
Livia duduk di kursi sebelah brankar UGD salah satu rumah sakit dengan tatapan yang begitu rumit. Terdapat kerutan halus di keningnya dan helaan napas yang berulang kali dia lakukan. Matanya menatap wajah seseorang yang sedang terbaring tenang di atas brangkar.
Dasar sok kuat! batin Livia dengan menahan kesal bercampur khawatir.
Tadi, sewaktu Daniel mengerem mendadak hingga membuatnya hampir menabrak dashboard mobil, ternyata karena laki-laki itu hampir saja kehilangan kesadaran dan tidak kuat lagi untuk menyetir. Hingga akhirnya Livia membantu Daniel untuk pindah ke kursi belakang dan meenggantikan mengemudi. Dia sempat terkejut ketika merasakan tubuh Daniel yang sangat panas, padahal ketika di Bandara beberapa saat yang lalu, dirinya tidak merasakan semua itu sama sekali. Entah itu karena memang Daniel belum demam atau karena dirinya tidak fokus, mengingat detak jantungnya yang mengaliihkan semua konsentrasi Livia saat itu?
Kini, Livia memutuskan untuk membawa Daniel ke salah satu rumah sakit terdekat dari bandara, dan sekarang di sinilah dia berada dengan Daniel yang sedang tertidur karena pengaruh obat yang dia terima.
Untung saja tidak terjadi apa-apa pada Daniel, laki-laki itu hanya mengalami kelelahan dan mal nutrisi, hingga imun tubuhnya menurun. Penjelasan dokter beberapa saat yang lalu mampu membuat hati Livia lega. Setidaknya, Daniel hanya perlu menjalani istirahat di rumah beberapa hari, untuk mengembalikan imun tubuhnya.
...❤️🔥...
Daniel mengerutkan keningnya sambil berusaha membuka mata. Cahaya silau dari luar membuatnya cukup kesulitan hingga kembali mencoba menutup mata untuk beristirahat, lalu membuka matanya perlahan. Entah sampai kapan dia bertahan dalam keadaan lemah setelah memutuskan untuk mengerem mendadak. Yang dia ingat hanya ketika Livia memapahnya ke kursi belakang dan melihat samar wanita itu menyetir mobil dengan kecepatan tinggi sambil sesekali meliriknya dari sepion dalam.
Kini, orang yang pertama kali dia lihat pun adalah wanita itu. Livia. Wanita yang dia nikahi karena niat untuk memanfaatkannya agar bisa meluruskan rumor yang beredar. Namun, kini dia melihat wanita itu tengah tertidur dengan posisi duduk bersandar pada tembok dengan tangan bersidekap dada.
"Dia menungguku?" tanya Daniel dengan suara yang masih terrdengar lemah dan parau. Dia membawa tubuhnya untuk bangit kemudian bersandar pada kepala brangkar dengan tatapan yang tak lepas dari wajah tenang milik Livia.
Daniel kemudian melihat jarum infus yang masih terpasang di punggung tangan sebelah kirinya, kemudian beralih pada jam yang menempel di dinding. Kerutan di keningnya bertambah dalam saat melihat jarum jam itu sudah menujuk pada angka enam.
"Lama juga aku tidur," gumam Daniel. Padahal tadi dia sampai di Bandara pukul lima sore hari.
__ADS_1
Tirai pembatas antar para pasien di UGD rumah skait miliknya terbuka perlahan dengan seorang perawat wanita yang tampak melangkah masuk ke dalam.
"Selamat pa--"
"Sshh!" Daniel refleks menempelkan telunjuknya di bibir saat perawat itu bahkan belum sempat menyelesaikan perkataannya, dia memberi tahu agar perawat itu jangan terlalu berisik karena ada orang yang masih tertidur.
Perawat itu tersenyum kemudian mengangguk, setelah melihat Livia yang memang sedang tertidur dalam keadaan duduk bersandar.
"Anda beruntung memiliki istri Bu Livia, Pak. Sejak semalam dia terus menemani Anda dan memastikan Anda tidak apa-apa. Saya lihat Bu Livia baru mau beranjak dari sisi Anda ketika demam Anda sudah turun dan keadaan Anda setabil," ujar perawat itu, memberi tahu apa yang terjadi tadi malam.
Sungguh, kehadiran Daniel dan Livia tadi malam membuat para petugas medis yang berjaga di UGD terkejut, apa lagi dengan keadaan Daniel yang tidak sadarkan diri dan panas tinggi. Ketenangan Livia dalam mengurus semua kebutuhan Daniel hingga menemani setiap pemeriksaan yang harus dilakukan oleh suaminya, membuat para petugas medis sangat kagum padanya. Padahal para petugas tahu jika saat itu Livia sedang sangat mengkhawatirkan Daniel, itu semua terlihat dari raut wajah Livia.
