Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.17 Patah hati pertama


__ADS_3

Daniel terdiam dengan mata yang memerah, entah mengapa dadanya masih saja berdebar ketika mendengar nama Selvia Anastasya disebutkan. Namun, kini yang dia rasakan bukan lagi perasaan senang dan penuh suka cita selayaknya seseorang yang sangat mencinta. Sebaliknya, Daniel malah merasa sangat marah, dengan kilatan masa lalu yang kembali berputar secara otomatis di kepalanya.


Flashback.


Suasana pagi kota Jakarta di akhir pekan yang biasa membuat orang bermalas-malasan, tak membuat seorang Daniel ikut terbuai dengan semua itu. Dia yang baru saja datang setelah mengantarkan kakeknya ke luar negeri untuk berobat kini sedang bersiap untuk memberi kejutan pada tunangannya, setelah hampir dua minggu ini mereka tidak bertemu.


Daniel menghentikan mobilnya di parkiran sebuah apartemen elit di bilangan Jakarta Utara, tempat di mana sang kekasih hati yang begitu sangat dia rindukan berada sekarang. Dengan langkah tegas dan lebarnya, Daniel menuju ke sebuah lift yang akan membawanya ke lantai sepuluh, tempat unit milik Selvia berada.


Ini adalah apartemen yang sengaja Daniel beli dan berikan untuk Selvia setahun yang lalu, dia memberikan ini sebagai kado ulang tahun tunangannya itu, sekaligus hadiah karena Selvia mau menerima lamarannya. Daniel, bahkan tidak peduli dengan harga pantastis dan banyaknya uang yang harus dia keluarkan hanya demi untuk memberikan hadiah pada kekasihnya itu, karena dia hanya tahu memanjakan wanita dengan uang dan fasilitas yang dia miliki saat ini. Menggantikan dirinya yang harus sibuk untuk belajar bisnis demi mengelola perusahaan milik kakeknya, semenjak ayahnya meninggal beberapa tahun lalu.


Sebagai anak pertama, tentu itu adalah salah satu kewajiban yang harus dia terima tanpa bisa membantah. Kewajiban yang bahkan tidak pernah bisa beralih pada Danis, sebagai cucu kedua dari anak pertama keluarga Hartoyo dan adiknya sendiri.


Langkahnya terhenti di depan sebuah pintu dengan senyum merekah, dia kemudian menekan sandi yang tentu sudah dia ketahui sejak awal. Daniel tampak menatap sebuket bunga segar yang dia sengaja beli sebelumnya, sebagai pelengkap kejutan pagi ini untuk sang kekasih, sambil membuka pintu apartemen.


Tanpa curiga, dia pun berjalan langsung menuju kamar yang berada tidak jauh dari pintu utama. Melewati ruang tengah yang terlihat sedikit berantakan, seperti sudah mengadakan sebuah pesta. Kening Daniel sedikit mengerut ketika melihat mendapati pemandangan itu, walau dia akhirnya bersikap acuh, mengingat Selvia memang sering mengadakan pesta bersama teman sesama model atau kru pemotretan di apartemen ini.


Tanpa pikir panjang, Daniel pun melanjutkan langkahnya kemudian membuka pintu kamar Selvia dengan senyum merekah, bersiap untuk memberi kejutan pada sang pujaan hati yang telah menjalin hubungan selama hampir tujuh tahun lamanya. Mereka berpacaran sejak masih di masa kuliah, dan kini keduanya sudah sibuk dengan karir masing-masing.


"Good miring, ho--ney." Daniel yang tadinya berseru penuh semangat langsung mengepalkan tangannya erat dengan mata yang memerah, ketika melihat menampakkan kamar Selvia yang sama sekali tidak dia duga.


Baju berceceran di mana-mana, lengkap dengan pakaian dalam. Bukan hanya milik Selvia, tetapi juga pakaian seorang laki-laki. Bunga di tangan Daniel jatuh begitu saja bahkan tanpa bisa Daniel sadari. Matanya kini beralih menyorot tajam ranjang yang tampak begitu berantakan di depan sana, belum lagi bau sisa bercinta yang masih tercium sangat kental di seluruh kamar.


Tidak ada ... tidak ada apa pun di atas ranjang, di sana kosong. Namun, kini telinganya bisa mendengar suara gemercik air yang dibarengi dengan suara tawa Selvi dan seorang laki-laki lainnya. Daniel menoleh, dia baru saja hendak beranjak ketika langkahnya tiba-tiba terhenti begitu melihat pintu kamar mandi terbuka.

__ADS_1


"Kamu nakal banget sih, Jo. Bukannya tadi cuma mandi, tapi sekarang kamu malah melakukannya lagi," rajuk Selvia pada laki-laki yang kini tengah menggendongnya ala bridal style.


Laki-laki itu terkekeh ringan, "Itu hanya sedikit, Baby. Tubuhmu ini selalu membuatku tidak bisa menahan diri," jawab laki-laki itu sambil kembali mendaratkan ciuman di bibir merah merekah milik Selvia.


