
Livia meneruskan langkahnya menaiki anak tangga, dia kemudian menghentikan langkahnya ketika sampai di depan kamar milik Daniel. Kamar yang sudah seminggu ini dia tinggali bersama dengan laki-laki yang berstatus sebagai suaminya.
Entah mengapa, walaupun dia sudah tidur dan melakukan semua pekerjaan yang pribadi di kamar itu, tetapi dia tidak pernah terbiasa untuk masuk dan berada di sana? Livia selalu merasa asing dan canggung jika berada di dalam kamar bernuansa maskulin itu.
Livia menarik napas dalam sambil menutup mata, hingga rasanya seluruh rongga dada terpenuhi oleh oksigen, kemudian baru dia menghembuskannya perlahan dengan mata yang terbuka kembali. Tangannya pun terulur memegang gagang pintu dan mulai memutarnya sambil memberikan sedikit dorongan, hingga perlahan daun pintu berbahan kayu itu terbuka lebar.
Setelah melihat jika di dalam kamar tidak ada Daniel, Livia pun baru membawa kakinya melangkah masuk, kemudian kembali menutup pintu setelah dia berhasil melewatinya. Livia berbalik dengan pandangannya yang mengedar, ternyata di kamar itu memang tidak ada Daniel, itu bisa terlihat dari lantai kamar yang masih bersih dan rapih. Tidak ada lagi pakaian yang sengaja Daniel cecerkan di sepanjang lantai kamar menuju ke kamar mandi.
Kini, perhatiannya beralih pada pintu kamar mandi, wanita itu tampak menyelipkan rambutnya yang terurai ke belakang telinga, dengan tubuh yang sedikit condongg ke depan, mencoba menajamkan pendengarannya untuk memastikan jika tidak terdengar suara gemercik air dari sana.
Ke mana dia? batin Livia bergumam penasaran.
Biasanya Daniel tidak akan betah jika tidak langsung mandi setelah melakukan aktifitas. Namun, sekarang dia malah tidak menemukan laki-laki itu di kamar mereka.
"Untuk apa juga aku harus memikirkan dia?" Livia melebarkan mata sambil menggeleng kepala cepat, dia terkejut dengan pemikirannya sendiri yang mulai merasa penasaran pada suami sekaligus musuhnya itu.
"Terserah! Semua tentangnya bukan urusanku," gumam Livia, sambil berjalan menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri dan mengganti bajunya yang terasa sudah sangat tidak nyaman di tubuhnya.
Setelah membersihkan diri, dia langsung merebahkan dirinya di atas sofa dengan selimut berwarna abu-abu tua yang sudah seminggu ini menjadi temannya tidur, sebagai penghalau dinginnya pendingin ruangan di kamar ini. Hari ini sudah cukup melelahkan untunya. Bergaya seperti seorang wanita tulen dan bersandiwara di depan banyak orang ternyata lebih menguras tenaga dari pada ketika dirinya harus menjadi pengawas saat anggota mafia black eagle sedang melakukan transaksi penjualan senjata api ilegal.
Saking lelahnya, Livia bahkan bisa langsung terlelap, begitu kepalanya menyentuh bantal boneka lumba-lumba berwarna biru yang selalu menemaninya selama di sini. Itu adalah bantal lumba-lumba pemberian pertama Andrew ketika dia baru saja bergabung dengan anggota mafia. Dengan boneka ini, Andrew mau dirinya tetap ingat jika Livia harus tetap menjadi seorang perempuan, hingga harus tetap memiliki batasan dalam bergaul dengan para anggota mafia lainnya yang memang semuanya adalah laki-laki.
__ADS_1
Sementara itu di sisi lain, Daniel yang baru saja ke luar dari ruang kerjanya tidak sengaja berpapasan dengan Danis yang baru saja ke luar dari kamar pribadinya. Keningnya mengerut ketika melihat ada kotak P3K di tangan Danis.
"Siapa yang terluka?" tanya Daniel sambil menatap kotak P3K di tangan adiknya.
Danis tidak menjawab, dia malah ikut melihat kotak P3K itu di tangannya kemudian menyodorkannya ke depan Daniel, hingga membuat kakaknya itu semakin bingung dengan apa yang dia lakukan.
"Apa?" tanya Daniel bingung. Dia membiarkan tangan Danis tetap menggantung di udara.
"Tadi aku lihat kaki Livia terluka, sebaiknya Kakak lihat, sebelum besok ketahuan sama mami. Bisa panjang urusan kalau udah ketauan sama mami," jawab Danis menjelaskan.
"Kenapa kamu gak kasih sendiri sama dia dan suruh dia obati lukanya? Bikin repot saja!" Daniel tampak enggan untuk menerima kotak P3K dari adiknya, dia membung muka sambil mendengus pelan.
