
"Tuan besar, cepatlah sembuh, saya sedih melihat tuan besar seperti ini," ujar Karlo ketika mereka kini hanya tinggal berdua di dalam ruang rawat.
Karlo menatap nanar wajah keriput kakek yang kini sedang bercerita tentang masa lalunya bersama dengan sang istri dan Karsa, dia juga sering menceritakan bagaimana usaha dia dalam membangun perusahaan hingga kini berhasil menjadi besar dan sukses. Cerita itu terus berulang setiap hari, seolah memang hanya itu yang diingat oleh kakek Banu. Karsa akan menemani kakek Banu dan mendengarkan ceritanya yang selalu sama itu, walau sebenarnya dia sudah hampir hafal semua alur cerita yang kakek Banu ucapkan.
Mengangguk dan tersenyum menjadi sesuatu yang dia lakukan untuk menanggapi cerita kakek Banu agar laki-laki tua itu tak merasa diacuhkan dan akhirnya ke luar dari ruangan dan mencari orang untuk mendengarkan ceritanya.
"Saya sudah peringatkan sejak awal, jangan kembali ke Indonesia dulu, apa lagi sampai menjalankan rencana untuk menguji Daniel. Sekarang, kesehatan Anda semakin menurun, bagaimana saya bisa tenang kalau begini," sambung Karlo dengan wajah sendu.
"Anda sudah saya anggap seperti orang tua saya sendiri, Tuan. Saya mohon tolong sembuhlah setidaknya untuk Daniel --cucu Anda." Karlo benar-benar merasa jatuh sekarang. Sudah lebih dari dua bulan kakek berada di rumah sakit ini, tetapi tidak ada perkembangan yang berarti, kini kesehatan kakek Banu bahkan terus menurun karena sering merindukan sang istri dan anaknya yang sudah meninggal.
"Karlo," panggil kakek Banu yang langsung membuat Karlo menegakkan tubuhnya.
"Iya, Tuan besar. Ada yang perlu saya bantu? Apa yang Anda inginkan, Tuan?" jawab Karlo sigap.
"Aku mau bertemu dengan Karsa, Karlo. Kenapa dia tidak datang untuk menjengukku di sini?" tanya kakek Banu dengan wajah yang terlihat sendu.
Karlo terdiam, dia menggenggam tangan kakek Banu pelan sebelum menjawab pertanyaan kakek Banu. " Tuan Karsa sedang sibuk, Tuan besar. Nanti kalau dia sudah senggang pasti dia akan datang ke sini."
Terpaksa Karlo akan menjawab pertanyaan penuh kerinduan dari kakek Banu dengan sebuah kebohongan. Saat ini, kakek Banu terkadang seolah kembali ke masa lalu, dia tidak ingat jika istri dan anaknya sudah meninggal. Dia akan mengamuk jika Karlo memberitahu apa yang terjadi sesungguhnya.
"Apa yang dia lakukan di kantor? Anak bodoh selalu saja gagal! Dia bahkan tidak bisa lebih baik dari Pras. Lihatlah, perusahaan yang dipimpin oleh Pras kini sudah hampir menyamai perusahaan kita. Karsa itu sama sekali tidak berguna! Dia tidak bisa apa-apa! Aku mau setiap kali bertemu dengan Surya, perusahaannya yang diberikan pada Pras sekarang berkembang pesat, tidak seperti perusahaanku yang terus merosot gara-gara anak tidak berguna seperti Karsa!"
Tiba-tiba saja kakek Banu berteriak histeris, dia kembali membandingkan Karsa --anaknya sndiri-- dan Pras --anak temannya yang dulu hanya memiliki perusahaan kecil dan kini terus berkembang setelah diberikan kepada Pras.
Melihat itu, Karlo langsung berdiri untuk menenangkan kakek Banu agar darah tingginya tidak kembali naik dan akan berakibat tidak baik untuk tubuh lemah laki-laki tua itu.
__ADS_1
Kini, begitulah keseharian Karlo dalam menjaga kakek Banu, dia harus bersiap dengan suasana hati kakek Banu yang selalu naik turun secara tiba-tiba dan tidak stabil, tergantung dengan ingatan yang dia dapatkan pada saat itu.
