
"Kamu tau tentang berita ini? Aku rasa kita tidak pernah membicarakan semua ini," ujar Livia setelah semua orang tidak ada di rumah, dan dia bisa kembali ke kamar untuk menghubungi Agra.
Livia curiga jika semua berita ini adalah bagian dari rencana yang dibuat oleh kakak angkatnya itu. Namun, setelah dia ingat-ingat dengan seksama, Agra sama sekali tidak pernah mengatakan jika suatu saat nanti dia akan membongkar rahasia penikahan Livia dan Daniel.
"Aku pikir ini adalah rencanamu, Via." Agra terdengar ikut terkejut ketika mendapat pertanyaan dari Livia.
"Jadi ini bukan rencanamu?" tanya Livia memastikan.
"Tidak. Aku hanya akan bertindak jika kita sudah membicarakannya, Via," jawab Agra dengan suara yang terdengar sangat yakin.
"Jadi, siapa yang berani menyebarkan informasi ini pada media?" gumam Livia yang masih bisa didengar langsung oleh Agra.
"Kamu mau kita mencari tau?" tanyanya dengan tangan yang mengepal marah. Sepertinya telah ada orang yang berani masuk dan mengganggu rencana mereka, emosi Agra sedikit terpancing karenanya.
Livia terdiam dengan kening berkerut dalam, dia seperti sedang berpikir sesuatu, hingga setelah hampir lima menit terdiam tanpa memutuskan sambungan teleponnya, wanita itu terlihat menghela napas pelan sebelum menjawab pertanyaan Agra.
"Sepertinya aku tahu siapa dalang dari berita ini," jawabnya dengan tatapan yang berubah tajam menyotot seseorang yang terlihat sedang berdiri di halaman belakang, tidak jauh dari rumah kaca milik Mami Luci.
"Apakah dua orang itu? Senjata yang ternyata mulai menyerang tuannya?" tanya Agra seolah mengerti denga ucapan Livia.
"Mereka hanya menjalankan tugasnya, hanya saja sepertinya dia terlalu bersemangat, karena tidak tahu di mana posisinya sekarang," jawab Livia sambil mengepalkan tangannya tanpa mengalihkan pandangannya dari dua orang yang kini terlihat tengah berbincang di bawah sebuah pohon besar.
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Agra dengan nada yang berubah menjadi datar.
"Tidak ada. Biarakan saja dia bersenang-senang dulu, aku akan memantau dari sini," jawab Livia sambil tersenyum miring.
"Baiklah. Jaga dirimu." Agra menghembuskan napas pelan.
"Hem." Livia berdehem pelan dengan senyum tipis yang terlihat di bibirnya. Hatinya selalu menghangat ketika menerima perhatian dari keluarga angkatnya itu.
__ADS_1
"Tolong pastikan perusahaan tidak sampai ke tangan Julio. Aku tidak bisa memperayakan semua usahaku pada pecandu judi sepertinya," ujar Livia lagi dengan nada suara yang lebih tenang.
"Tentu. Aku akan pastikan dia tidak mendapat apa pun," jawab Agra yakin.
Sambungan telepon pun terputus begitu saja. Livia menggengam ponselnya di satu tangan dengan tatapan yang masih saja tak bisa lepas dari dua orang yang masih saja terlihat mengobrol.
"Murti? Jadi ini semua ulahmu? Baiklah, kita bermain sekarang," gumam Livia kemudian berbalik dan kembali masuk ke kamar dengan seringai misterius di bibirnya.
...❤️🔥...
Daniel yang baru pulih, kini kembali disibukkan dengan segala kekacauan di kantor karena imbas dari berita yang sedang beredar. Saat ini, bukan hanya para infestor yang tengah bimbang dengan perusahaan Daniel, tetapi juga para pemegang saham, mereka mencoba menjual saham dari perusahaan Daniel.
Kini, bahkan bukan hanya Daniel dan Danis yang harus lembur. Para petinggi perusahaan dan karyawan pun terkena imbasnya, mereka bekerja keras untuk memulihkan kembali harga saham yang sudah anjlok dan mengembalikan kepercayaan para investor.
Sementara itu, dari rumah Livia juga tidak tinggal diam. Dia mencoba menghubungi beberapa investor dan ikut membujuk mereka untuk tidak menarik insetasinya di perusahaan Daniel. Dia juga menghubungi para pemegang saham untuk ikut menenangkan kekhawatiran mereka.
