Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.70 Cinta dab Benci


__ADS_3

Seorang wanita dengan rambut sebahu, tampak berdiri di terminal kedatangan internasional untuk menyambut seseorang yang sengaja berlibur ke sini untuk menemuinya. Senyumnya terbit begitu saja ketika dia melihat seorang wanita dan anak laki-laki berjalan ke arahnya.


"Livia, aku kangen banget sama kamu!" Wanita dewasa itu tampak menghambur pada Livia sambil berteriak riang.


"Aku juga kengen banget sama kamu, Alisya," jawab Livia sambil membalas pelukan wanita itu.


"Aunty! Aku juga mau dipeluk." Anak laki-laki yang datang bersama Alisya pun tampak menarik mantel tebal yang dipakai Livia.


"Ah, Arsya, sebulan gak ketemu kok kayaknya kamu tambah besar ya," ujar Livia sambil meraih anak itu dan menggendongnya ala anak koala.


"Uh, sudah berat sekarang," sambungnya lagi menggoda Arsya yang langsung ceberut karena ucapan Livia, hingga membuat tawa kedua wanita itu pecah seketika.


"Kak Agra beneran mengizinkan kalian ke sini sendiri?" tanya Livia ketika mereka mulai berjalan ke luar dari area bandara.


"Kamu percaya padanya?" tanya Alisya dengan wajah mengejek.


"Tentu tidak! Mana mungkin laki-laki seperti dia mau mengizinkan kalian pergi cuman berdua," jawab Livia sambil terkekeh pelan.


"Tuh, kamu tau sendiri." Alisya tampak malas.


"Dia pikir aku gak tau apa, kalau dia diam-diam menyuruh beberapa anak buahnya untuk ikut denganku. Cih, dasar posesif!" kesal Alisnya.


Livia tersenyum mendengar gerutuan kakak iparnya itu, kemudian berbicara dengan nada suara santai. "Itu tandanya Kak Agra sangat menyayangi kalian berdua, dia tidak mau terjadi sesuatu sama kamu dan Arsya."

__ADS_1


"Heem, walaupun aku kadang kesal, tapi aku tau dia berbuat begini demi kebaikan kami, makanya aku bisa mengerti," angguk Alisya.


"Akh, memang gak salah Kak Agra memilih kamu jadi istri," ujar Livia sambil menyenggol pundak Alisya.


"Hem. Kamu memang harus bersyukur karena kakakmu itu menikah dengaku, kalau sama orang lain, aku yakin kamu tidak akan cocok dengannya. Mana ada yang akan tahan dengan adik ipar dingin dan kaku sepertimu." Alisya berucap bangga, walau sedetik kemudian keduanya tampak tertawa bersama.


Setelah menempuh perjalanan cukup lama, akhirnya mereka sampai di mansion tempat tinggal Andrew dan Livia selama ini. Alisya dan Arsya memustuskan untuk istirahat dulu setelah menemui Andrew, sementara Livia harus kembali ke pusat perbelanjaan untuk bekerja.


Ya, Livia memilih mengelola pusat perbelanjaan alih-alih perusahaan besar miliknya atau milik Andrew, dia tidak mau terlau sibuk dengan dunia kerja. Kali ini Livia ingin mencoba menikmati hidupnya, setelah dendamnya terbalaskan.


Dia membatalkan rencananya untuk mengakuisisi perusahaan Daniel, setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan mendapat banyak nasihat dari semua keluarga angkatnya. Rumor tentang Daniel di hotel pun dia tutup setelah tiga hari beredar, agar tidak terlalu berdampak pada perusahaan.


Walau begitu, Livia masih belum menyerahkan saham yang sudah dia beli, hingga kini dirinya masih menjadi pemegang saham terbesar di perusahaan Daniel, meski semua itu tercatat dengan menggunakan nama perusahaannya yang sekarang dia percayakan pada seseorang untuk dikelola.


Ya, ternyata yang datang ke rumahnya dan menjualnya ke pelelangan ilegal adalah Julio. Julio dan Murti juga yang terus memfrovokasi ayah Daniel untuk melakukan pembantaian pada keluarga Livia. Saat ini, mereka berada di suatu tempat yang masih berada dalam kekusaan mafia black eagle, dan diadili menggunakan cara black eagle.


