Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.39 Botol kecil yang menguntungkan


__ADS_3

"Sial! Mereka masih saja bisa ke luar dari masalah ini, padahal sudah banyak uang yang aku keluarkan untuk menyebarkan berita tentang masa lalu wanita itu!" Murti terlihat membantingkan ponselnya ke atas ranjang setelah melihat setiap pemberitaan yang beredar di internet tentang kemesraan Livia dan Daniel.


Wanita itu tampak uring-uringan tidak jelas sambil mengacak-acak hampir seluruh kamarnya, melampiaskan kemarahan yang sudah menumpuk pada Daniel dan Livia. Padahal memang dia yang mencari masalah, tetapi dia malah marah pada Daniel dan Livia yang bahkan tampak tak pernah melakukan apa pun. Walau itu tak sepenuhnya benar.


Amukan wanita paruh baya itu terhenti ketika matanya tiba-tiba melihat seseorang yang tengah berdiri bersidekap dada di samping pintu masuk yang dibiarkan setengah terbuka.


"L--Livia?" gumam Murti dengan wajah terkejutnya.


Sejak kapan dia masuk ke kamarku? Kenapa aku tidak bisa mendengar dia membuka pintu? batin Murti yang tidak sadar akan kedatangan Livia.


Livia tersenyum tipis sambil melihat wajah terkejut Murti dengan sorot mata malas, dia kemuadian mengedarkan pandangannya pada seluruh kamar wanita itu yang sudah tak beraturan.


"Ck ck ck, menyedihkan," ujar Livia sambil menggeleng kepala miris.


"A--pa? Dasar tidak tahu sopan santun! Masuk ke kamar orang tanpa permisi. Orang rendahan sepertimu bahkan tidak pantas berada di rumah ini, apa lagi masuk ke kamarku!" Murti menatap penuh remeh sosok Livia yang kini masih berdiri santai dengan tatapan tak beralih dari Murti.


"Cih! Menjijikan!" Murti meludah ke samping sebagai bentuk hinaan untuk Livia.


Bukannya membalas perkataan kasar dari Murti, Livia malah tersenyum tipis. Murti menatap terkejut dengan reaksi Livia, walau begitu dia tetap berusaha untuk bersikap tenang, walau hatinya sudah sangat resah saat ini.


Gimana mungkin, dia tidak membalas atau menunjukan reaksi ketika aku menghinanya? batin Murti merasa bingung dengan sikap Livia.


"Siapa pun aku, kamu tidak perlu tau. Tapi--" Livia mengeluarkan tangannya kemudian memperlihatkan sebuah botol kecil yang sejak tadi dia genggam dengan seringai tipis di bibirnya. "Bagaimana jika kakek Banu tau tentang botol ini?"


Murti yang mengenali botol di tangan Livia pun terlihat panik bukan main. Entah darimana dan bagaimana Livia bisa mendapatkan botol racun yang dia siapkan untuk melukai Luci dan sudah dia berikan pada pelayan yang selalu membantunya.

__ADS_1


"Pelayan sialan. Kalian berdua sama-sama manusia rendahan!" geram Murti menatap penuh amarah pada Livia.


Livia tersenyum, ingatannya kembali pada beberapa waktu lalu ketika dia berbicara dengan pelayan yang sering memusuhinya itu.


Flashback ....


Beberapa saat setelah kejadian Mami Luci yang hampir saja memakan racun dari Murti, Livia sengaja menunggu pelayan yang selalu membencinya itu di depan kamarnya. Kebetulan Livia sudah hafal setiap waktu istirahat para pelayan, hingga dia tidak perlu menunggu waktu lama untuk bertemu dengan perempuan yang memang berumur hanya selisih dua tahun dari Livia. Namun, wanita itu adalah seorang janda dan sudah memiliki dua orang anak yang dia tinggalkan bersama orang tuanya di kampung.


Livia sudah tahu semua itu sejak awal, dia bahkan tahu jika suami pelayan itu menceraikannya karena wanita itu terpergok sedang bercinta dengan laki-laki lain di rumah mereka sendiri. Ya, sebelum Livia masuk ke dalam rumah ini, dia bahkan sudah mencari tahu semua penghuni di dalam rumah ini, termasuk para pekerja, hingga tidak ada satupun yang bisa berbohong padanya.


Livia tersenyum tipis ketika melihat wanita itu tampak menghampirinya tanpa ada rasa curiga. Bahkan dia terlihat masih saja menatapnya dengan sinis dan penuh permusuhan.


"Ngapain kamu ada di depan kamarku?" tanya pelayan itu pada Livia begitu dia berdiri tepat di depan Livia.


