Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.87 Mengulang


__ADS_3

"Kenapa kamu gak hubungin aku? Kenapa kamu malah menghubungi Agra?" tanya Daniel dengan wajah merajuknya.


"Kamu sedang berada di luar kota. Aku hanya menghubungi yang lebih dekat, karena aku sedang meminta pertolongan, bukan memberi kabar," jawab Livia malas.


"Tapi, aku ini kan calon suami kamu," bantah Daniel.


"Tau. Lalu, apa hubungannya dengan semua ini?" tanya Livia dengan wajah datarnya. Wanita itu tampak menoleh pada Daniel, hingga matanya tampak melebar ketika melihat jelas luka yang diterima laki-laki itu.


"Muka kamu," sambung Livia begitu dia sudah kembali bersama dengan Daniel dan Ares yang tertidur di kursi belakang mobil.


"Aku gak apa-apa. Lihat muka kamu sendiri, gimana nanti kalau sampe hari pernikahan kita, luka kamu belum sembuh, hem?" tanya Daniel sambil melihat luka di sudut bibir Livia yang tampak sudah membiru.


"Aku bisa menutupinya memakai riasan," jawab Livia santai, dia akhirnya bisa merebahkan diri, setelah beberapa jam lalu harus berusaha lari dari kejaran Juna dan para anak buahnya.


"Iya deh, terserah kamu saja. Tapi, nanti lagi, jangan bertindak sendiri seperti ini, aku khawatir sama kamu, tau?" omel Daniel masih sambil mengemudikan mobilnya.


"Iya, aku tau. Lagi pula, kalau tadi gak mendesak aku juga gak bakal berusaha sendiri," jawab Livia sambil mulai menutup matanya. Mereka kembali terjebak macet dan kini Livia mulai merasa bosan karena sepanjang jalan, Daniel tak henti mengomel padanya, hingga membuat dia mengantuk.


"Setelah ini, kamu jangan pergi sendiri lagi. Kabari aku kalau kamu mau pergi, aku akan mengantarkan kamu ke mana pun," ujar Daniel lagi.


"Heem." Livia hanya bergumam sebagai jawaban.


"Aku juga akan mencari pengawal untuk menjaga kamu dan Ares. Aku gak mau kemu berada di situsi seperti itu lagi." Daniel masih saja mengomel untuk melampiasakan rasa kesal dan marahnya.

__ADS_1


Sebenarnya Daniel sedang merasa tidak berguna sekarang. Dirinya bahkan tidak bisa menjaga Livia dan anaknya sendiri. Entah bagaimana dengan dia jika sampai terjadi sesutu pada Livia dan Ares tadi. Rasa bersalahnya bahkan mungkin tidak akan bisa digambarkan dengan kata-kata.


"Livia?" Daniel menghembuskan napasanya kasar, ketika melihat wanita itu sudah menutup mata dengan napas yang teratur, menandakan jika Livia sudah tertidur pulas.


"Pasti lelah sekali ya, sayang. Maafin aku. Aku akan berusaha untuk lebih baik lagi dalam menjaga kamu dan anak kita," ujar Daniel dengan tatapan yang berubah sendu.


Daniel mengambil tangan Livia kemudian membawanya mendekat dan memberikan ciuman di sana, dia lakukan itu berulang kali dengan rasa bersalah yang bertambah besar di dalam hati.


Laki-laki itu bahkan tak menghiraukan rasa sakit di dalam tubuhnya akibat dari beberapa pukulan dan tendangan yang dia terima di dalam pertarungan tadi. Yang dia rasakan saat ini hanyalah rasa sakit di dalam hatinya.


"Semuanya sudah selesai, setelah ini tidak akan ada yang bisa membahayakan Livia dan Ares lagi. Aku berjanji akan menuntaskan semuanya sekarang, agar kamu bisa fokus untuk membahagiakan adik dan keponakanku."


"Aku adalah seorang pebisnis, aku tidak pernah melakukan hal yang percuma. Ingat, ini semua tidak gratis. Kamu harus membayarnya dengan membahgiakan Livia dan Ares. Jika sampai aku melihat Livia kembali kecewa karenamu, aku tidak akan lagi bisa melepaskan kamu."


Daniel menghembuskan napanya perlahan sambil kembali melirik wajah cantik Livia yang masih nyaman dalam dunia mimpinya.