Pernah sekali, dia kehilangan kakek Banu yang ke luar dari ruangannya karena ingin mencari Karsa dan istrinya yang tak juga datang. Kadang kakek Banu juga menganggap Daniel sebagai Karsa dan akan memarahinya ketika Daniel datang. Karena itu, jika sedang giliran Daniel menjaga kakek Banu, dia akan ditemani oleh Livia.
Selama kakek Banu dirawat, Karlo bahkan tidak pernah beranjak dari rumah sakit, dia terus berada di samping kakek Banu. Dia juga menyuruh keluarga Daniel untuk pulang ke rumah agar bisa beristirahat dengan tenang, sementara dirinya yang akan terus menjaga kakek Banu di rumah sakit.
Terkadang Daniel dan Livia akan bergantian menjaga kakek Banu ketika hari libur, agar Karlo bisa beristirahat dengan tenang di rumah. Walau, sebenarnya di dalam kamar rawat kakek pun ada ranjang tambahan khusus untuk yang menjaganya.
Namun, tetapi saja. Yang namanya tidur di rumah sakit akan tetap tidak nyaman dibandingkan dengan tidur di rumah. Daniel tahu itu, hingga setiap hari sabtu minggu dia, Danis, dan Livia, akan bergantian menjaga kakek Banu sekaligus menemani Mami Luci di rumah. Daniel masih belum tenang jika haus meninggalkan Mami Luci di rumah dengan Murti dan Julio yang masih tinggal di rumah.
Sebenarnya, Daniel sudah sangat ingin mengusir kembali dari rumah, tetapi dia tidak bisa melakukan itu. Daniel masih memilih untuk menghargai kakek Banu yang dulu membawa mereka ke rumah, maka selama kakek Banu tidak mengusir mereka, Daniel akan mencoba bertahan untuk hidup berdampingan dengan dua orang yang sangat dia benci itu. Setidknya, sekarang Julio sudah dia pecat dan tidak bisa lagi membuat masalah di kantor.
Kondisi perusahaan pun perlahan mulai membaik, proyek besar berhasil mereka dapatkan, keuangan pun mulai kembali stabil setelah megalami banyak guncanggan. Dia akhirnya memberikan uang bulanan untuk Murti dan Julio dengan batas yang dia tentukan. Walau awalnya Murti dan Julio tidak terima dengan apa yang dia lakukan, tetapi, sekarang mereka memang tidak bisa melawan, mengingat keduanya tidak memiliki sumber dana lain, selain dari Daniel.
...❤️🔥...
"Sabar, Daniel. Aku yakin, lambat laun dia bisa berdamai dengan keadaan. Walau aku tidak tahu ceritanya, tetapi semua itu sudah berlalu, kakek pasti akan sadar hal itu suatu hari nanti." Livia mencoba memberikan ketenangan untuk Daniel yang sedang duduk dengan bahu turun dan kepala menunduk setelah setelah beberapa saat yang lalu kakek Banu kembali mengamuk ketika melihat wajah Daniel karena mengira dia adalah Karsa.
Livia menghembuskan napas pelan ketika melihat Daniel yang masih saja terlihat murung. Perlahan tangannya terangkat dan menepuk punggung laki-laki itu dengan gerakan lembut, agar dapat bisa menenangkannya.
Daniel menoleh pada Livia tanpa aba-aba laki-laki itu memeluk tubuh Livia dengan gerakan halus, dia kemudian menaruh dagunya di pundak wanita yang sudah beberapa bulan ini menjadi istrinya.
Tubuh LIvia menegang dengan mata melebar ketika melihat sikap Daniel yang tidak biasa. Ini adalah pertama kalinya dia berisnteraksi seintim ini, setelah beberapa bulan ini menjalani status sebagai suami istri. LIvia terkejut bukan main, walau akhirnya dia mencoba menenagkan hatinya dan perlahan menerima perlakuan Daniel yang tiba-tiba itu.