Julio mengalami kebutaan karena efek dari siksaan yang dilakukan oleh anggota black eagle, sementara Murti mengalami kelumpuhan dan kini sedang mengidap penyakit yang parah. Tidak ada peluang untuk keduanya kabur atau pergi dari tempat itu, karena di sekitar mereka banyak anak buah Agra yang selalu mengawasi selama dua puluh empat jam.


...❤️‍🔥...


Livia mengusap tengkuknya yang terasa pegal setelah beberapa jam ini terus berada di depan komputernya, dia melepaskan kaca mata dan mulai merebahkan dirinya di sandaran kursi. Dia melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Livia menghembuksan napasanya pelan, untuk kesekian kalinya dia melupakan makan malamnya.


Ya, Livia akan selalu larut jika sudah berurusan dengan pekerjaan. Wanita itu sering kali melupakan makan malam bahkan pulang dini hari kemudian kembali bekerja esok paginya. Rutinitas Livia selama di sini hanya menyibukan diri hingga dia sendiri tak sadar jika waktu masih berjalan.

__ADS_1


Walau, Livia terlihat baik-baik saja di luar, bahkan setelah kembali wanita itu menjadi ramah dan banyak tersenyum, tetapi sebenarnya tidak dengan hati dan jiwanya. Tubuhnya memang berada di sini, tetapi hati dan pikirannya terjebak di masa lalu dan perlahan mulai menggrogoti kewarasan wanita itu.


Itulah yang membuat Andrew meminta bantun Agra agar mengizinkan Alisya dan Arsya datang dan menghibur Livia. Dia berharap, dengan kedatangan menantu dan cucunya, Livia bisa ke luar dari masa lalunya dan membuka diri untuk masa depan.


Setelah membereskan meja kerjanya, Livia akhirnya memilih beranjak dan mulai berjalan ke luar dari ruangannya. Dia tidak langsung pulang, kakinya malah melangkah menuju tangga darurat yang akan menghubungkannya ke ruptop gedung itu.


Begitu pintu penghubung tangga dan ruptop terbuka, angin malam yang sangat dingin langsung terasa di kulitnya. Livia mengencangkan mantel hitam dengan bulu halus di bagian leher kemudian mulai melangkah ke luar.


Ruptop adalah tempat pavoritnya setelah kembali dari indonesia. Dia sering menghabiskan waktu di sana, menikmati kesepian yang kini seolah tengah memeluknya begitu erat hingga tak ada cara untuk melepaskannya.


Livia duduk di sebuah bangku besi yang sudah ada sejak awal, menikmati keindahan pemandangan lampu di kota yang tampak bagaikan bintang. Suhu yang sangat dingin ini membuat Livia bahkan bisa melihat napas yang ke luar dari mulutnya ketika dia menghela.


Cukup lama dia berada di sana dengan tangan dimasukkan ke saku jaket. Entah apa yang wanita itu pikirkan hingga sampai saat ini, setelah hampir dua jam berada di sana, Livia masih terlihat enggan untuk beranjak. Wanita itu tampak tidak merasakan dingin yang terus menerpa tubuhnya.


Wajahnya mendongak katika bulir kecil berwarna putih dan terasa dingin itu mulai terlihat berjatuhan, dia tersenyum pelan dengan mata yang berkaca-kaca.


"Turun salju," gumamnya pelan, dengan lelehan air mata yang dengan kurang ajarnya menerobos ke luar tanpa permisi.


"Sesak sekali, aku tidak bisa bernapas," gumamnya sambil menundukkan kembali kepalanya dan menekan bagian dadanya.


Entah kenapa, melihat salju yang mulai turun, membuat hatinya merasa sakit hingga sesak di dalam dada tidak bisa lagi dia tahan. Livia memukul beberapa kali bagian dadanya berusaha untuk meredam rasa sakit itu. Namun, semuanya hanya sia-sia, semakin dirasakan rasa sakitnya semakin terasa.


Livia akhirnya menyerah, isakan lirih mulai terdengar pili. Dia mengangkat lalu memeluk kakinya dan menelungkupkan kepalanya di sana, bahu wanita itu berguncang hebat tanda dia sedang menahan tangisnya agar tidak pecah.

__ADS_1


"Aku sudah melakukan janjiku pada keluargaku dan membuatnya hancur. Seharusnya aku senang dan merayakan keberhasilan ini. Tapi, sekarang aku malah merasa semua ini sangat menyakitkan. Bagaimana ini? Aku gak mau mengkhianati keluargaku sendiri."


__ADS_2