
Jam sepuluh malam, Livia dan Daniel masih berada di jalan, akibat sempat terjebak macet setelah ke luar dari restoran, tempat mereka berdua makan malam.
Daniel memutuskan untuk ke luar dari jalan besar dan mencari jalan alternatif, untuk mempersingkat waktu, mengingat sejak tadi Ares sudah menelepon, karena keduanya telat.
Namun, begitu mereka ke luar dari kemacetan dan mulai melewati jalan pinggir kota yang tidak terlalu ramai, Livia dan Daniel merasakan sesuatu yang janggal.
"Kayaknya mobil di belakang sedang mengikuti kita," ujar Livia sambil menoleh ke arah belakang.
Daniel melihat kaca sepion luar dan dalam secara bergantian sambil terus menyatir. "Iya, aku juga merasa begitu."
"Kita cari jalan yang sepi, aku harus tahu siapa mereka," ujar Livia tanpa takut. Matanya terus memperhatikan mobil van berwarna hitam di belakangnya.
"Tidak. Bagaimana kalau mereka membawa banyak orang sedangkan kita hanya berdua. Lebih baik kita mencari kantor polisi saja," bantah Daniel merasa khawatir dengan keselamatan Livia.
"Mereka akan terus berulah jika kita hanya lari, Daniel. Takutnya nanti mereka malah mengikuti kita pada saat kita sendiri." Livia masih dalam pendiriannya.
"Tidak, pokoknya kita ke kantor polisi saja, aku tau kantor polisi terdekat dari sini," kukuh Daniel sambil mulai mengambil arah berbeda dari jalan pulang.
Livia tak menjawab, dia hanya terus diam sambil melihat waspada mobil van yang berjarak tidak jauh dari mobil mereka.
Beberapa saat kemudian, Daniel berhasil membelokkan mobilnya ke kantor polisi terdekat, dia berhenti di sana kemudian menunggu hingga mobil yang mengikuti mereka pergi. Laki-laki itu pun akhirnya melanjutkan perjalananya setelah berhenti sekitar tiga puluh menit di kantor polisi.
"Semuanya tidak harus diselesaikan dengan kekerasan, bukan?" ujar Daniel begitu dia sampai di rumah Agra dengan selamat.
"Heem," angguk Livia.
"Makasih udah ngater aku pulang. Kamu hati-hati di jalan, ya," sambung Livia lagi.
"Iya, sayang," jawab Daniel sambil mengusap pelan rambut Livia.
Mereka pun berpisah begitu saja di depan rumah Agra.
"Cari tahu tentang flat mobil ini, dia berani membuntuti kami tadi," ujar Livia sambil menyerahkan selembar kertas berisi tulisan flat nomor mobil pada salah satu anak buah Agra.
__ADS_1
"Baik, akan aku cari tau segera dan melaporkannya," jawab salah satu anak buah Agra yang juga teman Livia di dalam anggota mafia.
"Oke, aku tunggu kabar dari kamu," angguk Livia kemudian segera pergi dari sana.
Malam itu, memang tidak ada yang terjadi pada Livia maupun Daniel, mereka semua selamat sampai di rumah. Namun, Livia masih saja resah, jika belum menemukan sumber masalah. Apa lagi sekarang dia juga harus melindungi Ares. Sebagai ibu, Livia tentu tidak mau ada sesuatu yang berbahaya di sekitar anaknya.
Siang harinya, Livia sudah mendapatkan laporan yang dikirimkan oleh salah satu anak buah Agra tentang informasi mengenai mobil itu. Dia mengepalkan tangannya, ketika mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Jadi mereka adalah anak sisa anggota geng tempat Julio bekerja? Bukannya, kita sudah memastikan tidak ada yang tersisa ketika membantainya?" tanya Livia dengan kening berkerut dalam.
Dia sangat yakin, jika Agra bilang kalau semuanya sudah diselesaikan sebaik mungkin, tetapi kanapa sekarang tiba-tiba muncul seseorang dari geng itu dan ingin membalas dendam padanya?
"Kita melupakan sesuatu. Ternyata mereka masih memiliki anggota yang saat itu sedang dipenjara, sekarang mereka sudah ke luar dan mulai mencari siapa yang memusnahkan geng itu. Sepertinya dia mulai mengendus jika itu adalah perbuatan kita. Tapi, ada yang terasa janggal, karena mereka mencari kamu, bukan salah satu dari kami atau ketua yang memimpin penyerangan malam itu," jelas laki-laki dengan kepala pelontos yang berada di depan Livia.
