Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.82


__ADS_3

Sementara itu, setelah Agra dan semua orang ke luar dari area pertarungan, dia langsung berbalik dan menatap Max tajam.


"Kamu tidak melakukannya dengan sungguh-sungguh, kan? Bukannya aku sudah bilang, kenadlikan kekuatan kamu!" geram Agra yang langsung membuat Max menunduk dalam.


"Maafkan saya, Tuan. Saya terlalu ceroboh," jawab Max tanpa membantah sama sekali. Wala dalam hati, dia mengegrutu karena sudah ditempatkan dalam situasi seperti ini.


'Dia sendiri yang menyuruhku untuk menghajar calon adik iparnya, sekarang aku juga yang disalahkan. Nasib, jadi anak buah,' gumam Max daam hati.


Agra tak menjawab, laki-laki itu kembali dalam mode dingin kemudian melanjutkan langkahnya menuju ruangan CCTV di mana istri dan anaknya yang lain berada. Sementara Andrew terpaksa harus melewatkan acara ini, karena ada masalah di negara A yang harus dia selesaikan secepatnya, hingga laki-laki itu terpaksa harus berangkat ke sana pagi-pagi tadi.


Beralih kembali pada Livia dan Daniel yang tampak sedang dalam kondisi yang membuat jantung semua orang yang melihatnya berdebar tak menentu, karena menunggu jawaban Livia atas ramalan Daniel.


Namun, suasana itu tiba-tiba saja terganggu oleh suara teriakan anak kecildari arah pintu masuk, hingga membuat ketiga orang erbeda usia itu terlihat mengalihkan perhatiannya pada anak kecil itu.


"Tunggu!"


Livia, Daniel, dan Ares, tampak mengalihkan perhatiannya pada seorang anak kecil yang tampak berteriak di pintu masuk dengan sebuah buket bunga di tangannya.


"Aunty Livia, Syakira bawa bunga buat Aunty!" teriak anak perempuan berusia empat tahun itu sambil berlari mendekati mereka dengan wajah polosnya.


"Eh, kenapa anak itu bisa ada di sana?" Agra dan Alisya yang sejak tadi bersembunyi di salah satu ruangan dan melihat adegan antara Daniel dan Livia dari rekaman CCTV, pun tampak mengedarkan pandnagannya pada semua orang yang ikut menyaksikan bersama mereka. Keduanya baru sadar, jika mereka terllau serius menonton hingga melupakan Syakira yang ternyata sudah menghilang dari ruangan itu dan kini tengah merusak suasan acara Daniel dan Livia.


"Astaga, anak itu--" Alisya tampak gemas sendiri pada anak keduanya itu. bagaimana mungkin dia malah mengacaukan acara yangs udah susah payah Agra dan Daniel rencanakan dengan tingkat romatis mereka yang sangat rendah itu.


Sementara itu, Livia tampak tersenyum pada Syakira dan mengambil bunga dari anak kecil itu. "Makasih, cantik," ujarnya sambil mengelus lembut pipi gembul anak perempuan kakaknya itu.

__ADS_1


"Mama, jawab dulu pertanyaan Papa!" renngek Ares yang sudah merasa pegal kerena ibunya itu terlalu lama.


"Ah, iya, maaf sayang, Mama lupa," jawab Livia sambil tersenyum malu.


Sementara di balik ruang CCTV, Agra sudah terlihat frustasi dengan tingkah adik angkatnya itu yang sama sekali tidak peka. Alisya pun tampak emngulum senyum, merasa lucu ketiak melihat wajah lelah dan kesal suaminya juga Daniel.


"Ya, aku mau. Mari kita mneikah dan hidup bersama lagi," angguk Livia dengan wajah merona dan senyum malunya.


"Yeay! Sekarang aku punya Papa!" teriak Ares sambil berjingkrak ria.


Semementara itu, Daniel terlihat meneteskan air matanya, dia kemudian mengambil cincin di tangan Ares dan memasangkannya pada Livia.


"Terima kasih, sayang. Aku janji, tidak akan menyianyiakan kesempatan yang sudah kamu berikan padaku," ujar Daniel tulus.


"Tentu, aku akan berusaha membuat semuanya lebih baik dari hubungan kita yang dulu, Livia. Kamu bisa memegang janjiku, sayang," angguk Daniel dengan wajah yakin.


