
Livia hendak ke luar untuk menaruh angkuk bubur sekaligus mengambil air minum ke bawah, ketika tiba-tiba Daniel masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Keduanya hampir saja bertabrakan jika saja mereka tidak memiliki refleks berhenti yang bagus.
"Maaf," ujar Daniel sambil menahan nampan di tangan Livia yang hampir saja jatuh.
"Gak apa-apa," jawab Livia singkat kemudian hendak melanjutkan langkahnya. Namun, Daniel langsung menahan tangan Livia, hingga wanita itu terpaksa menoleh pada Daniel.
"Kamu mau ke mana? Kamu kan masih sakit, kenapa sudah mau ke luar kamar?" tanya Daniel dengan genggaman tangan tak lepas dari lengan Livia.
"Aku mau menyimpan ini," jawab Livia sambil berusaha menghindari tatapan Daniel.
"Biar aku saja yang simpan. Kamu mau apa lagi, biar sekalian aku ambilkan?" Daniel mengambil napan dari tangan Livia dan mencegah wanita itu untuk ke luar kamar.
"Tidak usah, aku bisa sendiri," tolak Livia.
"Kamu masih sakit, lebih baik diam saja di kamar. Memang kamu mau apa? Bilang saja padaku, jangan sungkan." Daniel masih kukuh menahan Livia.
"Tidak, aku tidak mau apa-apa." Livia akhirnya memilih mengalah dan memberikan nampan itu pada Daniel. Saat ini dirinya tidak bisa terlalu lama berada dekat dengan Daniel, itu terlalu berat untuk jantungnya. Livia takut tidak bisa lagi menahan debar jantungnya yang semakin lama malah semakin cepat.
"Oh, oke. Kalau gitu, aku simpan ini dulu ke bawah," jawab Daniel kemudian memutar tubuhnya dan kembali ke luar dengan nampan di tangannya.
Daniel menghembuskan napasanya kasar, sambil menggeleng pelan begitu dia ke luar dari kamar, matanya mengerjap beberapa kali dengan kerutan di kening yang terlihat dalam. Berada di dekat Livia selalu membuat jantungnya berdebar lebih cepat hingga dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri. Daniel bahkan merasa canggung hanya karena menerima tatapan dari Livia yang selalu tidak bisa dia artikan, sejak wanita itu datang ke rumah ini.
...❤️🔥...
__ADS_1
"Malam ini aku mungkin pulang terlambat, ada acara dengan beberapa teman setelah pulang kantor," ujar Daniel saat Livia sedang memasangkan dasi di lehernya.
"Hem," angguh Livia sambil bergumam sebagai jawaban. Setelah memastikan penampilan suaminya telah rapih, Livia kemudian mundur dua langkah untuk memberi jarak dari Daniel.
"Makasih," ujar Daniel lagi sambil melihat penampilannya di pantulan cermin full body yang berada di sampingnya. Stelan yang dipilih Livia selalu terlihat sempurna, Daniel merasa puas dengan selera pakaian Livia yang semakin berkembang dan cocok padanya.
Suasana diantara mereka masih saja terlihat canggung, ternyata akibat suapan bubur seminggu yang lalu masih saja membekas di hati keduanya, hingga membuat Daniel dan Livia tampak sedikit menghindar satu sama lain.
Setelah mengantar Daniel dan menemani Mami Luci sebentar, Livia kembali masuk ke dalam kamarnya, dia kemudian megambil ponsel yang biasa dia gunakan untuk menghubungi Agra dan Andrew.
Dia kemudian melihat email yang dikirimkan oleh Andrew tentang apa yang dia ingin tahu beberapa hari lalu. Ada beberapa berkas dan foto yang dia dapatkan, hingga Livia harus membacanya melalui laptop agar lebih jelas. Livia pun akhirnya mengambil laptop dan mulai membuka satu per satu berkas yang dikirimkan oleh Andrew.
Tangannya mengepal dengan mata yang tampak bergetar ketika dia semakin banyak membaca laporan yang dikirimkan oleh Andrew.
