Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.7 Terkesima


__ADS_3

"Livia?" gumam Daniel pelan.


"Astaga, kenapa dia bisa berubah menjadi bidadari seperti ini?" Danis yang ikut terpesona dengan kecantikan Livia pun ikut bergumam pelan.


Kedua kakak beradik itu tampak terpaku dengan mata yang tak bisa berpaling dari Livia yang baru saja ke luar dari kamar. Sungguh, penampilan Livia yang sekarang memang sangat cantik hingga membuat Daniel dan Danis tidak sadar dengan situasi.


Berbeda dengan Daniel dan Danis, Livia malah berdecak pelan, dia tidak menyangka jika kini malah bertemu langsung dengan Daniel dalam keadaan seperti ini.


Ck! Lihatlah, mata dua laki-laki brengsek itu ketika melihat aku yang sekarang, mereka bahkan tidak berkedip, padahal sampai tadi pagi aku yakin mereka masih puas menghinaku, batin Livia menahan geram.


Mami Luci tersenyum melihat reaksi Daniel dan Danis yang terlihat suka dengan hasil dari usahanya untuk merubah Livia. Kini dia yakin jika suatu hari nanti Daniel pasti bisa menerima Livia dengan baik. Kini dia hanya tinggal menunggu saat itu terjadi.


"Bagimana? Livia cantik, kan?" tanya Mami Luci yang berinisiatif membuka suara lebih dulu.


"Cantik," gumam Daniel dan Danis yang masih setengah sadar bersamaan. Walau sedetik kemudian keduanya tampak mengerjap dan mengalihkan perhatiannya pada Mami Luci dengan wajah terkejut akan ucapannya sendiri.


"Apa, Mam? D--dia wanita kampung itu?" Daniel tampak memastikan pendengarannya dengan wajah yang telihat sangan syok. Sepertinya dia tidak menyangka kalau wanita di depannya sekarang adalah Livia.


Mami Luci mengangguk yakin. "Cantik, kan?" tanyanya lagi.


"A--apanya yang cantik? Dia gak pantes pake baju begitu, Mam," ujar sinis Daniel sambil membuang muka menghindari tatapan Livia. Padahal Daniel tengah menenangkan jantungnya yang tiba-tiba berdebar lebih kencang dari biasanya.


Berbeda dengan Daniel, Danis malah tersenyum sambil kembali menatap Livia yang memang tampak sangat berbeda.


"Wah, Mami memang jenius. Mami bisa merubah perempuan kampung kayak Livia jadi secantik ini," ujar Danis takjub walau masih saja terdengar hinaan di dalam perkataannya.


Mami Livia tersenyum dengan pengakuan Danis, dia kemudian beralih pada Livia. "Sini, Livia," ujarnya yang kamudian langsung mendapat anggukkan kepala dari Livia.

__ADS_1


"Danis aja mengakui kecantikan istrimu, Daniel. Itu berarti memang mata kamu yang harus diperiksa, biar bisa melihat dengan jelas," sambung Mami Luci sambil tersenyum pada Livia yang tampak berjalan menghampirinya.


"Emang dia gak cantik, kok," jawab Daniel yang terdengar sangat canggung.


"Sudahlah, aku capek mau istirahat. Aku ke kamar dulu," sambung Daniel lagi sambil melangkahkan kakinya hendak meninggalkan Mami Luci dan yang lainnya. Namun, perkataan Mami Luci lebih dulu menghentikan langkahnya, dia kemudian berbalik dan kembali menatap ibu yang telah melahirkannya itu.


"Daniel, tunggu!" ujar Mami Luci.


"Ada apa, Mam?" tanya Daniel sambil kembali melihat Mami Luci dengan kening berkerut. Entah kenapa, tiba-tiba dia merasa mempunyai firasat yang tidak mengenakkan setelah ini.


"Ajak istrimu ke kamar juga dong, Daniel. Mami sudah memindahkan semua barang milik Livia ke kamarmu," ujar Mami Livia sambil memegang tangan Livia yang berdiri di sampingnya.


"Hah?!" Daniel dan Livia sama-sama terkejut, mereka langsung menatap Mami Livia dengan kening berkerut dalam. Namun yang ditatap malah terkekeh ringan, seolah reaksi terkejut anak dan menantunya itu adalah sebuah hiburan yang menyenangkan untuknya.


"Wah, udah kompak aja nih pengantin baru," ujarnya sambil menatap Livia dan Daniel secara bergantian.


"Karena Mami tau kalau semalam kalian tidak tidur di kamar yang sama. Ingat, Livia, sekarang kalian berdua itu sudah menikah dengan Daniel." Mami Luci tampak memberi pengertian pada menantunya.


"Kamu juga, Daniel. Sebagai suami harusnya kamu lebih memperhatikan Livia, jangan malah menyuruhnya untuk tidur di luar!" sambung Mami Luci dengan tatapan tajam pada anak pertamanya itu.