Kedua sejoli yang sedang asik bermesraan itu bahkan belum menyadari keberadaan Daniel yang sudah menyorot keduanya dengan sangat tajam, hingga mereka dengan asik melakukan ciuman mesra di sana, tanpa peduli pada situasi saat ini.


Brak!


Pyar!


Tautan bibir dua orang yang tengah memadu kasih itu pun terlepas begitu saja ketika mendengar suara gaduh yang tidak jauh dari mereka. Tubuh keduanya mematung dengan mata melebar ketika melihat pecahan vas bunga yang sudah hancur berantakan di atas lantai, semua itu semakin mengejutkan dengan adanya sosok laki-laki yang sangat keduanya kenal, kini tengah menatap mereka dengan wajah yang memerah dan mata tajam.


"D--Daniel?" gumam Selvia sambil beranjak turun dari pangkuan laki-laki itu, dia membenarkan handuk putih yang hanya melilit tubuh sempurnanya sampai sebatas dada.


"D--Daniel, tunggu dulu! A--aku bisa jelasin semuanya. K--kita enggak se--Aaakh!"


Bugh!


Brak!


Perkataan Selvia terhenti dan berganti dengan terikan histeris. Matanya melotot dan mulut yang ditutup menggunakan tangan, ketika tanpa aba-aba Daniel langsung memberikan pukulan yang sangat kencang pada laki-laki yang tadi menggendongnya, hingga jatuh tersungkur menabrak meja rias dan menjatuhkan semua barang di atasnya.


"Dasar bajingan!" geram Daniel sambil meraih tubuh laki-laki itu kemudian kembali mengambil ancang-ancang untuk memberikan pukulan yang lebih keras lagi. Namun ...

__ADS_1


"Jangan! Daniel, aku--"


Bukannya meredam, emosi Daniel malah semakin besar ketika mendengar teriakan Selvia yang tampak ketakutan dan masih melindungi laki-laki di depannya. Daniel kembali melayangkan beberapa pukulan ke wajah laki-laki itu hingga darah terlihat ke luar dari hidung dan mulutnya, belum lagi kondisi wajah laki-laki itu yang sudah dipenuhi dengan luka.


"Daniel, Stop! Jangan bunuh dia, Daniel! Stop!" teriak Selvi menjerit hiseteris, dia terpaksa memanggil penjaga untuk memisahkan Daniel dari laki-laki itu.


"Mulai saat ini hubungan kita berakhir! Jangan lagi tunjukkan wajah kalian berdua di depanku, atau aku akan membuat kalian menerima akibatnya!" geram Daniel sambil melempar sebuah kotak beludru panjang ke sembarang arah, kemudian berlalu pergi dari tempat itu.


Napasnya memburu hingga dada bidang Daniel naik turun. Jika saja para penjaga di apartemen ini tidak berhasil menahanya, dia yakin hari ini pasti sudah ada korban jiwa pertamanya yang meninggal dengan sangat mengenaskan.


Pagi itu, Daniel mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Suasana hatinya yang sangat buruk, didukung dengan jalanan yang masih terlihat cukup sepi, membuat Daniel terus menginjak pedal gas tanpa tahu arah ke mana dia akan berakhir.


Sepertinya, jika bukan berakhir ke dalam kuburan saja, Daniel harus sangat bersyukur, mengingat betapa banyak orang yang menggerutu kesal karena cara mengemudi Daniel yang ugal-ugalan dan sangat menggagu pengguna jalan lainnya.


Malam harinya, Daniel datang ke klub malam, dia mabuk dan menghabiskan malam dengan banyak wanita di sana. Untuk pertama kalinya, Daniel melakukan itu setelah 26 tahun usianya. Selama ini dia sangat anti dengan semua itu, karena menghargai hati Selvia yang kini menjadi kekasih dan tunangannya. Namun, semua itu seolah tidak ada harganya lagi, ketika dengan teganya Selvia mengkhianatinya dengan seseorang yang selama ini dia percaya.


Johan, dia adalah manajer Selvia yang Daniel pilih sendiri untuk mengatur jadwal wanitanya itu. Namun, kini dua orang yang begitu dia percaya telah menghempaskan semua kepercayaan yang sudah dia berikan begitu saja. Mereka menikamnya dari belakang, menyebabkan luka yang bahlan tidak tau harus diobati dengan apa.


Untuk pertama kalinya dalam hidup, Daniel merasakan sakit hati yang begitu dalam. Dia patah hati, bukan hanya karena Selvia, tetapi juga karena kepercayaan yang sudah terlanjur tinggi pada Johan.


Sejak saat itu, Daniel selalu melampiaskan setiap emosi dan kemarahannya pada minuman dan wanita malam. Dia menganggap semua wanita begitu remeh dan hina. Seolah seluruh wanita di dunia ini sama saja dengan Selvia.


Flashback off

__ADS_1


__ADS_2