Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.74 Ingin bertemu


__ADS_3

"Daddy, kenapa gak bilang dulu sama aku kalau mau ke sini, hem?" tanya Livia begitu dia sudah sampai di kediaman Agra dan kini bertemu dengan Andrew.


Livia langsung melayangkan protes pada ayah angkatnya itu karena sudah pergi tanpa pamit dahulu padanya, apa lagi Andrew juga membawa Ares ikut serta dengannya. Mungkin, jika ke negara lain Livia akan lebih tenang, tetapi ini adalah Indonesia, negara yang begitu dia hindari selama lebih dari enam tahun ini.


"Sudahlah, Livia, ini sudah enam tahun lebih, jangan terus terjebak dalam masa lalu seperti ini. Walau bagiamana pun Ares harus tahu siapa ayahnya." Agra yang memang sedang mengobrol dengan Andrew pun menyela.


"Aku tau, tapi setidaknya beri tahu aku dulu--"


"Memangnya kalau Daddy beri tahu kamu dulu, kamu akan mengizinkan, hem? Padahal Ares juga sudah sangat ingin datang ke ulang tahun Syakira," debat Agra.


"Sekarang kamu sudah dewasa, Livia, berhenti terus bertingkah seperti anak kecil dan membawa semua orang untuk terus mengikuti kemauan kekanakkan kamu itu!" sambung Agra lagi.


Selama ini dia terus diam dan membiarkan orang-orang selalu mendukung apa pun keputusan Livia, dia menahan semua yang ada dalam perasaannya ketika tahu ternyata Livia hamil anak Daniel dan hampir mengugurkannya. Mereka semua kembali harus menguatkan Livia yang rapuh dan hampir jatuh karena keadaan itu, hingga akhirnya berhasil menenangkannya dan bisa menyayangi Ares yang masih ada di dalam kandungannya.


Agra hanya terus bersikap lembut karena takut akan memperkeruh suasana. Dia tahu, efek dari sebuah balas dendam itu memang sangat menyakitkan, dia merasakan sendiri semua itu. Namun, setelah sekian lama waktu berlalu, dia sudah tidak tahan lagi. Agra harus segera menyadarkan Livia, jika hubungan darah anatara Ares dan Daniel itu tidak bisa terputus hanya karena Daniel tidak mengetahui keberadaan Ares di dunia ini.


Livia tidak seharusnya terus bersikap egois pada anaknya sendiri, hanya kerena ketakutannya sendiri dalam menghadapi kenyataan setelah keputusan untuk membalas dendam beberapa tahun lalu.


Livia terdiam dengan mata memerah dan tangan terkepal kuat, dia tahu selama ini memang dirinya bertingkah egois demi untuk melindungi ketakutannya. Namun, bukan berarti dia tidak mau untuk mempertemukan Ares dengan Daniel. Dirinya hanya perlu waktu sedikit lagi untuk mempersiapkan semua kemungkinan yang akan terjadi.


Sekarang, semuanya sudah terjadi, Livia tak dapat lagi mengelak ketika kakak angkatnya itu sudah berbicara dan memutuskan. Sama seperti dulu, Agra masih terkenal tegas dan sedikit kejam, tentu saja Livia pun masih sosok yang patuh akan perintah kakak angkatnya itu.

__ADS_1


"Baiklah, jika itu yang Kakak mau, ayo kita pertemukan Ares dengan ayah kandungnya. Semoga saja dia bisa menerima anakku dan tidak memberikan luka untuk kesekian kalinya kepada kami," jawab Livia sambil menganggukkan kepala tegas, walau ada nada sedikit bergetar di suaranya.


"Baik, kita lihat saja nanti," tantang Agra tanpa ragu.


"Sekarang di mana Ares? Kenapa dia tidak ada di sini?" tanya Livia lagi saat dia tahu jika Ares memang sedang tidak ada di rumah.


"Dia hanya berjalan-jalan dengan Alisya sekaligus mempersiapkan acara ulang tahun Syakira dua hari lagi. Arsya juga ikut bersama mereka," jawab Agra.


Livia menghembuskan napas pelan sambil menatap kedua laki-laki berbeda usia yang begitu berarti baginya itu secara bergantian. Dia kemudian memilih berbalik dan menjauh tanpa mengucapkan apa pun lagi pada mereka. Namun, baru beberapa langkah dia pergi, Agra kembali berbicara tanpa menoleh padanya.


