
Maaf ya, kemarin-kemarin, aku gak sempat buat revisi, makanya aku gak kasih judul. Itu buat tanda, biar aku tau mana yang belum aku revisi. Oh ya, kalau kalian emang baca dan suka ceritaku tolong komen dong, lagi butuh semangat nih😁 Terima kasih semuanya🙏❤️
_____________________________
Livia masih saja terjaga di saat waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Bayangan cerita Mami Luci tentang kejadian yang menimpa keluarganya membuat pikirannya terganggu. Sebenarnya, sudah beberapa malam ini Livia hampir tidak bisa tidur karena semua itu.
Flashback on
"Dahulu, kakek Banu memiliki seorang sahabat karib, mereka berjuang bersama untuk mengembangkan bisnis, hingga akhirnya keduanya berselisih paham dan memilih untuk memecah perusahaan. Sahabatnya itu membangun perusahaan baru dan berkembang pesat setelah anaknya yang bernama Pras membantunya." Itu adalah awal dari cerita mami Luci ketika mereka berdua duduk di rumah kaca sambil menikmati berbagai macam bunga yang sedang mekar, beberapa hari lalu.
"Kamu tau, dalam sebuah kolam yang tenang, bukan berarti tidak ada ikan yang saling berebut umpan. Itulah yang terjadi pada hubungan kakek Banu dan sahabatnya. Mereka tampak baik di luar, saling memeluk hangat, menyapa, tertawa, dan berbagi cerita. Namun, di dalam hati kakek Banu, masih tidak bisa melepaskan keputusan sahabatnya untuk memisahkan diri dari perusahaan." Mami Luci tampak menerawang jauh, mengingat kembali semua kisah masa lalu keluarga ini.
"Takut tersaingi. Sepertinya itu adalah kata yang pas untuk menggambarkan ketakutan di dalam hati kakek Banu, yang perlahan berkembang menjadi rasa benci tanpa dirinya sendiri sadari. Rasa benci karena kesuksesan sahabatnya, lambat laun bertambah dengan rasa iri, ketika dia melihat Pras tumbuh menjadi sosok yang mengagumkan. Anak sahabat sekaligus rivalnya itu disebut sebagai sosok genius di dalam dunia bisnis. Kala itu, dia adalah seseorang yang bisa mengembangkan perusahaan dengan ide-ide barunya."
"Berawal dari niat untuk memotivasi anaknya agar lebih baik, kakek Banu mulai membanding-bandingkan papahnya Daniel dengan Pras, setiap kali Pras mendapat prestasi. Itu terus dilakukan sejak papahnya Daniel masih remaja, hingga membuat hubungan pertemanan ayahnya Daniel dan Pras pun mulai hancur."
Livia mengepalkan tangannya, dengan rasa marah dan penasaran yang terus mendesak. Menyatu dan mendorongnya untuk bertanya, walau akhirnya dia memilih terus diam dan mendengarkan semua cerita Mami Luci.
"Aku mengenal suamiku, Livia. Kami pacaran cukup lama sebelum menikah. Walau dia sedikit ceroboh, tapi dia bukanlah orang yang akan melakukan sesuatu yang bisa mencelakai orang lain. Namun, entah kenapa, setelah aku pulang mendampingi Daniel dan Danis belajar di luar negeri, dia seperti menjadi sosok yang berbeda?"
__ADS_1
Hati Livia semakin geram ketika mendengar pembelaan dari Mami Luci.
"Dia menjadi sosok yang pemarah dan sering sekali mengambil keputusan dengan terburu-buru. Perubahan sikapnya yang seperti itu, membuat kakek Banu semakin tidak suka pada papahnya Daniel. Hingga, malam itu ... entah karena masalah apa, tiba-tiba kami mendengar berita jika papahnya Daniel mengamuk pada keluarga Pras hingga mereka semua terbunuh."
Livia melihat dengan jelas, air mata yang mengalir begitu deras di pipi Mami Luci, dengan tangan yang terkepal, ketika Mami Luci mengatakan itu. Namun, sesaat kemudian wanita paruh baya itu tampak mulai berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Dia kemudian melihat Livia dengan tatapan yang rumit, lalu mulai mengambil tangan menantunya itu dengan sangat lembut.
