Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.79 Mengantar pulang Ares


__ADS_3

"Ares itu anak Livia--"


"A--apa?!" Mami Luci langsung memotong ucapan Daniel dengan wajah terkejut dan mata yang melebar.


"A--apa maksud kamu, Daniel? Anak itu ... Livia?" Mami Luci bahkan tampak berbicara dengan terbata dengan wajah yang masih tampak sangat terkejut itu.


"Iya, Mami. Ares adalah anak aku dan Livia, dia adalah cucu Mami," angguk Daniel sambil tersenyum haru. Tangannya perlahan kembali menghapus air mata yang masih saja mengalir deras membasahi pipi wanita itu, walau dia pun tampak meneteskan air matanya.


"Anak itu cucuku? Dia ... dia anak kamu dan Livia?" gumam Mami Luci dengan dada yang berdebar hebat karena kabar yang sangat mengejutkan ini.


"Heem." Daniel mengangguk pelan dengan mata memerah, saat melihat wajah terkejut bercampur bahagia Mami Luci.


"Kamu ngapain diem terus di sini, ayo kita ke luar sekarang. Kasihan anak itu kita tinggal sendirian," ujar mami Luci sambil mengelap bekas air matanya di pipi dan mulai melajukan kursi rodanya ke luar dari kamarnya.


Daniel tampak berdiri sambil mengeleng pelan saat melihat ibunya bahkan kini sudah ke luar dari kamar dan mulai mengacuhkannya. "Ya ampun, aku gak tau dia bisa berubah secepat ini," gumam Daniel dengan wajah bingung.


"Astaga, bukannya tadi dia yang ngajak aku ke sini, kenapa sekarang aku merasa sedang disalahkan, ya?" sambung Daniel lagi dengan wajah bingung. Laki-laki itu tampak menggeleng lemah sambil kembali berujar dengan helaan napas membersamainya. "Wanita memang penuh misteri dan tidak bisa dimengerti."


Walau begitu, laki-laki itu masih saja mengikuti ibunya ke luar dan menghampiri Ares lagi, yang mereka tinggalkan di ruang keluarga cukup lama.


"Cucuku." Mami Luci langsung memeluk tubuh kecil Ares yang masih tampak bingung dan terkejut dengan perubahan sikapnya.


"Kamu sudah besar, Nak. Maafin nenek karena baru tahu keberadaan kamu sekarang, sayang. Maaf, Nak," gumam Mami masih memeluk Ares dengan sangat lembut dan penuh kerinduan.


Ada rasa bersalah yang begitu besar dalam hatinya, ketika dia tahu jika Livia pergi dengan membawa benih Daniel barsamanya, sementara di sini, dirinya menyuruh Daniel melupakan Livia dan mencari wanita lain lagi.


Sungguh, saat ini mami Luci merasa sangat malu pada mantan menantunya itu, karena pernah memiliki perasaan putus asa dan menyerah untuk menunggu kedatangannya, hingga menyuruh Daniel menjalin hubungan dengan wanita lain.


"Kamu sudah besar, Nak. Siapa nama kamu, sayang?" tanya Mami Luci sambil mengurai pelukannya, kemudian menangkup wajah mungil Ares dengan kedua tangannya.


"Ares, Nek. Alfares," jawab anak kecil itu dengan wajah polosnya.

__ADS_1


"Nama yang bagus. Ganteng, sama seperti orangnya. Umur kamu pasti lima tahun, kan?" ujar Mami Luci dengan menatap haru bercampur gemas wajah Ares.


"Eum," angguk Ares tanpa ragu.


Senyum di wajah mami Luci masih tetap bertahan sambil terus memperhatikan Ares dengan seksama. Dirinya baru sadar jika ditatap lebih lama dan dekat, Ares memang mirip dengan Daniel, walau matanya tampak seperti Livia.


Sangat tampan dan menggemaskan dengan pipinya yang masih chuby, hingga membuat siapa saja yang melihatnya pasti ingin mencubit pipi gembulnya itu.


Siang sampai sore hari itu, Mami Luci benar-benar menghabiskan waktunya untuk memanjakan Ares, walau sebenarnya hatinya sedikit kecewa ketika mengetahui jika Livia tidak ikut datang ke rumah.


"Dia ada urusan lain, Mami. Aku yakin dia juga sangat merindukan Mami, tapi sekarang dia bukan lagi Livia yang dulu. Dia sekarang sangat sibuk, jadi Mami sabar, ya. Kalau ada waktu luang, Livia pasti menyempatkan diri untuk menemui Mami di sini." Itu lah kata penghibur yang dikatakan oleh Daniel agar mami Luci tidak terlalu merasa berkecil hati untuk hari ini.


"Dasar anak nakal! Bisanya kamu membuat mami merasa bersalah seperti ini sama Livia. Kenapa kamu gak pernah bilang tentang foto ini pada Mami, hem?" Mami Luci berujar pada Daniel dengan tatapan tak lepas dari Ares yang tengah bermain game bersama dengan Danis.


Daniel baru saja menceritakan jika beberapa tahun lalu, dia mendapat kiriman dari orang tak dikenal dengan isi sebuah foto bayi baru lahir yang ternyata dalah Ares. Dia juga menceritakan jika yang mengirim foto itu adalah kakak angkat Livia, walau Daniel juga belum mengetahui siapa sebenarnya kakak angkat Livia itu.


