Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.34 Menjemput


__ADS_3

"Kamu tau sesuatu yang mereka tutupi dari semua orang?" tanya Murti pada pelayan yang selama ini selalu membantunya.


Saat ini keduanya sedang berada di halaman belakang rumah. Murti sedang menanyai pelayan rumah itu karena pernah mendengar para pelayan membicarakan Livia dan menyebutnya seorang perawat rendahan.


Cukup lama pelayan itu terdiam dengan kepala menunduk dalam. Sebenarnya Daniel dan Mami Luci sudah memperingatkan mereka untuk tidak memberti tahu siapa pun jika sebenarnya Livia adalah perawat Mami Luci yang dinikahi oleh Daniel. Sungguh, saat ini dia sangat takut untuk menjawab karena jika sampai Daniel atau Mami Luci tau, maka sudah dipastikan dia tidak akan bisa bekerja lagi di sini.


"Cepat katakan! Aku akan beri kamu uang dua kali lipat jika kamu bisa memberikan aku bukti kalau semua ucapan para pelayan tempo hari itu adalah benar," ujar Murti mendesak pelayan itu.


"Aku berikan kamu waktu dua puluh empat jam untuk berfikir. Ingat, kita kembali bertemu besok ... tepat di jam yang sama!" Murti yang sudah tidak sabar melihat keraguan di wajah pelayan itu pun akhirnya memilih mengalah, dia tahu jika Daniel pasti sudah membuat mereka tutup mulut sebelumnya, hingga dirinya pun harus mengeluarkan uang pelicin agar sebuah informasi penting bisa dia dapatkan.


Setelah mengucapkan itu, Murti langsung pergi meninggalkan pelayan itu dengan senyum tipis di wajahnya.


Ternyata aku memang mengambi keputusan yang benar, pindah ke sini membuatku memiliki banyak waktu untuk menggali informasi untuk menghancurkan Daniel dan seluruh keluarga ini! batin Murti dengan tatapan berubah tajam dan tangan mengepal.


...❤️‍🔥...


Bandara kedatangan internasiaonal. Seorang laki-laki gagah tampak berjalan beriringan dengan seorang wanita yang mungkin lebih tua darinya beberapa tahun. Mereka ke luar dari bandara dengan wajah yang terlihat sama-sama kelelahan. Dua hari perjalanan pulang pergi sekaligus mempersiapkan rapat membuat keduanya dilanda kelelahan yang cukup hebat.


Begitu keduanya sampai di lobi bandara, mata Daniel dibuat terkejut ketika mendapati seorang wanita yang terlihat menggunakan baju serba hitam tampak sedang berdiri di samping sebuah mobil yang sangat dia kenal. Matanya sedikit memicing dengan alis yang hampir saja bertaut ketika melihat pemandangan itu.


__ADS_1


Kenapa dia? Ke mana Danis? batin Daniel bertanya.


"Kamu langsung pulang saja, tidak perlu mengantarku pulang. Hasil rapat kemarin memuaskan, terima kasih telah membantu saya," ujar Daniel pada kepala sekretarisnya yang berjalan di sampingnya.


"Baik, Pak," angguk wanita itu dengan hati yang terasa sangat senang. Sungguh, perkataan Daniel membuatnya merasa bagaikan diterpa oleh angin segar di tengah panas terik.


"Kenapa kamu yang datang, sayang?" tanya Daniel begitu dia sampai di depan wanita berpakaian serba hitam itu.


"Danis sedang ada urusan, jadi biarkan aku yang menjemputmu," jawab wanita berpakaian serba hitam itu yang ternyata Livia.


Daniel tersenyum lembut kemudian memeluk tubuh Livia yang terasa langsung menegang karena perlakuan Daniel yang tiba-tiba.


"Baiklah, sepertinya begini lebih baik, aku memang sedang sangat merindukanmu, sayang," ujar Daniel sambil memejamkan mata dan menumpukan dagunya di pundak Livia.


"Aku juga sangat merindukan kamu," jawab Livia sambil membua mata kemudian tersenyum ramah pada sekretaris Daniel yang kini tampak terkejut dan sedang memperhatikan mereka secara diam-diam.


