
Agra dan Edo baru saja ke luar dari ruang rapat ketika mereka mengecek ponselnya yang sengaja mereka atur mode senyap, agar tak mengganggu jalannya rapat. Kening keduanya tampak mengernyit ketika mendapati panggilan tak terjawab dari nomor Livia.
"Om, tolong aku dan Mama, kita dikejar orang." Sebuah voice note dari ponsel keduanya yang tanpa sengaja mereka buka bersama membuat keduanya saling tatap dalam diam.
"Livia?" gumam Agra sambil segera berjalan cepat ke luar dari kantor untuk menyusul adik dan keponakannya sesuai dengan lokasi yang diberikan.
"Hubungi semua anggota, sebar lokasi Livia pada semua orang dan suruh yang paling dekat untuk segera menolongnya, apa pun yang terjadi!" titah Agra sambil terus melanjutkan langkahnya.
"Baik, Tuan!" jawab Edo dengan mata terus fokus pada ponselnya, untuk menghubungi seluruh anggota sekaligus menyiapkan mobil untuk mereka pergi sekarang juga.
Untung saja, semua karyawan di kantor ini mengetahui cara kerja Agra dan sudah terbiasa, hingga mereka langsung bertindak cepat setelah menerima perintah. Begitu Agra dan Edo sampai di lobi, mobil pun sampai dan sudah siap untuk digunakan.
Agra dan Edo langsung masuk da melesat dengan kecepatan tinggi, bahkan kepergian kedua orang berkuasa di perusahaan itu pun langsung menjadi perhatian para keryawannya.
Agra tahu jika Daniel sedang berada di luar kota, hingga dia memilih untuk tidak mengabari kejadian ini pada laki-laki itu, mengingat dia masih bisa mengurusnya. Laki-laki yang kini duduk tegap di kursi samping kemudi itu, tampak sangat geram dan marah. Kedua tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih dan pembuluh darahnya menonjol.
Sematara, Edo yang melihat semua itu hanya tersenyum tipis dengan rasa kasihan pada orang-orang yang telah mencari masalah pada orang yang salah.
"Uh, aku penasaran, apa yang akan mereka dapatkan setelah ini?" gumam Edo dengan suara yang sangat kecil.
"Tuan, Max ada di dekat lokasi Livia, dia sedang menuju ke sana sekarang!" ujar Edo setelah mendengar laporan dari Max.
"Bagus, cepat cari jalur alternatif, kita juga harus segera sampai!" jawab Agra, mengingat ini mendekati waktu pulang kerja, pasti sebentar lagi jalanan akan padat.
...❤️🔥...
Livia mulai merencanakan sesuatu sambil terus mengendalikan mobilnya di bawah kendali empat mobil lain yang mengelilinginya. Wanita itu tampak berpikir keras sambil mengingat medan jalan yang akan dia lalui ke depannya, hingga dia mengingat jika di depan sana ada sebuah lampu merah.
'Semoga aku bisa memanfaatkan ini untuk melarikan diri dari mereka,' batin Livia sambil mengeratkan pegangan stirnya dan menoleh pada Ares dengan sorot mata gelisah.
"Nak, pegangan yang kencang ya," ujar Livia pada Ares.
Anak itu mengangguk sambil mengeratkan pegangannya pada sabuk pengaman yang melindungi dirinya.
Livia melebarkan mata sambil meyakinkan tekad untuk melakukan apa yang dia rencanakan. Sesuai dengan tebakannya, mereka memang mengarahkan dirinya untuk pergi ke luar kota, hingga dia harus mengambil jalan lurus di lampu merah itu.
Namun, begitu dia berada di posisi hampir melewati lampu merah, Livia memilih untuk menginjak pedal gas dengan cepat sambil membelokkan stir mobilnya ke kiri tepat di tengah-tengah antara mobil depan dan sapingnya, hingga kedua mobil itu bergeser dan memberikannya jalan untuk ke luar.
__ADS_1
Ketika sudah terbuka sedikit jalan untuk ke luar, Livia langsung menginjak pedal gas dengan sangat kuat hingga dia bisa lolos begitu saja, walau badan mobilnya sudah penyok parah karena benturan yang sangat keras.
Kejadian itu sangat cepat terjadi, hingga dua mobil lainnya bahkan belum sempat bereksi dan mencoba menahan Livia, ke empat mobil itu pun akhirnya harus kembali mengejar mobil Livia yang melaju dengan kecepatan penuh ke arah pinggiran kota.
Beberapa saat setelah itu, ponsel Livia terlihat berdering, hingga membuat Livia mantap Ares yang kini tengah memegang ponselnya.
"Om Max, Ma." Seperti tahu apa yang akan ditanyakan oleh ibunya, Ares langsung menjawabnya.
"Angkat dan pakai pengeras suara," ujar Livia yang langsung dilakukan oleh Ares. Anak itu harus mati-matian menahan rasa takutnya agar tak membuat ibunya khawatir.
"Halo, Livia. Aku sekarang berjarak satu kilometer lagi di belakang kamu. Apa kamu masih diikuti?" tanya Max dengan nada panik.
Livia melihat kaca spion belakang untuk memastikan sebelum menjawab. "Masih!"
