Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.75 Datang ke kantor


__ADS_3

"Kamu kayaknya seneng banget hari ini, ada apa nih?" tanya Agra begitu mereka bertemu di meja makan untuk melakukan sarapan bersama.


"Iya dong, Om. Kan, hari ini aku mau ketemu Papa," jawab Ares polos.


Mendengar jawaban Ares, Agra langsung melihat ke arah Livia, seolah mencari kebenaran dari ucapan Ares. Walau kemarin dia sempat mendengar ucapan Livia yang menyetujui permintaan Ares, tetapi dia tidak menyangka kalau akan secepat ini.


"Dia terus merengek sepanjang malam, bahkan hampir tidak tidur," gerutu Livia sambil menyiapkan sarapan untuk anaknya.


Agra tersenyum tipis saat melihat ekspresi masam di wajah adik angkatnya. Dia kemudian kembali berbicara dengan nada santai. "Mau aku antar?"


"Gak usah, aku pergi sama Max aja, kan selama ini dia yang selalu mewakili aku rapat," jawab Livia dengan nada datar.


Agra mengangguk pelan sebagai jawaban. Selama ini memang Max yang dia tugaskan untuk mewakili Livia, mengingat Edo sudah banyak diketahui orang jika itu adalah asisten pribadinya. Untung saja anak buahnya itu cukup bisa diandalkan hingga selama enam tahun ini tidak pernah mengecewakan.


...❤️‍🔥...


Siang harinya, Livia pun membawa Ares pergi ke perusahaan Daniel untuk menemui laki-laki itu. Dia sengaja tidak membawa Ares ke rumah, mengingat jika siang hari Daniel pasti ada di kantor. Selain itu, Livia juga belum siap untuk bertemu dengan Mami Luci.


Livia terlalu mau menemui wanita tulus dan baik itu, karena sudah terlalu banyak mengecewakannya.


Begitu sampai di kantor, Livia dan Ares langsung turun dari mobil yang dikendarai oleh Max. Kedatangan Livia yang sudah tampak berbeda juga didampingi oleh laki-laki lain dan seorang anak, berhasil merebut banyak perhatian para karyawan yang kebetulan berada di area pintu masuk perusahaan.


Ada yang tampak masih mengenal Livia sebagai mantan istri Daniel, ada juga yang mengenali Max sebagai pemegang saham terbesar perusahaan. Namun, sebenarnya bukan itu yang menjadi fokus utama mereka. Kehadiran anak laki-laki yang tampak ceria lebih terlihat menarik untuk diperhatikan. Hingga kini mereka asik berbisik tentang Ares yang membuat mereka semua bingung dan penasaran.


Namun, baru saja ketiganya hendak masuk beberapa langkah ke lobi kantor, tiba-tiba telepon Livia berdering, begitu dia melihatnya ternyata itu adalah salah satu staf kantor salah satu pusat perbelanjaan miliknya di negara A.

__ADS_1


"Max, sepertinya aku harus menjawab telepon ini, kalian berdua masuk saja duluan," ujar Livia sambil menatap dua laki-laki berbeda usia di depannya.


"Oke, aku tunggu kamu di lobi," jawab Max sambil mengambil tangan Ares yang tadi dipegang oleh Livia.


"Ares, mama harus mengangkat teleopn dulu, jangan nakal sama Om Max, ya." Kini Livia beralih pada anak laki-lakinya itu.


"Iya, Mama. Aku 'kan anak yang baik," angguk Ares sambil tersenyum penuh percaya diri.


"Ish." Livia berdesis kecil ketika sambil mengulum senyum melihat tingkat percaya diri anaknya yang memang lebih tinggi dari anak-anak pada umumnya. Ares bahkan bisa langsung akrab dengan orang yang baru dia temui hanya dalam waktu beberapa menit saja. Entah dari mana sifat percaya diri Ares itu berasal, Livia sendiri bingung jika sedang memikirkannya.


Setelah berbicara beberapa saat, Livia pun akhirnya berjalan kembali ke luar, sementara Max dan Ares melanjutkan langkah mereka menuju lobi untuk menemui resepsionis. Max tampak berbicara sebentar dengan petugas resepsionis sebelum akhirnya kedua laki-laki itu memilih duduk di ruang tunggu.


Sementara itu, Daniel dan Danis yang baru saja sampai di lantai bawah pun ke luar dari lift dan berjalan menuju lobi untuk menyambut kedatangan pemegang saham terbesar di perusahaan mereka. Jika bukan karena pemegang saham terbesar yang mempercayakan kepemimpinan tetap pada Daniel, mungkin sekarang ini dua kakak beradik itu hanyalah seorang pegawai biasa yang memiliki saham, atau bahkan perusahaan ini tidak akan bertahan dari semua krisis yang mereka lewati beberapa tahun ke belakang.


Saat itu juga, Livia selesai dengan urusannya dan tengah berjalan masuk ke Lobi. Namun, keduanya masih sibuk dengan uruasan masing-masing dan belum menyadari satu sama lain. Livia yang sibuk dengan ponselnya dan Daniel masih berbicara serius dengan Danis.


