
Danis dan Livia yang baru saja masuk ke dalam rumah kini menghentikan langkahnya secara tiba-tiba karena sesuatu yang terjadi di depan mereka.
"Daniel!" Suara teriakan dari arah lain membuat mereka kembali mengalihkan perhatiannya pada seseorang yang kini tampak berjalan cepat ke arah Daniel dan Julio yang tengah bertengkar.
"Hentikan semua ini! Apa yang kamu lakukan, Daniel. Dia itu kakakmu!" teriak Kakek Banu sambil memukul tangan Daniel dengan tongkatnya.
Daniel menatap kakeknya dengan wajah kecewa, dia menghembuskan napas kasar dan terpaksa melepaskan cengkramannya pada kerah baju Julio kemudian menghempaskannya, hingga akhirnya Julio kembali terjatuh menabrak lantai.
"Kakek masih membela dia, setelah apa yang dia lakukan di perusahaan?" Daniel kini beralih menatap sang kakek dengan sorot mata marah bercampur kecewa.
"Belum cukup apa yang mereka lakukan pada Mami dan Papah, Kek. Sekarang Kakek juga mau aku jadi korban dia selanjutnya?" tanya Daniel dengan mata memerah.
"Daniel, jangan begitu sama kakekmu, Nak." Mami Luci yang baru saja datang pun kini ikut berusaha melerai kemarahan Daniel.
Daniel beralih menatap Mami Luci dengan sorot mata yang berbeda, terlihat sekali ada rasa tak berdaya di sana. Walau masih ada kemarahan yang tersimpan di dalamnya.
"Kenapa, Mami? Mereka berdua sudah membuat papa meninggal dan Mami seperti ini. Sekarang Mami juga membela mereka?" tanya Daniel sambil mengarahkan telunjuknya kepada Julio dan Murti yang tengah berperan sebagai korban, keduanya hanya menunduk dalam seolah tak berani menatap wajah semua orang yang ada di sana.
Mami Luci terdiam, mulutnya tiba-tiba tertutup rapat dengan ingatan masa lalu yang kembali berputar di ingatan. Ingatan tentang kecelakaan yang terjadi beberapa tahun lalu pada dirinya dan sang suami yang mengakibatkan suaminya meninggal dan dirinya tidak bisa lagi berjalan sampai sekarang.
__ADS_1
Sebenarnya masih ada rasa marah dalam hati Mami Luci pada Murti dan Julio. Namun, Luciana juga tidak bisa menutup mata pada kenyataan jika Julio pun masih anak kandung suaminya, walau keberadaannya tidak melalui pernikahan yang sah.
Saat itu, Karsa Hartoyo --mending suami Luciana-- melakukan kesalahan yang mengakibatkan Murti hamil Julio, padahal saat itu Karsa dan Luciana sedang melakukan persiapan pernikahan, hingga akhirnya diam-diam Karsa menikah dengan Murti sebagai tanggung jawab tanpa memberitahu siapa pun.
Luciana bahkan baru tahu jika suaminya memiliki anak lagi dari wanita lain setelah anak itu beranjak remaja. Itu pun karena dia tidak sengaja mendengar perbincangan Karsa dan Banu tentang Murti dan Julio. Hancur hati Luciana saat itu. Laki-laki yang dia selalu banggakan dan dia anggap hanya mencintai dirinya, ternyata memiliki wanita lain di belakangnya. Namun, kemudian Karsa menjelaskan, jika keberadaan Julio hanyalah sebuah kesalahan. Dia dijebak oleh Murti yang sudah lama menyukainya dan berakhir menikmati malam bersama.
Melihat wajah polos Julio yang memiliki usia beberapa bulan lebih tua dari Daniel, membuatnya iba. Luciana memilih mengalah dan menerima keberadaan Murti. Namun, ternyata itu bukanlah keputusan yang benar. Membiarkan mereka mencicipi semua yang dia miliki tanpa terasa mulai menumbuhkan keserakahan dalam diri Murti dan Julio.
Mereka mulai mencari masalah dan selalu merasa iri padanya. Hingga akhirnya Karsa menyadari apa yang mereka lakukan dan memilih untuk membatasi pengeluaran Murti dan Julio. Merasa tidak terima, Murti pun melakukan berbagai cara untuk mencari masalah. Hingga akhirnya mereka merencanakan kecelakaan itu pada Luciana yang ternyata malah menimpa Karsa juga dan membuat Karsa meninggal.