"Baiklah, di pertigaan berikutnya belok ke kanan dan terus ikuti jalan itu lalu berhenti setelah dua kilometer. Aku akan menunggumu di sana," titah Max memberikan arahan.
"Oke!" sambut Livia sambil semakin menambah laju mobilnya.
Benar saja, belum lama sambungan telepon teputus, Livia menemukan sebuah pertigaan. Sesuai peritah Max, dia langsung memutar stirnya dan berbelok ke arah kanan.
Walau begitu, Livia masih memacu kendaraannya sesuai perintah Max, sesekali dia juga melihat kebelakang, memastikan jika empat mobil van itu masih dalam jarak aman dan tak mungkin bisa menyusulnya lalu mengepungnya lagi seperti tadi.
"Untunglah, sepertinya mereka tidak membawa senjata," gumam Liva dengan mata yang terlihat menejam sambil melihat sebuah laci di dashboard mobilnya, di mana dia meletakan senjatanya.
Livia tidak bisa membayangkan jika dirinya harus beradu tembak di depan anaknya sendiri. Itu bukanlah pengalaman yang baik dan sesuatu yang pantas dilihat anak sekecil Ares. Ya, walaupun sebenarnya diam-diam Andrew sudah sering mengajarkan Ares menembak.
Livia tersenyum miring ketika mendapati mobil Max yang sudah terparkir di depannya, dengan cepat dia memutar stir sambil memainkan rem dan gasnya hingga mobil yang dia kendarai tampak berputar di tengah jalan, lalu berhenti tepat di depan mobil Max yang sengaja sudah dia posisikan melintang di setengah sisi jalan.
Kini, kedua mobil itu tampak benar-benar menutupi seluruh badan jalan, hingga tidak ada satupun kendaraan yang bisa lolos dari sana. Livia tersenyum ketika melihat Max tepat berada di depannya.
"Waw, Mama hebat, ini sangat seru!" teriak Ares yang malah tertawa kegirangan seolah sedang diajak melakukan sebuah aktraksi oleh ibunya.
Livia hanya tersenyum pasrah sambil mengacak pelan puncak kepala anaknya itu ketika melihat antusiasme Ares. Namun, matanya kini tampak melebar sepenuhnya ketika dia melihat ada Daniel yang duduk di samping Max.
"Daniel?"
"Papa!" Livia dan Ares berujar bersamaan saat melihat keberadaan laki-laki itu yang tengah menatap tak suka interaksi antara Livia dan Max.
__ADS_1
Tidak lama dari itu, keempat mobil yang mengikuti Livia pun tampak menghentikan lajunya dalam jarak sekitar tujuh sampai sepuluh meter dari mobil Livia dan Max, hingga menyisakan jarak untuk kedua belah pihak bertemu di tengah jalan itu.
Melihat semua itu, Daniel dan Max pun turun lebih dulu, sementara Livia harus memberi pengertian pada Ares lebih dulu. Wanita itu tampak menangkup kedua pipi gembul anak laki-lakinya dan mulai berbicara dengan nada yang halus.
"Sayang, Mama harus ke luar dulu. Apa pun yang terjadi, kamu gak boleh ke luar dari mobil. Kunci pintu begitu Mama ke luar, hem."
"Mama diem aja di sini, di luar kan udah ada Om Max sama Papa. Mama temenin Ares aja," rengek anak itu dengan mata berkaca-kaca.
"Gak bisa, sayang. Mama harus membantu Papa dan Om Max. Tenang aja, sebentar lagi Om Agra dan yang lainnya akan datang, kamu gak usah takut ya." Livia mengusap pelan wajah Ares sambil tersenyum menenangkan.
Ares masih tampak enggan untuk melepaskan Livia ke luar dari mobil, tetapi dia juga tidak bisa tetap menahan Livia untuk berada di sana. Terpaksa anak kecil itu pun harus mengangguk sambil menahan air matanya.
"Anak pintar," puji Livia sambil mengambil sebuah earphone dari dalam dashboard mobilnya.
"Setelah Mama ke luar, jangan lupa kunci pintunya."
Ares mengangguk.
"Pakai ini, lalu tutup mata," titah Livia.
Ares kembali mengangguk sambil menerima earphone dari tangan Livia.
"Jangan buka kunci kalau bukan Mama, Papa, atau Om Agra yang datang," ujar Livia lagi.
Ares kembali mengangguk.
Livia tersenyum kemudian mencium seluruh wajah anaknya hingga terakhir kedua tangan mungil dan lembut Ares. Dia mengambil senjata api yang disembunyikan di dashboard mobil dan menyelipkannya di celana, lalu bersiap untuk ke luar.
"Jangan lupa kunci pintunya," pesan Livia lagi.
"Eum." Ares mengangguk lagi.
Livia kemudian benar-benar ke luar dari mobil dan meninggalkan anaknya sendiri.
'Maaf, mungkin hari ini kamu akan melihat sesutu yang sama sekali tidak pantas kamu lihat di umur sekecil ini, sayang,' gumam Livia dalam hati.
Livia menarik napasnya perlahan hingga terasa seolah mengisi seluruh rongga dadanya, kemudian mulai menghembuskannya sambil menengakkan tubuh dan menghampiri Daniel yang tampak sudah berdiri tegap bersama dengan Max disampingnya.
__ADS_1