"Bahkan setelah aku tahu semua itu, tetap saja aku merasa cemburu dengan kedekatan kamu dan kakak angkatmu itu, Livia," gumamnya sambil kembali mengecup tangan Livia yang masih tetap dia ganggam hangat.


...❤️‍🔥...


Tepat tanggal dua puluh tiga september, Daniel kembali melakukan ijab qobul sebagai sebuah janji yang melahirkan ikatan pernikahan antara dirinya dan Livia. Akad nikah itu, hanya dilakukan dengan sederhan di sebuah balroom hotel bintang lima, dengan dihadiri teman dan kerabat, termasuk banyak anggota black eagle yang hadir dan bertugas untuk menjaga pernikahan itu tetap aman terkendali.


Suasana khidmat yang dibalut rasa haru dari semua keluarga dan tamu yang hadir pun terasa sangat kental di ruangan yang sudah didekorasi dengan sangat indah itu.

__ADS_1


Livia yang tengah duduk di salah satu ruangan bersama dengan Alisya, tak kuasa meneteskan air matanya ketika kata sah terdengar mengema di ball room hotel, sebagai tanda jika kini dirinya sudah kembali menjadi seorang istri dari laki-laki yang bernama Daniel Arslan Hartoyo.


"Selamat ya, Livia. Sekarang pernikahan kamu dimulai dengan sebuah niat yang tulus untuk berumah tangga. Semoga kedepannya kalian mendapatkan kebahagiaan yang berlimpah," ujar Alisya sambil memeluk adik iparnya itu.


"Amiin. Makasih, Alisya," jawab Livia yang masih tak kuasa menahan isak tangisnya.


Alisya tersenyum sambil mengurai pelukannya pada Livia. Perjalan perikahan Livia dan Daniel memang tidaklah mudah. Dia benar-benar berharap, setelah ini tidak ada lagi masalah yang akan mendera hubungan diantara mereka berdua.


Setelah memperbaiki riasan Livia yang sempat sedikit rusak karena air mata, kini Alisya membawa Livia menuju ke pelamainan untuk menemui Daniel sekaligus menandatangani berbagai berkas pernikahan yang dibawa oleh penghulu dan staf KUA.


Daniel tampak menatap Livia dengan penuh kekaguman. Wanita yang memakai kebaya modern berwarna putih itu terlihat begitu anggun dan menawan. Laki-laki itu bahkan tampak kesulitan untuk mengalihkan perhatiannya dari wanita yang kini telah sah kembali menjadi istrinya, setelah enam tahun mereka berpisah.


Ada rasa bangga dan bahagia yang begitu membuncah di dalam dada, hingga senyum di bibirnya bahkan tak bisa dia sembunyikan. Daniel, begitu bahagia dan bangga karena sudah kembali memiliki wanita hebat bernama Livia menjadi istrinya. Kini, bahkan sudah ada Ares yang melengkapi rumah tangga mereka dan memperkuat rasa cintanya pada wanita itu.


"Kamu cantik, sayang," ujarnya begitu Livia duduk di sampingnya.


Wanita itu tampak tersenyum dengan pipi yang terasa memanas, karena kata sederhana yang bahkan dulu tak bisa menggoyahkan rasa dendam di dalam hatinya. Kini, itu terasa begitu indah dan menggelitik hingga membuat jantungnya bertalu tanpa bisa dia kendalikan.


Inikah yang namanya jatuh cinta? Apakah ini rasanya menjadi pengantin seseorang yang dicintai? Beginikah rasa bahagia saat menikah dengan niat yang tulus untuk membangun rumah tangga tanpa ada niat buruk di dalamnya?


Livia bahkan tak bisa memilih kata apa yang mampu menggambarkan setiap kebahagiaan yang dia rasakan hari itu. Semuanya bahkan lebih indah dari sebuah mimpi. Ketenangan itu, bahkan tak pernah dia rasakan sebelumnya. Melihat orang-orang yang dia cintai tersenyum dan mendengar doa tulus mereka, membuat air mata Livia bahkan tak henti untuk menetes. Dia bahagia. Sungguh, Livia bahagia.


__ADS_1


Bonus, dekorasi pernikahan Livia dan Daniel😍🥰


__ADS_2