
"Kenapa kakek gak pernah bilang kalau yang membunuh keluarga om Pras adalah Papah? Kakek bahkan menutupi semua itu sampai Papah masih bisa bebas dari hukuman sampai sekarang?" tanya Daniel dengan sorot mata kecewa, ketika dia baru saja kembali dari luar negeri dan tidak sengaja mengetahui semuanya.
Daniel kecewa, selama ini dia terus bertanya pada semua orang, ke mana keluarga Gasendra pergi. Namun, semuanya hanya bilang jika usaha Pras gulung tikar dan sejak saat itu mereka menghilang entah ke mana.
Bertahun-tahun Daniel mencari keberadaan keluarga Gasendra hingga mencari tahu tentang keluarga itu secara diam-diam, hingga akhirnya dia mengetahui kalau mereka tidak menghilang dan tidak juga bangkrut. Ternyata mereka telah dikhianati oleh ayahnya sendiri dan dibunuh secara brutal. Sungguh, kini Daniel dilanda kecewa yang sangat dalam pada seluruh keluarganya.
"Semuanya sudah berlalu, Daniel! Kamu tau, berapa kerugian yang harus kita tanggung kalau sampai berita Papah kamu yang membunuh keluarga Pras tersebar? Bisa-bisa kita bangkrut, Daniel," jawab kakek Banu sambil mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Lagi pula, dalam dunia bisnis, kejadian semacam itu sudah biasa terjadi. Kamu tidak usah berlebihan menanggapinya," sambung kakek Banu lagi, masih membela anaknya.
"Apa pun alasannya, tidak seharusnya Papah berbuat seperti itu, dan kakek juga menutupinya! Ini tidak bisa dibiarkan, Kek!" teriak Daniel.
Hati laki-laki yang kini sudah beranjak dewasa itu merasa sangat sakit bagaikan ditusuk ribuan jarum, ketika mengetahui kenyataan ini. Ayah yang dulu sangat dia banggakan ternyata tidak hanya menyakiti hati ibunya dengan menyimpan wanita lain dan memiliki anak di luar sana. Namun, kini juga bertindak sangat kejam dan melukainya sebagai anak.
Kecewa, marah, kesal, dan putus asa. Semua itu bercampur menjadi satu, menjadikan sebuah gumpalan di dalam dada yang menutupi jalan napasnya. Sesak. Sungguh, sesak terasa.
"Aku akan melaporkan Papah ke kantor polisi!" putus Daniel sambil hendak beranjak dari ruang kerja kakeknya.
"Silahkan saja! Tapi, jangan harap besok pagi kamu masih bisa bertemu dengan adik dan ibumu! Aku bersumpah akan memisahkan kalian, kalau kamu berani berbuat gila, Daniel!" sentak Kakek Banu.
"Tapi, Kek!"
__ADS_1
"Diam, Daniel! Berpura-puralah tidak tahu dan tetap diam. Semuanya sudah kakek urus dengan baik, jadi kamu jangan membuat masalah di sini, kalau masih mau bertemu dengan adik dan ibumu itu!" putus kakek Banu dengan wajah angkuhnya.
Daniel mengepalkan tangan erat dengan mata berkilat marah. Jika saja dia tidak ingat kalau laki-laki yang berdiri di depannya itu adalah kakeknya, Daniel tidak akan segan memukulnya walau dia jauh lebih tua darinya.
"Jangankan perusahaan kita yang sudah besar, Daniel. Bahkan sekelas warung makan atau lapak di pasar saja bisa saling mengirim orang untuk menyingkirkan lawannya. Jadi tidak usah berlebihan. Kamu juga harus mulai belajar semua itu, karena kamu adalah penerus perusahaan keluarga kita. Jangan biarkan pengorbanan darah keluarga Pras sia-sia," ujar kakek Banu menasihati Daniel sebelum dia memilih pergi lebih dulu dari ruangannya sendiri, meninggalkan Daniel yang tampak sangat kacau di sana, sendiri.
