
"Tidak ada yang serius, sepertinya istri Anda hanya kelelahan. Saya sudah berikan obat tidur agar istri Anda bisa istirahat dengan baik," ujar Dokter setelah memeriksa keadaan Livia.
"Baik, Dok. Terima kasih," jawab Daniel ketika menemani dokter untuk turun ke bawah. Dia mengantarkan dokter sampai ke depan, karena Danis sudah berangkat ke kantor.
"Kenapa Livia, Daniel?" tanya Mami Luci dengan wajah yang terlihat sangat panik. Sejak tadi dia terus menunggu Danie untuk mengetahui apa yang terjadi pada menantunya.
Daniel menghembuskan napas pelan, karena terlalu khawatir pada Livia, dia bahkan melupakan mami Luci sejak tadi pagi, dia kemudian berlutut di depan mami Luci sebelum berbicara dengan nada lembut. "Kata dokter, Livia hanya kecapean, Mami. Dia gak apa-apa kok."
"Kecapean? Apa selama ini Mami terlalu membuat Livia kelelahan, ya? Kenapa dia sampai pingsan?" gumam Mami Luci dengan wajah sendu. Dia merasa bersalah, karena selama ini dia memang belum bisa lepas sepenuhnya dari Livia, karena di rumah ini memang hanya Livia yang membuat dirinya nyaman untuk berbicara.
"Enggak, Mami. Beberapa hari ini, aku lihat Livia memang sering tidur larut malam. Mungkin ada sesuatu yang mengganggu pikirannya saja. Nanti kalau sudah bangun aku coba bicara sama dia, ya, Mi. Mami gak usah merasa bersalah, hem," jawab Daniel sambil menggenggam kedua tangan mami Luci dengan penuh kelembutan.
Mami Luci sempat terdiam beberapa saat, seolah ada yang sedang dia pikirkan, sebelum kemudian dia kembali menatap Daniel dan menyuruh anak sulungnya itu untuk sarapan dulu.
"Aku belum lapar, Mami. Nanti saja, ya, kalau Livia sudah bangun," tolak Daniel secara halus.
"Jangan gitu, kamu juga harus jaga kesehata kamu, Nak. Kalau kamu sakit, gimana kamu mau ngerawat Livia, hem? Lagian, memang kamu gak kasihan sama Livia yang sudah bangun pagi dan memaksakan diri buat menyiapkan sarapan untuk kita?" tanya Mami Luci yang masih membujuk Daniel untuk makan lebih dulu.
__ADS_1
Daniel memang memutuskan untuk tidak masuk kantor hari ini, dia menugaskan Danis untuk mengerjakan apa yang seharusnya dia kerjakan di kantor.
Daniel menghembuskan napas pelan, dia akhirnya mengangguk samar, hingga membuat mami Luci tampak tersenyum. "Aku bawa ke kamar saja, ya, Mami. Aku gak mau nanti kalau Livia bangun, gak ada orang di sampingnya," ujar Daniel melakukan penawaran.
"Iya, gak apa-apa yang penting kamu makan dulu. Mami juga akan suruh pelayan untuk memasak bubur buat Livia, biar nanti kalau dia bangun, bisa langsung makan terus minum obat," angguk mami Luci.
Daniel tersenyum tipis ketika mendengar Mami Luci yang begitu memperhatikan Livia. Dia kemudian menciun punggung tangan ibunya sebagai tanda kasih sayang juga terima kasih, karena sudah begitu memperhatikan Livia.
"Makasih, Mami. Daniel, sayang banget sama, Mami," ujar Daniel dengan sorot mata yang terlihat sangat tulus.
Setelah berbicara sebentar dengan Mami Luci, Daniel akhirnya kembali ke kamar sambil membawa menu sarapannya yang belum sempat dia makan sama sekali. Daniel,memutuskan untuk makan di meja rias Livia sambil menunggu istrinya itu untuk bangun.
"Olivia Aymar Gasendra, Mami tau itu kamu, Nak, bahkan ketika kita bertemu untuk pertama kalinya. Nama dan wajah kamu, tidak pernah Mami lupakan walau hanya sedetikpun, walau mami juga terkejut ketika mengetahui jika ternyata kamu masih hidup," gumam Mami Luci dengan mata menerawang jauh.
"Apa pun yang terjadi malam itu, mami tau, itu adalah sesuatu yang tidak mudah kamu lupakan, Olivia. Tapi, mami berharap, kamu bisa membuka mata dan melihat Daniel yang sangat mencintai kamu. Dia bahkan berani melawan ayah dan kakeknya ketika tahu apa yang ayahnya lakukan kepada keluarga kamu," sambung Mami Luci dengan satu tetes air mata yang berhasil jatuh membasahi pipinya.