"Mama!" teriak Ares sambil berlari menghampiri Livia yang juga terkejut dengan teriakan anaknya itu. Wanita itu langsung mengangkat kepalanya dan tersenyum ketika melihat Ares berlari padanya, dia pun bersiap untuk menyambut kedatangan anak kecil itu.


Sementara di depan pintu ke luar ruang tunggu, Max yang tadi hendak mengejar Ares yang tiba-tiba berlari pun memilih menghentikan langkahnya dan berdiri di sana sambil menikmati momen dari kasih sayang ibu dan anak di depannya.


Beberda lagi dengan Daniel yang tampak ikut terkejut dengan teriakan seorang anak kecil yang begitu nyaring. Seingatnya, tidak ada yang diperbolehkan membawa anak kecil ke kantor, tetapi kenapa sekarang bisa ada anak kecil di sini?


Daniel pun mengikuti pergerakan tubuh anak itu hingga ketika dia melihat ke mana tujuan anak itu berlari, tubuh Daniel tiba-tiba saja terasa membeku. Beberapa kali dia mengerjabkan matanya seolah sedang memperjelas penglihatannya.


A--apa benar itu, Livia? batin Daniel dengan raut wajah terkejut dan tak percaya.

__ADS_1


"D--Danis, apa kamu juga melihatnya?" tanya Daniel tanpa melepaskan pandangannya dari Ares dan Liva yang tampak sedang berbicara. Dia bahkan takut jika itu hanya ilusi karena dirinya terlalu merindukan wanita itu.


"Iya, Kak. Aku juga lihat. I--itu, beneran Livia," angguk Danis dengan wajah bingungnya.


"T--tapi, siapa anak itu, Kak? Apa dia anaknya Livia?" sambung Danis lagi sambil melihat jelas interaksi antara Livia dan Ares yang tampak begitu dekat.


Daniel tertegun, dia kemudian mengalihkan pandangannya pada anak kecil di depan Livia yang tampak masih berbicara pada wanita itu.


Apa itu adalah anakku? Kalau iya, berarti umurnya baru lima tahun. Tapi, bukankah kita baru melakukannya sekali, itu pun di kamar hotel, saat dia menyerahkan surat cerai lalu menghilang begitu saja. Apa selama ini, dia menyembunyikan kehamilannya? Ternyata semua itu benar?


Daniel terus bergumam dalam hati, mempertanyakan identitas anak laki-laki yang kini tampak menempel pada Livia. Matanya beralih memperhatikan Livia dan Ares yang sedang berjalan menghampiri Max di depan pintu ruang tunggu.


"Itu bukannya Tuan Max? Kenapa dia bisa mengenal Livia, Kak?" Danis kembali berbicara ketika sadar dengan pria yang kini tampak tersenyum ketika melihat Livia dan anak laki-laki itu menghampirinya.


Daniel yang mendengar suara Danis pun kini semakin merasa bingung dengan situasi yang ada. Tiba-tiba saja ada perasaan yang begitu menyakitkan seolah ada ribuan belati yang menusuk ke dalam jantungnya ketika melihat Livia yang sedang berbicara dan tersenyum kepada laki-laki lain.


Di sisi lain, seorang wanita dengan gaya masa kini yang terlihat cukup seksi dan dewasa, terlihat baru saja turun dari mobil, kemudian berjalan masuk ke dalam gedung dengan gaya penuh percaya diri hingga terlihat sedikit angkuh.


Senyum sumringah dan penuh semangat langsung terlihat begitu dia melihat laki-laki yang memang ingin dia temui sedang berdiri tidak jauh darinya. Wanita itu tampak mempercepat langkahnya hingga di saat dia berada di tengah lobi, wanita itu pun memanggil nama laki-laki yang merupakan mantan kekasihnya yang kini sedang dia perjuangkan kembali.


"Daniel!" teriaknya seolah seorang remaja yang tengah dimabuk asmara.


"Astaga, situasi macam apa ini? Kenapa nenek lampir itu harus muncul sekarang?" umpat Danis begitu dia melihat wanita yang kini terlihat sedang berjalan menghampiri kakaknya dengan penuh semangat.


Sementara itu, Livia yang mendengar suara teriakan itu pun mengalihkan perhatiannya pada wanita yang sepertinya cukup familiar di dalam ingatan. Beberapa saat kemudian matanya pun bergulir pada dua orang laki-laki yang kini terlihat berdiri di sisi lain lobi dengan satu laki-laki terus menatapnya dengan sorot yang terliat rumit.

__ADS_1


Mata keduanya sempat bertemu beberapa saat sebelum Livia dengan cepat memutus kontak mata diantara keduanya dan memilih kembali melihat wanita yang tampak memiliki tubuh sempurna itu.


"Selvia?" gumam Livia dengan jantung yang seolah terasa terhenti untuk sesaat.


__ADS_2