
Livia terkekeh kecil hingga membuat semua atensi orang di sana beralih padanya. Pandanganya pun mengedar melihat satu per satu wartawan yang ada di depannya, hingga kini mata hitam itu terlihat menyorot tajam seorang wartawan wanita yang tadi memberikan pertanyaan.
Tubuh Wartawan itu sempat menegang ketika melihat sorot tajam mata hitam Livia, walau itu tak bertahan lama, Livia kembali mengubah raut wajahnya menjadi ramah dengan senyum yang tampak merekah dan menambah kecantikan wanita itu.
"Saya hanya wanita biasa, tentu tidak bisa dibandingkan dengan sosok hebat seperti Nona Selvia Anastasya. Namun, bagaimana pun masa lalu Mas Daniel, saya tidak perduli. Saat ini, yang terpenting untuk saya adalah, Mas Daniel yang sudah menjadi suami saya dan saya lah pemenangnya. Saya istri sahnya Daniel Arslan Hartoyo!"
Semua orang dibuat terkejut dengan mata melebar, ketika mendengar suara lembut Livia yang jurstu terdengar mengancam dan penuh intimidasi. Suasana ruangan tempat acara konferensi pers dilangsungkan kini berubah mencekam, semua orang merasakan bulu kuduknya berdiri dengan kebingungan yang tiba-tiba melanda hati mereka.
"Baiklah, semuanya! Kita sudahi acara ini. Terima kasih atas kedatangan kalian semua!" Danis mengambil alih acara, dia kemudian berdiri diikuti oleh Livia yang tampak menggantung lengan Daniel yang masih saja terlihat linglung.
Wanita itu kembali melayangkan senyum ramah sambil menganggukkan kepala samar, sebelum benar-benar pergi dari tempat acara, walau seharusnya masih ada satu wartawan lagi yang mengajukan pertanyaan pada mereka. Namun, melihat kondisi Daniel, Danis dan Livia memutuskan untuk menyudahi acara lebih awal.
.
"Kamu sudah membereskan semua orang yang mencoba mencari tahu tentang Via?" tanya Agra pada sang asisten pribadi yang baru saja masuk ke ruangan kerjanya.
"Sudah, Tuan," angguk Edo yakin.
Agra mengangguk puas, ketika melihat Edo yang selalu bekerja dengan baik di setiap tugas yang dia berikan.
"Bagus. Jangan biarkan ada seorang pun yang tahu tentang masa lalu Livia dan keluarga kandungnya, setidaknya sebelum dendamnya terselesaikan," titah Agra.
"Baik, Tuan," jawab Edo, masih saja patuh dan sigap dalam melaksanakan tugasnya.
.
Sementara itu, di sebuah mansion peristirahatan milik keluarga Hartoyo, seorang laki-laki berusia pertengahan enam puluh tahunan, terlihat sedang duduk di kursi rodanya. Di depannya beberapa orang berbaju rapih serba hitam terlihat tengah berdiri dengan posisi seperti sedang istirahat dalam baris berbaris.
"Kenapa tidak ada yang bisa menemukan asal usul wanita yang dinikahi oleh Daniel, hah?! Apa yang sebenarnya kalian lakukan?!" teriak Banu Hartoyo, dengan tatapan tajam dan rahang yang mengeras.
Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan dari Banu, mereka hanya terlihat menunduk dalam, seperti anak yang bersiap mendapatkan hukuman karena melakukan kesalahan.
__ADS_1
"Dasar tidak berguna! Sekarang juga, pesankan aku tiket untuk kembali ke Indonesia, aku harus segera pulang!" titah Banu Hartoyo entah pada siapa.
"T--tapi, Tuan, Anda masih harus melakukan pengo--"
"Aku tidak perduli! Sekarang juga pesankan tiket untukku, atau kalian semua akan aku kirim kembali ke Indonesia!" ancam Banu.
Semua laki-laki itu tampak menegang, mereka saling lirik dengan wajah yang memerah. Tentu saja, mereka tahu apa arti dari perkataan Banu tentang mengirim mereka kembali ke Indonesia. Itu sama saja dengan kehilangan pekerjaan.
.
"Sudah berapa kali aku bilang, lupakan wanita ****** itu! Kenapa Kakak--" Perkataan Danis dengan nada kesal itu kini terputus begitu saja karena ucapan Daniel.
"Aku sudah melupakan dia, Danis!" tekan Daniel sambil mendesah pelan. Tangannya memijit ujung batang hidungnya, meredam rasa pening yang tiba-tiba saja terasa.
Sejak mereka masuk ke dalam mobil, setelah melakukan konferensi pers beberapa saat lalu, adiknya itu terus saja menceramahinya tentang Selvia Anastasya. Mantan tunangannya yang telah menyebabkan Daniel sakit hati yang sangat dalam dan berubah drastis.
"Sudah melupakan apanya? Kalau saja tadi Livia tidak cepat tanggap untuk mengalihkan perhatian para wartawan dan memberikan kode padaku agar segera menyudahi acara, mereka semua pasti akan menyadari kebodohan kakak hari ini," gerutu Danis, menatap sinis kakaknya dari kaca spion dalam.