"Tinggalah di sini, apartemenmu sudah aku sewakan."


Seteleah mengajukan pertanyaan sekaligus ejekan pada Agra dengan nada kesal Livia langsung kembali melangkahkan kakinya untuk menjauh dari Agra dan Andrew dengan wajah kesalnya.


Livia tahu jika ucapan Agra tentang apartemennya hanya sebuah bualan, tetapi tetap saja dirinya merasa kesal, apa lagi sejak tadi Andrew sama sekali tidak membuka suara, seolah dia juga setuju dengan semua ucapan Agra.


Sepeninggal Livia, Agra dan Andrew terlihat tersenyum tipis, keduanya memang sudah merencananakan semua ini sebelumnya, hingga Livia tidak bisa lagi menentang keputusan mereka. Sebenarnya, mereka juga tidak mau menekan Livia untuk kembali bertemu dengan Daniel, tetapi keduanya juga tidak bisa terus berdiam diri disaat umur Ares semakin besar dan membutuhkan kasih sayang seorang ayah disampingnya.


Baik Andrew maupun Agra sama-sama merasa jika keduanya sudah memberikan waktu yang cukup, untuk Livia dan Daniel saling berfikir juga menyadari apa yang ada di dalam hati mereka. Seiring berjalannya waktu, mereka yakin jika kini Daniel dan Livia sudah sama-sama dewasa, hingga bisa melihat masalah dengan cara pandang yang berbeda dan lebih baik di banding enam tahun lalu.


Jangan ditanya, bagaimana Livia menjadi seorang ibu yang cerewet di depan Ares setelah keduanya bertemu, bahkan Alisya saja hanya bisa pasrah melihat Ares menerima berbagai macam omelan dari Livia.

__ADS_1


"Iya, Mama, maaf." Kata itu harus berulang kali Ares katakan demi untuk menenagkan wanita yang telah melahirkannya itu.


"Jangan diulangi lagi, hem Mama khawatir banget sama kamu, Nak," pinta Livia sambil berjongkok kemudian mendekap anak laki-lakinya itu dengan penuh kasih sayang. Walau hatinya belum tenang sepenuhnya, tetapi dengan kehadiran Ares di sisinya, itu mampu membuat keresahan yang sudah lama Livia pendam, kini sedikit berkurang.


Ares mengangguk patuh. Melihat itu, Livia tersenyum sambil melepas pelukannya kemudian membelai wajah sang anak penuh kasih sayang.


"Tapi, Ares mau ketemu Papa," pinta Ares sambil memperlihatkan mata sendu dan penuh permohonan yang selama ini tidak pernah gagal untuk meluluhkan hati ibunya itu.


"Mama bilang Papa tinggal di negara yang sama dengan Arsya, tapi Mama terus bilang nanti kalau aku ajak ke ketemu Papa," lanjut Ares sambil menundukkan kepala dengan wajah sendu dan nada suara sedih.


Livia terdiam beberapa saat dengan hati yang bimbang, selama ini dia memang tidak pernah menyembunyikan keberadaan Daniel pada Ares walau dirinya juga tidak menceritakan semua tentang hubungannya dengan Daniel. Ares hanya sekedar tahu nama ayah kandungnya dan di mana dia tinggal bahkan tanpa tahu wajahnya.


"Baiklah, nanti kita tamui papa kamu," angguk Livia akhirnya luluh juga dengan permintaan anaknya.


Ares langsung mengangkat kepalanya dengan senyum ceria di bibir, ana laki-laki berusia lima tahun itu langusng menghambur memeluk ibunya dengan rasa senang yang tiada terkira.


"Beneran, Mah? Mama izinin aku ketemu Papa?" tanya Ares yang hanya dijawab anggukkan kepala oleh Livia.


"Makasih, Ma, aku sayang Mama," sambung Ares lagi.


Livia tersenyum dengan mata berkaca-kaca, dalma hati dia memohon agar anaknya tidka akan merasakan sakit yang dulu dia rasakan dan diakui oleh Daniel, walau dia tidak pernah memberi tahu keberadaan Ares sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2