Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.16 Konferensi pers


__ADS_3

Pagi harinya. Semua yang dikatakan oleh Daniel benar-benar terjadi, seperti saat ini, Livia yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuk seluruh keluarga dengan dibantu beberapa pelayan yang memang bertugas di dapur pun dibuat terkejut ketika melihat barang-barang pesanan Daniel yang baru saja datang.


Mulai dari beberapa gaun pesta dan pakaian formal yang mungkin sesuai dengan selera Daniel, beberapa set make up dengan berbagai varian. Enam pasang sepatu dengan berbagai model dan warna. Semua barang itu bahkan sudah hampir memenuhi ruang tamu rumah besar keluarga Hartoyo yang memiliki luas yang tidak main-main.


Livia dibuat melongo melihat apa yang dilakukan oleh suaminya itu. Dia bahkan tidak bisa berkata apa pun, karena terlalu terkejut dengan semua yang ada di depannya.


"Ini semua kamu yang pesan, Livia?"


Livia menolah ketika suara lembut nan membuai terdengar dari belakang tubuhnya. Matanya sedikit mengerjap sambil berdehem pelan, mencoba mengembalikan akal sehatnya yang sempat terhenti untuk beberapa saat.


"Bukan, Mami. Ini semua ulah Mas Daniel, katanya buat aku belajar make up, agar nanti gak usah repot pergi ke salon kalau mau ada acara dadakan," jawab Livia sambil sambil berjalan menghampiri Mami Luci yang tengah duduk di kursi rodanya.


Wanita paruh baya itu terlihat menghembuskan napas kasar sambil menggeleng pelan, matanya menatap pasrah semua barang yang menumpuk memenuhi hampir seluruh ruang tamu rumahnya.


"Ya sudah, kamu ambil dulu yang dibutuhkan untuk sekarang bersiap. Sementara yang lainnya suruh pelayan membereskannya," ujar Mami Luci masih dengan nada yang terdengar sangat lembut.


"Baik, Mami," angguk Livia, kemudian menanggil beberapa pelayan dan petugas penjaga untuk membawa semua barang itu ke lantai dua dan membereskannya.


Setelah itu, dia mulai menyiapkan diri untuk acara konferensi pers bersama Daniel pagi ini. Sementara Daniel yang sudah terbiasa menyiapkan diri sendiri kecuali dengan dasi, pun mulai bersiap di walk ini closet, tanpa mau menolah pada Livia yang terlihat masih asik memoles wajahnya dengan berbagai jenis make up yang dia sendiri tidak tahu jenisnya.


Daniel baru menghampiri Livia setelah dia hampir siap, dengan membawa jas dan dasi yang belum diikat, Daniel menghampiri Livia yang juga baru saja beranjak dari kursi meja riasnya kemudian berbalik. Livia hampir saja berteriak kaget karena begitu dia berbalik dirinya hampir saja menabrak Daniel yang entah sudah berdiri sejak kapan di sana.


Tanpa berkata Daniel kemudian mengulurkan tangannya yang memegang dasi berwarna merah marun, senada dengan jas yang akan dia pakai ke depan Livia. Sudah mengerti dengan kebiasaan yang harus dia lakukan setiap pagi, Livia pun langsung mengambil dasi di tangan Daniel kemudian memasangkannya tanpa berkata juga.


Daniel sempat melirik wajah Livia walau hanya sesaat. Ternyata, Daniel tidak bisa lebih lama menatap wajah Livia yang kini tampak sudah menggunakan riasan tipis hingga menambah kecantikan wanita itu. Entahlah, mengapa Livia terasa semakin cantik setelah menikah dengannya beberapa waktu lalu.


"Ekhm!" Daniel berdehem sambil mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, demi menghindari wajah Livia dan menenangkan jantungnya yang entah mengapa berdebar begitu cepat.


