Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.58


__ADS_3

"Akhirnya selesai juga," ujar Mami Lucia dengan senyum bahagia dan mata berbinar melihat banyak makanan dan kue yang tersedia di meja makan.


"Iya, Mami. Sekarang lebih baik kita bersih-bersih dulu," jawab Livia sambil memberi saran.


"Iya, kamu jangan lupa pakai baju yang sudah mami siapkan, ya. Kita akan kasih kejutan ketika Daniel pulang," pesan Mami Luci yang langsung diangguki oleh Livia.


"Iya, Mami," ujarnya sambil tersenyum lembut.


Livia pun berjalan menuju kamarnya setelah mengantarkan Mami Luci. Hari ini adalah hari ulang tahun Daniel. Mami Luci sudah berencana untuk memberikan kejutan kecil-kecilan untuk Daniel, karena mereka masih dalam keadan berkabung.


Walau sudah tiga bulan berlalu sejak kematian kakek Banu, tetapi suasana duka itu masih ada, meskipun perlahan semuanya sudah kembali pada kesehariannya masing-masing. Daniel dan Danis pergi ke kantor, Mami Luci dan Livia yang di rumah. Sementara Murti dan Julio akhirnya memutuskan pindah setelah mendapatkan warisan sebuah vila di daerah puncak.


Ya, harta warisan sudah dibagi setelah acara pengajian empat puluh hari kakek Banu. Sempat ada cek-cok antara Daniel dan Julio pada saat itu, mengingat wasiat kakek Banu yang dibacakan oleh pengacara tetap memberikan perusahaan untuk Daniel dan Danis, sementara Julio hanya diberikan sebuah vila dan beberapa aset lainnya yang berupa gedung juga tanah.


Julio tidak terima dengan pembagian hak waris yang dia rasa tidak adil itu. Dia sempat hampir mengamuk dan berkelahi dengan Daniel jika saja pengacara tidak memisahkan mereka berdua.


Setelah mandi dan mengganti baju dengan gaun yang sudah mami Luci siapkan, kini Livia tampak duduk di depan meja rias. Livia menatap wajahnya yang terlihat sedikit pucat di balik pantulan kaca. Dia tersenyum tipis kemudian mulai memoles wajahnya dengan riasan tipis untuk menutupi wajah pucatnya dari orang lain.


Setelah selesai dengan semuanya, Livia kembali berjalan ke luar dari kamar dan bertemu dengan mami Luci di lantai satu. Tidak lama kemudian, suara mobil yang berhenti di depan rumah, membuat Livia berjalan dengan membawa kue ulang tahun buatannya dan Mami Luci ke dekat pintu masuk utama, sementara Mami Luci menggunakan kursi roda di samping Livia.


Para pelayan dan penjaga rumah pun sudah ikut bersiap untuk memberikan kejutan bagi Daniel, mereka berdiri di belakang mami Luci dan Livia.

__ADS_1


Sementara itu, Daniel turun dari mobil dengan membawa dua buket bunga yang terlihat sangat cantik, di tangannya. Sudah hampir seminggu ini, laki-laki itu selalu membawa apa saja sebagai buah tangan untuk Livia dan Mami Luci ketika pulang kerja, mulai dari makanan atau bunga segar, bahkan bibit bunga yang mami Luci inginkan.


Dia berjalan lebih dulu menuju ke pintu utama, sementara Danis berada di belakangnya. Laki-laki itu membuka pintu tanpa ada rasa curiga sama sekali. Pikirannya sejak tadi tak bisa berpaling dari sosok wanita yang sudah beberapa bulan ini berusaha dia perjuangkan.


Livia, wanita yang sudah menjadi istrinya itu masih terus menjaga jarak, walau akhirnya wanita itu menyerah dan memilih tidur di ranjang, karena setelah satu minggu dia mengikuti Livia tidur di lantai Daniel jatuh sakit. Laki-laki yang terbiasa hidup nyaman itu ternyata tak memiliki kekuatan lebih untuk tidur hanya beralaskan karpet tipis.


"SURPRISE!"


