Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.22 Pembuat onar


__ADS_3

"Kami adalah menantu pertama dan cucu pemilik rumah ini! Kalian tidak berhak untuk memperlakukan kami seperti ini!" teriak seorang wanita paruh baya di depan gerbang kediaman keluarga Hartoyo.


"Maaf, Nyonya. Tapi, kami tidak bisa mengizinkan Anda masuk, jika Anda tidak membuat janji lebih dulu," jawab penjaga gerbang yang merupakan anak buah Daniel.


"Kalian gila! Mana ada cucu yang harus membuat janji ketika mau bertemu dengan kakeknya sendiri, hah?!" sentak wanita paruh baya itu, tidak terima.


"Maafkan kami, tapi itu memang sudah peraturan--"


"Biarkan mereka masuk. Tuan Banu mengizinkannya," ujar Karlo tiba-tiba, hingga membuat ucapan penjaga gerbang terpotong begitu saja.


Wanita paruh baya itu pun tersenyum sambil menatap Karlo yang sedang berjalan ke arah mereka dengan sumeringah. "Awas, kamu! Aku akan menyuruh mertuaku memecatmu!" ujar wanita paruh baya itu pada penjaga gerbang yang terlihat langsung menegang, karena dia memang tidak tahu tentang wanita itu dan anaknya.


"Apa kabar, Karlo, senang bisa bertemu lagi denganmu," sambungnya lagi kini beralih pada Karlo, sambil tersenyum ramah, yang sebenarnya sangat terlihat dipaksakan.


Karlo mengangguk samar sebagai jawaban, dia tidak berniat untuk membalas sapaan ramah dari wanita yang merupakan menantu kedua dari tuannya itu.


"Silahkan masuk, Anda sudah ditunggu oleh Tuan Banu," ujar Karlo dengan nada profesional. Laki-laki itu melangkahkan kakinya sambil mengulurkan tangan, mempersilahkan wanita paruh baya itu untuk berjalan di depannya.


Wanita itu tampak membenarkan bajunya sambil mengangkat dagu seolah ingin menunjukkan kekuasaannya di rumah itu pada penjaga gerbang dan seluruh orang yang sejak tadi memperhatikannya karena sudah membuat onar di hari yang masih sangat pagi seperti ini.


Keduanya melangkah dengan gaya angkuh, berjalan menuju rumah yang selama ini bahkan jarang kedatangan tamu. Kini hanya dalam waktu beberapa hari setelah kedatangan kakek Banu, rumah itu terasa sangat ramai karena selalu kedatangan orang baru.


.

__ADS_1


Daniel baru saja ke luar dari kamarnya bersama dengan Livia di belakangnya, ketika mendengar suara gaduh dari lantai bawah, yang membuat alis tebal laki-laki itu bertaut. Dia pun mempercepat langkahnya menuruni setiap anak tangga, perasaan khawatir bercampur marah tiba-tiba saja merambat di dalam hatinya ketika mengingat satu nama yang mampu berbuat keributan di rumahnya.


"Tante Murti?" gumam Daniel ketika dia sudah menapaki anak tangga terakhir. Matanya menatap jelas seorang wanita paruh baya yang kini sedang asik melahap sarapan pagi di meja makan tanpa menunggu dirinya dan Mami Luci sebagai tuan rumah. Dia bahkan dengan angkuhnya menyuruh para pelayan untuk melayani setiap permintaannya.


Tangan Daniel mengepal kuat, dia tidak menyangka jika kakeknya kini membiarkan memantu keduanya itu untuk datang ke rumah ini. Menantu yang bahkan tidak pernah kakek Banu anggap sebelumnya.


"Ada apa ini? Kenapa kalian bisa masuk ke dalam rumahku?!" Daniel berkata tegas sambil melangkah memasuki ruang makan.


Semua pelayan yang tadi sibuk melayani keinginan Murti dan anaknya pun langsung berhenti dan tertunduk takut saat mendengar suara dalam dan tegas milik Daniel.


Livia menarik salah satu sudut bibirnya sangat tipis, ketika melihat dua orang yang tentu saja dia sudah ketahui identitasnya itu sudah mampu membuat onar di pagi-pagi seperti ini. Walau begitu, dia tidak memberikan kesempatan untuk orang lain melihat sikap dia yang sebenarnya, karena sedetik kemudian, Livia sudah mengubah kembali raut wajahnya seolah sedang kebingungan dengan apa yang terjadi di depannya.