"Terserah saja sih, tapi kakak harus siap-siap diomelin sama mami besok pagi kalau sampe mami liat Livia jalannya pincang." Danis hendak berbalik kemudian kembali masuk ke kamarnya. Asal tahu saja, Danis melakukan semua ini juga demi keamanan dirinya dan Daniel dari amukan Mami Luci besok pagi.
"Sini!" geram Daniel sambil mengambil kotak P3K di tangan adiknya kemudian berjalan masuk ke kamarnya begitu saja, tanpa memperdulikan Danis yang pasti sedang tersenyum mengejek untuknya.
"Merepotlan sekali!" gerutunya lagi, masih belum bisa menahan rasa kesalnya karena merasa direpotkan oleh Livia.
Sampai di kamar, Daniel hanya melirik Livia yang sudah tertidur pulas di sofanya dengan tatapan rumit kemudian melempar kotak P3K di tangannya ke atas ranjang lalu berjalan ke kamar mandi dengan wajah yang masih ditekuk kesal.
Seperti biasa, dia membiarkan bajunya berceceran di sepanjang lantai menuju kamar mandi. Setelah masuk, dia kemudian berdiri di bawah shower lalu membiarkan tubuhnya perlahan basah oleh tetes air yang jatuh mengenai tubuhnya.
__ADS_1
"Cepat selesaikan rumor gila itu! Atau kamu harus menikah dengan wanita pilihan kakek untuk meredam berita tentangmu!"
Bayangan perkataan kakeknya dari telepon beberapa saat yang lalu, membuat Daniel mendengus kesal dengan senyum miring di bibirnya. Suasana hatinya sama sekali tidak sedang bagus kali ini, dan itu selalu terjadi setelah kakeknya menghubunginya dari luar negeri.
Kakeknya itu hanya bisa terus menekannya untuk selalu sempurna dalam segala hal, tanpa pernah melihat perasaan dan apa yang Daniel alami selama ini. Sebagai pewaris dari perusahaan yang sudah kakeknya bangun, laki-laki tua itu seolah merasa berkuasa atas dirinya, hingga mampu melakukan apa pun padanya tanpa meminta pendapatnya dulu.
Setelah hampir satu jam mengguyur kepalanya yang terasa panas, akhirnya Daniel beranjak juga dari bawah shower. Dia pergi ke ruang walk in closet kemudian mengganti baju tidur berwarna biru dongker.
Daniel menghentikan langkahnya di samping tempat tidur kemudian mengambil kotak P3K yang masih tergeletak di sana kemudian berjalan menuju sofa tempat Livia tertidur. Dia berhenti melangkah setelah jarak diantara mereka hanya tinggal satu langkah lagi. Mata tajamnya terus menyorot wajah tenang Livia yang masih tertidur dengan tenangnya.
Wajah Livia yang tengah tertidur dengan tenang seperti ini, terlihat jauh berbeda dari saat dia sedang terbangun seperti biasa. Suara napas teratur seiring dengan naik turun perut Livia terlihat bergerak sangat halus. Tanpa Daniel sadari, dirinya seolah terhipnotis dengan wajah cantik nan tenang milik sang istri, hingga perlahan dia menurunkan tubuhnya hingga bertumpu pada lutut kemudian tanpa dia sadari tangannya terulur hendak mengusap rambut sang istri.
"Eumh."
Namun, pergerakannya terhenti dengan dirinya yang terperanjat ketika melihat tubuh Livia bergerak hingga kini menjadi miring ke arahnya. Wajah keduanya kini tampak saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Daniel mengerjapkan matanya dua kali dengan napas tertahan dan tangan yang masih menggantung di atas kepala Livia.
Jantungnya ... jantungnya kenapa bisa bergemuruh seperti ini? Daniel menggeleng pelan, berusaha menyadarkan dirinya sendiri sambil menarik kembali tangannya.
A--apa yang sudah aku lakukan? Kenapa dadaku terasa bergemuruh seperti ini? batin Daniel dengan wajah yang tiba-tiba saja berubah menjadi bingung.
Sadar akan posisinya sekarang, Daniel pun hendak merubah posisisnya dengan buru-buru. Namun, gerakannya kembali terhenti ketika mendengar ringisan tertahan dari Livia. Wajahnya kini kembali terangkat dengan mata menatap Livia yang kini terlihat bergerak gelisah. Kening wanita itu tampak mengerut dalam dengan wajah yang tiba-tiba saja terlihat tegang bercampur sedih. Bahkan Daniel bisa melihat ada lelehan air yang tiba-tiba saja ke luar dari sudut mata Livia, dengan isak tangis tertahan.
__ADS_1
"Via takut, Mah," gumamnya tiba-tiba dengan suara yang terdengar sangat lirih dan sendu. Daniel bahkan hampir tak mendengar suara itu dengan jelas jika dia tidak melihat gerakan bibir Livia yang tampak bergetar.