Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.72 Positif


__ADS_3

Daniel tampak terbangun dengan rasa bergejolak dalam perutnya seolah sesutu memaksa untuk segera ke luar. Dia segera beranjak sambil memaksa kesadarannya untuk pulih sepenuhnya. Kamar mandi, itulah tujuannya saat ini, hingga tak lama kemudian suara seseorang yang terdengar sedang berusaha mengeluarkan isi perutnya terdengar.


Beberapa saat berlalu, kini Daniel tampak berdiri di depan washtafel dengan mata merah dan wajah hingga rambutnya basah. Laki-laki itu baru saja dipaksa untuk mengeluarkan semua ini perutnya yang bahkan belum terisi. Semua itu sungguh menyiksa hingga kini kekuatannya habis terkuras seluruhnya.


Tubuhnya lemas dengan mata berkunang-kunang. Sudah beberapa hari ini Daniel terus seperti ini setiap pagi, dia juga merasa indra penciumannya semakin sensitif hingga dia tidak bisa lagi mencium aroma yang terlalu kuat. Itu akan membuatnya langsung tak selera makan dan kembali mengalami mual yang hebat.


"Sebenarnya apa yang terjadi padaku, kenapa aku jadi begini?" gumam Daniel sambil terus menatap pantulan wajahnya di cermin.


Setelah merasa lebih baik, Daniel memutuskan untuk membersihkan diri dan segera bersiap untuk pergi ke kantor. Pagi ini dia ada rapat penting bersama seorang klien dari luar negeri.


"Kakak masih mual juga?" tanya Danis ketika keduanya bertemu di depan pintu kamarnya masing-masing. Danis tampak memperhatikan wajah kakaknya yang terlihat sedikit pucat.


"Heem," angguk Daniel lemas sambil berjalan mendahului Danis.


"Mending kita periksa ke dokter aja ya, Kak," ajak Danis. Dia tahu apa yang kakaknya itu alami beberapa hari ini, semua itu sungguh membuatnya khawatir, apa lagi selama ini Daniel termasuk orang yang menjaga kesehatannya, tetapi setelah Livia pergi, dia menjadi penggila kerja sampai acuh pada kesehatannya.


"Gak usah, aku masih kuat kok. Sepertinya ini hanya karena masuk angin biasa," jawab Daniel acuh.


Danis menghela napas pelan, sudah beberapa kali dia mengajak kakaknya untuk melakukan pemeriksaan di rumah sakit, tetapi Daniel selalu menolak. Entah bagaimana reaksi mami Luci, jika saja dia tahu apa yang Daniel lakukan pada dirinya sendiri. Kakaknya itu sekolah sedang menghukum dirinya sendiri sejak kepergian Livia.


"Oke, aku kasih waktu sampe besok. Kalau besok masih muntah juga kakak harus setuju untuk diperiksa, atau aku terpaksa berbicara sama Mami," ujar Danis. Dia akhirnya memilih untuk mengancam Daniel dengan mengadu pada Mami Luci.


Daniel tampak menatap tajam Danis, dia jelas tidak senang dengan ucapan Danis padanya. "Kamu sudah berani mengancamku?"

__ADS_1


"Aku gak pernah ada niatan ngacem kakak," jawab Danis acuh.


"Lalu, tadi apa namanya kalau bukan ngacem, heh?" tanya Daniel kesal.


"Itu hanya sebuah peringatan, Kak. Bukan ancaman. Masa begitu saja kakak gak bisa bedain sih," jawab Danis acuh, seolah dia tak bersalah.


"Mami!" Danis langsung berjalan cepat menghampiri Mami Luci yang baru saja ke luar dari kamar demi menghindari kakaknya.


Maaf, Kak. Tapi kakak juga pasti tau kalau aku ngelakuin ini demi kakak. Aku takut kakak punya penyakit yang serius, gumam Danis dalam hati.


...❤️‍🔥...


Dua minggu sudah Alisya berada di negara A dan menemani Livia, kini dia harus segera kembali ke Indonesia setelah lima hari lalu Agra menyusul dan menjemput mereka sendiri. Sebenarnya Livia hanya meminta izin untuk seminggu saja di sini, tetapi karena Arsya tidak mau pulang rencana mereka pun terus diundur hingga akhirnya Agra datang.


