Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.25 Mabuk lagi


__ADS_3

"Apa ini tidak terlalau keterlaluan, Tuan? Sepertinya tuan muda sangat tertekan karena kedatangan nyonya Murti dan tuan Julio," ujar Karlo ketika dia baru saja kembali dari ruang kerja Daniel.


"Biarkan saja, aku hanya ingin mengetahui bagaimana Daniel akan bersikap jika berhadapan dengan pesaing dirinya. Aku tidak mau jika Daniel akan bersikap seperti ayahnya yang mampu menghalalkan segala cara hanya agar tetap menjadi nomor satu. Aku tidak mau Daniel terobsesi oleh kekuasan seperti ayahnya," jawab kakek Banu dengan tatapan menerawang jauh ke masa lalu.


"Tapi, apa perlu kita berpura-pura seperti ini, Tuan?" tanya Karlo dengan nada suara sedikit ragu.


"Aku sudah tau, Karlo! Apa kamu masih mau melihatku berdebat dengan cucuku sendiri?" tanya Kakek Banu sambil mendesah lemah.


Karlo terdiam, dia yang merasa bersalah pada Daniel kini tidak bisa berbuat apa pun lagi untuk menentang keputusan kakek Banu. Seperti yang Daniel selalu perkirakan, jika Karlo memang sangat setia pada kekek Banu, dan itu semua terbukti saat ini. Karlo bahkan memilih tak acuh pada perasaannya sendiri demi memenuhi keinginan kakek Banu.


Tanpa kedua orang itu tau, Livia yang tidak sengaja lewat di depan kamar kakek Banu bisa mendengar semua perbincangan antara kakek Banu dan Karlo. Wanita itu tampak menghembuskan napas pelan sebelum melanjutkan langkahnya dengan tenang dan sangat senyap, hingga tidak ada satu orang pun yang menyadari keberadaannya.


"Heuh!" Livia menggelengkan kepala pelan ketika ingatannya tentang perbincangan kakek Banu dan Karlo tadi sore berputar kembali di ingatannya. Kini, dia tahu apa alasan Daniel mabuk-mabukan dan sikap Daniel yang selalu melampiaskan setiap masalah kepada minuman keras.


Dengan tatapan masih fokus pada jalanan di depannya yang sudah sangat lengang, hingga membuat Livia bebas memacu kendaraannya secepat mungkin. Salah satu tangannya mengambil ponsel yang dia letakan acak di atas dashboard mobil lalu menekan salah satu nomor di dalam kontak.


"Tolong belikan aku pembalut dan minuman pereda nyeri haid. Tunggu aku di klub BA, aku dalam perjalanan sekarang," ujar Livia dengan sopan.


"Wah, bener-bener nih anak, mentang-mentang cewek satu-satunya di antara kita, bisa-bisanya dia nyuruh kita beli peralatan cewek begitu," gerutu seseorang di seberang sana yang membuat Livia terkekeh kecil.


"Sorry, ini sangat mendesak, aku membutuhkan itu sekarang." Livia meringis walau tak terlihat oleh orang yang dia hubungi.


"Ck! Dasar wanita!" Laki-laki itu berdecak pelan kemudian memutuskan sambungan telepon begitu saja.


Walau begitu, Livia tidak tersinggung sama sekali. Dia malah tersenyum tipis, sambil kembali menginjak pedal gas lebih dalam lagi, hingga mobil milik Daniel itu pun melesat jauh meninggalkan mobil yang sejak tadi mengikutinya.


"Mau mengikutiku, heh?" Livia menyeringai ketika melihat mobil di belakangnya kini sudah tak terlihat lagi.


Beberapa saat kemudian Livia sudah menghentikan mobil milik Daniel di parkiran sebuah klub malam yang cukup terkenal di daerah jakarta timur. Dia langsung ke luar dan berjalan masuk tanpa memperdulikan tatapan aneh para laki-laki brengsek yang ada di sekitarnya.

__ADS_1


Muka bantal yang terlihat tanpa riasan dengan baju tidur satin yang membalut tubuh dan kakinya, ditambah sandal rumahan yang melengkapi tampilan Livia malam menjelang dini hari ini. Sungguh, itu memang sangat tidak pantas untuk mendatangi sebuah klub malam mewah dan terkenal.


Danis yang sejak tadi menunggu Livia di depan pintu klub malam pun melotot hingga bola matanya seakan hendak ke luar, saking terkejutnya ketika melihat penampilan Livia.


"Astaga! Kelakuan kakak ipar gue kok kayak gini banget ya?" Danis menepuk keningnya sendiri merasa heran dengan sikap Livia yang terlalu santai, padahal hendak masuk ke dalam klub malam, yang dipenuhi orang-orang setengah waras.


"Mana, Daniel?" Livia mengahmpiri Danis yang bahkan masih belum bisa kembali dengan kebingungannya. Karena sebenarnya Danis juga sedikit mabuk.


"Di dalam!" jawab Danis sambil menunjuk ke arah dalam. Laki-laki itu tampak memilih langsung memasuki mobil yang tadi dibawa oleh Livia tanpa mau mengikuti wanita itu ke dalam.


