
Daniel mendesah berat ketika melihat kamarnya yang sudah berubah, ibunya mengatur salah satu sisi kamarnya untuk menjadi wilayah Livia, itu terlihat jelas dengan adanya meja rias dan beberapa alat make up yang tersimpan di atasnya.
"Cih, memang dia bisa menggunakan itu semua? Aku yakin, penampilannya hari ini hanya karena bedak yang menutupi wajah kampungannya!" decak Daniel penuh emosi.
"Ya, sekali kampungan tetap saja kampungan!" Daniel sedang meyakinkan dirinya sendiri, bahwa apa yang dia pikirkan adalah benar.
Daniel membuka dasinya dengan gerakan kasar, dia kemudian membuka jas dan bajunya sembarangan sambil terus berjalan menuju ke kamar mandi hingga semua itu tercecer begitu saja di lantai kamarnya.
"Cih, dasar wanita gila harta! Sekarang kamu sudah berhasil masuk ke dalam kamarku. Besok, apa lagi yang dia inginkan? Rumah, perusahaan?" Daniel terlihat begitu kesal ketika membayangkan wajah Livia yang menurutnya begitu menjijikan.
Daniel berdiri di bawah guyuran air shower, dia membiarkan tubuhnya perlahan basah dan kemudian kuyup seiring banyaknya air menimpanya. Dia ingin mengdinginkan emosi yang rasanya sudah membuat seluruh tubuhnya panas.
Beberapa saat kemudian dia ke luar dari kamar mandi, tetapi ketika dia masuk ke dalam walk in closet, rasanya dia menjadi muak dengan dan enggan untuk masuk ke dalam karena melihat deretan barang wanita yang dia yakini adalah milik Livia di sana. Dia ke luar sambil membetulkan handuk yang melilit di pinggangnya.
Namun, ketika dia berbalik dan ke luar dari walk in closet matanya terbelalak ketika melihat Livia sudah berada di depannya dengan nampan di tangan.
"Aaaaa ....!"
Menurut kalian siapa yang berteriak histeris? .... Kalau jawaban kalian adalah Livia, itu adalah salah besar. Karena kini yang berteriak histeris adalah Daniel.
Daniel berteriak histeris karena terkejut oleh keberadaan Livia yang tengah melihatnya sedang bertelanjang dada, dan itu diperparah karena sekarang handuknya pun terjatuh akibat lepas dari tangannya.
Sementara itu, Livia malah berdiri santai tanpa terkejut sama sekali, bahkan nampan di tangannya tidak terlihat goyah sedikit pun.
"Hei, dasar wanita gil*! Ngapain kamu ada di kamarku, hah?!" teriak Daniel sambil kembali memasangkan handuk di pinggangnya dengan gerakan terburu-buru.
__ADS_1
Livia menghembuskan napas pelan sambil mengerjapkan mata, kemudian berbalik untuk menyimpan teh camomile itu di meja sambil berkata, "Mami, menyuruhku mengantarkan teh camomile ini untuk Anda."
Daniel terdiam, dia mengerjap beberapa kali ketika melihat reaksi Livia yang sangat berbeda dari wanita lainnya. Livia terlihat terlalu santai bagi seorang wanita yang baru saja memergoki laki-laki dalam keadaan bu*il.
"Haish! Dasar wanita gil*! Kamu bahkan tidak terkejut melihat aku seperti ini?!" teriak Daniel, dia sangat kesal dan merasa terhina atas reaksi yang ditampilkan Livia saat ini.
A--apa tubuhku tidak seperti laki-laki untuknya? Kenapa dia tidak terkejut atau berteriak seperti wanita lainnya? gumam Daniel dalam hati, kesal sendiri.
"Untuk apa aku harus terkejut? Tidak ada yang menarik dari bentuk tubuhmu?" jawab Livia cuek, kemudian tersenyum kecil sambil duduk di meja rias yang pasti itu adalah wilayahnya.
Daniel mengerjapkan matanya cepat, sungguh dia tidak bisa menerima semua yang telah diucapkan oleh Livia. Wanita itu terlalu aneh untuknya.
"Heuh, apa katamu? Tidak menarik katamu?!" Daniel membuang muka sambil menghembuskan napas kasar.
"Apa? Itu sama sekali tidak menarik untukku," jawab Livia sambil menatap Daniel tanpa malu sama sekali.
Tentu saja semua otot Daniel tidak menarik untuk Livia. Dia yang sering berlatih dengan para laki-laki dan tinggal bersama mereka, tentu saja sering melihat tubuh mereka dan hampir dari semua anggota mafia Black Eagle memiliki otot perut yang bagus, karena latihan yang sudah terjadwal.
