Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab. 90 Hari ulang tahun


__ADS_3

Akhir-akhir ini Livia sedang sibuk menyiapkan acara ulang tahun Ares yang akan dilakukan besok siang. Wanita itu menyiapkan semua sendiri, mulai dari dekorasi hingga makanan untuk acara, semuanya dia cari dan siapkan sendiri.


"Sayang, kamu ngapain?" tanya Daniel sambil melihat apa yang sedang Livia lihat di ponselnya.


"Ini, aku lagi ngecek persiapan buat besok," jawab Livia masih dengan mata yang fokus pada layar ponsel. Dia bahkan tak melirik Daniel sama sekali.


"Ini sudah larut lho, sayang. Kamu harus istirahat. Besok saja kamu kerjain ini lagi, oke?" ujar Daniek sambil mengambil ponsel milik Livia perlahan.


"Tapi, sayang. Itu, itu, sedikit lagi," protes Livia berusaha mengambil ponselnya di tangan sang suami.


"Gak bisa, sayang. Kamu harus istirahat. Lihat tuh, ini sudah hampir pukul satu malam," jawab Daniel sambil membawa tubuh Livia untuk berdiri dan berjalan menuju ke ranjang.


"Ish, ini kan cuma sebentar lagi, sayang," rengek Livia sambil duduk di atas ranjang.


"Akhir-akhir ini kamu suka banget begadang, sayang. Sekarang, pokoknya kamu harus temani aku tidur, atau aku akan buat kamu gak tidur semalaman saja sekalian," ancam Daniel sambil menekan pundak Livia agar wanita itu mau merebahkan dirinya.


Livia melebarkan matanya saat mendengar ancaman Daniel, dia menatap laki-laki itu tajam walau itu sama sekali tak mempan pada Daniel untuk sekarang. Namun, walau begitu Livia mengikuti keinginan Daniel untuk merebahkan diri.


"Makanya, kalau gak mau, kita tidur sekarang," ujar Daniel lagi sambil menarik selimut kemudian menyelimuti tubuh Livia, lalu mematikan lampu tidur.


Daniel kemudian naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Livia, dia lebih dulu memberikan ciuman hangat di kening dan bibir Livia sebelum akhirnya berbaring sempurna sambil memeluk tubuh wanitanya.


Livia tersenyum ketika mendapati perhatian Daniel yang begitu besar padanya. Dia sangat bersyukur karena sudah menikah dengan laki-laki yang tahu cara memperlakukannya dengan baik dan menghargai seorang wanita.


Livia akhirnya ikut memiringkan tubuhnya dan membalas pelukan hangat Daniel. Keduanya pun tertidur dengan posisi yang dirasa paling nyaman.


...❤️‍🔥...

__ADS_1


Siang harinya, acara pun berlangsung dengan sangat meriah. Banyak para undangan yang hadir, mulai dari teman sekolah Ares sampai kerabat dekat, seperti keluarga Agra dan para anak-anak anggota black eagle yang juga ikut diundang dalam pesta.


Siang itu, keadaan rumah Daniel dan Livia bebar-benar ramai. Semuanya tampak bahagia dan puas dengan acara yang Livia siapkan.


"Kamu hebat sayang, aku bangga padamu," ujar Daniel sambil memeluk istrinya itu yang kini sedang berdiri sendiri sambil menatap anak-anak yang tengah bermain.


Dia tahu, Livia bersikeras untuk menyiapkan pesta ini sendiri untuk menebus rasa bersalahnya karena belum juga bisa memenuhi keinginan anak sulung mereka untuk memiliki adik.


Berada di tengah-tengah anak kecil dan orang tua yang membawa anak bayi mereka, memang terasa berat oleh Livia. Hatinya begitu sesak ketika melihat bayi-bayi mungil yang juga datang ke pesta.


Bibir wanita itu memang tak henti menampilkan senyum cerianya, tetapi Daniel tahu, jika itu hanya sebuah topeng yang Livia atur untuk menutupi kesedihannya.


