Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.41 Penyalahgunaan kekuasaan


__ADS_3

"Kak, menejer keuangan yang sempat melaporkan kecurangan Julio sekarang berada di rumah sakit, dia mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang dari kantor," lapor Danis sesaat setelah dia menerima kabar dari salah satu stafnya.


Daniel yang baru saja ke luar dari kamar bersama dengan Livia di belakangnya pun terlihat mengalihkan pandangannya pada sang adik dengan raut wajah yang terlihat terkejut. Begitu juga dengan Livia, walau wanita itu tidak mempelihatkan ekspresi berlebihan tetapi kerutan halus di keningnya sudah memapu memperlihatkan jika dia merasa tertarik dengan kabar yang disampaikan oleh adik iparnya itu.


"Bagaiamana kondisinya sekarang?" tanya Daniel dengan pandangan yang mulai goyah dan tangan terkepal kuat. Sepertinya dia sudah tahu ulah siapa ini.


"Dia masih dalam keadaan krtis, beberapa tulangnya patah hingga mengancam nyawa," jawab Danis cepat.


"Tanggung semua biaya pengobatannya sampai dia sembuh kembali, beri juga tanda prihatin kita kepada keluarganya. Nanti sore atur jadwalku untuk berkunjung ke rumah sakit," ujar Daniel langsung.


"Livia, nanti sore temani aku ke rumah sakit, kita bertemu di kantor," sambung Daniel lagi beralih pada Livia.


"Heem," angguk Livia tanpa banyak tanya.


Setelah mebahas tentang kecelakaan manajer keuangan itu, ketiganya pun kini berjalan bersama ke lantai satu untuk sarapan bersama sebelum berangkat ke kantor.


Tak ada yang istimewa dalam kegiatan rutin setiap pagi di rumah besar keluarga Hartoyo itu. Seperti biasa, meja makan besar berbentuk oval dengan banyak kursi yang mengelilinginya itu hanya diisi beberapa orang saja. Bahkan Livia yang notabene adalah cucu menantu di keluarga ini pun tidak pernah merasakan lagi makan di meja itu setelah kedatangan kakek Banu.


Susana hangat yang dulu terasa ketika semuanya berkumpul, kini berganti dengan keheningan yang cenderung mecekam. Tidak ada perbincangan yang akan berakhir tawa ceria. Semua perkataan di sana selalu memiliki arti tersendiri dan penuh dengan sindiran satu sama lain. Tatapan tajam yang terus saling mneyorot di antara mereka pun, membuat suasan semakin terasa sesak dan tak nyaman bagi semua orang yang ada di sana. Jangankan anggota keluarga, bahkan para pelayan pun ikut meraskan suasan tidak enak itu.


"Aku sudah selesai." Daniel berucap datar setelah memankan menu sarapan paginya yang hanya sebuah roti panggang yang dioles oleh butter kemudian menyeruput kopi tanpa gula yang bahkan masih terisa setengah cangkir lagi.


Laki-laki itu kemudian beranjak berdiri sambil melirik ibunya yang terlihat ingin menahannya. Keduanya tampak seolah sedang berkomunikasi hanya dengan sorot mata saja, hingga akhirnya Daniel melirik Julio yang juga sedang menatapnya, saat itu pembuluh darah di leher Daniel terlihat menonjol dengan tangan yang menggenggam erat. Sementara Julio hanya membalasnya dengan seringai mengejek pada Daniel.


Daniel langsung memalingkan wajahnya pada sang adik sambil berkata dengan nada suara yang dia buat sewajar mungkin. "Aku tunggu di mobil!"


Setelah itu dia beralih pada kakek Banu untuk berpamitan sekilas kemudian berjalan pergi dari meja makan dengan diikuti oleh Livia, setelah wanita itu mendapat kode dari mami Luci untuk mengikuti Daniel.


"Biar aku bawakan tas kamu, Mas!" ujar Livia sebagai alasan, sambil menyambar tas kerja Daniel yang biasanya dibawa oleh Danis.