"Daniel tidak ada dalam kejadian itu, Livia. Mami bisa jamin, karena malam itu mami melakukan sambungan telepon dengan Danis dan Daniel. Mereka masih berada di luar negeri," ujarnya tiba-tiba sambil mengusap lembut tangan Livia.
Deg! Apa Mami Luci sudah tahu niatku datang ke sini? Kenapa dia berbicara seperti itu? batin Livia dengan hati yang menjadi resah.
Flashback off
Livia menoleh ke samping di mana ada Daniel yang kini tengah tertidur dengan keadaan miring menghadap kepadanya. Dia perhatikan wajah tenang laki-laki yang sudah lebih dari setengah tahun ini menjadi suaminya.
"Aku yakin tidak ada yang salah. Jika pun kamu tidak terlibat, setidaknya kamu masih cucu dan anak orang yang melakukan semua itu pada keluargaku," gumam Livia dengan tangan mengepal erat dan mata memerah. Wanita itu masih dengan keyakinannya untuk melampiaskan kemarahannya pada Daniel.
Livia beranjak dari tempat tidur, dia berjalan menuju ke meja rias kemudian mengambil ponsel yang bisa dia gunakan untuk menghubungi Agra dan para anggota yang lain. Sudah cukup lama dia tidak menggunakannya, saat ini Livia merasa perlu berbicara dengan kakak angkatnya itu.
Livia berjalan menuju ke balkon kamar. Angin malam yang dingin langsung menyambutnya ketika dia melewati pintu kaca yang menghubungkan balkon dan kamarnya. Livia bergeming sesaat di ambang pintu, seolah menikmati hawa dingin yang perlahan menerpa kulitnya lalu masuk menembus hingga terasa ke dalam tulang. Dia kemudian melanjutkan langkahnya dan memilih duduk di kursi berbahan kayu.
__ADS_1
Sambil menunggu ponsel itu menyala dan siap untuk digunakan, Livia memilih menengadahkan kepala, memandang langit luas yang tampak diselimuti awan kelabu. Tidak ada satu pun bintang yang dapat dia lihat, bahkan bulan pun tampak enggan untuk menampakkan dirinya.
"Sepertinya akan turun hujan," gumam Livia dengan senyum tipis di bibirnya.
Livia menoleh pada ponselnya yang sengaja dia simpan di atas meja kecil di sampingnya ketika merasa sudah siap untuk digunakan. Dia kemudian mengambilnya dan mulai mencari kontak kakak angkatnya. Namun, ketika dia sudah menemukannya, Livia hanya terus memandangi kontak itu tanpa berani menenkan tombol untuk mulai menelepon.
Lama terdiam, wanita itu akhirnya memilih untuk kembali menggulirkan layar ponselnya dengan hembusan napas berat. "Dia tidak bisa diganggu malam-malam begini," gumam Livia yang sadar jika Agra sudah memiliki istri. Tidak baik jika dia mengganggunya di saat malam sudah larut seperti ini.
Akhirnya Livia hanya mengetik sesuatu dan dia kirimkan pada ayah angkatnya. Setidaknya laki-laki yang sudah beranjak tua itu masih memilih menduda, hingga dirinya lebih leluasa untuk menghubunginya.
Setelah melakukan itu, Livia kembali menaruh ponselnya di meja sambil menatap lurus ke depan. Wanita itu tampak menyandarkan tubuhnya sambil bersidekap dada. Kerutan di keningnya tapak dalam dengan sorot mata yang terlihat rumit dan banyak masalah.
"Ketakutan akan sesuatu adalah akar dari kebencian terhadap orang lain, dan kebencian di dalam pada akhirnya akan menghancurkan pembenci itu." Livia menggumamkan kata bijak dari George Washington Carver. Kata bijak yang mungkin bisa mencerminkan awal dari semua masalah yang kini dihadapi oleh Livia.
"Apakah aku akan hancur bersama dengan dendamku?" gumam Livia dengan suara lirih dan mata bergetar. Entah apa yang sekarang sedang dia pikirkan, mungkin hanya dia seorang yang tahu.
Getar ponsel di atas meja terdengar dan berhasil mengalihkan perhatian Livia. Dia kemudian menoleh dan melihat nama sang ayah angkat di sana. Garis bibirnya perlahan terangkat ketika mendapati semua itu, segera dia ambil ponselnya kemudian mengangkat telepon dari Andrew.
"I miss you so much, Dad," sapa Livia sambil menempelkan ponselnya di telinga.
__ADS_1