Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.81


__ADS_3

Esok harinya, Daniel benar-benar datang ke alamat yang dikirimkan oleh Livia. Dia sengaja bangun pagi buta, karena ternyata jarak dari rumahnya ke tempat ini hampir menempuh waktu satu jam perjalanan.


Sampai di sana, Daniel cukup terkejut karena ternyata dia langsung dipersilahkan masuk, walau ini pertama kalinya dia datang. Sepertinya Andrew dan Agra memang sudah menyiapkan semua ini dari awal untuknya.


"Tuan Agra menyuruh Anda menyusul ke lapangan belakang jika sudah sampai," ujar laki-laki berbadan tegap yang menyambut kedatangannya.


Daniel mengangguk, dia pun mengikuti langkah orang itu lewat teras bagian samping bangunan yang tampak seperti rumah biasa sebelum kemudian mulai memasuki hutan buatan yang cukup jauh.


'Semua tanaman di hutan buatan ini kelihatan sama. Gak mungkin kan, kalau mereka mau membuat aku tersesat di sini,' gumam Daniel dalam hati.


Melihat perjalanan mereka yang cukup jauh, membuat dirinya mulai memiliki prasangka buruk pada dua laki-laki itu. Walau bagaimana pun, mereka adalah pengusaha terkemuka yang memiliki kekuasaan lebih tinggi darinya. Tentu saja ada rasa takut di dalam hatinya untuk berurusan dengan mereka.


Mau bertanya pada orang yang berjalan di depannya pun dia tampak ragu, mengingat raut wajahnya yang terlihat tidak bersahabat. Apa lagi sejak tadi laki-laki itu tidak pernah berbicara selain sesuatu yang penting.


Sekitar lima belas menit berjalan, akhirnya Daniel dapat bernapas lega ketika matanya mulai melihat lapangan besar tidak jauh dari tempatnya. Dia juga bisa melihat Agra, Andrew, Livia, dan dua anak laki-laki tampak sedang melakukan latihan bela diri atau sekedar berolahraga ringan saja.


"Ini benar-benar tempat latihan mereka? Bahkan Livia dan Ares saja ada di sini juga?" gumam Daniel.


"Selamat pagi, Ketua. Saya mengantarkan Tuan Daniel," ujar orang yang berjalan di depan Daniel.


Mendengar perkataan orang itu, Agra dan semua orang yang ada di sana tampak menghentikan kegiatannya lalu menoleh pada kedatangan Daniel.


"Baik. Kamu boleh kembali," jawab Agra dengan nada datar.


Setelah membungkuk pada Agra dan Andrew, laki-laki itu pun pergi meninggalkan Daniel bersama dengan mereka semua. Sementara Agra tampak mengalihkan perhatiannya pada Daniel, dia cukup puas ketika melihat Daniel yang menggunakan pakaian olahraga.


Laki-laki itu tampak menyeringai tipis dengan mata yang masih saja terliat tajam, sementara Andrew dan Livia hanya memperhatikan interaksi Agra dan Daniel bersama Ares dan Arsya.


"Sebelum mulai dengan pelatihannya, kamu harus melakukan pemanasan dulu. Lari dua puluh putaran," ujar Agra bagaikan seorang guru yang sedang memberikan tugas kepada anak didiknya.


Daniel tampak melebarkan matanya begitu mendengar tugas pertama dari Agra, walau sedetik kemudian dia tampak berusaha mengendalikan diri dan bersikap biasa saja.


"Baik," angguk Daniel kemudian mulai berlari memutari lapanyan yang begitu luas itu.


Bayangkan saja, Daniel harus berlari keliling lapangan yang bahkan memiliki luas lebih dari lapangan sepak bola dan itu baru disebut pemanasan. Wah, Agra sepertinya memang berniat untuk mengerjai Daniel.

__ADS_1


"Kak--" Livia hendak protes ketika Daniel sudah mulai melakukan tugasnya. Namun, ucapannya terhenti ketika Agra tampak mengangkat tangan, tanda Livia tidak bisa protes.


Ya, tadi malam, Andrew dan Agra juga memberikan beberapa peraturan untuk Livia. Salah satunya adalah, Livia diwajibkan untuk ikut dalam setiap pelatihan, tatapi Livia juga dilarang protes atau membantu Daniel dalam setiap pelatihan yang dijalaninya.


"Ngapain pada berhenti? Lanjutkan latihan kalian!" tegas Agra pada Livia dan dua anak kecil yang juga sudah dikenalkan pada ilmu bela diri sejak kecil.


"Siap laksanakan, Ketua!" jawab Livia, Ares, dan Arya, serempak, kemudian kembali pada posisi masing-masing dan mulai berlatih lagi.


Daniel yang melihat itu dari sisi lapangan, tampak berdecak kagum dengan keahlian bela diri Livia dan Ares yang terlihat sudah sangat terlatih, begitu juga dengan wibawa seorang Agra dan Andrew yang masih saja terlihat dominan diantara semua orang yang ada di sana.


Latihan pun berlanjut dengan tingkat yang lebih berat lagi. Livia baru saja boleh menghampiri Daniel ketika latihan sudah selesai, dan itu menjelang sore hari.


"Ini, minum dulu," ujar Livia sambil menyodorkan botol air minum pada Daniel, begitu dia melihat Agra menghentikan latihan hari ini.


Daniel yang memilih merebahkan diri di atas rumput lapangan tampak emnoleh pada Livia yang duduk di sampingnya, kemudian bernajak duduk di samping wanita itu.


"Makasih, sayang," ujar Daniel sambil mengambil botol air yang dibawa Livia kemudian meminumnya hingga habis setengahnya.


