
Siang harinya, Daniel memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama dengan Mami Luci, Livia, dan Danis. Daniel membawa mereka untuk melakukan piknik di halaman belakang rumah dan menemani Mami untuk merawat tanamananya di rumah kaca.
Mereka asik melakukan banyak hal walau itu hanya di dalam rumah. Sementara Murti dan Julio hanya bisa menatap kebersamaan mereka dengan tatapan iri dan dengki.
Menjelang sore, Daniel dan Danis pun memilih beristirahat sambil bermain game di ruang keluarga, sementara Livia dan Mami Luci memilih untuk membuat camilan di dapur, dengan dibantu oleh beberapa pelayan.
"Sudah jadi. Ayo kita bawa ke ruang keluarga, Daniel dan Danis pasti suka," ujar Mami Lucia dengan senyum penuh semangat.
"Ayo," angguk Livia sambil mulai membawa nampan berisi kue yang barusan aja mereka buat dan minuman, sementara Mami Luci mulai menggerakkan kursi rodanya menggunakan pedal yang ada di salah satu tangannya.
Ya, setelah Livia menikah dengan Daniel, Mami Luci memutuskan untuk menggunakna kursi roda yang bisa bergerak sendiri tanpa didorong, hingga dia lebih leluasa dalam bergerak tanpa menunggu pelayan lain membantunya.
"Makanan siap!" teriak Mami Luci begitu mereka berdua memasuki ruang keluarga.
Daniel dan Danis yang sednag fokus pada layar televisi dan konsol gawe di tangan mereka pun menoleh secara bersamaan. Di saat itu pula Daniel memanfaatkan situasi untuk memenangkan permainan dari Danis.
"Yeah, aku menang!" teriak Daniel yang langsung disambut oleh gerutuan dari Danis karena merasa dicurangi oleh kakaknya.
"Ish, Kak Daniel menang karena curang! Itu gak bisa dong," ujar Danis sambil menaruh konsol game di atas karpet kemudian beralih ke sofa dan bersiap untuk menyantap kue buatan Livia dan Mami Lucia sebelumnya.
"Wah, wanginya enak banget ini, Mami!" seru Danis sambil mulai mengabil kue yang baru saja akan disimpan di atas meja oleh Livia kemudian memakannya.
"Eum, ini enak banget! Mami sama Livia emang the best deh," seru Danis lagi dengan mulut yang masih penuh.
"Danis, yang bener kalau makan," tegur Mami Luci yang hanya mendapat cengiran bersalah dari Danis.
Sementara itu, Daniel pun ikut menyusul duduk di sofa, dia mengambil cangkir teh yang masih berada di tangan Livia sambil menatap wanita itu dengan sorot mata penuh damba. "Makasih, Livia," ujar Daniel tepat didepan wajah Livia yang setengah membungkuk.
__ADS_1
Livia mengerjab beberapa kali sebelum akhirnya dia segera menjauhkan tubuhnya dan berdiri tegak kembali saat wanita itu sadar akan posisinya dan Daniel yang terlalu intim.
"Ya ampun, kayaknya kita salah tempat deh, Mami," ujar penuh drama Danis sambil menatap Daniel dan Livia yang seperti ingin berciuman. Sementara Mami Luci hanya mengulum senyum ketika melihat wajah Livia yang tampak merona karena godaan dari Danis.
"Udah halal, Bro. Makanya cepat cari cewek yang bener, biar bisa kayak kita," jawab Daniel dengan santainya, yang membuat Livia langsung melebarkan matanya.
'Dih, sejak kapan dia sama aku jadi halal? Kita hanya menikah di atas kertas kok, batin Livia menghardik perkataan Daniel.
Usai mengatakan itu pada Danis, dia pun meminum santai teh hangat buatan Livia tanpa mengalihkan pandangannya pada wanita yang kini hanya meringis pelan, merasa aneh dengan sikap Daniel yang terasa sangat berubah dari sebelumnya.
"Bau-bau bucin udah tercum nih, Mami. Siap-siap aja kita dibikin mual terus sama pasangan ini," ujar Danis sambil melirik ke arah Daniel dan Livia dengan senyum menggoda.
