Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.71 Aku baik-baik saja


__ADS_3

"Aunty! Aunty! Wake up!" teriak Arsya sambil terus menggedor pintu kamar Livia.


Livia mulai menggeliatkan tubuhnya sambil mengernyitkan dahi ketika suara berisik terdengar dari pintu kamarnya. Dia jelas tahu siapa yang sudah membuat keributan pagi-pagi begini. Perlahan Livia mulai bangkit dan berjalan menuju pintu.


"Why do you have to make a fuss in front of my room so early in the morning, little boy?" tanya Livia dengan nada malas sambil mulai membuka pintu kamarnya.


"Let's go for a walk. Don't you promise me?" jawab Arsa sambil berkedip pelan dengan kepala yang mendongak demi melihat wajah Livia.


"Dia sampai tidak bisa tidur nyenyak semalam, karena kemarin kamu menjajikannya untuk jalan-jalan, apa lagi pagi tadi dia melihat salju turun." Alisya tampak berjalan menghampiri Livia dan Arsya.


Livia menghembuskan napas pelan, dia lupa kalau ada janji dengan Arsya akan mengajaknya jalan-jalan hari ini.


"Sepertinya salju turun cukup lebat, sebaiknya kalian jangan bepergian dulu, jalanan juga masih sangat licin." Andrew tampak ikut menghampiri mereka dan memberi peringatan pada anak dan cucunya.


"Tuh, denger kata opa, bahaya kalau berkendara ditengah hujan salju, litle boy." Livia mencolek hidung Arsa yang tampak cemberut.


"Sekarang Aunty mau siap-siap dulu, kamu main sama yang lain dulu, nanti Aunty nyusul," sambung Livia lagi sambil tersenyum tulus.


"Tapi, Aunty harus janji hari ini temenin aku main, gak boleh kerja," pinta Arsya.


"Janji!" angguk Livia menyetujui persyaratan Arsya. Kebetulan sejak dia pulang semalam, tubuhnya merasa sedikit lelah, jadi dia akan beristirahan di rumah untuk hari ini.


"Janji!" seru Arsya sambil mengacungkan jari kelingkingnya yang langsung disambut cepat oleh Livia.

__ADS_1


Setelah Livia berhasil membujuk Arsya, dia pun akhirnya memilih masuk ke kamar lagi. Dia berjalan menuju ke kamar mandi kemudian berhenti di washtafel lalu membasuh muka beberapa kali, setelahnya dia menumpukan kedua tangan di sisi washtafel dengan mata menatap lurus ke depan, di mana ada pantulan dirinya di dalam cermin.


Tampak sedikit berantakan dengan wajah yang basah hingga tetes air masih terlihat dari dagunya, rambut bagian depan pun ikut basah karena air yang dia gunakan untuk membasuh muka. Tidak ada yang berubah darinya, hanya saja jika diperhatikan lebih lanjut, pipinya memang sedikit tirus dari sebulan yang lalu, dan wajah yang tampak sedikit pucat.


"Sudah saatnya aku melupkan masa lalu dan menjalani hidup baru. Lupakan semuanya, Livia, sekarang kamu sudah bebas," ujar Livia dengat tatapan yang tak lepas dari pantulan matanya sendiri, dia seolah sedang mengucapkan kata semangat untuk dirinya sendiri.


Siang itu, Livia benar-benar menepati janjinya untuk menemani Arya bermain hingga puas. Hari ini, Livia tidak pergi bekerja sama sekali, dia berdiam diri di rumah sampai waktu kembali menjadi malam.


Jam menunjukkan pukul sembilan malam ketika Livia memutuskan untuk ke luar dan berdiam diri di taman belakang sendirian, dia menatap sekeliling yang masih telrihat dihiasi warna putih akibat hujan salju yang cukup lebat sejak semalam hingga siang tadi. Namun, kemudian mereda ketika hari mulai sore sampai saat ini, makanya Livia memutuskan untuk ke luar dari rumah dan mencari angin.


Tanpa Livia tahu, di pintu ke luar belakang mansion, Alisya tampak berdiri menatapnya sambil membawa sebuah selimut di tangannya. Setelah lama hanya berdiri diam dan memperhatikan saja, Alisya perlahan mulai berjalan menghampiri Livia.


"Pakai selimut, biar gak masuk angin," ujar Alisya sambil memakaikan selimut yang dia bawa kepada Livia.


