
Daniel tersenyum sambil membuka matanya ketika dia memastikan jika Livia sudah masuk ke walk in closet untuk menyimpan bantal dan selimutnya. Ya, sebenarnya Daniel sama sekali belum tidur, dia asik memandangi wajah tenang Livia hingga lupa waktu dan tiba-tiba wanita itu terbangun. Dengan panik, Daniel pun memilih berpura-pura tidur di sofa agar wanitta itu tidak curiga.
"Bisa-bisanya dia mengira kalau ini mabuk?" ujar Daniel sambil menahan tawa dan menggelengkan kepala pelan.
"Bisa-bisanya aku baru sadar, kalau dia itu ternyata lucu juga," sambung Daniel lagi sambil meregangkan tubuhnya yang terasa sangat pegal. Laki-laki itu pun tampak menguap lebar dengan rasa kantuk yang mulai menyerang.
Perlahan Daniel beranjak dari kursi dan berjalan menuju ke ranjang. Dia menjatuhkan tubuhnya sembarangan dan tanpa waktu lama dia sudah bisa terlelap dalam tiudrnya.
❤️🔥
Livia baru saja menyelesaikan menata sarapan di meja makan ketika mami Luci datang menyapanya. Setelah sedikit berbincang dengan wanita paruh baya itu, Livia pun berpamitan untuk memanggil Daniel dan Danis.
Namun, baru saja dia beranjak ingin pergi dari sana, Livia berpapasan dengan Murti dan Julio, dengan tidak sopannya, Julio mengerlingkan mata genit pada Livia, seakan dia tengah menggoda Livia secara diam-diam.
Livia tak menanggapi itu semua, dia hanya kembali menatap Mami Luci karena merasa berat meninggalkan wanita itu sendiri bersama dengan Murti dan Julio.
"Gak apa-apa, kamu ke atas aja. Lagian ada pelayan di sini." Seakan mengerti kekhawatiran Livia, Mami Luci pun memberikan pengertian pada menantunya itu.
Livia mengangguk, sambil menatap sinis pada Murti dan Julio, kemudian berkata lembut pada Mami Luci sebelum dia beranjak pergi. "Mami jaga diri baik-baik ya."
"Heem," angguk Mami Luci dengan senyum yang malah terlihat sedikit geli.
'Aku senang kamu ada di sini dan menjadi menantuku, Livia, batin Mami Luci sambil menatap Livia yang kini mulai berjalan jauh dari mereka.
"Senang sekali sepertinya memiliki menantu yang sangat baik seperti dia," ujar Murti sinis sambik duduk di kursi.
Mami Luci tersenyum, dia bukan tidak mengerti dengan ucapan sarkas dari Murti. Mami Luci hanya tidak mau membuat masalah di rumah ini.
"Aku bersyukur karena memiliki anak dan menantu yang baik seperti mereka. Aku yakin, kasih sayang Livia kepadaku tidak berbeda dari anak-anakku, karena aku pun tidak membedakan kasih sayangku padanya. Aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri," jawab Mami Luci panjang lebar.
Murti tampak terkekeh ringan ketika mendengar ucapan Mami Luci. Dia tentu tidak percaya dengan semua yang Mami Luci katakan.
"Enggak usah terlalu percaya diri. Mana ada menantu dab mertua perempuan yang bisa akur ... gak usah mimpi! Lihat saja nanti, aku yakin sebentar lagi menantu kebanggaanmu itu akan menunjukkan sifat aslinya." Murti berucap dengan nada sinis dan sedikit menantang.
__ADS_1
Sejak kejadian Livia yang mengancamnya menggunakan video racun itu, Murti sudah sangat membencinya. Dia ingin sekali membuat Livia ke luar dari rumah ini, agar tidak ada yang bisa memghanginya mencelakai Mami Luci. Namun, entah kenapa, setiap kali Murti berasa di dekat Livia, nyalinya seolah menciut secara tiba-tiba, hingga dia tidak bisa melakukan apa pun.
Mami Luci tersenyum lembut, ucapan Murti sama sekali tidak dia percaya, mengingat selama ini dirinya sendiri yang merasakan kasih sayang Livia.
"Silahkan Mbak berbicara apa pun tentang Livia. Tapi, itu semua tidak akna membuat aku ragu sama menantuku," jawab Mami Luci, masih dengan nada santai.
❤️🔥
Livia langsung masuk ke kamarnya begitu dia selesai memberitahu Danis untuk sarapan bersama di bawah. Namun, keningnya mengernyit ketika melihat Daniel yang masih bergelung dengan selimutnya.
Livia menghembuskan napas kasar sambil melangkahkan kakinya menuju ke dekat tempat tidur Daniel.
"Daniel," panggil Livia tanpa melakukan apa pun. Dia hanya berdiri diam tepat di samping Daniel.
Namun, tak menunjukan tanda-tanda akan bangun dari tidurnya. Laki-alki itu bahkan masih terdengar mendengkur halus dengan bibir sedikit terbuka.
"Ya ampun, dia tidur jam berapa sih tadi malam?" gumam Livia sambil menggeleng lemah.
Livia menghembuskan napas lelah kemduian sedikit menundukkan tubuhnya untuk membangunkan Daniel sambil menoel lengaannya.
