Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.11 Bertemu Agra dan Alisya


__ADS_3

Danis menghentikan mobilnya di depan tempat acra yang akan berlangsung. Sementara orang yang bertugas terlihat membuka pintu bagian belakang mobil hingga memperlihatkan Daniel dan Livia di sana.


"Bersikap senatural mungkin, jangan sampai kamu mempermalukan aku," ujar Daniel sebelum mereka turun dari mobil.


Livia tidak menjawab.


Mereka pun turun bersama-sama. Daniel meunggu Livia yang harus berjalan memutar kemudian berdiri sejajar sebelum mulai berjalan menapaki karpet merah yang terbentang jauh ke dalam gedung.


Kilatan lampu kamera para pewarta yang terkejut akan kehadiran Daniel dengan seorang wanita pun membanjiri tubuh keduanya. Beberapa pencari berita bahkan langsung mengajukan pertanyaan, membrondong pasangan pengantin baru itu.


Namun, Livia dan Daniel memilih untuk mengacuhkannya. Livia merangkul lengan Daniel, kemudian berjalan bersama dengan senyum tipis yang terus dia bagikan selama mereka melewati para media.


Keduanya disambut baik oleh panitia, kemudian dipersilahkan duduk di kursi yang sudah disediakan. Kedatangan Daniel dan Livia, ternyata tidak hanya membuat para pencari berita terkejut, tetapi juga para pengusaha lain yang merupakan kolega bisnis Daniel.


Selama ini mereka juga tahu jika Daniel masih asik melajang dan enggan memiliki hubungan dengan lawan jenis. Daniel bahkan selalu menolak jika ada kolega bisnisnya yang menawarkan adik atau bahkan anaknya untuk menjalin hubungan denganya.


Daniel cukup terkejut, ketika melihat sikap Livia yang terlihat sangat berbeda, dia bisa berjalan dengan benar, anggun, dan berkelas, seolah sudah terbiasa menghadiri acara seperti ini. Untuk sesaat Daniel sempat bingung dan curiga, tetapi dia mengira jika mungkin Livia belajar di butik sebelum berangkat bersamanya.


Livia duduk dengan baik, bahkan dia bisa mengimbangi ketika seorang istri pengusaha yang merupakan kolega Daniel mengajaknya berbicara. Melihat itu, Daniel semakin bingung dengan sikap Livia. Saat ini, Livia tidak seperti seorang pelayan dan mantan TKI.


Acara yang dipenuhi dengan berbagai macam pengusaha, juga mengundang artis papan atas sebagai penghibur itu terus berlangsung dengan meriah, hingga tiba saatnya Daniel menerima penghargaan sebagai pengusaha muda sukses tahun ini.


Semua orang bertepuk tangan dengan sangat meriah ketika nama Daniel Arslan Hartoyo disebutkan oleh pembaca nominasi malam itu, Livia pun tersenyum penuh sambil menatap bangga laki-laki yang kini sudah menjadi suaminya itu. Sorot mata itu begitu natural hingga tidak terlihat ada kepura-puraan di dalam raut wajahnya.


Namun, sayang sekali itu hanyalah sebuah topeng belaka, karena di dalam hatinya dia menyimpan dendam pada Daniel.


"Selamat, Mas," ujar Livia sambil tersenyum senang.


"Terima kasih, sayang," jawab Daniel sambil memeluk kilas tubuh Livia, dan memberikan kecupan di kening Livia cukup lama.

__ADS_1


Livia yang menerima perlakuan tiba-tiba dari Daniel, terkejut bukan main. Dia melebarkan matanya dengan tangan terkepal kuat, sungguh dia tidak menyangka jika Daniel akan berbuat sejauh ini di depan umum.


"Jangan terlalu berharap, ini hanya pura-pura agar mereka tidak curiga dengan hubungan kita," bisik Daniel sambil memeluk Livia, sebelum beranjak dan menerima ucapan selamat dari para pengusaha yang duduk di sekitarnya.


Livia mengerjapkan matanya beberapa kali, kemudian tersenyum tipis pada Daniel sebagai tanda dia mengerti. Dalam diam, wanita itu menatap tajam kepergian laki-laki yang kini mulai menjauh darinya dan menaiki panggung.


Walau begitu tangannya menyentuh dada yang terus bergemuruh sejak kejadian Daniel yang memeluknya.


Tidak, ini pasti hanya karena terkejut! Aku tidak boleh terbawa perasaan padanya. Ingat tujuanmu, Livia ... dia hanya laki-laki tidak berperasaan yang sudah membunuh semua keluargamu! batin Livia, kembali meyakinkan dan mengingatkan dirinya lagi tentang tujuannya datang pada Daniel.


Livia mengedarkan pandangannya, mecari keberadaan seseorang yang mungkin ada di sana, hingga akhirnya matanya bertabrakan dengan mata tajam milik laki-laki yang kini tengah menatapnya. Laki-laki itu tampak mengangguk samar, seolah tahu jika sekarang Livia sedang gusar karena perlakuan Daniel padanya.