Livia, Mami Luci, dan semua pekerja di rumah serempak berteriak ketika pintu terbuka dan menampilkan Daniel di depannya.


"Happy Birthday to You .... Happy Birthday to You .... Happy Birthday, Happy Birthday .... Happy Birthday to Daniel!"


Daniel terperanjat dengan tubuh mematung, ketika melihat Livia, Mami Luci, dan para pekerja rumahnya berdiri di depannya dengan membawa kue ulang tahun dan menyanyikan lagu untuknya.


Salah satu penjaga rumah maju dan menyalakan lilin di kue ulang tahun milik Daniel, kemudian mundur kembali. Semua orang bernyanyi lagi sampai Daniel meniup lilin itu, yang diakhiri dengan tepuk tangan meriah.


"Terima kasih, Livia. Aku senang sekali," ujar Daniel sambil memeluk istrinya itu penuh haru.


"Ini semua idenya mami, bukan aku," jawab Livia sambil menatap Mami Luci yang sedang tersenyum lembut dengan Danis yang memeluknya dari belakang.


"Ini memang rencana mami, tapi yang menyiapkan semuanya adalah istrimu," jawab Mami Luci ketika Daniel menatapnya.

__ADS_1


"Makasih, Mami. Aku sayang sama Mami," ujar Daniel kini beralih memeluk mami Luci.


"Mami juga sangat menyayangi kamu, Nak. Selamat ulang tahun, ya, Nak. Semoga panjang umur, sehat selalu, semakin sukses, dan cepat kasih mami cucu," ujar Mami Luci sambil mengusap puncak kepala Daniel bagaikan seorang anak kecil. Ucapan terakhir dia katakan sambil melirik pada Livia, yang hanya ditanggapi dengan kepala yang menunduk. Sementara wajah Daniel terlihat memerah ketika mendengar kata terakhir Mami Luci.


Setelah acara potong kue selesai, kini Livia dan Daniel memilih berjalan berdua menuju ke kamar mereka. Seperti sebelumnya, Livia masih saja melakukan tugasnya sebagai istri untuk Daniel. Menyiapkan baju dan air untuk Daniel mandi sudah menjadi hal yang rutin dia lakukan setiap harinya.


Begitu Daniel menutup pintu kamar, dia langsung memeluk tubuh Livia dari belakang, sambil menyerahkan satu buket bunga di tangannya.


"Terima kasih, Livia. Aku sangat senang hari ini," ujarnya sambil memperlihatkan bunganya di depan Livia, sementara dagunya dia letakan di pundak wanita itu.


"Kamu sudah mengatakannya berulang kali, Daniel," jawab Livia sambil mengambil buket bunga mawar merah yang begitu indah di depannya.


"Maksih juga untuk ini," ujar Livia setelah mencium wangi bunga mawar merah yang diberikan oleh Daniel.


"Kami suka?" tanya Daniel dengan wajah sumringah.


"Eum, aku suka," jawab Livia kemudian melepaskan pelukan Daniel dari tubuhnya.


"Aku siapkan kamu air mandi dulu," ujar Livia sambil berjalan menjauh dari Daniel.


Daniel menghembuskan napas pelan, dia kemudian mengangguk pasrah sambil mulai membuka dasi dan kancing bajunya, seiring Livia yang berjalan menjauh. Wanita itu tampak meletakkan buket bunga mawar merah itu di meja riasnya lalu berjalan kembali menuju ke kamar mandi.

__ADS_1


Senyum di wajah Daniel terlihat terus mengembang, laki-laki itu sangat bersyukur karena semakin hari, hubungan dirinya dan Livia semakin terasa dekat, walau wanita itu memang masih sering memberi jarak padanya.


"Aku tidak perduli apa yang akan kamu lakukan kalau sampai kamu tau apa yang dialakukan sama papahku, Livia. Yang aku inginkan saat ini, adalah membahagiakan kamu, bagaimana pun caranya," gumam Daniel ketika pintu kamar mandi sudah tertutup rapat. Ada luka yang tersimpan di dalam sorot matanya, walau Daniel selalu menutupi semua itu dengan senyuman.


__ADS_2