"Hem." Livia meneruskan langkahnya tanpa perduli pada Danis. Wanita itu bahkan tidak kebingungan ataupun risih ketika bau alkohol dan asap rokok yang begitu menyengat menerpa indra penciumannya, ketika sudah sampai di dalam klub malam itu. Dengan santainya, Livia membawa kakinya melangkah menuju ruang VIP yang tersedia di lantai dua klub.


"Di mana?" tanya Livia pada seorang laki-laki berbadan kekar yang merupakan salah seorang penjaga klub.


"Ruangan ke empat dari tangga," jawab laki-laki itu.


"Oke. Thank's," angguk Livia kemudian melanjutkan langkahnya.


Livia membuka pelan pintu ke empat dari tangga, sesuai dengan arahan laki-laki berbadan besar tadi. Benar saja, dia bisa langsung melihat Daniel yang sudah setengah sadar dengan para wanita malam yang mengelilinginya. Di sofa lainnya, terlihat ada satu laki-laki lagi yang tampak menatapnya dengan wajah terkejut bukan main.


"Sorry, Girls, away from my husband!" ujar Livia sambil menatap tajam semua wanita yang tengah bermanja dengan Daniel.


Melihat sosok Livia, mereka semua langsung terdiam dan beranjak menjauh dari tubuh Daniel tanpa bantahan sama sekali.


"Sorry, Sis," ujar mereka bersamaan kemudian ke luar dari ruangan.


Tanpa perduli pada para wanita itu dan laki-laki yang merupakan sahabat Daniel, Livia langsung melangkah menghampiri suaminya yang sudah dalam keadaan mabuk berat.


"Dasar laki-laki bodoh!" gumam Livia sambil mulai mencondonggkan tubuhnya, hendak memapah tubuh Daniel.

__ADS_1


"Hai, istriku! Kenapa kamu ada di sini?" Daniel tersenyum lebar ketika melihat jelas wajah Livia yang kini berada di dekatnya.


"Kamu mau merayakan kesialan yang aku alami? Kamu pasti sekarang sangat senang, kan? Karena aku seperti ini, heh?" Daniel masih bergumam sambil menolak dipapah oleh Livia.


"Kamu mau uang?" Daniel tiba-tiba mengambil dompet di saku celaanya kemudian membukanya di depan Livia.


"Ini?" Danil mengeluarkan beberapa buah kartu yang ada di sana kemudian menunjukkannya pada Livia.


"Aku akan memberikan semuanya padamu. Tapi--" Daniel menghentikan perkataan lali bersendawa tepat di depan wajah Livia, hingga bau alkohol kini semakin menyengat. Livia tampak mengernyitkan keningnya, tidak suka.


"Pergi dari hidupku bersama dengan Murti dan anak haramnya itu! Mereka adalah sumber masalah di hidupku!" Daniel tiba-tiba tertawa kencang sebelum kembali ingin berucap lagi.


"Berisik!" Livia langsung memukul tengkuk Daniel cukup keras, dia sama sekali tidak suka keributan, tetapi kini dia malah dihadapkan dengan laki-laki yang suka mabuk dan selalu mengoceh tidak jelas di depannya.


Livia kemudian meminta tolong laki-laki kekar tadi untuk membawa tubuh tidak sadar Daniel menuju ke mobilnya.


"Wah, Daniel dapat cewek kayak gitu dari mana? Menarik!" gumam Ziko sambil menatap kagum setiap langkah Livia yang semakin menjauh darinya.


Livia tersenyum tipis ketika mendapati sebuah paper bag di dalam mobilnya yang berisi semua yang dia pesan tadi. Sementara di jok belakang, dia bisa melihat Danis yang sudah tertidur pulas.


"Kamu bisa bawa mereka ke hotel XX, Tuan Edo sudah menyiapkan kamar di sana," ujar laki-laki yang tadi membantu Livia memapah Daniel ke dalam mobil.


"Oke. Sampaikan terimakasihku padanya," ujar Livia kemudian segera masuk ke dalam mobil.


Dia melanjukan mobil milik Daniel ke sebuah hotel yang berjarak sekitar lima belas menit dari sana. Namun, karena suasana jalan yang lengang dan Livia yang memacu mobilnya dengan kecepatan penuh, dia hanya memerlukan waktu tujuh menit untuk sampai di hotel itu.


Di sana sudah ada dua orang yang menyambut kedatangan Livia, kemudian membawa tubuh Daniel dan Danis masuk ke kamar, sementara Livia kembali berlalu setelah berbicara dengan petugas hotel tentang Daniel dan Danis.


Hanya membutuhkan waktu kurang lebih empat puluh lima menit bagi Livia, untuk dirinya kembali ke rumah dengan paper bag di tangan. Dengan sikap tak acuh, dia melangkahkan kaki masuk seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya, kemudian berjalan menaiki tangga dan segera memasuki kamar. Salah satu sudut bibir wanita itu tertarik tipis ke atas ketika sudah menutup pintu rapat.

__ADS_1


"Maaf, kali ini kalian harus kecewa," gumamnya dengan seringai jenaka di wajahnya, seolah seorang remaja yang merasa puas setelah berhasil mengerjai teman-temannya.


__ADS_2