Ya, sebenarnya Mami Luci sudah tau dari awal jika Livia adalah anak dari Pras Gasendra. Dia sengaja membawa Livia masuk ke dalam rumahnya agar dirinya bisa berada dekat dengan Livia. Mami Luci juga tahu, jika sebenarnya Daniel mempunyai perasaan lebih pada Livia kecil. Sebagai seorang ibu, tentu dirinya bisa ikut merasakan, bagaimana perasaan Daniel pada Livia.
__ADS_1
Itu sebabnya mami Luci berusaha menyatukan Daniel dan Livia, walau dirinya pikir Daniel dan Livia tidak mengetahui satu sama lain. Namun. kedatangan kakek Banu kembali membuat mami Luci menjadi was-was, apa lagi ketika kakek Banu dengan terang-terangan menceritakan tentang kejadian beberapa tahun lalu di depan Livia.
Mami Luci ketakutan, dia tidak mau jika karena semua itu Livia jadi mengetahui apa yang terjadi pada keluarganya dan siapa penyebab dari kejadian malam di mana suaminya membantai seluruh keluarga Livia. Mami Luci takut jika Livia akan salah paham dan mengira jika Daniel juga ikut dalam kejadian itu, makanya dia mencoba menceritakan apa yang terjadi malam itu secara tidak langsung pada Livia.
Namun, kini dirinya merasa bersalah karena telah membuat Livia menjadi kepikiran sampai kesehatannya menjadi drop seperti ini. Dia yang awalnya ingin melindungi Daniel dan pernikahan Livia, kini mulai merasa ragu, dengan tindakannya sendiri.
"Maafkan mami, Livia. Mami memang terlalu egois sampai terus melukai kamu. Tapi, bolehkan mami egois sekali lagi saja, demi untuk mempertahakan rumah tangga kalian, dan kebahgiaan Daniel," gumam Mami Luci sambil terisak pelan.
Mami Luci sudah tidak bisa lagi menahan tangisnya, sebagai seorang ibu, tentu saja dia ingin melihat anak sulungnya bahagia, tetapi sebagai manusia biasa, mami Luci juga merasa bersalah pada Livia, karena secara tidak langsung dia telah meminta Livia untuk mengalah dan melupakan kejadian pembantaian itu tanpa memikirkan perasaan Livia.
Mana ada seorang ibu yang tidak sedih jika melihat anak sulungnya tersiksa karena rasa bersalah yang disebabkan oleh kesalahan suaminya sendiri. Daniel sempat terpuruk cukup lama, walau anak sulungnya itu tidak pernah memperlihatkan kesedihan itu padanya.
Mami Luci sempat melihat Daniel kembali hidup ketika menjalin hubungan dengan mantan pacarnya, hingga akhirnya Daniel kembali menutup diri ketika melihat mantan pacarnya berselingkuh dengan temannya sendiri.
Sungguh, selama ini mami Luci tahu jika Daniel juga tersiksa dan mendapatkan imbas dari apa yang dilakukan oleh suaminya. Mulai dari sikap kakeknya yang berubah menjadi lebih keras, kasih sayang ayahnya yang hilang entah ke mana sejak kejadian itu, dan masalah keluarga yang terus terjadi dan menuntut Daniel untuk terus bersikap dewasa dalam menyikapi semuanya, bahkan di saat Daniel belum siap dalam menghadapi semua itu.
Sejak malam itu, keluarganya juga perlahan hancur. Dimulai dari kekecewaan mertuanya pada ayah Daniel yang berlanjut pada meninggalnya nenek Daniel, kemudian kesehatan kakek Banu yang memburuk hingga mengidap penyakit demensia. Kemudian kecelakaan yang mengakibatkan dirinya menjadi lumpuh dan suaminya meninggal. Semua itu harus Daniel hadapi terus menerus, tanpa persiapan dan tempat bersandar sama sekali.
__ADS_1
Nyatanya, kekuasaan dan kesuksesan yang didapatkan di atas darah keluarga Gasendra, tak pernah membuat keluarga mereka tenang dan bahagia. Semua itu malah perlahan menggerogoti setiap kebahagiaan dan ketenangan yang tadinya sudah ada, dan berujung menjadi sebuah malapetaka.
Namun, satu yang mami Luci tidak tahu, jika sebenarnya pertemuannya dan Livia, bukanlah sebuah kebetulan semata dan kedatangan Livia yang tanpa alasan. Sebenarnya, semuanya sudah terstruktur dengan baik, Livia merencanakan semua itu untuk masuk ke dalam keluarga Mami Luci dan membalas dendam atas kematin semua keluarga dan pekerja di rumahnya.