.
"Tuan Banu sedang dalam perjalanan menuju Indonesia. Pesawat yang membawanya sudah tak off dua jam yang lalu," ujar seseorang dari seberang sambungan telepon.
"Terimakasih atas infonya, aku akan bersiap sekarang," jawab Daniel sambil qamemijit pelipisnya. Hari ini, kepalanya terasa begitu berat dengan berbagai masalah yang silih berganti.
Daniel menghembuskan napasnya kasar sambil menaruh kembali ponsel miliknya di atas meja. Saat ini, laki-laki itu tengah berada di ruang kerjanya, walau malam sudah terasa semakin larut.
Menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, laki-laki itu terlihat menutup mata dengan tangan berada di sisi tubuhnya. Cukup lama dia bertahan dalam posisi seperti itu, seolah dia tengah tertidur walau sebenarnya kesadaran Daniel masih sangat penuh.
.
Sementara itu, Livia yang juga belum beranjak tidur setelah melakukan sambungan telepon dengan Agra pun menoleh menatap pintu kamarnya yang masih saja tertutup rapat. Waktu bahkan sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tetapi Daniel belum juga datang untuk beristirahat.
__ADS_1
Keningnya tampak berkerut, mengingat akhir-akhir ini Daniel terus begadang dan menghabiskan waktunya di ruang kerja. Beberapa kali dia bahkan mendapati Daniel tak datang ke kamar dan memilih tidur di ruang kerja. Entah apa yang terjadi pada laki-laki itu, setelah konferensi pers beberapa hari lalu.
"Ish!" Livia mendesah pelan sambil beranjak berdiri dan membawa selimut yang biasa dia gunakan ke luar kamar.
"Tolong jaga Daniel ya, Livia. Walau dia terlihat kuat di luar, sebenarnya di dalam dia banyak menyimpan luka yang bahkan tidak mau untuk dibagikan, termasuk padaku."
Ucapan Mami Luci pagi tadi terus mengusik pikirannya. Livia kini seolah terikat oleh janji yang tidak seharusnya dia buat. Janji pada seorang ibu yang memiliki harapan tinggi padanya untuk menjaga kepercayaannya.
Livia mendorong pelan pintu berbahan kayu mahoni yang masih menampilkan corak aslinya, perlahan kepalanya menyembul melihat situasi di dalam, hingga kini matanya melihat Daniel yang tengah duduk bersandar di atas kursi kerja.
Livia menghembuskan napas pelan, merasa lega karena ternyata Daniel memang kembali tertidur di sana. Perlahan, kakinya mulai melangkah memasuki ruangan, dia berjalan menghampiri Daniel dengan selimut abu-abu tua di tangannya.
Livia menggeleng pelan ketika melihat berkas yang maish bercecer di atas meja. Dia lebih dulu menyelimuti tubuh Daniel kemudian membereskan semua berkas yang berantakan kemudian menaruhnya di salah satu sudut meja. Setelah selesai, dia kemudian kembali berjalan ke luar dan menutup pintu begitu saja.
Tanpa Livia tahu, Daniel mengetahui semuanya, dia yang memang belum tidur, tadinya hanya ingin mengetahui apa yang dilakukan Livia karena tiba-tiba masuk ke ruang kerjanya. Daniel mengira Livia akan melakukan sesuatu yang curang, atau bahkan mungkin mencuri sesuatu dari sana, kini malah dibuat terkejut oleh apa yang terjadi.
Apa yang dia lakukan? batin Daniel sambil menatap selimut abu-abu tua yang menutupi tubuhnya.
"Cih! Mau menggodaku?" gumam Daniel sinis, sambil melepas kasar selimut itu kemudian melemparnya ke sembarang arah.
"Dasar wanita murahan!" ujarnya lagi sambil menatap tajam pintu ruangan yang sudah tertutup rapat
.
Jam enam pagi, di bandara kedatangan internasional Soekarno Hata, seorang laki-laki tua yang duduk di kursi roda tampak berjalan ke luar, bersama beberapa orang pengawal dan dokter pribadi yang sengaja dia ikut serta bawa ke Indonesia.
Banu Hartoyo, pengusaha sukses yang berhasil mendirikan perusahaan konstruksi ke dua terbesar di negara ini. HC contrsion. Perusahaan yang di dirikan oleh Banu Hartoyo dan kini mulai sering bekerja sama dengan pemerintah untuk menangani beberapa proyek besar dalam membangun dan memajukan negara ini.
Kedatangan laki-laki yang sudah berumur itu membuat setiap orang yang melihatnya, memperhatian mereka dengan sorot mata yang berbeda-beda. Namun, semua itu tak membuat ketenangan laki-laki tua itu terusik. Dia sudah terlalu terbiasa untuk menjadi perhatian banyak orang.
"Langsung ke rumah. Aku yakin, cucuku itu pasti juga sudah mendengar tentang kedatanganku!" titah Banu setelah dia berada di dalam mobil.
__ADS_1
"Baik, Tuan," angguk sang sopir yang bertugas untuk menjemputnya.