"Udah tau dingin, ngapain kamu malah datang ke sini, nanti kalau kak Agra tau, bisa-bisa aku yang dimarahi olehnya," jawab Livia sambil tersenyum tipis.


"Biarkan saja, kamu memang pantas dimarahi sama dia." Alisya tampak menatap sinis Livia, walau sedetik kemudian dia tampak tersenyum tipis.


Livia pun tersenyum tipis kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Perlahan dia kemudian menundukkan kepala dengan tangan mengeratkan selimut di pundaknya sambil bergumuam pelan. "Terima kasih, ini hangat."


Alisya tersenyum, ketika mendengar suara lembut Livia walau itu lebih terdengar sendu. Perlahan dia mengulurkan tangannya untuk menyentuh bahu adik iparnya itu kemudian membawanya agar berhadapan dengannya.


Livia mengangkat kepalanya hingga kini keduanya saling menatap dengan ekspresi yang berbeda. Beberapa saat kemudian, Livia tampak tersenyum sambil kembali mengalihkan pandangannya menatap langit malam yang tampak gelap.

__ADS_1


"Sayang sekali, gak ada bintang malam ini. Kalau ada, pasti akan sangat cantik," ujar Livia tiba-tiba. Dia mencoba menghibur diri agar tidak larut dalam suasana sendu ini.


"Akh, kamu mau lihat sesuatu yang menakjubkan di mansion ini? Lihatlah sebentar lagi akan aku tunjukan padamu," sambung Livia lagi sambil hendak mengambil ponselnya untuk memanggil seorang pelayan.


"Nyalakan semua lampu di halaman belakang," ujarnya pada seseorang yang dia hubungi dan tidak lama setelah itu, seluruh lampu belakang sungguh menyala hingga menampilkan pemandangan yang sangat indah. Itu jelas berbeda dari sebelumnya yang tampak sedikit gelap dan mencekam.


Alisya tersenyum tipis sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman belakang mansion yang telrihat begitu indah. "Wah, ini sangat menakjubkan. Apa semua ini kamu yang buat?"


"Enggak, aku hanya memberikan konsep pada pengurus rumah, tak disangka akan seindah ini," jawab Livia sambil tersenyum senang.


"Harusnya kamu memperlihatkan ini pada Arsya, dia pasti akan senang sekali." Alisya ingat pada anaknya yang baru saja pergi tidur karena terlalu lelah bermain bersama Livia seharian ini.


"Besok aku akan memperlihatkannya pada anak itu," angguk Livia.


Lama mereka berbincang hingga tiba-tiba Alisya memeluk Livia dan membuat wanita itu terkejut.


"Menangislah, Livia. Terkadang mengelurkan emosi itu memang penting dan suatu keharusan daripada terus memendam perasaan seperti ini," ujar Alisya tiba-tiba. Wanita itu tampaknya sudah tak tahan lagi melihat Livia yang terus berpura-pura baik-baik saja dan menyiksa tubuhnya sendiri.


Livia mendongak saat matanya sudah kembali memanas dengan sesuatu yang mendesak seolah ingin segera keluar. Beberapa kali wanita itu terdengar menghela napas pelan, berusaha menahan sesak di dalam dada. Setelah semuanya terasa bisa dia kendalikan, Livia akhirnya mencoba berbicara dengan nada suara yang biasa saja. "Aku baik-baik saja, kamu gak usah khawatirkan aku."


Alisya tempak mempererat pelukannya ketika dia mendengar sedikit getaran di dalam nada suara Livia. Dia tentu tahu jika wanita itu sekarang sedang tidak baik-baik saja, tetapi Alisya tidak bisa memaksa Livia untuk mencurahkan semua keluh kesahnya padanya. Apa lagi, Livia bukanlah orang yang mudah untuk berbicara tentang dirinya pada orang lain, Wanita itu sudah terlalu lama dan terbiasa memendam semuanya sendiri.


Alisya tersenyum sambil mengurai kembali pelukannya. "Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Aku harap setelah semua yang terjadi, kamu akan hidup dengan lebih bahagia lagi. Apa pun keputusanmu, aku akan selalu mendukung kamu, Livia."

__ADS_1


Livia tersenyum hangat ketika mendengar kata-kata tulus dari Alisya, dia tahu semua keluarga angkatnya memang baik dan selalu menginginkan yang terbaik untuknya. Itu sebabnya dia tidak mau terus menjadi beban mereka dengan memperlihatkan kelemahannya selama dia merasa masih bisa menyelesaikan semuanya sendiri.


__ADS_2