Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.21 Menantu misterius


__ADS_3

Daniel turun dari mobil dengan tergesa-gesa, kemudian melangkah cepat masuk ke rumah setelah melirik sekilas dua buah mobil yang terparkir di halaman rumah mereka. Rasa khawatir di dalam hatinya semakin menjadi ketika menyadari jika kakek Banu benar-benar sudah datang.


"Sial!" umpatnya dengan kedua tangan mengepal erat.


Danis pun tampak menyusul kakaknya dengan sorot mata khawatir. Entah apa yang akan terjadi jika sampai dua orang keras kepala itu bertemu sekarang? Sungguh, dia hanya mampu berharap jika salah satu diantara mereka akan mengalah.


Namun, kedua adik kakak itu dibuat terkejut ketika hendak memasuki ruang keluarga. Mereka yang mengira jika kakeknya sedang berteriak dan menyalahkan Mami Luci, kini malah terlihat duduk santai dengan Livia dan Mami Luci tengah berada di sana.


"Ekhm." Daniel berdehem sambil melanjutkan langkahnya, ketika beberapa saat lalu sempat terhenti karena terkejut dengan semua yang sedang terjadi.


"Maaf, aku tidak menyambut kedatangan Kakek," ujar Daniel sambil duduk di samping Livia, sementara Danis duduk di samping Mami Luci.


"Dasar cucu durhaka! Aku kira kamu sudah lupa kalau masih memiliki seorang kakek," sindir kakek Banu sambil menatap sinis cucu pertamanya itu.


"Mana mungkin seperti itu, Kakek--" Perkataan Daniel terhenti karena Kakek Banu sudah lebih dulu menyela.


"Aku tidak butuh penjelasanmu! Mulai sekarang aku akan tinggal di Indonesia dan melihat bagaimana kamu mengurus perusahaan." ujar kakek Banu memutuskan pembicaraan dengan Daniel.


Kakek Banu kemudian berdiri dan membawa kakinya melangkah menuju ke kamarnya. Dengan sigap Daniel pun berdiri dan membantu kakek Banu untuk berjalan.


"Maaf, Kakek," ujar Daniel sendu. Ketika melihat Kakek Banu yang menatapnya dengan sorot mata kecewa, hati Daniel tiba-tiba saja dipenuhi oleh rasa bersalah. Sebagai cucu, dia memang harusnya memberi tahu kakek Banu tentang pernikahannya dengan Livia, walau sebenarnya itu hanyalah pernikahan yang tidak pernah dia anggap.


Kakek Banu tidak menjawab, walau dia juga tidak menolak ketika Daniel membantunya berjalan dan mengantarnya menuju ke dalam kamar.


"Istrirahatlah, Kakek pasti capek setelah menempuh perjalanan jauh, kan?" ujar Daniel setelah masuk ke dalam kamar kakek dan neneknya.


"Tinggakan aku sekarang juga," ujar kakek Banu dengan nada suara yang sangat dingin.


Daniel sempat tersentak ketika mendengar suara kakek Banu, walau sedetik kemudian dia berhasil mengendalikan dirinya dan mundur satu langkah.


"Baik, Kakek," angguk Daniel sambil melangkah mundur dan ke luar dari kamar yang cukup bersejarah untuk kakeknya itu.

__ADS_1


.


"Mami gak apa-apa, kan?" tanya Danis ketika melihat Daniel dan kakek Banu sudah menjauh.


Mami Luci tersenyum dengan senyum yang masih terlihat sangat lembut dan menenangkan, dia mengusap pipi Danis pelan kemudian menggeleng kepala samar sambil mulai membuka suara. "Mami baik-baik aja."


"Syukurlah kalau begitu. Maaf kami datang terlambat, ponsel kami silent agar tidak mengganggu rapat, Kak Daniel juga sepertinya lupa dengan kedatangan kakek," jelas Danis sambil mengusap tangan lembut mami Luci. Dari wajahnya, jelas sekali jika laki-laki itu terlihat menyesal.


"Iya, tidak apa-apa. Tapi, nanti sebaiknya kamu meminta maaf sama kakek, sepertinya dia sangat kecewa karena dua cucunya tidak ada yang menyambut kedatangannya," ujar Mami Luci.


"Eum! Baik, Mami," angguk Danis.


Sementara itu, Livia yang sejak tadi hanya duduk diam dan memperhatikan situasi hanya berdecak lirih ketika melihat semua kebohongan Mami Luci. Jelas sekali, tadi dia melihat bagaimana kakek Banu menyalahkan mami Luci atas pernikahannya dengan Daniel. Bahkan kakek Banu juga mengungkit mantan tunangan Daniel yang dia anggap sangat cocok menjadi pendamping Daniel, bukan dirinya yang tidak jelas asal usulnya.


Semua laki-laki di sini memang hanya benalu, bisanya cuma saling menyalahkan dan menjadi beban, batin Livia sambil memutar bola matanya.


