
Setelah cukup lama menumpahkan tangisnya di pundak Livia, Daniel akhirnya mengurai pelukan mereka. Livia tersenyum tipis, dia melihat mata Daniel yang memerah dan masih dipenuhi dengan air mata.
"Makasih, Livia," ujar Daniel lirih sambil ikut tersenyum tipis, walau itu sangat terlihat dipaksakan.
"Sebaiknya kamu kabarin Danis dan Mami. Mereka harus tau secepatnya," ujar Livia setelah membawa Daniel duduk di kursi tunggu.
Daniel pun menghembuskan napas kasar beruang kali untuk meredam sesak yang masih terasa menghimpit dadanya, dia kemudian mengabil poselnya di saku. Daniel tampak ragu ketika ingin menghubungi Mami Luci. Dia lebih dulu menoleh pada Livia untuk mencari kekuatan dan keyakinan jika di sana tidak akan terjadi apa-apa pada Mami Luci.
"Telepon Danis dulu saja, tanyakan apa dia sudah ada di rumah, jadi dia bisa menjaga Mami," usul Livia saat meihat Daniel yang ragu.
"Kamu benar, aku hubungi Danis dulu," angguk Daniel sambil mulai mencari nama adiknya di kontak ponsel.
Melihat Daniel sudah lebih tenang, kini Livia beralih berjalan mendekati Karlo yang tampak masih duduk bersimpuh di bawah brankar jasad kakek Banu. Perlahan dia menyentuh pundak Karlo hingga laki-laki paruh baya itu menoleh padanya.
"Pak Karlo. Bisa tolong bantu urus administrasi Tuan Banu?" tanya Livia dengan sangat hati-hati. Dia tahu jika ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakan ini, tetapi penyesalan dan kesedihan berkelanjutan tidak ada gunanya lagi. Sekarang yang terpenting mereka harus segera mengurus jasad kakek Banu secepatnya.
"Ah, iya. Maaf, saya terlalu terbawa suasana. Saya akan segera mengurusnya," jawab Karlo sambil menghapus air mata yang sudah membanjiri pipinya.
Livia mengangguk samar, kemudian kembali duduk bersama dengan Daniel setelah melihat Karlo pergi untuk mengurus semua administrasinya.
...❤️🔥...
Sore menjelang senja, kini Livia, Daniel, Danis, dan Mami Luci, sedang dalam perjalanan untuk mengantarkan kakek Banu ke tempat peristirahatan terakhirnya, setelah sempat disemayamkan di rumah dari siang tadi.
__ADS_1
Sejak kembali dari rumah sakit dengan jasad kakek Banu bersamanya Daniel berusaha keras mengendalikan emosinya agar tetap terlihat tegar dan kuat di hadapan banyak orang. Dia juga sibuk menyambut para pelayat yang datang, dengan dibantu oleh Danis. Dua kakak beradik itu tampak saling menguatkan satu sama lain.
Sementara Livia memilih untuk fous pada Mami luci yang tampak sangat terpukul dengan kepergian kakek Banu. Seperti saat ini, Livia duduk di samping mami Luci, sementara Daniel berada di sisi lainnya. Danis duduk di samping sopir yang mengemudikan mobil mereka, sementara Karlo memilih berada di mobil ambulan.
Langit senja sore itu terasa sangat mendung dengan awan kelabu yang menutupi sinar matahari. Begitu mobil memasuki area pemakan umum, Livia bisa melihat banyaknya orang yang menunggu mereka di sana, termasuk para pencari berita. Sepertinya kabar tentangg meninggalnya kakek Banu tidak hanya mengejutkan keluarga, tetapi juga seluruh orang yang tahu keberadaannya di dunia ini.
Daniel dan Livia turun dari mobil lebih dulu, mereka menyiapkan kursi roda untuk mami Luci, kemudian membantu wanita paruh baya itu turun dari mobil dan duduk di kursi rodanya. Melihat kedatangan Daniel dan Livia para pencarai berita pun tampak ingin mendekatinya, tetapi para anak buah Daniel dengan sigap menjaga mereka agar tidak sampai mendekati para majikannya.
Prosesi pemakaman berjalan lancar walau awan kelabu di langit pun semakin terlihat tebal dan bersiap untuk menurunkan air hujan. Namun, itu tak membuat suasana di sana yang dipenuhi oleh kesedihan berubah.