Daniel berdiri di samping mobil dengan wajah datarnya, hembusan napas kasar terdengar berulang kali dia lakukan, menandakan jika laki-laki itu kini sedang mencoba mengendalikan emosinya yang mungkin sudah hampir menguasai hati dan pikirannya.


Setelah Livia menyimpan tas milik Daniel di kursi belakang mobil, dia kemudian berdiri di samping Daniel yang bahkan tak pernah meliriknya sama sekali sejak tadi. Livia mengikuti arah pandangan Daniel yang hanya menatap jauh ke taman yang ada di depan rumah mereka.

__ADS_1


"Jangan terlalu terbawa emosi, semuanya bahkan belum jelas sebelum kamu belum menemukan bukti," ujar Livia tiba-tiba, seolah dia tahu isi pikiran Daniel.


Mendengar itu, Daniel refleks menoleh cepat ke samping di mana Livia berada. Kerutan dalam di kening Daniel hingga membuat kedua alisnya hampir menyatu itu membuat seringai di bibir merah muda alami milik Livia terbit. Wanita itu senang sekali membuat Daniel berpikir, itu terlihat lucu dan sangat menghibur di dalam misinya untuk membalas dendam pada laki-laki yang kini memiliki status sebagai suaminya sendiri.


Daniel terdiam, ketika matanya melihat kedua sudut bibir wanita di hadapannya itu perlahan tertarik ke atas, walau itu sangat tipis. Namun, karena Daniel jarang sekali melihat Livia tersenyum di depan wajahnya, itu membuat sesuatu yang mengejutkan untuk Daniel. Bahkan kini dia merasakan jantungnya mulai berdebar dengan ritme yang semakin cepat dan menjadikan suhu tubuhnya mulai naik hingga terasa panas.


"Ekhm!" Sebelum dia terhanyut lebih dalam, Daniel langsung mengalihkan pandangannya kembali ke depan sambil berdehem cukup kencang. Tangannya ia gunakan untuk mengibaskan jas yang tiba-tiba saja terasa panas.


"A--apa yang kamu bilang tadi?" tanya Daniel tanpa, mau memandang wajah Livia.


Melihat sikap salah tingkah Daniel, Livia pun tersenyum miring, walau itu hanya terjadi sedetik saja. Dia kemudian menormalkan kembali raut wajahnya sambil menggeleng pelan.


"Tidak ada," jawab Livia tak mau mengulangi ucapannya.


"Tidak mungkin. Jelas sekali tadi aku mendengar kamu berbicara sesuatu padaku." Daniel tidak percaya, tanpa sadar kini dia bahkan menghadapkan tubuhnya pada Livia dengan wajah yang menahan kesal.


Livia mengedikkan bahu acuh. "Mungkin kamu salah dengar," ujarnya tanpa rasa bersalah.


Daniel terdiam dengan mata memicing, dia seolah sedang menyelidiki Livia dan memberikan intimidasi pada wanita itu. Namun, Livia yang memang sudah kebal dengan trik seperti itu pun hanya berdehem pelan sambil membuang pandangannya ke sembarang arah.


"Heuh! Ada apa denganku? Kenapa di sini terasa tidak nyaman begini?" gumam Livia sambil menenkan area dada yang terasa sesak darena debar jantung yang tidak beraturan.


Berulang kali Livia menghembuskan napas pelan sebelum akhirnya memilih masuk ke dalam rumah lagi setelah merasa debar jantungnya sudah bisa dia kendalikan.


"Sial! Dasar Daniel brengsek!" decak Livia ketika mengingat jika semua ini karena Daniel.


...โค๏ธโ€๐Ÿ”ฅ...


Seperti perintah Daniel pagi tadi, kini Livia tengah menunggu laki-laki itu yang masih ada rapat, di kantin kantor untuk berangkat bersama menuju ke rumah sakit.


Karena pemberitaan kemarin, kini Livia sudah cukup dikenal oleh banyak karyawan di sana. Sejak masuk ke kantor, dia menerima begitu banyak sapaan hormat dari para karyawan kantor.