"Iya. Jelas-jelas, aku tidak pernah ikut dalam penyerangan malam itu, tapi kenapa mereka malah mengincarku dan Daniel? Ini pasti ada sesutu yang belum kita tau. Coba cari lagi segala kemungkinan yang ada dan laporkan kepadaku," ujar Livia sambil terus berpikir dan mencari sesutu yang mungkin bisa menjadi petunjuk.
"Baik. Aku akan berusaha yang terbaik," jawab laki-laki itu.
Sudah seminggu berlalu, kini Livia sedang mengemudi dengan Ares di sampingnya. Keduanya baru saja pulang dari rumah Mami Luci. Hari ini Daniel sedang ada tugas ke luar kota, hingga dia tidak bisa menemani Livia ke mana pun.
Gerimis tampak mengiringi perjalanan mereka sore itu. Livia asik berbincang hal apa saja bersama Ares sambil terus menyetir dengan kecepatan stabil, mengingat jalanan yang terasa ramai lancar.
Tidak ada yang terasa mencurigakan, bahkan Livia sudah hampir melupakan tentang geng yang pernah mengikutinya itu. Wanita itu pikir, mungkin mereka sudah tidak berani lagi mencari masalah setelah hari itu.
Namun, ternyata perkiraannya salah, karena kali ini, tiba-tiba mobilnya dipepet oleh mobil yang sama dengan kejadian seminggu lalu. Mereka terus berusaha untuk mendekati mobil Livia dan membuatnya ke luar dari jalur.
"Sial! Mereka mengangguku pada waktu yang salah," gumam Livia sambil terus mengendalikan mobilnya.
"What happened, Mama?" tanya Ares yang merasa cara mengemudi Livia tidak seperti biasanya.
"Gak apa-apa, sayang," jawab Livia masih mnecoba untuk tenang di depan anak laki-lakinya itu.
"Sayang, boleh mama minta tolong?" tanya Livia sambil mengambil ponselnya di tas dengan satu tangan, sedangkan tangan lainnya masih menahan setir.
__ADS_1
Ares mengangguk.
"Tolong telepon Om Agra atau Om Edo dan berikan lokasi kita pada mereka," ujar Livia.
Brak!
"Mama!"
Tanpa aba-aba, mobil van berwana hitam itu membentur mobil Livia di bagian sisi hingga mobil Livia kini terhimpit di antara pembatas jalan dan mobil van hitam itu.
"Gak apa, sayang. Sekarang lakuin apa yang mama minta ya, sayang," ujar Livia dengan keringat yang mulai muncul di keningnya.
Sungguh, jika sekarang dia sedang sendiri, itu mungkin terasa lebih baik. Namun, keadaannya berbeda karena saat ini dia sedang bersama dengan Ares. Livia tidak bisa bertindak gegabah dan membahayakan anak laki-lakinya itu.
Livia menginjak pedal rem sekuat tenaga hingga mobilnya berhenti mendadak dan membuat mobil van hitam itu terpaksa melepaskannya, setelah itu Livia berusaha masuk ke tengah jalan dan menginjak pedal gas dengan cukup kencang untuk menyalip mobil van yang tampak langsung mengejarnya.
"Sudah aku kirim pesan, Ma. Om Agra dan Om Edo gak angkat telepon," ujar Ares.
"Iya, gak apa-apa. Makasih, sayang. Kamu memang anak pintar, sekarang berpegangan ya," jawab Livia.
Untung saja dia selalu menggunakan carset untuk anaknya, hingga dia tidak perlu khawatir Ares terbentur ketika dia harus melakukan beberapa hal ekstrim kali ini.
Namunn, kini situasi semakin serius, ketika dia menyadari jika mobilnya malah diapit oleh empat mobil di samping, depan, dan belakang, hingga terpaksa Livia harus mengikuti arahan mereka.
"Ma, kenapa kita ke sini?" tanya Ares ketika dia menyadari jika jalan yang diambil oleh Livia bukanlah jalan pulang.
"Gak apa-apa, Mama cuman mau mengambil jalan lain," jawab Livia masih berusaha tenang.
"Tapi mobil itu kenapa terus menempel ke mobil kita?" tanya Ares lagi.
"Gak apa-apa," jawab Livia. Jantungnya mulai berpacu, ketika dia menyadari jika kini dirinya mulai diarahkan ke arah luar kota.
'Sebenarnya mereka mau membawaku ke mana?' gumam Livia dalam hati sambil berharap Agra dan Edo segera menyusul dirinya.
__ADS_1