Daniel dan Danis bahkan sempat turun ke liang lahat untuk menerima jenazah kakek Banu dan membaringkannya di tempat peristirahatan terakhirnya. Daniel bahkan mengumandangkan azan terakhir untuk kakek Banu walau dengan suara yang parau dan bergetar juga mata merah karena menahan tangis.
Setelah semua pelayat meninggalkan area pemakaman kakek Banu, kini Daniel yang sudah tidak kuat menahan tubuhnya sendiri ambruk di atas tanah makam kakek Banu yang masih basah.
"Daniel!" Mami Luci dan Livia pun refleks berteriak katika melihat Daniel ambruk.
"A--aku gak apa-apa," ujar Daniel sambil memegang tangan Danis yang menahannya.
"Ayo, kita pulang saja, sepertinya sebantar lagi juga akan turun hujan," ujar Mami Luci yang merasa khawatir pada anak sulungnya.
Daniel mengangguk, dia kemudian memilih berpamitan dalam hati pada Almarhum kakek Banu dan mulai melangkahkan kakinya dengan dipapah oleh Danis dan Livia, sementara itu, kursi roda mami Luci di dorong oleh salah satu anak buah Daniel.
Dibalik kesedihan Daniel, Danis, dan Mami Luci, ada Murti dan Julio yang tampak menatap sinis keluarga itu. Mereka ikut dalam semua proses pemakaman kakek Banu walau tanpa ada orang yang tahu tentang hubungan mereka dengan keluarga Hartoyo.
__ADS_1
Daniel yang mengerahkan seluruh anak buahnya untuk memastikan tidak ada gangguan dalam prosesi pemakaman kakeknya, membuat mereka berdua teralu takut untuk berbuat masalah di hari kematian kakek Banu, walau begitu banyak kesempatan yang datang untuk mengakui hubungan mereka dengan keluarga Hartoyo. Apa lagi sebelumnya Daniel mengancam mereka untuk tetap diam dan jangan sampai membuat masalah atau dia akan mengusir mereka dari rumah pada saat itu juga.
Belum lagi, tanpa sepengetahuan orang lain. Livia pun ikut megancam Murti dengan video tempo hari, agar mereka tidak bisa berbuat apa pun hari ini.
...❤️🔥...
"Sial! Kenapa kakek tua itu pake mati sekarang sih? Padahal kita belum berhasil mengeruk harta keluarga ini!" dengus Murti ketika keduanya baru saja sampai dari pemakaman dan kini tengah berada di kamar Murti.
"Iya. Kalau tau begini, mending kemarin kita langsung keruk saja semua uang di kantor agar kita bisa segera pergi dari sini dengan membawa banyak uang," angguk Julio, membenarkan ucapan ibunya.
"Sekarang posisi kita di rumah ini sangat genting. Ketika tua bangka itu sedang sakit saja, Daniel sudah berani membatasi uang untuk kita, apa lagi sekarang, kakek tua itu sudah mati. Daniel bisa saja mengusir kita dari rumah ini," ujar Murti dengan wajah yang kini berubah panik.
"Terus kita harus gimana, Ma?" tanya Julio yang juga takut akan diusir dari rumah ini, sedangkan rumahnya yang dahulu sudah mereka jual sebelum mereka pindah ke sini.
"Kita harus membuat rencana untuk mengambil semua uang sebanyak-banyaknya dari Daniel, lalu kita pergi dari negara ini," ujar Murti dengan wajah yang sumringah ketika dirasa mendapatkan ide yang bagus.
Julio menghembuskan napas pelan ketika mendengar ucapan ibunya. "Iya, aku tau kita harus meakukan itu. Tapi, gimana caranya?"
Murti terdiam dengan mata menatap tajam Julio. "Ya, kamu pikir sendiri lah! Kalau begini saja tidak bisa, buat apa aku susah payah melahirkan kamu, hah?! sentak Murti sambil memukul kepala Julio dengan cukup keras, hingga membuat Julio mengaduh kesakitan.
Julio mendengus kesal sambil mengusap belakang kepalanya yang terasa berdenyut. Kini dia bingung harus bagaimana untuk mendapatkan uang dari Daniel dengan jumlah yang banyak.
Awas saja kalian, aku akan buat kalian merasakan apa itu namanya sengsara, seperti aku dan anakku selama ini, batin Murti dengan kilat penuh kemarahan di sorot matanya.
__ADS_1