Kini dia memilih kursi di dekat jendela dengan satu kursi lagi di depannya. Karena waktu memang sudah sore, jadi tidak banyak orang yang berada di sana, hingga di bisa leluasa menikmati waktu sore di lantai tiga kantor dengan secangkir teh camomile yang kini tampak masih mengepul di depannya.

__ADS_1


Namun, suara keributan dari arah kursi yang berada tidak jauh darinya membuat Livia mulai terganggu. Dia yang sejak tadi diam kini mulai melirik beberapa orang yang duduk hanya berjarak beberapa meter saja darinya.


"Bodoh banget sih dia, mau aja kita kerjain buat bikin laporan dan mencari bahan untuk presentasi besok pagi," ujar salah satu perempuan dengan rok span sebatas lutut.


"Itu emang tugas dia sebagai karyawan baru, buat ngeringanin kerjaan kita." Suara tawa terdengar di akhir perkataan wanita dengan rambut sedikit bergelombang di bagian bawahnya.


Perhatian Livia kini teralih dengan kedatangan seorang perempuan muda yang memakai kacamata dengan berkas di tangannya.


"Ini semua laporan dan ringkasan materi untuk bahan persentasi besok pagi yang harus aku selesaikan, sekarang apa aku boleh izin pulang lebih dulu, Mba," ujar wanita itu taku-takut.


"Enak saja! Sekarang kamu pergi ke ruangan berkas lalu ambil berkas lima tahun ke belakang, salin semuanya, besok harus sudah selesai!" ujar wanita dengan kutek kuku berwarna merah menyala.


"T--tapi, Mba, ibu aku lagi dirawat di rumah sakit, a--aku harus menemaninya malam ini," ujar wanita dengan kacamata tebal itu mencoba menolak dan mengiba.


Livia semakin tertarik dengan drama senior dan junior di dalam kantor, akhirnya dia memilih untuk memperhatikan sekumpulan wanita itu, hingga akhirnya dia melihat wanita dengan kutek merah menyala itu menumpahkan satu gelas penuh jus miliknya pada tubuh juniornya itu.


Livia tersenyum miring dengan tangan mengepal, dia kemudian beranjak dan merjalan menghampiri beberapa karyawati itu.


"Ini adalah penyalahgunaan kekuasaan, kalian tidak bisa memperlakukannya dengan semena-mena seperti ini," ujar Livia sambil membantu wanita berkacamata itu bangun dan membersihkan tumpahan jus di bajunya.


Sebentar lagi perusahaan ini akan menjadi milik Livia, jadi tidak salah kan jika Livia mulai membasmi para pekerja tidak berguna seperti sekumpulan wanita yang menjadikan statusnya sebagai senior untuk membully para pekerja baru.


"Siapa kamu? Kita gak pernah tuh liat wajah kamu di sini, jangan-jangan kalian sama-sama pegawai baru. Cih!" Wanita dengan rambut bergelombang di ujungnya terlihat menatap sinis Livia.


"Jangan ikut campur urusan kita? Atau kamu juga mau seperti dia, heh?" ujar wanita dengan rok span selutut sambil mengambil gelas kopi yang masih mengepulkan asap dari salah satu pegawai yang lewat dan hendak menyiramkannya pada Livia.


Ah, sepertinya mereka tidak mengenali Livia. Apa mungkin karena sedang dalam keadaan marah, jadi mereka tidak terlalu peka dengan wajah Livia yang beberapa waktu belakangan selalu menghiasi pemberitaan.


Livia melebarkan matanya saat dia melihat gerakan tangan wanita itu mengambil kopi kemudian hendak menyiramkannya kepada dirinya dengan cukup cepat. Apa lagi, kini kedua teman wanita itu pun sigap memegangi tangan Livia agar Livia tidak bisa bergerak dan menghindar.


"****!"


"Akh!"

__ADS_1


Siapa kira-kira yang tersiram? Komen๐Ÿ˜๐Ÿ˜


__ADS_2