Tenang Livia, kamu harus bersikap biasa saja. Semua ini menandakan jika rencanamu sudah mulai berhasil. Sekarang Daniel mulai melihat keberadaanmu. Sebentar lagi, dia akan bergantung padamu, dan di saat itulah rencana akhirmu akan dilakukan.
__ADS_1
"Terima kasih ... terima kasih, Livia. Kamu selalu ada untuk keluargaku di saat kita sedang dalam keadaan terpuruk. Kamu mengambil semua tanggungjawabku di rumah ketika aku harus fokus pada perusahaan, dan tidak pernah lupa mengurus semua keperluanku. Maaf, karena aku dan keluargaku selalu mereputkanmu," ujar Daniel lirih dan putus asa.
Livia tersenyum tulus dengan tangan yang perlahan membalas pelukan Daniel, dia menepuk punggung laki-laki itu pelan, kemudian berkata dengan suara yang lembutt dan membuai. "Itu sudah keajibanku, entah itu sebagai perawat mami, atau mungkin istri pura-pura kamu."
Deg! Daniel terdiam dengan napas yang tiba-tiba saja terasa tercekat, ketika mendengar kata-kata Livia. Ya, dirinya bahkan tidak pernah memberikan status yang jelas untuk Livia. Namun, Livia tidak pernah mengeluh sama sekali. Wanita itu bahkan terus saja menjalani perannya sebagia seorang istri untunya, walau dia tidak pernah melihatnya.
Tiba-tiba saja Daniel merasa sesak, mengingat betapa jahatnya dia selama ini pada Livia. Hingga membuatnya kembali mengucapkan kata maaf yang disertai dengan sebuah penyesalan mendalam. "Maafkan aku, Livia."
...❤️🔥...
Daniel melangkah cepat menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangan kakek Banu, dia semakin merasa bersalah ketika mendengar jika kakeknya hilang kesadaran. Sungguh, dia tidak menyangka jika kakekknya yang selama ini terlihat sehat-sehat saja kini kesehatannya terus memburuk hanya dalam jangka waktu yang singkat.
"Karlo, bagaimana keadaan kakek?" tanya Daniel begitu dia melihat Karlo yang tengah berdiri di luar ruangan kakek Banu.
"Tuan besar sedang diperiksa oleh dokter," jawab Karlo dengan wajah yang tak kalah panik dengan Daniel.
"Ada apa sebenanya, Karlo? Kenapa kakek bisa anfal?" tanya Danie ingin tahu kronologis kejadiannya.
"Maafkan saya, Tuan muda. Saya tadi lengah menjaga tuan besar sampai tuan besar pergi ke kamar mandi sendiri dan dia jatuh di sana. Saya--"
"Ke mana kamu, Karlo? Kenapa kamu tinggalkan kakek sendiri, hah?! Kamu tau kan, kalau kakek sudah tidak bisa ditinggal sendiri? Kalau kamu lelah, bilang padaku, aku akan mencari seorang perawat agar bergantian dengamu, atau kamu bisa meminta bantuan perawat di sini, kan!" sentak Daniel yang sudah terlalu khawatir dengan kondisi kakek Banu.
"Maafkan saya, Tuan muda." Karlo menunduk dalam dengan mata memerah, dia juga merasa sangat bersalah karena lengah menjagga tuannya.
Dia hanya meninggalkan kakek Banu untuk menerima telepon di depan kamar, pada saat itu jelas dia melihat kakek Banu bahkan masih tertidur pulas, tetapi entah bagaimana jadinya, tiba-tiba dia mendengar suara jatuh dari arah ruang rawat dan tiba-tiba dia melihat kakek Banu sudah tidak ada di atas brankar, dan Karlo menemukannya tergeletak tak sadarkan diri di dalam kamar mandi.
__ADS_1
Daniel memijat ujung hidungnya berusaha meredam pening yang tiba-tiba saja menyerang. Sungguh, kabar ini terlalu mengejutkan untuknya. Dia belum siap kehilangan kakek Banu. Daniel belum siap untuk kehilangan kembali.
Ya Tuhan, tolong sembuhkanlah kakekku, jangan Engkau ambil dia dariku secepat ini.