"Jadi, bukan dia? Ucapan Mami Luci benar?" gumam Livia sambil mengepalkan tangannya. Ada rasa kecewa di dalam dada, ketika dia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di malam itu. Walau, entah kenapa semua itu dibarengi dengan rasa lega yang dia sendiri tidak mengerti karena apa.
Tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja. Livia membuang muka sambil menutup laptopnya dengan kasar, dia menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan, berusaha meredam gejolak rasa yang seolah memaksa untuk ke luar dan menguasai tubuhnya.
"Sial! Dasar bajingan!" Livia bangun dari duduknya dengan cepat hingga kursi yang dia duduki terjatuh ke belakang dan menimbulkan suara yang lumayan kencang.
...❤️🔥...
Sementara itu, malam harinya dia tempat lain, seorang laki-laki tampak sedang duduk di kursi bersama dengan satu orang lagi di depannya. Bau alkohol bercampur parfum terasa begitu menyengat, ditambah asap rokok yang hampir memenuhi setiap sudut ruangan itu. Dentuman musik up beat yang dimainkan oleh disjoki wanita berpakaian seksi yang tampak lincah memainkan tangannya di atas stelan sound system yang ada di depannya.
__ADS_1
"Jadi sekarang lo diusir gitu aja dari rumah itu? Miskin lagi dong sekarang?" tanya laki-laki bertubuh gempal dengan jaket kuit berwarna hitam.
"Heh, iya. Mereka emang brengsek semua, berani-beraninya dia blokir semua akses gue dari perusahaan," jawab laki-laki yang sudah dalam keadaan setengah mabuk.
"Terus, lo sekarang nagapain dong? Balik lagi kayak dulu?" tanya laki-laki jaket kulit itu.
"Heem, gue gabung lagi sama bos. Gimana lagi, gue gak bisa lamar keja di kantor lain. Lo 'kan tau sendiri, kalau gue di DO dari kampus gara-gara ketauan make," jawab laki-laki itu.
"Ya, orang kayak kita emang udah diktakdirin hidup di dalam dunia hitam, Bro. Lagian, lebih mudah ngasilin duit di sini, daripada lo kerja di kantor. Cape doang, duitnya gak ada." Laki-laki jaket kulit hitam itu tampak menenggak lagi minuman yang dia pesan sambil mengedarkan pandangannya, higga tiba-tiba dia melihat sesuatu yang menarik dari arah pintu masuk.
"Bukannya itu sodara tiri, Lo?" ujarnya tiba-tiba sambil melihat ke arah orang yang sering dia lihat di berita karena prestasinya dalam dunia bisnis.
Laki-laki di depannya pun tampak mengikuti arah pandangan temannya, tatapannya kini berubah tajam ketika dia melihat seseorang yang sedang mereka bicarakan tampak masuk dengan beberapa orang lainnya kemudian mereka berjalan menuju ke lantai dua, di mana ada ruangan VVIP.
Tangannya mengepal dengan wajah menyimpan amarah dan dendam ketika dia melihat laki-laki yang tak lain adalah saudara tirinya itu kini tampak hidup nyaman dengan banyak kenalan dari kalangan elit bisnis negeri ini.
Pandanganya kembali pada sang teman ketika tiba-tiba saja melintas sebuah rencana busuk untuk menjebak saudara tirinya itu.
"Lo bawa obat gak?" tanya laki-laki itu sambil menyeringai tajam.
"Obat apa nih? Kalau sab* gue gak bawa, tapi kalau obat buat main, gue ada," jawab laki-laki jaket hitam itu.
"Gue mau itu," jawabnya, kemudian mulai mengatakan rencana yang akan dia lakukan untuk menjebak saudara tirinya.
__ADS_1
"Oke, gue bantu. Tapi, ini semua gak gratis ya," angguk laki-laki jaket kulit hitam itu, menyetujui rencana yang dibuat temannya.
Keduanya kemudian beranjak berdiri dan mulai bersiap untuk melaksanakan rencananya.