Keduanya hendak saling memberikan pelukan, hingga tiba-tiba sebuah suara kembali menghentika pergerakan mereka.


"Jangan mengotori mata anak dan keponakanku. URus semua keperluan pernikahan dulu dan resmikan hubungan kalian. Jangan harap kalain bisa melakuakn sesuatu sebelum surat penikahan ada di tangan!" ujar Agra sambil berajalan dengan Livia berada di sampingnya.


"Baik. Tuan," angguk Daniel dengan penuh semangat. Laki-laki itu bahkan melupakan rasa sakit di sekujur tubuhnya akibat pertarungannya dengan Max.


Siang itu, semuanya berbahagia. LIvia juga merasa lega, karena memang tidak ada yang serius dengan luka Daniel. Max senaja menyerang titik yang tidak fatal, hingga tak mengakibatkan apa pun selain lebam di kulit dan mungkin rasa pegal saja.


Malam harinya , Agra pun mengajak Daniel untuk meakan malam bersama di salah satu restoran mewah yang ada di sekiatar sana. Dia juga mengundang Mami Luci dan Danis untuk bergabung, sekaligus mempertemukan Livia dengan Mami Luci.

__ADS_1


❤️‍🔥


"Maafin aku, karena sudah memberi luka--" Livia menunduk dalam di depan Mami Luci dengan tetes air mata yang mulai berjatuhan. Dia sungguh menyesal atas semua yang sudah dia lakukan pada Daniel dan semuanya enam tahun lalu.


"Ini semua bukan salah kamu, sayang. Mami, gak pernah menyalahkan kamu sedikit pun. Itu semua memang pantas kami dapatkan, agak kami bisa mengingat kesalahan yang sudah kami perbuat kepada kamu, Livia," jawab Mami Luci sambil menggam tangan Livia lembut.


"Harusnya Mami yang meminta maaf, karena tidka bisa mendampingi kamu katika kamu berjuang untuk mengandung dan melahirkan Ares. Maaf, karena Mami tidak tahu semua itu," sambung Mami Luci lagi. Kini tetes air mata pun terlihat mulai jatuh membasahi pipi wanita yang sudah mulai menua itu.


Livia menggeleng pelan, dia tidka pernah menyalahkan Mami Luci untuk sesuatu yang dirinya tanggung setelah memilih pergi, termasuk dengan kehadiran Ares dalam kehidupannya.


Semua kesulitan yang dia alami setelah memutuskan untuk meninggalkan Daniel, dia anggap sebagai sebuah hukuman untuknya karena sudah melakukan kesalahan dan sebuah pelajaran dalam perjalanan untuk menjadi lebih dewasa lagi.


"Mami, gak salah. Aku yang sudah egois dan memilih tidak memberi tahu mami apa yang sebenarnya terjadi. Maafkan aku." Livia menggeleng pelan dengan mata yang berkaca-kaca.


"Livia ...." Mami Luci langsung memeluk wanita yang sudah begitu dia cintai itu. Wanita yang kini kembali menjadi calon menantu untuk yang kedua kalinya.


"Mami," gumam Livia dengan air mata yang jatuh tak tertahankan, keduanya saling melepaskan kerinduan yang sealma ini terpendam di dalam dada. Mereka pun terhanyut oleh suasana yang terjadi anatar keduanya.


Sementara itu, di tempat lain Agra tampak sedang berbicara dengan Andrew melalui sambungan telepon. Laki-alaki menjalang tua itu terdengar sedang mencari tahu tentang acara tadi siang yang sudah dia siapkan bersama dengan Agra dan Daniel sejak beberapa hari lalu.


"Semuanya berjalan dengan lancar. Sekarang kita sedang melakukan makan malam bersama," jawab Agra sambil tersenyum bangga.


"Bagus. Berarti rencana kita untuk memancing LIvia untuk mengeluarkan perasaannya pada Daniel sekalaigus melatih laki-laki itu berhasil. gak sia-sia kita menghabiskan waktu kita untuk mereka," ujar Andrew dengan alaan napas lega.


"Iya, Daddy. Aku harap kedepannya tidak ada lagi masalah dalam hubungan mereka berdua, apa lagi sekarang sudah ada Ares di anatara mereka." Agra beerkata tulus, dengan harapan kebahagiaan untuk Livia.

__ADS_1


__ADS_2