"Daniel, bangun," ujar Livia sambil terus menoel tangan bagian atas Daneil.
"Daniel, mami udah nunggu buat sarapan bareng di bawah." Livia kembali mencoba mmebangunkan suaminya itu.
'Kebo banget sih, gak kayak biasanya, batin Livia, dengan tatapan yang mulai curiga pada Daniel. Livia takut jika sebenarnya daniel sudah bangn sejak tadi dan sekatrang dia sedang menahannya.
Livia terus menatap Daniel hingga akhirnya di menemukan sebuah ide untuk membangunkan laki-laki yang tengah tertidur pulas, hingga tiba-tiba sebuah ide trlintas di kepalanya.
'Awas saja kalau cara ini masih belum mempan, Daniel. AKu bawa kamu ke kamar mandi agar bisa aku guyur menggunakan air dingin dari kamar mandi.
"Daniel!" Kini Livia yang sudah tidak mampu bersabar lebih lama lagi pun memanggil Daniel sambil meninju pelan lengan suaminya itu.
Namun, sedetik kemudian Livia merasa sangat menyesal karena sudah melakukan hal itu, karena kini dia terjatuh tepat di atas tubuh Daniel dengan jarak wajah mereka yang sangat dekat.
__ADS_1
Ya, Daniel yang sebenarnya sudah bangun sejak beberapa saat lalu kini mencari perhatian Livia, dia sengaja menarik tangan Livia dengan cepat hingga wanita itu tidak ada kesempatan untuk bertahan atau melawan.
Keduanya terdiam dengan mata bertaut. Untuk sesaat tubuh mereka seakan kaku hingga sulit untuk digerakan. Mata keduanya bertaut dalam, mereka tampak sama-sama berusaha menyelam mencari suatu yang mungkin tersimpan di dalam sana.
Namun, itu tak berlangsung lama. Livia yang sudah sadar dengan semua yang sudah terjadi pun akhirnya buru-buru bangkit kembali dengan suasana yang tiba-tiba berubah canggung.
"Maaf, aku refleks tadi," ujar Daniel sambil beranjak duduk setelah Livia sudah berdiri tegak kembali.
"Ekhm! Cepat ke bawah, semuanya sudha menunggu untuk sarapan bersama." Livia tak memperdulikan ucapan Daniel, dia lebih memilih menyampaikan tujuannya dan segera berjalan cepat menuju pintu ke luar.
"Iya, aku sebentar lagi turun," jawab Daniel sambil tersenyum simpul.
Sementara Livia langsung menutup pintu dengan sedikit kencang karena gugup yang tiba-tiba melanda. Dia menyandarkan tubuhnya di daun pintu dengan tangan berada di dada yang terasa sesak karena debar jantungnya yang tidak biasa.
"Ada apa ini? Kenapa aku jadi begini?" gumam Livia, mulai bingung dengan perasaannya sendiri. Beberapa bulan menyandang status sebagai istri Daniel dan tidur di kamar yang sama, baru kali ini Livia dan Daniel berada dalam kondisi yang sangat intim seperti tadi.
Livia terkejut bukan main, dia yang sangat menjaga jarak dari lelaki, kini malah terasa semakin dekat dan sering bersentuhan dengan Daniel dan itu selalu membuat hatinya bimbang dan tak menentu.
"Enggak, ini gak bisa terjadi. Aku harus tetap dalam rencana awal, jangan sampai aku terbawa perasaan pada laki-laki itu," gumam Livia sambil menggeleng pelan. Dia menghembuskan napas kasar mencoba untuk menetralkan debar jantungnya lagi. Berulang kali, Livia melakukan itu agar perasaannya lebih tenang.
Namun, baru saja dia merasa sudah siap untuk kembali ke lantai satu dan menemui Mami Luci, ternyata pintu kamar sudah lebih dulu terbuka dan menampilkan seorag Daniel yang sudah tampak segar walau Livia yakin laki-laki itu hanya mencuci wajah saja.
"Lho, kamu nungguin aku?" tanya Daniel sambil tersenyum lembut.
"E--enggak! Kata siapa aku nungguin kamu. A--aku hanya ...." Livia gelagapan, dia bingung harus menjawab apa.
Daniel terkekeh pelan, dia kemudian melangkah maju mendekati Livia dengan gaya santainya. Lalu berkata sesuatu yang tidak berbahaya dia katakan sebelumnya, hingga mmebuat Livia bahkan butuh beberapa waktu untuk mencerna semuanya. "Nunggui juga gak apa-apa. Aku suka."
Tanpa aba-aba, Daniel langsung membawa tangannya ke pundak Livia dan merangkulnya, sambil berjalan menuju ke arah tangga.
Tubuh Livia menegang, untuk sesaat bahkan dia merasa tidak bisa berfikir dengan jernih. Mata Livia melirik pada Daniel yang tampak selalu tersenyum dan terlihat jauh lebih bersemangat dari hari-hari sebelumnya.
'Kenapa dia? Apa dia sakit? batin Livia dengan wajah bingungnya, walau tanpa sasar dia juga membiarkan Daniel merangkulnya sambil berjalan.
__ADS_1