Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.57


__ADS_3

Daniel kembali membalikan tubuhya untuk yang ke sekian kalinya, padahal jarum jam sudah menunjuk ke angka satu, yang menandakan ini sudah lewat tengah malam.


Sejak tadi Daniel tidak dapat tertidur lelap. Dia selalu terbangun saat kesadarannya bahkan belum hilang seutuhnya. Entah kenapa, malam ini perasaannya terus gelisah tak menentu. Pikirannya sama sekali tidak bisa lepas dari wanita yang kini tidur meringkuk di atas lantai, dengan hanya beralaskan karpet tipis.


"Dasar keras kepala! Sudah selarut ini, dia belum menyerah juga? Apa dia sudah benar-benar tertidur di sana?" gumam Daniel dengan mata tak lepas dari punggung Livia.


Daniel yang sudah mulai frustasi dengan semua ini pun akhirnya terbangun dengan kaki menjuntai di samping ranjang. Dia tidak bisa lagi menahan diri untuk tetap diam saja.


"Ish!" decak Daniel sambil beranjak dari tempat tidurnya sambil membawa satu bantal di tangannya. Dia meringis sendiri karena tak mengerti dengan perasaannya saat ini.


"Baiklah, kalau kamu gak mau tidur di ranjangku, biar aku yang ikut tidur di lantai bersamamu," ujar Daniel dengan tekad dalam diri.


Selama dia hidup, tidak pernah sekali pun Daniel tidur di lantai, dia yang sudah terbiasa hidup dengan lenuh kemewahan bersama dengan orang tuanya, terbiasa disiapkan segala sesuatunya, hingga tak pernah merasa kekurangan dalam hal materi dan kenyamanan.


Daniel lebih dulu menatap Livia dengan mata memicing. Dia ingin memastikan kalau Livia benar-benar sudah tertidur. "Apa dia benar-benar bisa tidur di tempat seperti ini?" gumam Daniel sambil melambikan tangannya di depan wajah Livia.


"Beneran tidur?" tanyanya lagi dengan wajah bingung dan tak percaya. Padahal dia sudah tentu bisa melihat napas teratur yang menandakan jika Livia memang sudah terlelap.

__ADS_1


Daniel menghembuskan napas pelan, dia benar-benar dibuat tak berdaya oleh wanita ini. Dibalik sifat lembut Livia disaat bersama dnegan Mami Luci, dia juga memiliki watak keras kepala dan pembangkang jika sudah berada di dekatnya. Itu semua selalu berhasil menhatnya pusing, entah itu dulu, maupun sekarang.


Perlahan, Daniel mulai merebahkan dirinya di belakang Livi, dia pandang punggung sempit yang memakai baju tidur berbahan satin yang memiliki warna coklat muda.


Ah, Daniel baru ingat. Selama ini dia tidak pernah melihat ada warna lembut atau feminim seperti wanita pada umumnya. Dia hanya melihat Livia lebih banyak menggunakan warna gelap, seperti coklat, hitam, biru dongker, abu-abu. Hanya sesekali, Daniel melihat Livia memakainya warna putih atau warna pastel lainnya. Itu pun dari baju yang sudah disediakan oleh dirinya dan Mami Luci.


Ragu dia mulai mengangkat tangannya hendak membelai rambut Livia. Namun, itu tampak dia urungkan takut mengganggu tidur wanita itu, hingga akhirnya Daniel hanya bisa mulai menutup mata dengan posisi tidur miring menghadap punggung Livia.


Aroma semerbak wangi sampo Livia pun mulai masuk ke dalam indra penciumannya. Daniel perlahan mulai merasa tenang, walau tidur di lantai membuatnya sedikit kesulitan.


'Kesulitan apa yang sudah kamu alami,gadis kecil? Kenapa kamu masih bisa tertidur pulas, walau hanya beralaskan karpet tipis seperti ini? batin Daniel miris membayangkan bagaimana seorang gadis kecil bisa bertahan hidup tanpa keluarganya.