Sebagai seorang pengusaha kaya raya, tentu saja mereka bisa saja menginginkan untuk didahulukan atau mendapatkan pelayanan khusus, tetapi itu tidak untuk Livia dan Daniel, mereka bahkan memilih untuk menginap di UGD yang sangat tidak nyaman daripada protes pada dokter yang berjaga dan ingin dipindah ke kamar rawat VIP.
Daniel tersenyum tipis mendengar cerita perawat tentang Livia, apa lagi ketika perawat itu bilang, jika Livia benar-benar telaten merawatnya dengan menggunakan kompres hingga demam Daniel benar-benar turun. Sungguh, dia tidak menyangka, sosok Livia yang terlihat sangat acuh dan tidak perduli padanya, bisa melakukan itu di saat seperti ini.
"Bolehkah saya menunggunya untuk bangun lebih dulu?" tanya Daniel ketika Dokter mengatakan jika dirinya sudah boleh pulang.
"Tentu, Pak," angguk dokter itu sambil tersenyum ramah.
Daniel bergeser ke sisi ranjang kemudian menurukan kedua kakinya hingga menggantung di sana. Matanya terus melihat Livia yang selalu tampak tenang ketika sedang tertidur dengan sangat pulas. Dari semua ekspresi wajah Livia ketika bangun, Daniel paling suka yang satu ini. Ketika istrinya itu tidur. Entah sejak kapan dia mulai menyukainya, sepertinya Daniel juga tidak tahu. Atau, mungkin lebih tepatnya tidak menyadarinya.
__ADS_1
...❤️🔥...
Livia membuka matanya sambil mulai menegakkan tubuh yang terasa pegal, karena tertidur dengan posisi duduk dalam waktu cukup lama. Leher hingga punggungnya terasa kaku hingga membuat wanita itu sedikit meringis sambil memijat pelan tengkuknya sambil memiringkan kepala ke kanan dan kiri.
Namun, pergerakannya terhenti ketika pandangannya sudah mulai jelas dan dia menyadari jika ada yang sedang berdiri membelakanginya. Perlahan dia telusuri tubuh yang tampak sedang berputar menghadap padanya, dari bawah hingga ke atas, hingga sedetik kemudian dia tersentak sendiri karena melihat siapa yang kini tengah berdiri di depannya.
"Sudah bangun?" Daniel bertanya sambil tersenyum sangat tipis.
Livia yang menyadari itu pun berdehem pelan sambil langsung mengalihkan pandangan ke sembarang arah. Dia kemudian mengangguk samar sebagai jawaban. Sungguh, Livia yang terbiasa bangun lebih dahulu, kini merasa sangat canggung ketika melihat ada seseorang di depannya saat dia membuka mata.
"Ayo, aku sudah lapar. Kita cari sarapan di luar," ajak Daniel sambil masih memperhatikan wajah bantal Livia. Muka bingung wanita itu ternyata cukup menarik ketika dia lihat lebih lama.
Polos dan manis, batin Daniel tanpa sadar dengan kata hatinya sendiri.
Livia bangun dari duduknya sambil membereskan baju yang terlihat berantakan di beberapa tempat.
"Ekhm!" Daniel yang tiba-tiba saja merasa canggung ketika menyadari ucapan hatinya pun berdehem pelan untuk menetralkan detak jantungnya yang terasa bertalu kemudian mulai melangkah ke luar di ruang UGD rumah sakit itu, dengan diikuti oleh Livia di belakangnya. Setelah selesai mengurus semua administrasi di rumah sakit keduanya ke luar dari rumah sakit.
"Biar aku yang menyetir, aku tidak mau kecelakaan kalau harus disetirin sama orang yang baru bangun tidur," ujar Daniel, merebut kunci mobil dari tangan Livia.
Livia menatap Daniel dengan kening berkerut dalam dan sorot mata tajam. Namun, ternyata itu tidak membuat Daniel takut, laki-laki itu malah berjalan cepat menuju mobilnya tanpa mau memperdulikan Livia.
__ADS_1
"Ck!" Livia berdecak kesal sebelum akhirnya memilih menyusul Daniel yang sudah terlihat berdiri di sisi pintu mobil.
"Yuk, kita cari sarapan dulu sebelum pulang. Aku lapar," ujar Daniel yang bahkan tak ditanggapi oleh Livia.