Sementara di atas panggung, Daniel mulai mengatakan sepatah dua patah kata, setelah menerima piala penghargaan.


"Terima kasih, terutama kepada dua orang wanita yang selama ini selalu mendukung dan memberikan semangat kepada saya. Mereka adalah ibu dan istri saya yang sangat saya cintai. Para bidadari hati saya yanh selalu menemani saya di dalam keadaan apa pun--"


Livia kembali mengalihkan perhatianya ke panggung ketika suara Daniel menggema di seluruh ruang acara.


Jantung Livia yang baru saja terasa tenang, kini kembali bertalu ketika mata keduanya tidak sengaja bertaut.


Sementara dari atas panggung, Daniel pun merasakan hal yang sama, dia bahkan sempat menghentikan ucapannya karena tatapan rumit yang selalu terpancar dari sorot mata Livia. Entah mengapa, sejak awal dia bertemu dengan wanita itu, dirinya tidak pernah bisa membaca sorot matanya.


Tidak jauh dari perasaan mereka berdua, para undangan dan pengisi acara yang hadir pun sama-sama ikut terkejut oleh perkataan yang Daniel ucapkan. Mereka tidak menyangka jika Daniel sudah memiliki istri, sementara rumor tentang dirinya yang tidak menyukai perempuan sedang santer terdengar di kalangan pengusaha.


Bisik-bisik di antara para undangan dan pengisi acara pun mulai terdengar, ada yang menyalahkan para pencari berita, ada juga yang mengira jika ini hanya pengalihan dari rumor yang tengah beredar.


Livia mengepalkan tanganya menahan geram, walau dia sudah tahu rumor itu dari Agra, dan dirinya juga tahu niat Daniel menikahinya. Namun, mendengar itu secara langsung tetap saja membuatnya geram. Meski begitu, Liva harus tetap menahan perasaannya dan diam saja, demi tidak membuat malu Daniel di acara yang pennting untuk suaminya itu, juga demi kelancaran niatnya untuk membalas dendam pada laki-laki itu.


Setelah Daniel kembali duduk di sampingnya, Livia izin untuk pergi ke toilet.

__ADS_1


"Kamu yakin bisa pergi sendiri?" tanya Daniel merasa enggan untuk melepas Livia sendiri. Bukan khawatir, tetapi dia takut jika nanti Livia melakukan sesuatu yang membuatnya malu.


"Aku hanya pergi ke toilet," jawab Livia sambil tersenyum, karena kini mereka berdua menjadi perhatian banyak undangan di sekitarnya.


"Gimana kalau aku suruh Danis menemanimu?" Daniel memberi saran.


"Gak usah. Aku hanya sebentar," tolak Livia. Sebenarnya dia memiliki maksud lain, dan itu akan gagal jika Danis ikut bersamanya.


"Baiklah. Kabari aku kalau terjadi sesuatu," ujar Daniel lagi.


"Heem," angguk Livia kemudian pamit kepada yang lainnya dan pergi dari sana.


Ketika Livia berjalan menuju ke toilet, dia sempat menabrak seorang laki-laki hingga membuat beberapa barang yang laki-laki itu bawa, jatuh berantakan.


"Maafkan saya, saya tidak fokus tadi," ujar Livia sambil berjongkok dan membantu mengambil barang laki-laki itu.


"Ikuti lorong ini, kemudian belok kanan. Dua ruangan dari sana," bisik laki-laki itu ketika keduanya sedang berjongkok bersama.


Livia mengangguk sambil mengambil barang terakhir kemudian menyerahkannya pada laki-laki yang sempat dia tabrak. Sekali lagi dia meminta maaf sebelum kemudian mereka berpisah dan melanjutkan langkahnya, sesuai dengan arahan laki-laki itu.


Ya, sebenarnya laki-laki itu adalah salah satu anggota mafia Black Eagle yang sangat dia kenal. Dia bertugas memberi pesan pada Livia tempat mereka akan bertemu.


Bersamaan dengan kepergian Livia, Agra dan Alisya pun ke luar dari tempat itu, mereka menuju sebuah ruangan yang sudah Agra siapkan sebelumnya.


Beberapa saat kemudian, Livia membuka pintu berwarna putih itu. Matanya melebar ketika melihat Agra dan Alisya sudah berada di sana.


"Livia! Aku kangen banget sama kamu!" seru Alisya sambil memeluk Livia, yang dia kenal sebagai anak buah suaminya dan mantan bodyguard juga asisten pribadinya.


"Saya juga, Nona," jawab Livia sambil menyambut pelukan Alisya. Sementara matanya melihat pada Agra yang kini tengah berdiri di belakang Alisya.

__ADS_1


Laki-laki itu tersenyum tipis sambil mengangguk pelan. Sampai saat ini dia masih mempertahankan janji yang sudah diucapkan ketika ingin mengenalkan Livia pada Alisya. Agra tidak pernah memberitahu Alisya, jika sebenarnya Livia adalah adik angkatnya yang sama-sama ditolong dan diangkat menjadi anak oleh Andrew.


__ADS_2