Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.65 Diikuti


__ADS_3

Malam ini Daniel harus menghadiri acara para pebisnis muda sekaligus adalah teman-temannya yang sedang merayakan keberhasilan salah satu diantaranya yang sedang merayakan keberhasilannya. Mereka memang sudah biasa mengadakan pertemuan dalam beberapa bulan sekali, agar hubungan yang mereka jalin tidak terlupakan karena kesibukan masing-masing.


Karena Daniel sudah tidak hadir di beberapa pertemuan, kali ini dia tidak bisa menghindar lagi dan terpaksa harus datang. Mereka berjanji berkumpul untuk makan malam di restoran mewah dan setelah itu menghabiskan malam di sebuah club langganan yang memiliki ruangan VVIP. Tentu saja dengan ditemani oleh minuman dan wanita yang setia melayani para pelanggan elit seperti mereka.


Namun, kini Daniel merasa ada sesuatu yang berbeda dalam tubuhnya, setelah dia meneguk beberapa gelas minuman yang disediakan oleh perempuan malam itu. Ada hawa panas yang mulai mengusai tubuhnya seiring dengan gelanyar hasrat yang mulai naik dan terus bertambah seiring waktu.


"Sial!" umpat Daniel, ketika dia sadar jika kini ada yang salah dengan tubuhnya dan seseorang pasti sudah menjebaknya.


Danis yang juga ikut dalam acara ini tampak mulai memperhatikan Daniel ketika melihatt kakaknya itu terlihat tidak nyaman, dia kemudian memilih menghampiri Daniel saat merasa ada yang tidak beres dengan laki-laki itu.


"Ada yang main obat, kita harus cepat ke luar dari sini," bisik Daniel begitu Danis duduk di sampingnya.


Danis yang mengerti dengan maksud Daniel, pun langsung sigap meminta izin untuk pulang lebih dulu dengan alasan yang dia bisa, kemudian membantu Daniel untuk segera ke luar dari ruangan itu.


"Ah, gila ini gak bisa aku tahan lagi," ujar Daniel begitu mereka meninggalkan tempat itu. Daniel terus menggeliat sambil berusaha membuka kancing di kemejanya.


"Kita ke rumah sakit atau ke hotel?" tanya Danis yang mulai panik saat melihat Daniel mulai tidak bisa mengendalikan diri. Pasalnya mereka berdua tidak bisa ke apartemen mengingat jaraknya terlalu jauh.


"Jangan ke rumah sakit, itu terlalu berbahaya," jawab Daniel sambil terus berusaha mengendalikan diri.


Sementara itu, di belakang mobil yang dikendarai Danis, tampak satu mobil lagi yang mengikutinya dalam jarak aman, hingga tidak disadari oleh Danis.


"Jangan sampai hilang. Gue yakin, mereka pasti datang ke suatu tempat," ujar laki-laki yang tadi berusaha menjebak Daniel. Laki-laki yang tak lain adalah Julio.


"Tenang saja, selama ini gue tidak pernah kehilangan terget," jawab laki-laki jaket kulit hitam yang masih fokus menyetir mobil untuk mengikuti Danis dan Daniel.


Beberapa saat berkendara, senyum di wajah Julio kini mengembang penuh ketika melihat mobil Danis mulai memasuki area hotel di pinggiran kota.

__ADS_1


"Lihat, benar kataku, mereka pasti akan datang ke suatu tempat. Mana ada orang yang bisa tahan dari dosis obat yang aku berikan. Lagi pula mereka tidak akan mau pergi ke rumah sakit, di sana terlalu banyak orang dan itu sangat dihindari di saat seperti ini," ujar Julio bangga.


"Ya, kamu memang pintar dalam merencanakan hal seperti ini," angguk laki-laki jaket kulit hitam.


Sementara itu, Danis lebih dulu menggunakan masker sebelum ke luar dari mobil untuk melakukan registrasi dan memesan kamar. Mereka sengaja memilih hotel yang terdekat, mengingat kondisi Daniel yang semakin memprihatinkan. Walau sebenarnya hotel kecil itu terkenal sering menyediakan layanan plus-plus bagi para tamu.