Livia tersenyum. Dia menyentuh tangan Daniel yang kini tengah melingkar di perutnya. "Aku gak apa-apa kok. Kamu gak usah khawatir," ujar Livia seolah tahu jika sekarang ini Daniel sedang menghiburnya.


"Hei, kalian ini bukan lagi pengantin baru, jangan malah berduaan di sini dong."


"Ish, ternyata ada orang gak laku di sini," ujar Daniel santai sambil kembali memeluk pinggang istrinya.


"Makanya buruan cari cewek biar gak nyinyir terus kerjaannya," sambung Daniel lagi dengan ekspresi wajah meledek.


"Ck! Para tamu tuh pada nyariin, mojok mulu udah kayak anak remaja aja," kesal Danis sambil berlalu begitu saja meninggalkan Daniel dan Livia.


"Dih, marah. Udah kayak anak ABG aja," balas Daniel sambil terkekeh ringan.


Livia memukul tangan Daniel sambil mengulum senyum. Walau dia merasa tidak enak jika melihat Daniel yang selalu menggoda adiknya, tetapi entah mengapa dia sedikit merasa terhibur oleh pertengkaran kecil adik dan kakak itu.


"Udah ah, jangan gangguin dia terus. Mending kita temui para tamu," ujar Livia sambil melepaskan tangan Daniel di pinggangnya kemudian berjalan kembali ke arah tempat para orang tua yang sedang menunggu anaknya bermain.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, acara utama pun dimulai. Daniel dan Livia diminta untuk naik ke atas panggung agar mendampingi Ares meniup lilin. Lagu ulang tahun pun mulai dinyanyikan oleh seluruh tamu yang hadir dengan dipimpin oleh pembawa acara.


Tepuk tangan pun menggema ketika Ares berhasil meniup lilin di atas kue dengan bentuk karakter kesukaannya. Ares kemudian memotong kue itu dan menyuapi kedua orang tuanya yang diiringi ciuman penuh kasih sayang Livia dan Daniel.


Tak terasa, menjelang sore hari, pesta pun berakhir. Para tamu pun mulai berpamitan kepada Daniel dan Livia, hingga kini hanya menyisakan keluarga Agra yang masih memilih untuk tinggal beberapa saat lagi. Mereka pun memilih untuk pindah ke dalam rumah, mengingat taman tempat acara berlangsung kini akan dibereskan.


Namun, ketika Livia baru saja menginjakkan kakinya di depan pintu, tubuh wanita itu tampak oleng hingga hampir saja terjatuh jika Daniel tak sigap menangkap tubuhnya.


"Kamu pasti kecapean, lebih baik kamu istirahat di kamar, ya," bujuk Daniel menatap khawatir Livia.


"Iya, Livia. Lebih baik kamu istirahat di kamar, muka kamu juga sudah pucat." Alisya yang sejak tadi memang memperhatikan wajah Livia pun ikut berbicara.


"Aku gak apa-apa kok, aku cuman sedikit pusing tadi," bantah Livia sambil berusaha untuk menegakkan tubuhnya kembali.


"Sayang, aku mohon. Aku antar istirahat dulu ya." Daniel terlihat terus membujuk Livia.


"Livia, kamu kenapa?" Agra yang baru datang setelah dari toilet terlihat menatap khawatir Livia yang tampak lemas.


"Sepertinya Livia kelelahan, dia bersikeras menyiapkan pesta ini sendiri," jawab Daniel dengan wajah mengiba.


"Kami hanya menunggu Arsya. Sekarang lebih baik kamu istirahat, atau aku akan membawamu ke rumah sakit dengan paksa!" ancam Agra dengan tatapan tajamnya.


"Ck! Gak usah ngancem," kesal Livia sambil melirik Agra.


Namun, ketika dia melihat Agra sudah memegang ponselnya, Livia langsung melepas tangan Daniel dengan tatapan kesal.


"Iya, ini aku ke kamar sekarang," ujar Livia sambil mulai berjalan sendiri. Namun, ketika dia hendak menaiki tangga pertama, tiba-tiba Livia terhenti ketika pandangannya tiba-tiba gelap diiringi kesadaran yang mulai hilang.

__ADS_1


"Livia?!"


__ADS_2