"Jangan khawatir lagi, Livia, sekarang aku di sini. Aku yang akan melindungimu. Aku akan menjadi rumah untukmu pulang," gumam Daniel lirih. Dia menutup mata dengan satu tetes air yang lolos dan mengalir di pelipisnya.


❤️‍🔥


Livia mulai menggeliat dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul. Entah mengapa, malam ini dia merasa tidurnya sangat nyenyak. Begitu hangat dan nyaman, seperti ada seseorang yang memeluknya. Namun, jantung Livia seakan berhenti ketika melihat kini wajah Daniel berada tepat di depannya dengan jarak yang sangat dekat.

__ADS_1


Livia mengerjap beberapa kali, untuk memastikan penglihatannya, dia menatap jelas seluruh tubuh laki-laki itu yang kini menempel dengan tubuhnya, bahkan tangannya pun berada di atas tubuh Daniel, begitu juga tangan Daniel yang melingkar di pinggangnya. Mereka berpelukan?


Livia terdiam, dengan mata kembali terpaku pada wajah laki-laki di depannya. "Kalau dilihat dari dekat, dia cukup tampan," gumamnya tanpa sadar. Namun, sedetik kemudian, Livia terperanjat oleh apa yang dia katakan sendiri. Refleks dia melepaskan tangannya dari tubuh Daniel sambil sedikit mendorong laki-laki itu agar menjauh darinya.


Terusik dengan pergerakan yang dilakukan oleh Livia, Daniel pun mulai menggeliatkan tubuhnya sambil mengerjapkan mata. Dia tersenyum ketika mendapati Livia yang masih ada di sampingnya dengan wajah yang terlihat bingung bercampur marah.


"Jam berapa ini? Kenapa kamu membangunkanku? Aku masih ngantuk," gumam Daniel dengan suara parau khas bangun tidur. Dia menggeser kembali tidurnya mendekat kepada Livia dan dengan mudahnya memosisikan diri kembali memeluk Livia dengan nyaman.


Tak terima dengan perlakuan Daniel, Livia langsung menepis tangan Daniel yang baru akan menyentuh tubuhnya hingga membuat Daniel kembali membuka matanya.


"Tidur sebentar lagi, aku mohon," gumam Daniel dengan mata yang setengah terbuka dan nada suara merengek.


"Sedang apa kamu di sini? Bukannya kam tidur di ranjangmu?" tanya Livia tak perduli dengan ucapan Daniel. Dia langsung bangun dan duduk di samping laki-laki yang kini masih malas untuk membuka mata.


"Aku tidak bisa tidur, makanya aku tidur di sini bersama kamu. Mulai sekarang, kalau kamu mau tidur di lantai, aku juga kana ikut," jawab Daniel dengan malas dan lemas. DIa bahkan masih menutup matanya.


Livia menghembuskan napas kasar, dirinya tidak menyangka jika Daniel akan menyusulnya dan membersamai dia tidur di atas lantai. Baginya sudah terbiasa tidur di mana pun, mengingat dia memang anggota wanita black eagle, tetapi tidak untuk Daniel, laki-laki yang sudah hidupmewah dai sejak masih di dalam kandungan itu pasti belum pernah merasakan bagaimana dingin dan kerasnya tidur di atas lantai.

__ADS_1


"Terserah!" jawab Livia tak acuh, sambil beranjak berdiri sambil membawa bantal lumba-lumbanya, dan meninggalkan selimut miliknya yang masih dikenakan Daniel. Dia memilih berjalan menuju walk in closet kemudian langsung masuk ke kamar mandi untuk bersiap memulai hari kembali.


Sementara itu, Daniel yang sudah merasakan Livia tak lagi ada di sampingnya kini mulai beranjak bangun kemudian berjalan menuju ranjangnya dengan selimut berwarna abu-abu tua milik Livia di tangannya. Laki-laki itu meringis merasakan sakit di sekujur tubuhnya, dia kemudian menjatuhkan diri di ranjangnya yang terasa empuk dan nyaman, lalu kembali terlelap dengan selimut Livia di dalam pelukannya.


__ADS_2