Setelah memesan kamar, Danis kembali ke mobil untuk menjemput Daniel yang sudah hampir tidak bisa lagi mengendalikan dirinya. Namun, langkahnya terhenti ketika seorang wanita tiba-tiba menariknya ke balik tembok.Danis yang terkejut bahkan tak sempat untuk melawan, hingga kini dirinya hanya bisa menatap terkejut wanita yang ada di depannya.


"Di mana Daniel?" tanya wanita itu yang tak lain adalah Livia


"Livia? Sedang apa kamu di sini? Atau ... kamu mengikuti kami?" tanya Danis beruntun.


"Ngapain juga aku ngikutin kalian? Gak penting!" jawab Livia.


"Kalian diikuti sama orang yang menjebak Daniel," sambung Livia lagi dengan wajah yang serius.


"Gak penting! Sekarang kita harus segera menolong Daniel dan membuat mereka pergi dari sini secepatnya," geram Livia.


Danis mengerjap pelan sambil menegakkan tubuhnya dan berdehem pelan. "Oke. Kamu punya rencana?" tanya Danis kemudian.


"Kita berikan apa yang mereka mau," jawab Livia.


"Kamu mau memberikan Daniel pada wniata lain?" tanya Danis dengan wajah tak setuju.


"Untuk apa? Bukankah aku juga wanita?" tanya Livia dengan seringai di wajahnya.


"Hah?" Danis yang sudah cukup pusing dengan semua masalah yang tiba-tiba terjadi kini otak pintarnya terasa tiba-tiba menjadi bodoh saat diajak main clue oleh Livia.

__ADS_1


"Haish!" Livia berdecak pelan ketika melihat Danis yang tidak mengerti dengan apa yang dia maksud.


"Berapa nomor kamarnya?" tanya Livia.


"320," jawab Danis.


"Kamu bawa Daniel ke kamar, nanti aku menyusul," ujar Livia kemudian segera pergi meninggalkan Danis yang masih terlihat bingung.


"Terserah dia saja lah," gumam Danis sambil melanjutkan langkahnya ke parkiran untuk mengambil Daniel yang masih ada di dalam mobi.


"Ada Livia di sini?" bisik Danis saat dia membantu Daniel untuk ke laur dari mobil.


"Hah? Ngapain dia di sini?" tanya Daniel sambil menjauhkan tubuhnya dari Danis.


"Gak tau, dia bilang mau menemui kita di kamar," jawab Danis.


Daniel tampak terdiam dengan kening berkerut dalam, berbagai prasangka pun terlintas di kepala, walau dia berusaha menepis semua itu dengan sekuat tenaga, walau masih saja ada rasa tak nyaman di dalam hatinya.


Sesuai instruksi Livia, Danis membawa Daniel ke kamar, mereka menunggu kedatangan Livia di sana.


Semenatra itu, Julio tampak ikut masuk ke dalam hotel di belakang Daniel dan Danis. Bermodal ponsel di tangannya, dia mengabadikan momen itu dengan kamera ponselnya. Senyumnya semakin mengembang ketika dirinya mendapati seorang wanita berpakaian seksi juga menyusul Daniel dan Danis masuk ke kamar. Apa lagi ketika dia melihat Danis ke luar dari kamar tidak lama setelah wanita itu masuk.


"Awas saja kamu, Daniel. Sebentar lagi aku akan menghancurkanmu." Dengan sangat bangga, Julio melihat kembali hasil fotonya dan berjalan kembali menuju ke luar hotel. Laki-laki itu merasa sudah mendapatkan hasil buruan besar untuk menghancurkan Daniel.


Sementara itu, Danis tampak tersenyum tipis saat dia sampai di dalam mobil. Walau sebenarnya tidak semua rasa penasarannya terjawab, tetapi setidaknya dia bisa bernapas lega dengan adanya Livia di sini.


"Dengan pengorbanan yang Livia lakukan malam ini, aku harap ini menjadi awal dari rumah tangga kalian," gumam Danis. Walau Danis tak bisa menyangkal jika ada rasa perih di dalam hatinya ketika mengingat apa yang akan terjadi pada Daniel dan Livia malam ini.

__ADS_1


__ADS_2