Jika saja bukan karena dirinya yang tidak tahan melihat Mami Luci yang terus dipojokkan dan disalahkan oleh kakek Banu , Livia tidak akan pernah angkat bicara. Dia akan terus membiarkan kakek tua itu terus uring-uringan di rumah itu sampai Daniel dan Danis datang.


.


Kakek Banu teridam di depan sebuah bingkai foto berukuran cukup besar yang tergantung di salah satu sisi dinding kamarnya. Beberapa kali, pria tua itu tampak menghembuskan napas berat seperti sedang memikirkan masalah yang begitu berat.


"Dia sangat mirip dengamu, Ros. Aku bisa melihat ketegasan yang ada di sorot matanya ketika mengucapkan semua itu," gumam kakek Banu sambil melihat potret seorang wanita tua yang tampak sedang tersenyum senang.


"Tegas, tidak mau diinjak, tapi ada kelembutan di balik semua itu." Kakek Banu tampak tersenyum tipis, entah untuk siapa perkataan itu dia berikan.


"Siapa sebenarnya dia? Kenapa aku bahkan tidak bisa melacak asal usul dan masa lalunya? Bahkan untuk nama keluarga tempat dia bekerja pun kini telah menghilang."


Kakek Banu kini dilanda penasaran yang sangat pada cucu menantu yang menurutu minsteriusnya itu. Entah ini karena ulah cucunya sendiri yang sengaja menembunyikan masa lalu istrinya darinya, atau memang ada sesutu di balik sosok wanita muda bernama Livia Aymar Gasendra?


"Gasendra? Nama yang terdengar tidak asing," gumamanya lagi dengan kerutan dalam di keningnya.

__ADS_1


"Tuan, Anda memanggil saya?" tanya seseorang yang baru saja masuk ke kamar Kakek Banu.


Kakek Banu menoleh, dia menatap rumit Karlo yang tampak berdiri di depannya dengan posisi siap bagaikan seorang tentara. Dia kemudian kembali menatap potret di dinding sebelum berucap.


"Biarkan dia datang, aku mau melihat, sampai dimana cucuku akan bertahan," ujar Kakek Banu tanpa mengalihkan pandangannya dari potret di depannya.


"Baik, Tuan," angguk Karlo kemudian pamit untuk kembali pergi dari kamar pribadi tuannya itu.


.


"Apa yang sudah kamu katakan pada kakekku?" tanya Daniel setelah dia baru saja ke luar dari walk in closet.


Livia yang sudah bersiap ingin tidur pun kembali duduk sambil menatap tak acuh pada Daniel yang sekarang memilih duduk di sisi ranjangnya, hingga kini keduanya duduk berhadapan.


"Aku tidak bilang apa-apa," jawab Livia sambil menggeleng samar.


"Jangan bohong! Aku bisa lihat sendiri, setelah kamu bicara dengan kakek, kakek tidak lagi memperlihatkan amarahnya," ujar Daniel sambil menatap tajam Livia.


Sebelumnya, Daniel dan Danis lebih dulu melihat kamera CCTV yang sengaja mereka pasang di hampir setiap sudut rumah untuk memantau para pekerja. Namun, keduanya merasa sangat janggal dengan prilaku kakek Banu setelah Livia berbicara. Sayangnya, nada bicara Livia yang sangat rendah, membuat keduanya tidak bisa mendengar apa yang wanita itu katakan.


"Tidak ada," jawab Livia sambil kembali bersiap untuk tidur.


Daniel menghembuskan napas pelan, dia tidak mengerti dengan sikap Livia yang kini selalu terlihat lebih dingin dan tak acuh setelah menikah dengannya. Padahal sebelum ini, wanita itu selalu bersikap lemah dan takut padanya. Balum lagi kesigapan Livia dalam berpikir dan mengambil alih situasi juga menyelesaikan masalah dalam satu waktu, semua itu tentu tidak bisa dilakukan oleh seorang perawat biasa.


"Jangan bersikap gegabah, Livia. Kamu tidak tahu bagaimana sikap kakek sebenarnya. Kecerobohanmu, bisa saja mengancam kita semua!" tekan Daniel.


"Hem, aku tau," jawab Livia tak acuh, kemudian memilih merebahkan diri dan memejamkan mata, seolah memutuskan perbincangan mereka secara sepihak.


Daniel mengepalkan tangannya saat melihat tingkah Livia yang semakin terasa seman-mena, dia ingin sekali menghampiri wanita itu kemudian membantingnya sebagai peringatan agar Livia tidak bertindak acuh lagi padanya. Namun, Daniel mengurungkan niatnya, ketika mengingat bagaimana senyum bahagia selalu terukir dari bibir indah Mami Luci ketika bersama dengan Livia.


Aku selalu kalah, karena kamu telah mengembalikan senyum ibuku, Livia.

__ADS_1


__ADS_2