Livia sebenarnya cukup terkejut ketika melihat handuk Daniel terbuka, hanya saja dia memilih tidak fokus ke sana agar bisa mempertahankan wajah datarnya. Kini, semua itu berhasil, dia membuat Daniel kalangan kabut sendiri karena perkataannya.
"A‐-apa? Tidak menarik? Oh, astaga! Kamu benar-benar gil*!" Daniel mengacak rambutnya kemudian berbalik dan masuk ke walk ini closet. Gara-gara ucapan Livia, kini dia menjadi tidak percaya diri memperlihatkan tubuhnya di hadapan wanita itu.
Livia menyeringai ketika melihat Daniel masuk kembali ke dalam walk ini kloset dengan langkah terburu-buru. Setelah memastikan laki-laki itu tidak lagi bisa melihatnya, Livia memilih untuk segera mencari barang-barang yang dia tinggalkan di kamarnya. Namun, Livia sama sekali tidak menemukannya di mana pun. Entah ke mana sekarang barang-barangnya itu dipindahkan oleh Mami Luci.
"Atau masih ada di kamar?" gumam Livia sambil berdiri sambil mengedarkan pandangannya dia kamar itu.
__ADS_1
Tadi pagi, ketika dia datang untuk membangunkan Daniel, Livia tidak begitu memperhatikan suasana kamar laki-laki yang kini sudah menjadi suaminya itu. Kini, dia baru menyadari kalau kamar suaminya itu begitu luas dan sangat rapih.
Dia benar-benar menikmati hidupnya setelah membantai keluargaku, batin Livia bergumam sinis.
.
"Kamu tidur di sofa!" ujar Daniel ketika mereka bersiap untuk tidur. Livia tidak menjawab, dia hanya berjalan untuk mengambil selimut yang tadi dia lihat di walk in closet kemudian berbaring di atas sofa.
Siapa juga yang mau tidur bersamanya. Melihatnya saja sudah membuatku muak, batin Livia sambil mulai menutup matanya.
Daniel kembali terkejut dengan tingkah Livia yang tampak tidak terintimidasi dengan ucapannya. Wanita itu bahkan kini mengambil selimutnya dengan satai lalu berbaring di sofa miliknya tanpa permisi.
Daniel tampak berguling ke sana ke mari, sambil terus mencoba untuk tidur. Tetapi, sudah satu jam lebih dia berusaha, nyatanya matanya masih saja tidak bisa terpejam dengan tenang. Karena kesal, Daniel akhirnya memilih untuk ke luar dari kamarnya, meninggalkan Livia yang terlihat sudah terlelap di alam mimpi.
Kini Daniel berjalan menuju ke ruang kerjanya yang ada di ujung ruangan lantai dua. Dia memutuskan untuk tidur di sana, daripada harus berada satu ruangan dengan Livia. Rasanya begitu sesak ketika dia harus bersama dengan wanita yang menurutnya aneh itu.
Andai saja waktu makan malam tadi Mami Luci tidak mengancamnya, akan marah dan mogok makan jika dia ketahuan ke luar rumah lagi seperti malam kemarin, Daniel sudah pasti akan kembali ke klub dan mabuk-mabukan bersama teman-temannya. Namun, sepertinya untuk malam ini, dia harus rela tidur di rumah karena Mami Luci tidak pernah main-main dengan ucapannya.
.
Sementara itu, Livia membuka matanya ketika mendengar suara pintu tertutup, dia kemudian bangun dengan mata menatap pintu ke luar. Sebenarnya, sejak tadi dia tidak tidur. Livia memang sedang menunggu Daniel tertidur atau ke luar dari kamar, agar dirinya bisa memeriksa kamarnya di lantai satu, untuk mencari barang-barang miliknya.
Livia berdiri di depan pintu, dia menempelkan telinganya pada daun pintu untuk mendengar langkah kaki Daniel. Ketika dirinya sudah memastikan jika Daniel menjauh dari depan kamar, dan tidak ada lagi suara langkah kaki. Livia pun perlahan membuka pintu kamar Daniel. Dia lebih dulu melongok ke luar untuk mematikan jika suasana aman untuk dirinya ke luar.
Livia membawa langkahnya cepat untuk menuruni tangga dan masuk ke bekas kamar miliknya selama satu tahun ini. Livia langsung membuka lemari, dia kemudian mencari sebuah tempat rahasia di dalamnya yang memang dia buat khusus untuk menyimpan semua barang-barang rahasianya.
__ADS_1