"Tidak ada," jawab Livia datar, dia yang awalanya bersandar di kusen pintu kamar pelayan itu pun mulai menengakkan tubuhnya.


"Oh, oke," jawab Livia sambil menggeser satu langkah tubuhnya ke samping agar pelayan itu bisa membuka pintu dan masuk ke kamarnya.


Namun, ketika pelayan itu hendak menutup pintu Livia menahannya kemudian ikut masuk tanpa meminta persetujuan dari sang empunya kamar.


"Ngapain kamu ikut masuk ke kamarku? Dasar tidak sopan!" hardik pelayan itu.


"Apa kamu mau aku memperlihatkan ini di luar sana?" tanya Livia smabil memperlihatkan botol kecil di tangannya. Livia yang terlalu malas untuk berbasa-basi yang tidak penting, memilih untuk berbicara langsung pada intinya.


"B--botol ini? A--apa maksud kamu, Livia?" panik pelayan itu sambil meraba seluruh baju yang dia pakai, mencari boto kecil itu yang dia ingat telah dia simpan di dalam saku, sesaat setelah dia memasukan beberapa tetes isinya ke dalam mangkuk sarapan Mami Luci tadi pagi.

__ADS_1


"Bagiaman jika sampai Mami Luci atau Daniel tahu tetang semua ini? Bagaimana dengan nasib kedua anak kamu di kampung kalau sampai kamu dipecat, atau bahkan dipenjara?" tanya Livia dengan raut wajah yang masih saja terlihat datar dan tanpa ekspresi.


"B--bagaimana kamu bisa tau tentang semua itu? A--aku tidak pernah bercerita pada siapa pun di sini?" ujar pelayan itu panik.


Di rumah ini, yang mereka tahu hanyalah tentang dia yang seorang janda, tetapi tidak ada yang tahu tentang kedua anaknya. Dia memilih tidak menceritakan semua itu pada siapa pun. Namun, Livia tahu semuanya?


"Li--Livia? K--kamu?" Pelayan itu bahkan tak sanggup meneruskan perkataannya saat melihat apa yang ada di tangan Livia.


"A--apa yang kamu mau sebenarnya? A--aku hanya pesuruh, aku melakukan yang orang itu tugaskan padaku. Livia, aku mohon jangan laporkan semua ini pada Nyonya Luciana atau Tuan Daniel," panik pelayan itu sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Memohon ampunan pada Livia.


"Aku tidak mau dipenjara, Livia! A--aku akan lakukan apa pun yang kamu mau, asal kamu jangan laporkan semua ini pada Nyonya dan Tuan Daniel, Livia. Aku mohon .... Aku gak tau harus bagaimana nasib anak-anakku kalau sampai aku di pecat dari sini, Livia." Pelayan itu hampir saja berlutut di depan Livia jika Livia tidak sigap menahan tubuhnya.


"Tidak perlu seperti ini. Aku bukan tidak punya hati seperti wanita yang kamu anggap sebagai majikan (Murti)," jawab Livia sambil menahan tubuh pelayan itu.


Pelayan itu pun terdiam, dia hanya menunduk takut. Saat ini dia bahkan tidak sanggup hanya untuk mengangkat kepala dan melihat wajah Livia. Sungguh, dia sangat malu.


"Mulai saat ini kamu berada di pihakku, kamu harus melaporkan apa saja tugas yang wanita itu minta kerjakan dan kamu hanya boleh melakukan jika aku mengizinkan. Kamu mengerti?" jelas Livia.


"Baik-baik! Aku akan melakukan semua itu. Makasih, Livia. Aku berhutang padamu," ujar pelayan itu kini berkata dengan ramah dan penuh terima kasih pada Livia.


"Tidak ada yang berhutang di antara kita, kamu cukup melakukan tugasmu demi menebus apa yang pernah ingin kamu lakukan pada keluarga ini hanya demi uang, maka aku juga tidak akan mengusik hidupmu," jawab Livia dengan kalimat yang sangat panjang.


Setelah itu, Livia pun ke luar dari kamar pelayan itu sambil menghembuskan napas lelah. Satu yang dia tidak suka dalam bekerja sama dengan orang baru, mereka tidak mengerti dengan perkataan singkatnya, hingga dirinya harus menjelaskan secara detail dan itu sangat melelahkan untuknya.


Sejak saat itu, diam-diam Livia bekerja sama dengan pelayan itu untuk mengelabui Murti. Sebenarnya, sejak awal Livia tahu semuanya dan dia sudah mempersiapkan semua penyelesaian dari masalah yang dibuat oleh Murti juga Julio.

__ADS_1


Flashback off ....


__ADS_2