
Daniel mngerutkan keningnya, ketika melihat Livia semakin bergerak gelisah, perlahan tangannya terulur kemudian menepuk puncak kepala Livia dengan gerakan lembut.
"Sshh," desisnya seolah memang menenangkan anak kecil yang menangis.
Perlahan Livia mampu melawan mimpi buruknya, kerutan di keningnya mulai semakin merenggang dan akhirnya menghilang disertai dengan wajah yang kembali tenang. Setelah memastikan Livia kembali tertidur dengan tenang, kini Daniel beralih melihat bagian kaki Livia yang masih tertutup selimut. Pandangannya jatuh pada kotak P3K yang sejak tadi dia pegang.
Daniel menghembuskan napas pelan sambil bergerak beberapa langkah hingga terhenti di samping kaki Livia. Perlahan, dia mengambil selimut berwaran abu-abu tua yang menutupi kaki Livia, kemudian membukanya dengan gerakan sangat hati-hati.
Matanya memicing dengan alis bertaut ketika melihat ada beberapa luka kulit terkelupas hingga menyebabkan warna merah keunguan di sana. Dia berdesis pelan, ketika melihat kaki sang istri yang terlihat sangat mengenaskan. Daniel tidak pernah tahu jika kaki Livia terluka cukup parah, karena memang wanita itu tidak pernah mengeluh.
Perhatiannya beralih pada kotak P3K, kemudian membukanya dan mengambil beberapa alat pertolongan pertama yang dia butuhkan. Dengan sangat hati-hati dia memberikan pengobatan pada luka di kaki Livia sambil memastikan sang pemilik kaki tidak terganggu dalam tidurnya.
Daniel baru menutup kembali kaki Livia kemudian beranjak dari tempatnya dan memilih duduk di sofa single yang ada di sana. Dia membereskan kembali kotak P3K kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Daniel terlihat menghembuskan napas berat sambil kembali melihat wajah Livia dengan sorot mata rumit. Entah apa yang sekarang dirasakan oleh seorang Daniel, mungkin hanya dia lah yang tahu, atau bahkan dia juga tidak mengerti dengan perasaannya saat ini?
Daniel berada dalam posisi yang sama dengan waktu cukup lama, dia baru beranjak ketika jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, kemudian memilih merebahkan diri dan menutup mata setelah beberapa saat kembali menatap Livia, memastikan tidur istrinya itu tidak terganggu oleh apa pun.
Daniel mendengus kesal setelah sadar semua yang telah di lakukan. Entahlah, mengapa dia berbuat seperti itu kali ini? Semuanya seolah terjadi sendiri tanpa bisa dia kendalikan. Namun, kini dirinya merasa melakukan hal yang sia-sia. Keningnya bertaut karena merasa bingung dengan apa yang dia lakukan.
.
__ADS_1
Pagi harinya berita tentang kejadian tadi malam di acara penerimaan penghargaan yang sangat menggemparkan hampir seluruh negara. Kedatangan seorang pengusaha muda yang sedang santer dikabarkan menyukai sesama jenis karena sudah lama tidak terlihat berhubungan dengan seorang wanita, kini tampak datang dengan menggandeng seorang wanita cantik yang dia akui sebagai istrinya.
Televisi, berita online bahkan artikel dan surat kabar, semuanya seolah sedang serempak untuk membahas acara semalam, tentu saja bersama dengan kedatangan Daniel dan Livia.
"Gimana perkembangan beritanya?" tanya Daniel ketika dia sedang berada di dalam mobil bersama dengan Danis. Keduanya sedang dalam perjalanan menuju ke kantor.
"Cukup bagus. Tapi, apa ini akan disambut baik sama Kakek? Dia pasti tidak akan setuju kalau tau latar belakang Livia," jawab Danis yang mulai merasa resah dengan reaksi kakeknya nanti.