"Tapi, Mam, kita kan baru aja menikah, lagian itu juga terpaksa karena Mami memaksaku." Daniel masih merasa keberatan.


"Mami gak perduli, yang penting sekarang kalian udah menikah dan Mami mau kalian tidur sekamar, titik!" ujar Mami Luci keras kepala.


"Sudahlah, Kak, lebih baik Kakak turuti saja kemauan Mami, daripada nanti darah tinggi Mami naik lagi," bisik Danis ikut mendukung Mami Luci.


Daniel berdecak sambil menatap tajam Danis, dia benar-benar kesal sekarang. Sungguh, Daniel tidak pernah membayangkan akan tinggal satu kamar dengan wanita kampungan yang merupakan perawat ibunya sendiri. Tatapannya kini tertuju pada Livia yang tampak menunduk dalam di samping Mami Luci.

__ADS_1


Kini, Livia sedang berperan menjadi perempuan kampung yang polos dan lemah di depan anggota keluarga Hartoyo.


Melihat dan membayangkan apa yang akan terjadi di kamarnya saja, sudah membuat Daniel merinding, dia sudah terbiasa tinggal di kamarnya sendiri, hingga dia tidak suka ada seseorang yang ikut tidur di sana. Itu bahkan berlaku untuk Danis sekalipun. Namun, sekarang apa yang Mami Luci lakukan? Dia malah memasukan semua barang murahan milik Livia ke kamarnya. Ugh, rasanya dia ingin mengamuk sekarang juga.


"Terserah Mami saja lah," ujarnya pasrah kemudian berjalan cepat menaiki anak tangga menuju lantai dua di mana kamarnya berada.


"Sana, buatkan teh camomile untuk suami kamu, lalu susul dia ke kamar. Biasanya kalau dia sedang marah Mami selalu membuatkannya teh camomile," ujar Mami Luci pada Livia.


"Baik, Mami," angguk Livia tanpa perlawanan. Sejak tadi hatinya resah, mengingat Mami Luci memindahkan barang-barangnya ke kamar Daniel, tanpa dia ketahui lebih dulu. Sementara dia menyembunyikan semua barang pentingnya di kamar. Seperti, laptop, earphone, bahkan sebuah ponsel pintar yang harganya tidak main-main. Semua itu, biasanya dia pakai untuk berkomunikasi dengan keluarga angkatnya dan anggota mafia yang lain. Entah bagaimana reaksi Mami Luci jika sampai dia tahu kalau dirinya memiliki banyak barang berharga mahal di kamarnya.


Livia masuk ke dapur, dia membuatkan teh camomile untuk Daniel. Namun, selentingan obrolan para pelayan yang membicarakan tentangnya mengganggu konsentrasi Livia, hingga dia akhirnya memutuskan untuk diam-diam mendengarkan isi percakapan itu.


"Makin sombong aja nanti si Livia itu. Sudah dinikahi sama Tuan Daniel, sekarang dia juga diberikan baju sebanyak itu sama Nyonya Luci," ujar salah satu pelayan yang memang tidak menyukainya sejak awal dia datang ke rumah ini.


"Iya, aku yakin dia pasti pake guna-guna biar bisa buat Nyonya Luci suka sama dia, dan sekarang giliran Tuan Daniel yang jadi sasarannya," balas satu orang lainnya.


Livia menghembuskan napas pelan dan memilih tak acuh dengan semua yang dirinya dengar. Yang penting sekarang, tujuannya untuk masuk lebih dalam ke keluarga ini perlahan mulai tercapai. Dia tidak ke sini untuk bekerja dan mencari muka seperti mereka, tetapi di datang ke sini dengan tujuan yang lebih besar dari hanya mencari nafkah saja


Setelah menyiapkan teh camomile untuk Daniel, dia pun pergi dari area dapur. Ketika melewati kamar Mami Luci, Livia berpapasan dengan Danis yang baru saja mengantarkan Mami Luci ke kamar. Mereka pun berjalan bersama menuju ke lantai atas.


"Sebaiknya kamu menurut saja dengan Kak Daniel dan jangan coba-coba untuk membantahnya. Saat ini dia sedang sangat banyak pikiran dan itu diperburuk dengan adanya kamu," ujar Danis memperingatkan.


Livia mengangguk, dia kemudian berjalan menuju ke depan pintu kamar Daniel. Dia menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan sebelum akhirnya mengetuk pintu berbahan kayu itu. Danis tampak menatapnya prihatin sebelum kemudian masuk ke dalam rumahnya.


Tidak mendapat jawaban dari dalam setelah cukup lama menunggu, akhirnya Livia memberanikan diri membuka pintu kamar Daniel yang ternyata tidak dikunci. Perlahan dia pun masuk ke dalam kamar bernuansa warna hitam dan coklat muda itu. Hingga ....


"Aaaaa ...!"

__ADS_1


__ADS_2