Livia kemudian mengambil jas yang disampirkan oleh Daniel di sandaran sofa kemudian bersiap untuk membantu Daniel memakainya. Daniel pun menerima itu tanpa protes, dia kemudian membenarkan jas yang sudah dipakai sambil kembali mengalihkan pandangannya pada Livia.

__ADS_1


"Aku tunggu di bawah," ujarnya dengan nada sangat datar.


"Heem," angguk Livia sambil kemudian berjalan menuju walk in closet untuk mengganti baju.


...❤️‍🔥...


Livia berjalan menapaki anak tangga untuk menuju lantai bawah, kali ini dia memakai gaun sebatas lutut yang terlihat tidak terlalu formal berwarna merah marun yang senada dengan jas Daniel. Dipadukan dengan sepatu hak dengan warna hitam yang menambah penampilan Livia yang terlihat sangat feminim, jauh berbeda dengan penampilan biasanya.


Mami Luci tampak berbinar ketika melihat penampilan sang menantu pilihannya, senyum lebar pun telrihat membingkai wajah wanita paruh baya yang masih terlihat awet muda.


"Kamu cantik sekali, Livia. Kalian benar-benar serasi," ujar Mami Luci setelah Livia berdiri di sampingnya, pandangannya mengedar menatap Daniel dan Danis, seolah meminta pembenaran.


"Iya, Mami, mereka udah cocok banget jadi suami istri," angguk Danis yang tahu keinginan Mami Luci.


"Emang udah jadi suami istri, Danis." Mami Luci membenarkan.


"Eh, iya. Aku lupa." Danis terkekeh pelan sambil menggaruk pelan belakang kepalanya. Padahal dia sama sekali tidak lupa akan setatus Daniel dan Livia, hanya saja dia juga tahu jika sampai saat ini pasangan itu memang belum pernah menjadi suami istri yang sesungguhnya.


...❤️‍🔥...


Sampai di hotel tempat konferensi pers berlangsung, semua awak media yang sudah sampai dan bersiap untuk mengambil bahan berita pun segera menyambut kedatangan pasangan yang sedang banyak dibicarakan di hampir seantero negeri.


Daniel turun lebih dulu dari mobil dengan bantuan Danis, kemudian berjalan memutar untuk membuka pintu mobil di samping Livia. Pria itu terlihat mengulurkan tangannya sambil tersenyum lembut saat melihat Livia yang tengah duduk di dalam mobil. Dia benar-benar sedang berperan sebagai suami yang sempurna di depan jepretan kamera yang sedang berlomba mendapatkan gambar paling baik untuk berita mereka.


Interaksi keduanya tentu saja bisa dinikmati langsung oleh para pencari berita, mereka secara langsung melihat dan memotret dengan bebas apa yang mereka lihat sekarang ini. Sungguh, interaksi yang dibuat Daniel membuat mereka semakin penasaran dengan sosok Livia yang telah mampu menaklukkan hatinya.


Livia membalas senyum Daniel tak kalah lembut, dia kemudian menyambut uluran tangan Daniel dengan gaya yang sangat anggun, kemudian turun dari mobil. Keduanya sempat berdiri berdampingan di samping mobil dengan Daniel yang memeluk erat pinggang ramping milik Livia, seolah dia memang tidak bisa berjauhan dari istrinya. Keduanya membiarkan para wartawan mengambil beberapa potret mereka untuk bahan berita.


Setelah dirasa cukup, Daniel pun membawa Livia menuju ke dalam hotel dengan Danis dan beberapa pengawal menjaga dan mengarahkan keduanya ke tempat konferensi pers yang akan segera mereka lakukan.

__ADS_1


"Selamat siang semuanya," sapa Daniel pada seluruh awak media yang sudah duduk rapih di depan mereka, untuk membuka acara.


