatnya merasa sedikit tenang. Kepalanya yang tadi begitu pening dan penuh dengan pikiran yang sangat rumit, kini perlahan mengendur hanya dengan wangi kesukaannya itu.


Tanpa terasa, sudut bibir Daniel tampak tertarik ke atas hingga membentuk garis lengkung samar di sana. Kakinya perlahan melangkah menuju sofa kemudian duduk di sana dengan mata tertuju pada satu cangkir keramik yang dia yakini berisi teh camomile buatan Livia.

__ADS_1


Daniel duduk di sofa tempat biasa Livia tertidur kemudian mengambil cangkir teh itu. Perlahan dia dekatkan cangkir teh itu ke hidung dengan mata tertutup dan hidung menghirup wangi uap yang masih tampak sedikit mengepul.


"Dia semakin pandai dalam membuat teh," gumam Daniel kemudian mulai menyeruput air berwarna kuning kecoklatan yang beraroma khas itu.


__ADS_2