
"Selamat pagi, Pak," sapa kepala sekretaris begitu melihat Daniel yang baru saja datang bersama dengan Danis di belakangnya.
"Pagi," jawab Daniel sambil mengangguk kepala samar. Laki-laki itu tampak menghentikan langkahnya di depan kepala sekretaris itu kemudian bertanya dengan nada suara ramah. "Apa saja jadwal saya hari ini?"
Dengan sigap wanita berusia tiga puluh lima tahunan itu terlihat menyebutkan satu per satu jadwal Daniel hari ini secara profesional.
"Baiklah, terimakasih," angguk Daniel kemudian hendak berjalan kembali menuju ke ruang kerjanya yang memang berada di depan meja sekretarisnya. Namun, langkahnya terhenti ketika dirinya tiba-tiba mengingat sesuatu. Dia berbalik kemudian bertanya kembali dengan wajah yang masih terlihat tenang. "Apa kakek saya sudah datang?"
"Sudah, Pak. Tuan besar sudah menunggu Anda di dalam," angguk ketua sekretaris itu.
"Hem," angguk Daniel sambil kembali berbalik cukup cepat dan melangkah lebar menuju ke ruangannya. Sekretaris yang sudah bekerja dengan Daniel sejak Daniel baru mengambil alih perusahaan pun tampak melihat jelas bagaimana perubahan raut wajah atasannya itu yang terlihat menjadi begitu dingin dan sedikit tegang.
Ya, Daniel bukanlah sosok CEO yang dingin dan tak berperasaan seperti cerita di dalam novel, dia terkenal dengan sikap yang baik, ramah, dan dermawan pada para pekerjanya. Walau begitu, Daniel tidak pernah kehilangan karismanya sebagai seorang CEO yang banyak dikagumi dan dihormati para pekerja, mulai dari kalangan clieaning servis sampai para pemegang saham. Sikap Daniel yang bisa menyesuaikan di setiap kondisi, membuat mereka kagum sekaligus takut pada laki-laki yang masih cukup muda itu.
Daniel memang terlihat ramah dan murah hati, tetapi jangan salah ... Daniel bisa sangat tegas jika sudah menemukan sebuah kesalahan. Dia bahkan tidak akan berpikir panjang untuk memecat siapa pun yang berani berkhianat di belakangnya dan memberikan black list untuk orang itu, agar sulit mendapatkan pekerjaan kembali. Daniel juga termasuk sosok perfeksionis yang menuntut para pekerjanya untuk berkenan secara sempurna dan itu sesuai dengan gaji juga bonus yang dia berikan setiap bulannya.
Daniel menghembuskan napas pelan sebelum mengetuk pintu pelan. Dia baru membukanya begitu sudah mendengar jawaban dari dalam.
"Selamat pagi, Kakek," jawab Daniel sambik membungkuk samar di depan laki-laki tua yang tampak duduk tegap di belakang meja kerjanya. Kakek Banu, mengambil alih kursi kebesaran Daniel.
"Apa yang terjadi? Kenapa kalian sampai tidak pulang ke rumah dan baru datang di jam segini?" tanya Kakek Banu sambil menatap tajam Daniel dan Danis yang masih berdiri di depannya dengan kepala sedikit menunduk. Sementara Karlo yang sejak tadi berdiri di belakang kakek Banu tampak menatap Daniel dengan wajah datarnya.
"Ada sedikit urusan, Kakek. Maaf, kami tidak sempat sarapan bersama Kakek di rumah," jawab Daniel dengan tatapan dan raut wajah penuh sesal.
"Julio mulai bekerja hari ini, aku sudah memberikannya posisi, selanjutnya aku serahkan dia padamu," ujar Kakek Banu setelah mereka lama terdiam.
__ADS_1
Daniel menatap kakek Banu dengan sorot mata rumit, tangannya pun mengepal erat, menahan semua gejolak rasa yang kini menumpuk di dalam dada.
...❤️🔥...
"Bagaimana keadaanmu, Via?" tanya Agra ketika mereka berdua melakukan panggilan video.
"Aku baik. Bagaimana dengamu?" tanya Livia. Sudah sejak kedatangan kakek Banu dia tidak lagi bisa leluasa melakukan panggilan video dengan kakak angkatnya itu. Mereka hanya saling berkirim pesan ketika Agra sedang senggang.
"Aku juga baik. Seperti yang kamu lihat," jawab Agra sambil sedikit memundurkan tubuhnya hingga terlihat jelas oleh Livia.