Ya, jangan harap jika adegan itu memang mereka lakukan dari hati. Tidak sama sekali! Daniel dan Livia terpaksa melakukannya karena keberadaan sekretaris Daniel yang mengetahui hubungan suami istri keduanya. Jika tidak begitu, mana mungkin Daniel dan Livia saling menyentuh dan bersikap mesra satu sama lain. Sepertinya itu tidak akan pernah terjadi .... Setidaknya itu yang di pikirkan oleh Daniel dan Livia sekarang ini. Entah dengan hati keduanya, bahkan mereka saja tidak tahu, walau jantung keduanya terasa berdebar dengan begitu kencang.


"Ayo kita pulang. Mana kuncinya biar aku yang menyetir," ujar Daniel sambil menengadahkan tangan.


Livia tersenyum kemudian mengangguk sambil memberikan kunci mobil milik Daniel pada suaminya itu. Keduanya pun berpamitan pada sekretaris itu kemudian masuk ke dalam mobil dan pergi begitu saja.

__ADS_1


Namun, tanpa sekretaris itu tahu, setelah pasangan penomenal itu masuk ke dalam mobil, Daniel dan Livia langsung merubah raut wajahnya menjadi datar.


"Buat apa kamu menjemputku sendiri? Memang di rumah tidak ada sopir?" tanya Daniel dengan nada dingin dan sedikit ketus.


"Mami Luci yang memaksaku," jawab Livia jujur. Tadi, Mami Luci tiba-tiba menyuruhnya untuk menjemput Daniel ke bandara dan memastikan jika anak sulungnya itu pulang ke rumah. Dia bahkan tidak mengizinkan Livia membawa sopir, karena takut Daniel akan menyuruh Livia pulang sendiri.


Daniel menoleh cepat pada Livia dengan kecepatan mobil yang masih tinggi, sesaat kemudian laki-laki itu tampak menghembuskan napas kasar sambil meringis. Sejak dirinya menikah dengan Livia, entah kenapa Daniel merasa jika ibunya jadi senang sekali mengatur kehidupannya. Sungguh dia tidak suka semua itu, termasuk harus bertemu dengan Livia terus menerus.


"Jangan salahkan, Mami. Aku tidak suka kamu terus menggunakan mami sebagai alasan," geram Daniel sambil kebali fokus pada jalanan di depannya.


"Aku tidak pernah menggunakan mami sebagai alasan, itu semua memang benar adanya, kamu bisa menanyakannya langsung pada mami jika tidak percaya," jawab Livia dengan kata yang sangat panjang untuknya yang terbiasa berkata singkat. Livia bahkan harus menghela napas lelah setelahnya.


Daniel melirik kesal pada Livia, dia tidak mungkin protes langsung pada mami Luci, makanya Daniel menjadikan Livia sebagai pelampiasan kekesalannya.


"Terus, kenapa pakaian kamu seperti ini, heh? Kamu pikir ada yang akan meninggal?" tanya Daniel sinis. Dia melirik Livia kemudian menatapnya dari atas sampai bawah kemudian kembali lagi ke atas dengan sorot mata meneliti.


"Tidak. Aku hanya suka," jawab Livia singkat sambil mulai menyandarkan tubuhnya dan melihat ke luar jendela, menghindari tatapan Daniel yang membuatnya sangat tidak nyaman.


Namun, baru beberapa saat dia berada dalam posisi yang sama dan mulai menikmati perjalanan, tiba-tiba mobil berhenti mendadak hingga tubuh Livia hampir saja terlempar ke depan dan menabrak dashboard mobil. Untung saja refleks Livia bagus, ditambah dengan sabuk pengaman yang menahan tubuhnya, hingga Livia bisa terhindar dari semua itu.


Livia mengepalkan kedua tangannya, menahan geram pada Daniel yang kini sedang menyetir mobil, dia pun kembali mengangkat tubuhnya dengan tatapan menoleh pada Daniel. Namun, raut wajah Livia langsung berubah dengan mata melebar ketika dia berhasil melihat dengan jelas keadaan Daniel saat ini.

__ADS_1


"Daniel?"


__ADS_2