"Aku yang mengizinkan mereka untuk masuk!"


"Ayo kita mulai sarapannya," sambung kakek Banu lagi sambil duduk di kursi utama yang telah disiapkan oleh Karlo.


"Kamu, panggil mertuamu," tunjuk kakek Banu beralih pada Livia.


"Baik," jawab Livia sambil mengangguk kemudian hendak berbalik menuju kamar Mami Luci.


Namun, langkahnya terhenti ketika tangannya tiba-tiba digenggam oleh Daniel. "Tidak perlu, kita tidak akan sarapan bersama dengan mereka," ujar Daniel kemudian memilih membawa Livia untuk segera berlalu dari ruang makan yang terasa sesak itu.


.

__ADS_1


Livia menghembuskan napasanya pelan sambil melihat mobil Daniel dan Danis yang berjalan pergi dari rumah besar kediaman keluarga Hartoyo. Suaminya itu memilih untuk tidak melakukan sarapan di rumah setelah dipaksa Mami Luci untuk sarapan bersama di meja makan bersama dengan Murti dan Julio.


Setelah memastikan mobil Daniel sudah melewati gerbang, Livia berbalik kemudian membawa langkahnya untuk masuk ke rumah. Dia lebih dulu menghampiri mertuanya yang kini sedang sarapan di meja makan bersama dengan kakek Banu, Murti, dan Julio.


"Mulai besok, Julio akan bekerja di kantor pusat," ujar kakek Banu yang membuat Mami Luci langsung menghentikan aktivitas makannya.


Suasana ruangan makan yang memang sudah tegang sejak awal, kini semakin terasa mencekam ketika melihat Mami Luci yang mengerutkan kening, sambil menatap Murti dan Julio bergantian, dia kemudian melihat Banu yang masih tampak makan dengan tak acuh.


"Tapi, Pah. Bukannya kita harus memberitahu Daniel dulu tentang semua ini?"


"Tidak perlu! Perusahaan itu masih milikku kalau kamu lupa! Daniel hanya CEO di sana," putus kakek Banu tanpa mau dibantah lagi. Suara berat dan penuh tekanan itu membuat semua orang yang ada di sana tampak menunduk dalam tanpa berani menimpali ucapan kakek Banu.


Berbeda dengan Mami Luci, ekspresi wajah Murti dan Julio terlihat sumringah. Keduanya tampak tersenyum penuh sambil menatap kakek Banu dengan mata berbinar. Setelah sekian lama menginginkan posisi pekerjaan di kantor pusat, kini akhirnya kakek Banu memberikan Julio kesempatan untuk bersaing dengan Daniel dan membuktikan jika dia lebih baik dari Daniel dalam mengelola perusahaan.


Livia yang datang beberapa saat lalu hanya menatap datar suasana kaku yang terjadi di meja makan. Ruangan yang harusnya dipenuhi kehangatan sebuah keluarga kini malah terasa sebaliknya. Setelah dirasa waktunya tepat untuk menghampiri Mami Luci, Livia baru membawa langkahnya kemudian berdiri di samping ibu mertuanya.


"Sudah waktunya minum obat, Mami," ujar Livia dengan suara yang terdengar cukup keras dan jelas, hingga dapat di dengar oleh semua orang yang ada di sana.


"Ayo, Mami sudah kok," angguk Mami Luci yang memang ingin segera pergi dari sana. Sungguh, dia juga sebenarnya malas berada di tempat itu, kalau saja dia tidak memandang ayah mertuanya yang baru beberapa hari berada di sini.


"Papah, aku pamit ke kamar dulu," sambung Mami Luci lagi setelah menaruh sendok dan garpu di atas meja.


"Hem." Kakek Banu hanya mengangguk samar sambil melirik kilas pada mami Luci dan Livia kemudian fokus kembali pada menu sarapan paginya.

__ADS_1


"Mba, Julio, aku pamit ke kamar dulu," ujar Mami Luci lagi kini beralih pada Murti dan Julio yang juga tampak tersenyum sambil mengangguk. Walau dia tidak suka dengan kehadiran Murti dan Julio, tetapi Mami Luci masih bisa mengendalikan diri untuk bersikap ramah pada dua orang itu.


__ADS_2