Livia yang duduk di sebelah Daniel tampak mengepalkan kedua tangannya di bawah meja, dia tidak terbiasa disorot oleh banyak kamera hingga kegiatan ini sangat membuatnya risih. Namun, sekuat tenaga Livia tidak menampilkan semua itu, dan terus berusaha untuk tersenyum ramah dan juga lembut. Livia sedang berperan menjadi istri seorang Daniel yang lemah lembut dan elegan.


Dalam acara ini, Livia tidak perlu banyak berbicara karena yang akan mengambil alih semua pembicaraan adalah Daniel, Danis selaku asisten pribadi Daniel, dan pihak pengacara yang sengaja Daniel bawa untuk memperlihatkan bukti jika mereka memang sudah menikah secara sah pada seluruh awak media. Livia hanya akan menjawab, jika ada pertanyaan yang memang ditujukkan langsung padanya dan harus dirinya jawab sendiri.


"Perkenalkan, ini adalah Livia Aymar Gasendra, istri sah saya," ujar Daniel lagi dengan nada menekan di setiap perkataannya. Tangannya pun ikut merangkul pundak Livia, hingga membuat wanita itu terkejut walau itu hanya sesaat, hingga dia dapat menguasai situasi dan mengangguk tipis sambil tersenyum ramah pada seluruh wartawan.


"Kami menikah belum lama, tepatnya pada tanggal 25 maret kemarin," sambung Daniel lagi yang disusul oleh orang yang memperlihatkan surat nikah Daniel dan Livia pada semua wartawan yang tampak menatapnya dengan wajah terkejut. Mereka semua pun sempat teralihkan oleh semua itu dan memotret bukti penting tentang pernikahan Daniel dan Livia, sebelum kembali mengalihkan perhatiannya pada sepasang suami istri baru itu.


Daniel pun kembali berbicara untuk memberikan kelarifikasi tentang rumor yang selama ini beredar, dia menyangkal semuanya dan mengatakan jika saat ini sudah membentuk tim untuk mencari dalang dari rumor tersebut.


Setelah semua yang cukup penting sudah dikatakan, kini tiba waktunya untuk tanya jawab. Pihak Daniel hanya memberikan para pewarta itu mengajukan tiga orang wartawan untuk mengajukan pertanyaan dan mewakili rasa penasaran mereka semua.


"Apakah, kalian dijodohkan? Kenapa tidak pernah ada kabar tentang hubungan kalian sebelumnya?" tanya salah satu wartawan yang mendapatkan giliran pertama.


Daniel tersenyum, dia kemudian menarik Livia agar bisa lebih dekat lagi dengannya, sebelum menjawab pertanyaan yang sudah dirinya prediksi lebih dulu.


"Kami tidak dijodohkan. Livia murni adalah pilihan saya, dan kami menjalin hubungan lebih dulu sebelum menikah–" Daniel terkekeh kecil sebelum melanjutkan ucapannya, hingga membuat para wartawan terkejut dibuatnya. "Walau memang sangat singkat, karena saya lebih memilih langsung membawa hubungan kami ke jenjang yang lebih serius dan meresmikannya."


"Iya 'kan, sayang?" tanya Daniel seolah meminta penegasan dari Livia.


Livia tersenyum kemudian mengangguk ramah. Dia sama sekali tidak mengatakan apa pun untuk membalas ucapan Daniel.


"Siapa sebenarnya Nona Livia ini? Kenapa Anda bisa memilihnya setelah cukup lama tidak pernah terdengar dekat dengan wanita, sejak memutuskan pertunangan dengan model internasiaonal, Selvia Anastasya?"


Deg!


Tubuh Daniel tiba-tiba saja menengang ketika mendengar nama yang berkaitan dengan masa lalunya itu disebut. Livia sadar semua itu, dia bahkan bisa merasakan jika tangan Daniel yang sejak tadi terus berada di pundaknya kini mulai mencengkram dengan cukup kuat, walau itu tidak membuatnya meringis kesakitan.

__ADS_1


'Selvia Anastasya?


__ADS_2