Livia tersenyum menanggapi sikap hangat dari Agra. "Bagaimana dengan Alisya dan Gavin?" tanyanya lagi.
"Aunty, Via!" Suara teriakan dari seorang anak kecil yang terdengar sangat ceria itu terdengar bersamaan dengan munculnya anak laki-laki kecil dan seorang wanita yang sangat Via kenal.
"Baru ingat denganku sekarang? Dasar jahat!" gerutu sang wanita yang tak lain adalah Alisya --istri Agra-- wajahnya tampak merengut seperti sedang merajuk pada Livia.
"Hai, Baby! How are you?" tanya Livia memilih mengacuhkan dua orang dewasa dan berbincang dengan anak kecik itu.
"I'm fine, Aunty. I really really miss you! Kapan, Aunty main ke rumah lagi?" ujar Gavin dengan sorot mata menatap sendu.
"Uch. Aunty--"
"Via! Kamu bener-bener jahat!" Alisya yang merasa tak diacuhkan oleh Livia pun menyela obrolan diantara anak dan adik angkat suaminya itu.
Livia terkekeh ringan mendapati sikap merajuk Alisya. Walau ada rasa kecewa karena kini satu orang lagi mengetahui tentang hubungannya dengan keluarga Grissham, tetapi dia cukup senang karena kini dia bisa melihat wajah Alisya dan keponakan kesayangannya.
__ADS_1
"Sorry my sister--"
"Pakai bahasa indonesia, Livia," tekan Alisya dengan wajah merengut. Bukan karena tak mengerti ucapan Livia, hanya saja dia tidak terlalu suka berbicara dengan bahasa asing. Cukup anaknya saja sekarang yang lebih suka berkomunikasi dengan bahasa asing karena Agra dan Andrew sering mengajaknya bicara dengan menggunakan bahasa asing. Tidak untuk dirinya.
"Oke-oke." Livia masih terkekeh, begitu juga dengan Agra yang tampak tersenyum tipis melihat keakraban antara adik angkat dan istrinya. "Maaf, Alisya aku tak bermaksud," ujarnya lagi tanpa menggunakan bahasa Inggris.
"Sudahlah, sayang, yang penting sekarang kamu sudah mengetahui rahasia kami, jadi jangan merajuk lagi padanya," ujar Agra membela Livia.
"Kaak!" Alisya merajuk, dia tampak merengut kesal.
"Aku takut kamu cemburu padaku seperti ini, makanya aku memilih merahasiakannya," ujar Livia menyela.
"Aku tidak cemburu!" Alisya menatap tak terima pada Livia.
"Benarkah?" Livia dan Agra seolah sedang bekerja sama mengerjai Alisya sekarang.
"Ish, sepertinya sekarang aku menyesal mengetahui hubungan kalian!" decak Alisya sambil memutar bola matanya. Ternyata mengetahui hubungan Livia dan Agra malah membuatnya terjebak dalam permainan kedua orang itu.
Tawa Livia dan Agra pecah begitu saja, mereka terlalu senang saat berhasil membuat Alisya kesal. Seiring bertambah dewasanya mereka semua juga dengan kehadiran seorang anak yang harus dia didik dengan baik, sikap Agra tidak lagi sedingin dulu, walau memang itu hanya berlaku di tengah-tengah keluarganya saja. Tentu saja, semua itu berbeda jika dia sedang di depan orang lain atau ketika dia sedang bekerja. Sikapnya yang dulu masih lah sama.
Ketiganya pun berbincang cukup lama dengan Livia yang sesekali tertawa karena kedekatan mereka dan tingkah lucu Gavin. Hanya ketika bersama dengan beberapa orang saja Livia bisa tersenyum dan tertawa dengan tulus. Dia juga bisa merasakan menyayangi dan disayangi dengan sepenuh hati. Namun, semua itu harus terhenti ketika suara pintu yang dibanting dengan keras terdengar dari arah luar.
Livia menoleh ke arah sumber suara kemudian langsung berpamitan dengan buru-buru dan segera menutup laptop di pangkuannya. Dia beranjak kemudian menyembunyikan benda itu di tempat yang mungkin tidak ada diketahui oleh Daniel.
Segera dia menekan tombol flash di closet duduk dan beranjak mencuci tangan seolah dia baru saja melakukan suatu di sana. Setelah itu, baru Livia berjalan ke luar dengan wajah bingungnya.
__ADS_1
"Daniel?"