Kakeknya itu adalah tipe orang yang keras, dia tidak menyukai ada sedikit cacat saja. Danis melihat sendiri, bagaimana Daniel dididik dengan sangat keras, karena dia siapkan untuk menjadi seorang penerus. Semua itu membuat Danis mengkhawatirkan kakaknya dan Livia yang menikah tanpa memberitahu laki-laki tua itu lebih dulu, bahkan ini tidak ada kepentingan untuk bisnis dan perusahaan juga.
"Tenang saja. Aku pasti bisa mengatasinya," jawab Daniel dengan nada suara yang datar.
...❤️🔥...
Livia terdiam di dalam kamar, dengan laptop yang terbuka di depannya. Dia baru saja melihat beberapa artikel tentang pernikahannya dan Daniel di berbagai berita online. Dia menghembuskan napas kasar sambil menutup mata dan menyandarkan tubuhnya di kursi. Pikirannya melayang pada apa yang akan terjadi dengan hubungan keduanya. Hubungan yang sekarang sudah tersebar dan diketahui oleh banyak orang.
Entah sampai kapan, hubungan ini akan bertahan dengan dendam yang dirinya pendam? Hanya saja, dia ingin membuat Daniel jatuh cinta padanya hingga akhirnya dia bisa mencampakkan Daniel sekaligus merebut semua hartanya. Menurut Livia, itu akan membuat Daniel merasakan sakit seperti yang dia rasakan. Kehilangan orang yang dicintainya, sekaligus dengan harta. Bukankah itu seperti yang dia dan keluarganya rasakan? Walau mungkin itu tidak sesakit dirinya yang harus melihat keluarga dan seluruh pekerja rumahnya meregang nyawa, nyaris di depan matanya sendiri.
"Selamat datang di misi utama yang harus kamu lakukan, Livia. Semua ini demi semua nyawa kedua orang tuaku dan kakakku ... aku tidak bisa mundur lagi mulai sekarang," gumam Livia sambil mengepalkan tangannya sangat erat. Dadanya bergemuruh hebat, ketika mengingat wajah-wajah yang telah meregang nyawa di rumahnya, karena ulah keluarga Daniel.
__ADS_1
...❤️🔥...
"Besok pagi kita akan mengadakan konferensi pers untuk membicarakan berita yang beredar sekarang. Kita akan datang sebagai sepasang suami istri!" ujar Daniel penuh penekanan, ketika mereka duduk bersama di sofa kamar yang biasanya menjadi tempat tidur Livia setiap malam.
"Aku dan Danis sudah mempersiapkan semuanya, kami hanya tinggal berdandan sebaik mungkin dan jangan sampai mempermalukanku di depan para wartawan yang akan menghadiri acara konferensi pers besok," sambung Daniel lagi.
"Baju dan yang lainnya akan datang besok pagi, kamu hanya tinggal memakainya saja." Daniel menyandarakan tubuhnya di sandaran kursi, dia menatap Livia dengan senyum miring di bibirnya tipisnya.
Semua yang menjadi protes Livia waktu akan datang ke acara malam penerimaan penghargaan sudah dia siapkan sekarang, jadi seharusnya Livia tidak memiliki alasan untuk menolak keinginannya lagi.
Namun, setelah lima menit berlalu, Daniel kembali dibuat bingung dengan reaksi Livia saat ini. Wanita itu tampak masih saja diam dengan mata yang terus menatap Daniel, hingga selama itu kamar bernuansa maskulin itu terasa sunyi dan sepi, karena tidak ada yang memiliki inisiatif untuk memulai pembicaraan lebih dulu.
"Kamu, mengerti 'kan?" tanya Daniel, yang takut Livia tidak bisa mengerti dengan penjelasan panjang lebar yang dia buat dan katakan dengan sangat susah payah.
"Hem." Livia hanya menjawab dengan gumaman singkat sambil mengangguk samar.
"Hem?" Daniel tampak mengulang gumaman Livia dengan salah satu alis yang terangkat, seolah sedang bertanya.
Livia memutar bola matanya malas, walau akhirnya kembali membuka suara dengan nada yang terdengar malas. "Aku hanya perlu mempersiapkan diri agar tidak mempermalukan kamu."
__ADS_1
Daniel mengangguk puas dengan wajah datarnya. "Good."