Sepeninggal kakek Banu, Daniel ambruk, dia berlutut dengan kepala tertunduk dan bahu bergetar. Perlahan, isak tangis itu terdengar lirih dengan bahu yang bergetar hebat, bersamaan dengan air yang menganak sungai membasahi pipinya. Beberapa kali dia memukul dadanya dengan cukup keras, untuk menyingkirkan rasa sakit dan sesak yang sangat menyiksanya.
"Kalau aku tau semuanya akan menjadi seperti ini, aku tidak akan mau pergi ke luar negeri. Maafkan aku, Oliv, Kak Angga. Aku tidak tau, ternyata keluargaku begitu kejam pada kalian," gumam Daniel dengan tangan mengepal erat dan tatapan tajam.
Sejak saat itu hubungan Daniel dan ayahnya semakin renggang, juga dengan kakeknya. Walau begitu, dia juga berusaha keras untuk membuktikan diri pantas untuk menjadi penerus. Dia ingin segera mengambil alih perusahaan dan menghentikan kekerasan Karsa dan kakeknya.
Apa lagi, ternyata di balik itu semua, selama ini Karsa juga menyimpan sebuah luka dalam pertemanan mereka. Pras yang selalu lebih unggul dari Pras sejak masih masa skolah dulu, selalu menjadi perbandingan kakek Banu untuk pencapaian Karsa. Itu semua ternyata menjadi akan kebencian Karsa pada Pras, hingga membuat Karsa diam-diam memendam dendam pada Pras.
Hingga akhirnya semuanya meledak ketika Karsa kalah dalam sebuah kompetisi untuk memenangkan sebuah tender besar. Saat itu, Pras dan anaknya kembali sukses mengalahkan Karsa hingga perusahaan rugi besar. Karsa gelap mata, dia menyuruh sebuah gengster besar di kota itu untuk memberikan pelajaran bagi Pras dan anak sulungnya. Namun, ternyata semuanya di luar dugaan, mereka malah membantai semua keluarga itu tanpa belas kasih.
❤️🔥
Suara ketukkan pintu yang terdengar mmebuat Daniel menarik kembai ke sadarannya setelah sebelumnya terlarut dalam lamunan tentang masa lalunya. Daniel menoleh ke arah pintu kemudian memprsilahkan orang di sana untuk masuk.
Daniel beranjak dari kursi kerja kakek Banu begitu melihat Karlo masuk, mereka duduk di sofa yang ada di sana.
__ADS_1
"Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Karlo begitu dia duduk di depan Daniel.
"Coba kamu lihat ini," ujar Daniel sambil memperlihatkan layar laptop kakek Banu yang sudah ada video di dalamnya.
Mendengar perintah Daniel, Karlo pun langusng mengalihkan padangannya pada layar laptop mailik Kakek Banu.
"Kamu masih ingat acara ini?" tanya Daniel ketika video itu sudah berjalan hampir lima belas detik.
Karlo mengangguk sebelum mengatakan acara yang dia ingat berjalan dengan sangat meriah itu. "Ini adalah acara pesta ulang tahun anaknya Pras Gasendra yang ke lima tahun."
"Kamu lihat, nama anaknya om Pras? Coba perhatikan baik-baik," titah Daniel sambil menunjuk papan nama besar yang tertulis di belakang sebuah kue ulang tahun bertingkat yang sangat mewah pada masa itu.
Karlo belum menjawab. Laki-laki paruh baya itu malah tampak memundurkan tubuhnya sambil menatap Daniel dengan tatapan yang snagat rumit.
Melihat sikap Karlo yang berbeda, ketika dia bertanya soal nama anak bungsu keluarga Gasendra, Daniel tampak mengernyit bingung. Dia kemudian beranya dengan nada suara sedikit curiga. "Ada apa? Apa kamu tau sesuatu tentang anak gadis itu?"
Karlo masih diam. Entah kenapa, aniel mulai merasa jika Karlo menyembunyikan sesuatu darinya.
"Ada apa, Karlo? Apa ada sesuatu yang aku belum tau? Apa ini ada hubungannya dengan Livia? Lihatlah, nama mereka persis sama, hanya kurang huruf O di bagian depan." Daniel menghentikan video itu tepat di saat menunjukkan papan nama Olivia.
"Sebenarnya--"
__ADS_1