"Aku tau," angguk Livia.


"Kamu gak sendiri, masih ada kami yang menyayangi kamu, Livia." Kini giliran Alisya yang berbicara sambil memeluk tubuh adik iparnya itu.


"Terima kasih. Aku akan selalu mengingat itu," angguk Livia.


"Dah, Aunty. See you again." Arsya pun ikut memeluk Livia sebelum akhirnya ketiga orang itu pergi menjauh dari Livia yang langsung diikuti oleh banyak anak buah Agra yang terus bersiap siaga menjaga keluarga ketua mereka.


Livia melambaikan tangannya sampai akhirnya dia tidak dapat lagi melihat Arsya dan kedua kakaknya. Livia menghembuskan napas pelan kemudian berbalik dan berjalan ke luar dari bandara dengan keyakinan baru di dalam hatinya. Wanita itu sudah memutuskan untuk melanjutkan hidupnya dan melupakan semua yang terjadi pada dirinya selama ini termasuk Daniel.

__ADS_1


Namun, semuanya kembali dipatahkan dengan kenyataan yang terjadi esok harinya. Livia yang baru saja menyadari sudah terlambat kedatangan tamu bulanan pun akhirnya memutuskan untuk melakukan tes secara diam-diam dan ternyata hasilnya.


"Posistif?" gumam Livia sambil mundur beberapa langkah hingga membentur dinding kamar mandi, tes kehamilan yang dia pegang pun terjatuh begitu saja.


Livia merasa seluruh tubuhnya kehilangan tenaga hingga sulit hanya untuk tetap berdiri. Perlahan tubuh Livia merosot hingga akhirnya terduduk di atas lantai, dia bekap mulutnya menggunakan kedua tangan diiringi air mata yang mulai mengalir begitu deras.


Jantungnya berdebar begitu cepat hingga mengakibatkan sesak di dalam dada, ada rasa sakit yang begitu hebat di sana seolah sesuatu telah membakar seluruh kebahagiaan yang baru saja dia rencanakan.


"Apa ini? Kenapa bisa begini?" guamam Livia pelan. Dia yakin sebelum melakukannya dengan Daniel, dia sudah melakukan pencegahan lebih dulu. Makanya dia sangat yakin tidak akan hamil. Livia juga tidak pernah melakukannya lagi dengan siapa pun selain Daniel.


Namun, sekarang apa yang terjadi? Ternyata dia hamil? Hamil anak Daniel? Di saat dirinya sudah yakin akan menjalani kehidupan baru dan melupakan semuanya.


"Gak mungkin aku salah minum. Jelas-jelas malam itu aku minum obat pencegah kehamilan, tetapi kenapa tidak berfungsi?" gumam Livia mengingat jelas apa yang dia lakukan sebelum memutuskan untuk melakukannya dengan Daniel.


Tangis Livia pecah, dia tidak bisa mengerti apa yang terjadi, kenapa semua rencananya harus berjalan tak sesuai dengan harapannya? Semesta seolah terus menentang apa yang dia lakukan, hingga hanya untuk bernapas pun kini terasa semakin sulit dia lakukan.


"Aku harus gimana dengan anak ini?" gumam Livia sambil mendekap perutnya yang kini tengah mengandung benih seorang Daniel. Laki-laki yang lahir dari sebuah keluarga kejam dan tak berperasaan yang telah membantai seluruh keluarganya. Laki-laki yang dengan susah payah dia lupakan.


Livia kemudian menundukkan kepala melihat perutnya yang masih rata. Tangan bergetarnya perlahan mengelus perut bagian bawahnya dengan berbagai rasa yang menyesakkan dada.


"Kanapa kamu harus hadir? Apa yang harus aku lakukan padamu sekarang?" guamam Livia dengan air mata yang terus meleleh membasahi pipinya.


Apa mungkin dirinya akan kuat menghadapi semua ini. Mengandung anak dari laki-laki yang sangat dia benci. Entah bagaimana dia harus menghadapi hidupnya ke depan, dengan janin yang terus berkembang di dalam rahim.

__ADS_1


Apakah aku harus membunuhmu sebelum kamu tumbuh semakin besar di sana?


__ADS_2