...❤️‍🔥...


Rumah keluarga anak kedua Ainsley yang memiliki kesuksesaan yang sangat fantastis di negara ini. Bukan hanya perusahaannya yang bergerak di berbagai bidang, tetapi sosoknya yang dingin dan tegas menjadi salah satu identitas laki-laki yang dikenal dengan nama Mr, Leonard itu.


'Pantas saja dia bisa membeli saham perusahaanku dengan mudah dan memberikannya pada Ares, ternyata dia adalah adik angkat Mr, Leonard?' batin Daniel dengan wajah bingungnya.


Dia bahkan masih tidak percaya, bisa menginjakkan kakinya di rumah pribadi keluarga itu yang terkenal begitu menjaga frivasinya, hingga tidak ada orang yang diizinkan datang ke sana.


"Makasih ya, udah nganterin Ares lagi. Tunggu di sini sebentar, kakak dan ayah angkatku mau menemui kamu," ujar Livia ketika dia menerima Daniel di ruang tamu kediaman keluarga Agra.


"Mereka mau ketemu sama aku?" tanya Daniel dengan wajah terkejutnya.


Livia mengangguk, kemudian menjalaskan apa yang membuat ayah dan kakaknya itu ingin menemuinya kali ini.


"Dulu, hubungan kita terjalin atas dasar balas dendamku, sampai aku tidak pernah mengenalkan keluargaku padamu. Sekarang, jika kamu memang ingin menjalin hubungan lagi denganku dan memperbaiki apa yang salah di antara kita, maka kamu harus menemui mereka dulu dan mendapatkan persetujuan dari keluargaku."

__ADS_1


"Ayah dan kakak angkatku lebih dari sekedar keluarga untukku. Mereka yang menyelamatkan aku dari penjualan manusia dan membantuku melewati trauma. Mereka juga yang menjadi kekuatanku dan selalu ada di sisiku apa pun yang terjadi. Ayah dan kakak angkatku yang selalu mendukungku dan menguatkan aku apa pun kondisi yang aku alami."


"Mereka adalah malaikat dalam kehidupanku yang sudah hancur. Mereka adalah tempat aku pulang," ujar Livia dengan mata memerah menahan tangis dan haru di dalam hatinya.


"Aku janji, akan menerima semua keputusan ayah dan kakakku. Jika mereka setuju aku kembali padamu dan kita memulai kehidupan baru, maka aku akan lakukan," sambung Livia lagi dengan senyum tipis di wajahnya.


"Aku harap kamu mengerti dengan semua ini. Maaf, jika untuk kesekian kalinya aku harus merepotkan kamu." Livia menunduk dalam, merasa segan pada Daniel.


Sementara itu, Daniel tampak tersenyum dengan mata berkaca-kaca, kemudian mulai beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Livia. Dia genggam tangan wanita itu yang terasa dingin dan sedikit lembap, sepertinya Livia sedang menahan gugup.


"Aku mengerti, Livia. Aku mengerti apa yang kamu rasakan," jawab Daniel yang membuat Livia langsung mengangkat kepalanya hingga mata keduanya tak sengaja bertaut.


Daniel tampak tersenyum lembut dan menenangkan ketika melihat wajah Livia yang tampak sendu. Dia kemudian meneruskan perkataannya dengan nada suara yang terdengar mantap dan tanpa keraguan.


"Sebagai seorang laki-laki, aku memang harus memperjuangkan kamu dan membuat keluarga kamu merestui hubungan kita, agar mereka tidak khawatir saat melepas kamu melanjutkan sisa hidup bersama denganku."


"Aku akan berusaha membuat mereka percaya, jika aku sangat menyayangi kamu dan Ares. Aku akan membuat mereka yakin dan merasa tenang saat kamu bersamaku," jawab Daniel tanpa ragu.


Tanpa Livia dan Daniel tahu, di pintu masuk ruang tamu, Andrew dan Agra sudah memperhatikan mereka berdua sejak tadi. Keduanya sengaja memilih diam dan membiarkan Daniel dan Livia menuntaskan pembicaraan mereka dulu.


"Dad, aku merasa seperti seorang penguntit yang sedang menguping orang pacaran," bisik Agra pada Andrew.


"Mana ada orang nguping terang-terangan begini," jawab Andrew santai.


Agra tampak memiringkan wajahnya dengan kerutan halus di keningnya, merasa tidak tepat untuk berada di sana saat ini, tetapi dia juga tidak bisa memaksa Andrew untuk pergi dari sana. Lagi pula, dia juga ada kepentingan dengan Daniel.


"Kenapa aku tidak suka, dia menyentuh anak perempuanku seperti itu?" gumam Andrew merasa bingung dengan perasaannya.


"Aku juga tidak suka Livia disentuh sama laki-laki lemah seperti dia." Agra menimpali dengan sorot mata yang berubah dingin.


Entah apa yang akan terjadi pada Daniel setelah ini? Mungkinkah dia akan berhasil merebuat hati Andrew dan Agra yang tampaknya tidak terlalu menyukainya? Sepertinya, hanya waktu yang bisa menjawab semua pertanyaan itu.

__ADS_1


__ADS_2