
Livia tampak meremas pelan jari tangannya dengan perasaan yang tak menentu. Canggung, sepertinya perasaan itu yang sekarang begitu membebaninya. Setelah enam tahun tak bertemu, kini bahkan dirinya tidak tahu harus berkata apa di depan laki-laki yang sejak tadi hanya terdiam sambil menatapnya tanpa henti.
Max dan Ares memilih pergi bersama dengan Danis dan membiarkan kedua orang dewasa itu menyelesaikan permasalahan mereka. Kini Livia dan Daniel terlihat hanya duduk berdua di ruang kerja Daniel, dengan posisi saling berhadapan.
Daniel pun tak kalah bingungnya seperti Livia, setelah sekian lama dia bahkan masih belum berani menanyakan status antara wanita itu dan Max, hingga kini di merasa bingung harus memulai dari mana. Begitu banyak kata yang ingin dia ungkapkan pada wanita itu setelah hanya dapat dia pendam selama lebih dari enam tahun.
"Kamu dan Max--" Daniel akhirnya bertanya apa yang menjadi pertanyaannya beberapa waktu lalu. Walau itu terasa sangat memalukan hingga suaranya terdengar tertahan.
"Kami hanya teman sekaligus rekan kerja," jawab Livia jujur.
"Syukurlah." Daniel menoleh ke samping sambil mengulum senyum, dia merasa sangat lega setelah mendengar jawab Livia.
"Apa?" Livia yang tak mendengar dengan jelas ucapan Daniel pun bertanya, hingga membuat laki-laki itu tampak malu.
"Akh, tidak apa. A--aku hanya senang karena kamu dan Max cuma sekedar teman," jawab Daniel sambil mengusap tengkuknya, merasa malu sendiri.
Livia hanya mengangguk-anggukkan kepala samar sebagai jawaban. Suasana kembali terasa cangung setelah pembahasan itu berakhir. Hingga setelah beberapa saat berlalu, Livia mulai membuka suara walau dengan nada lirih. "Maaf."
Daniel tampak menatap wajah wanita yang terlihat sedang menundukkan kepalanya. Dia kemudian berjalan mendekati Livia dan berlutut di depannya. Daniel tidak perduli apa yang dia lakukan saat ini adalah salah atau benar. Dia hanya rindu.
"Kamu gak salah, kamu gak perlu minta maaf sama aku, Livia," ujar Daniel sambil menatap wajah Livia dari dekat.
Livia tampak menatap Daniel hingga mata keduanya bertaut selama beberapa detik. Ucapan Daniel yang terdengar sangat tulus itu malah membuat rasa bersalah Livia semakin dalam. Dia sadar, jika dulu dirinya memang terlalu egois dan mementingkan sesutu yang bahkan belum jelas diinginkan oleh keluarganya.
Dia terlalu terbawa emosi dan dendam yang tanpa sadar juga telah menghancurkan dirinya sendiri, juga membawa Daniel dalam pergulatan batin dan masalah sikologisnya.
__ADS_1
"Semua itu memang salahku, aku merencanakan semuanya untuk membalas dendam padamu. Maaf," ujar Livia mengakui semua yang sudah terjadi enam tahun lalu.
Daniel tersenyum tipis, ingin sekali dia menggenggam tangan putih mulus Livia, walau akhirnya dia tahan dengan sekuat tenaga, mengingat mereka baru saja bertemu dan dirinya belum tahu Livia saat ini masih sendiri atau sudah memiliki yang lain. Singkatnya, Daniel tidak mau salah langkah untuk yang kedua kalinya.
"Aku bisa mengerti apa yang kamu lakukan kepada kami. Jika aku ada diposisi kamu. mungkin aku sudah melakukan hal yang lebih kejam lagi dari apa yang kamu lakukan padaku, Livia," jawab Daniel.
Laki-laki itu tidak berbohong hanya untuk membuat perasaan Livia tenang. Dia sedang jujur pada wanita itu. Sungguh, dirinya sendiri mungkin tidak akan kuat atau bahkan melakukan sesuatu yang sangat gila jika harus merasakan apa yang Livia rasakan karena ulah ayahnya.