Setelah mengetahui semua itu, Kakek Banu akhirnya memutuskan hubungan keluarga dengan Murti dan Julio. Semua aliran dana yang selama ini menafkahi semua kebutuhan Murti dan Julio pun dihentikan begitu saja. Mereka hanya diberikan anak cabang perusahaan yang berada di sebuah kota kecil sebagai warisan dari Karsa.
"Mami tau, sekarang dia mau menghancurkan perusahaan keluarga kita! Perusahaan yang sudah susah payah aku jaga setelah papah meninggal!" sentak Daniel dengan telunjuk mengarah tepat pada wajah Julio.
"Kakek sudah lupa bagaimana mereka membuat papa meninggal? Apa kakek mau mereka sekarang membuat perusahaan kita bangkrut seperti perusahaan yang kakek berikan pada mereka?"
Plak!
"Karsa! Kamu sudah gila? Untuk apa kamu membunuh keluarga Pras, hah?! Mereka tidak bersalah, Pras dan anaknya memang pantas mendapatkan semuanya, mereka adalah orang-orang yang sangat pintar dan handal dalam berbisnis!"
__ADS_1
Daniel terdiam dengan mata melebar ketika mendengar suara bentakan dari kakeknya. Pasalnya itu bukanlah namanya yang baru saja disebutkan, tetapi nama ayahnya Daniel. Kakek Banu juga mengungkit tentang kesalahan ayahnya beberapa tahun lalu.
"Kakek! Ini aku, Daniel, bukan papah," ujar Daniel dengan mata menatap nanar, suaranya pun kini tak lagi setegas tadi. tampaknya laki-laki itu juga terkejut dengan ucapan kakek Banu.
"Stop melampiaskan kemarahan kakek padaku, Kek. Itu semua terjadi karena kakek sendiri. Kakek yang terus saja membanggakan orang lain dan membandingkan papah dengan om Pras yang membuat papah gelap mata dan terus merasa tersaingi!"
Daniel menatap penuh kecewa pada kakek Banu. Dia sudah tidak tahan lagi menahan semua beban yang harus ditanggung karena kesalahan ayahnya. Kematian ayahnya bahkan tak membuat kakek Banu melupakan kesalahan itu. Dia malah semakin menjadi dan membuat dirinya seolah ayahnya yang harus bertanggung jawab dengan semua kesalahan yang sudah diperbuat.
Tubuh Livia menegang ketika kakek Banu menyebutkan nama ayahnya. Kedua tangannya tampak mengepal erat agar dia tidak sampai lepas kendali, saat kejadian berpuluh tahun lalu kini kembali diungkit tanpa ada sedikit pun raut wajah penyesalan di dalam wajah mereka. Yang ada hanya saling menyalahkan atas semua yang terjadi. Itu semua membuat Livia merasa muak hingga hampir muntah.
Ingin sekali Livia berteriak dengan sangat keras hingga semua orang yang ada di sana bisa mendengar suaranya dan tahu siapa sebenarnya dia. Namun, semua itu dia tahan dengan sekuat tenaga, agar semua rencana yang sudah dia susun dengan begitu lama, tidak gagal hanya dengan satu kata yang akan membongkar semua identitasnya dan tujuannya berada di rumah ini sekarang.
"Tuan, sebaiknya Anda segera masuk ke kamar, emosi Anda sedang tidak stabil sekarang." Karlo yang baru saja datang entah dari mana kini terlihat panik, dia langsung mendekati kakek Banu dan membujuknya untuk segera pergi dari sana dan masuk kembali ke dalam kamar.
"Daniel, kontrol emosimu! Bantu aku membawa Tuan ke kamarnya!" sambung karlo lagi dengan wajah paniknya, bahkan laki-laki itu lupa memanggil Daniel dengan sebutan 'tuan muda'
Daniel yang juga sudah terlanjur emosi memilih untuk tak acuh pada perkataan karlo dan mengabaikan semuanya. Dia berjalan cepat menuju ke lantai atas tanpa mau perduli dengan kondisi kakek Banu yang masih saja melihatnya dengan mata nyalang dan penuh kemarahan.
Sementara Livia yang melihat situasi semakin memanas pun akhirnya menghembuskan napas pelan untuk mengendalikan perasaannya, dia kemudian membawa Danis yang ada di sampingnya untuk membantu Karlo membawa kakek Banu.
__ADS_1
Sementara mami Luci, Murti, dan Julio tampak masih terkejut dengan semua yang baru saja terjadi. Mereka yang belum mengetahui tentang penyakit kakeknya yang satu ini pun terkejut buka main, hingga hanya bisa terdiam dengan pikirannya masing-masing.