"Aus banget, ya?" tanya lIvia sambil meringis, melihat wajha lelah Daniel.


"Maaf, karena aku kamu harus melalui ini semua," ujar Livia, merasa tidak enak pada Daniel.


"Gak apa. AKu malah merasa senang, karena bisa belajar banyak dari ayah dan kakak kamu," jawab Daniel sambil tersenyum tulus.


Dia tidak tahu, jika semua penderitaannya baru saja dimulai. Karena semua pelatihan itu terus terulang dua hari dalam satau minggu. Livia harus melihat Daniel dibantai habis-habisan oleh Agra yang tentu saja memiliki keterampilan dalam bela diri dan pertarungan, jauh di atas Daniel.


Semakin ke sini, pelatihan yang diterima Daniel bukan lagi tentang bela diri, tetapi terkadang Daniel tuga menyuruh Danie untuk bertarung dengan para anggota mafia yang lain hingga akhirnya berakhir dengan Daniel yang kalah atau bahkan menang dengan penuh luka.


Kini, setelah hampir tiga bulan setelah pertama kali menjalani pelatihan dari Agra, Daniel kembali babak belur ketika harus melawan Max yang notabene adalah ketua mafia black eagle di Indonesia.


Livia yang merasa sudah tidak tahan lagi pun, akhirnya menerobos masuk ek arena pertarungan dan emnedang jauh Max kemudian menolong Daniel yang sudah terluka parah.


"You're all crazy? You wanna kill him, heh?!" Livia berteriak kencang dengan tatapan penuh kekecewaan pada Andrew dan Agra.


"You'd better treat him if you're afraid he'll die," jawab Agra acuh, kemudian memilih berlalu dari area pertarungan dan membiarkan Daniel dan Livia berdua di sana.

__ADS_1


"Dammit!" geram Livia dengan kemarahan yang masih saja membumbung tinggi. Dia juga merasa bersalah pada Daniel yang bahkan kini terlihat sangat kacau karena memperjuangkan retu dari dua orang itu.


"Sudahlah, aku tidak apa-apa, kok. Ini hanya luka ringan saja," ujar Daniel pelan kemudian meringis pelan ketika merasakan perih di sdut bibirnya.


"Bagaimana kamu bilang ini semua luka kecil, huh? Lihat saja, bahkan wajah kamu sudah hampir tak terkenali lagi!" bentak Livia dengan napas memburu.


"Mana lagi yang sakit, heh? Ayo kita ke rumah sakit, kamu harsu segera diperiksa, takutnya ada luka dalam," ujar Livia sambil memeriksa tubuh Daniel dengan seksama.


"Aku gak nyangka kalau AGra bisa melakuakn ini padamu. Aku salah karena sudah menganggap dia akan memberi hati padamu, ternyata kamu malah diperlakuakn dengan lebih parah dari yang aku duga," sambung Livia lagi dengan suara yang terdengar bergetar.


Daniel tampak tersenyum saat mendengar semua kata perhatian dari Livia. Selama mereka bersama enak tahun lalu, dia tidka pernah melihat Livia mengkhawatirkannya sebesar ini. Dia bahkan bisa melihat jika mata wanita itu tampak berkaca-kaca.


"Aku benran gak apa-apa, ini hanya luka biasa, diobatin di rumah saja sudah cukup." Daniel mengambil tangan Livia hingga wanita itu kini kembali menatap wajahnya.


"Aku gak pernha tahu kalau sebenarnya kamu sangat menkhawatirkan aku, sayang --aduh!" Daniel mengaduh pelan saat tiba-tiba saja Livia meukulnya di baian perut yang sepertinya sedikit memar akibat pukulan dari Max beberapa waktu lalu.


"Maaf! A--aku gak bermaksud. Sakit, ya?" tanya Livia sambil meringis pelan dengan tatapan miris.


"Lagian, kamu juga! Ngapain malah bilang begitu, kayak anka muda saja. Gak inget umur udah tua apa?" kesal Livia malah kembali menyalahkan Daniel. Wanita itu tampak membuang muka dengan pipi yang terliaht memerah,


Daniel tersenyum melihat LIvia yang tersipu karena perkataannya. "Aku sayang sama kamu, Livia," ujarnya tiba-tiba, hingga membuat Livia refleks langsung menatap laki-laki itu.


"Kamu sudah tahu jawaban aku, jadi jangan paksa aku untuk mengucapkannya, Daniel," jawab Livia sambil menunduk malu.


"Mana bisa aku tahu kalau kamu saja tidak mengatakannya, Livia. AKu bukan cenayang, yang bisa tahu isi hatimu tanpa kamu menagakannya, sayang," jawab Daniel dengan wajah seolah tak tahu apa-apa.


"Please answer me, Livia. Will you marry me and stay together, live life and achieve many dreams with me, until we both grow old and our time is up in this world?" ujar Daniel tiba-tiba hingga membuat Livia terdiam tak bisa berkata apa-apa.


Apalagi ketika dia melihat Ares datang menghampiri mereka dan membuka sebuah kotak kecil di tangannya sambil berdiri di samping Daniel.


"Ayo kita hidup bersama Papa, Ma," pinta Ares dengan sbuah cincin di tangannya.


Tanpa terasa air mata LIvia mengalir begitu saja, dia tidak menyangka jika Daniel akan melibatkan Ares dalam hubungan mereka. Laki-laki itu, bahkan sudah merencanakan semua ini di belakangnya.


"Kalian berdua--" Livia menatap haru bercampur kesal pada dua laki-laki berbeda usia di depannya.

__ADS_1


"Tunggu!"


__ADS_2