Livia terdiam, wanita itu tampak bungkam dengan perasaan yang berkecamuk dalam hatinya.
"Harusnya aku yang meminta maaf padamu, karena aku begitu bodoh dan tidak berguna, hingga untuk menemukan kamu saja aku tidak sanggup. Maaf, karena aku sudah membuat kamu melalui semua ini sendiri," ujar Daniel lagi dengan mata yang mulai kembali memerah.
"Ini juga salahku. Aku yang terlalu pengecut untuk memberitahu kamu apa yang terjadi, aku memilih bersembunyi tanpa memperdulikan perasaan kamu sebagai ayahnya atau Ares." Livia tampak kembali menundukkan kepala dengan suara yang terdengar bergetar.
Daniel terdiam, dia kemudian mengambil dompetnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana lalu memberikannya pada Livia.
Daniel kemudian membalik lembar foto kecil itu hingga terlihat ada tulisan di sana.
...Selamat, anakmu sudah lahir dengan selamat....
Livia tampak mengernyit dalam. Tangannya perlahan mulai terulur dan mengambil foto bayi yang begitu dia kenali itu. Sepertinya dia tahu ini ulah siapa, hingga tanpa terasa wanita itu tampak tersenyum tipis.
"Aku tidak pernah mengirinkan ini padamu, tapi sepertinya aku tahu siapa yang melakukannya," jawab Livia sambil terus menatap foto di tangannya.
"Maksud kamu?" Daniel tampak bingung.
__ADS_1
"Ini pasti ulah kakak angkatku, dia memang sering melakukan ini di belakang kami," jawab Livia tersenyum bangga.
"Siapa pun itu, aku sangat berterima kasih padanya, karena berkat dia aku bisa tahu jika aku memiliki anak darimu," ujar Daniel, dia memberanikan diri mengambil tangan Livia yang masih memegang foto itu.
"Tapi, di sini tidak ada penjelasan jika itu adalah anakku. Dari mana kamu bisa tahu?" tanya Livia.
"Dia mirip dengaku, dan hanya pada kamu aku melakukan semua itu setelah kita menikah," jawab Daniel yang membuat Livia tertegun.
Livia tak melawan, dia membiarkan tangnnya digenggam oleh Daniel. Wanita itu tampak tersenyum tipis saat mendengar penjelasan Daniel. Dia tidak menyangka jika Daniel langsung mengetahui semua itu hanya karena sebuah foto.
"Livia, aku tidak perduli jika kamu mengangap ini terlalu buru-buru. Aku hanya tidak mau kembali menyesal seperti dulu." Daniel tampak membenarkan posisinya tanpa melepaskan kedua tangan Livia.
"Aku masih menunggu kamu sampai sekarang, jika memang tidak ada orang lain dihatimu, aku mau kamu memberikan aku kesempatan lagi untuk mebahgiakan kamu dan Ares. Ayo kita kembali bersama," ujar Daniel dengan wajah yang tampak sangat bersungguh-sungguh.
Livia terdiam dengan raut terkejutnya, wanita itu tidak bisa percaya dengan apa yang Daniel lakukan saat ini. Bagaimana mungkin, laki-laki itu langsung melamarnya di pertemuan pertama? Sungguh di luar nalarnya sama sekali.
"K--kamu gak salah?" tanya Livia sambil mengerjap beberapa kali.
"Aku pernah salah menilai dirimu dulu dan membuatku menyesal. Sekarang aku tidak mau melakukan semua itu untuk yang kedua kalinya, Livia. Sudah cukup aku menunggu kamu selama ini. Sekarang aku tidak akan menyia-nyiakan waktu lagi," jawab Daniel yakin.
"I--ini." Livia tampak masih bingung dan terkejut hingga tak bisa berkata-kata.
"Tidak apa jika kamu belum bisa menjawab sekarang, aku bisa mengerti. Silahkan kamu pikirkan dulu, dan beri aku jawaban kapan pun kamu sudah siap," jawab Daniel sambil tersenyum pelan.
Livia masih bungkam dengan jantung yang terasa berdebar sangat kencang. Sungguh, saat ini pikirannya terasa buntu hingga tak bisa berpikir lagi.
__ADS_1
"A--aku ...."