Livia tak menanggapi, dia memilih duduk di samping Mami Luci untuk menjauhi Daniel. Sungguh, hatinya sekarang sedang tak berada dalam kendalinya. Kini, dia sedang butuh sebuah ketenangan untuk mereda debar jantungnya yang terasa begitu cepat.
Mami Luci tak menanggapi lagi ucapan Danis, dia hanya menggenggam tangan dingin Livia sambil tersenyum hangat pada menantunya.
Livia terdiam dengan wajah bingung hingga gerutan di keninggnya terlihat semakin dalam. Sejak siang tadi, dia memnag tidak sempat masuk ke kamarnya kerena terlalu sibuk menemani Mami Luci.
Kini, Livia dibuat terkejut dengan keadaan kamarnya dan Daniel yang terlihat lebih luas dari biasanya. Bagaimana tidak. Saat ini, dia sama sekali tidak lagi melihat keberadaan sofa yang biasa dia gunakan untuk tidur setiap malam.
"Ke mana sofa di sini? Tadi pagi aku masih melihatnya," ujar Livia bertanya pada dirinya sendiri. Kakainya melangkah cepat menuju tempat biasa sofa itu berada yang kini hanya terlihat sebuah karpet beludru sebagai gantinya.
"Sofa itu aku buang," jawab Daniel dengan suara enteng.
Livia menoleh pada asal suara, dia melihat Daniel yang tengah melangkah dari kamar ke luar dari kamar mandi. Sepertinya laki-laki itu cukup peka untuk tahu apa yyang sekarang Livia pikirkan.
"Kenapa?" tanya Livia langsung, kini dia menghadap penuh pada Daniel yang tengah berjalan menghampirinya.
__ADS_1
"Aku sudah bosan," jawab Daniel tak acuh.
"Hah?!" Livia revleks berteriak di depan Daniel. Sungguh, sofa itu masih sangat bagus tanpa ada lecet sedikit pun. Namun, kini laki-laki itu dengan mudah membuangnya begitu saja.
"Ck, ck, ck, dasar boros. Sofa itu masih bagus dan sangat nyaman, untuk apa kamu buang?" tanya Livia langsung.
"Aku bilangs udah bosan, tidak ada lagi," jawab Daniel sambil tersenyum penuh maksud.
"Lalu aku mau tidur di mana kalau sofa itu kamu buang, Daniel?" tanya Livia sambil mengeratkan giginya. Jika sampai Livia kehilangan kendali dan melukai Daniel, bisa-bisa semua rencananya kana berakhir begitu saja.
"Tuh!" tunjuk Daniel pada ranjang king size miliknya. "Ranjangku cukup besar untuk kita tidur berdua," sambungnya lagi.
Livia meringis pelan sambil menatap wajah Daniel dengan tatapan protes, dia sama sekali tidak mau tidur di ranjag yang sama dengan Daniel.
Livia terdiam sambil melirik Daniel tajam. Walaupun itu hanya sebuah candaan, Livia tetap tidak suka. Dia tidak pernah membayangkan akan jika harus tidur satu ranjang dengan Daniel.
"Kita lihat saja nanti," jawab Livia sambil beranjak menuju kamar mandi. Tubuhnya sangat gerah sekarang, dia ingin membersihkan diri sebelum melakukan makan malam bersama di bawah.
Daniel tersenyum penuh percaya diri. Dia yakin jika rencananya kali ini untuk lebih dekat dengan Livia akan berjalan baik.
"Mana mungkin dia mau tidur di lantai, kan?" gumam Daniel sambil menatap lantai yang tertutup karpet bulu di bawahnya.
Namun, ternyata semua perkiraan Daniel langsung terpatahkan ketika Livia benar-benar memilih tidur beralasan karpet bulu di lantai. Dia membawa boneka lumba-lumba kesayangannya dan selimut berwarna biru muda itu dan memilih berbaring di atas lantai tanpa ada ragu sedikit pun.
"Ka--kamu?" Daniel tidak bisa berkata apa-apa lagi saat melihat wanita itu malah memilih tidur di lantai daripada tidur nyaman bersamanya di atas ranjang.
"Dasar aneh!" gerutu Daniel sambil memilih untuk merebahkan dirinya dengan gerakan kasar.
__ADS_1