Untung saja, mantan pelanggan atau bahkan klien dirinya ketika bekerja bersama Alisya mau bekerja sama, mereka mau menuruti Livia untuk percaya pada Daniel dan dirinya, juga merahasiakan semua identitasnya pada semua orang.
"Jika sejak awal Anda menampakkan diri dan mengakui semuanya, saya tidak akan pernah ragu. Kami sudah tahu bagaimana kinerja Anda saat memegang perusahaan Prananta Jewelry bersama dengan Nyonya Alisya."
Livia tersenyum tipis ketika mendengar sebuah pujian dari salah seorang pengusaha yang juga memiliki saham di Prananta Jewelry. Perusahaan milik istri Agra yang dia pernah kelola bersama dengan Alisya.
"Terimakasih, saya sangat teranjung," jawab Livia ramah.
...❤️🔥...
Hampir seminggu, ternyata berita itu tidak mereda sama sekali, kini Daniel terancam kembali kehilangan tender yang sudah berada dalam genggamannya. Malam ini, setelah beberapa hari kembali tidak pulang ke rumah, Daniel akhirnya pulang dengan tubuh sempoyongan. Bukan karena kelelahan, tetapi karena alasan lain.
Livia baru saja ke luar dari dapur setelah mengambil air untuk dibawa ke kamar ketika tiba-tibq dia melihat Danis datang dengan memapah Daniel yang setengah sadar.
__ADS_1
"Kenapa ini?" tanya Livia sambil menaruh gelas yang dia bawa di atas meja yang ada di sana. Dia kemudian menghampiri pasangan adik kakak itu dengan wajah khawatir. Livia takut jika sampai Daniel kembali drop seperti seminggu yang lalu.
Namun, begitu dirinya sampai di depan dua laki-laki itu, Livia mendengus kasar dengan perubahan wajah yang sangat kentara.
"Kalian minum?" tanya Livia dengan kening berkerut dalam sambil membawa kakinya satu langkah menjauh dari kedua laki-laki itu. Bau alkohol yang begitu menyengat itu sudah menjawab semua pertanyaan sekaligus menghilangkan rasa khawatir di dalam hatinya.
"Hanya dia! Aku enggak," geleng Danis cepat.
"Dasar pengecut!" hardik Livia dengan suara pelan yang masih bisa terdengar oleh Danis, walau samar.
Danis bahkan sampai melebarkan matanya saat mendengar perkataan lirih dari kakak iparnya itu, walau akhirnya dia hanya menghembuskan napas lelah ketika melihat Livia bernajak untuk ikut memapah Daniel dari sisi lainnya.
Mereka pun melanjutkan langkahnya menaiki tangga dengan Danis dan Livia mengapit Daniel di tengah keduanya. Tanpa Livia ketahui, Danis mengulum senyum saat mengetahui perhatian yang diberikan Livia pada sang kakak.
Perkataannya memang pedas, tetapi dia cukup peratian, sepertinya benar kata Mami, dia memang memiliki hati yang lembut, batin Danis.
"Makasih," ujar Livia setelah mereka berhasil membaringkan Daniel di ranjang.
Danis mengangguk sambil tersenyum walau napasnya masih saja memburu, setelah membawa tubuh lemas kakaknya menaiki tangga. "Aku ke kamar dulu," ujarnya berpamitan pada Livia.
"Hem," angguk Livia dengan tatapan mengikuti langkah Danis yang berjalan menuju pintu kemudian ke luar dari kamar.
Sepeninggal Danis, Livia kembali melihat Daniel dengan tatapan yang rumit, dia bersidekap dada tepat di depan kaki Daniel. Bayangan ketika dia menjemput Daniel dan Danis di klub malam tempo hari pun tiba-tiba berputar di ingatan. Livia bisa mengingat dengan jelas, bagaimana dia melihat keadaan Daniel yang hampir tidak sadar dengan banyak wanita malam yang mengelilinginya.
"Ck! Menjijikan!" decak Livia sambil berbalik kemudian berjalan kembali ke luar dari kamar untuk mengambil gelas air putih yang tadi dia tinggalkan di bawah.
Mengingat sikap Daniel yang seperti itu, membuatnya semakin yakin jika laki-laki yang dulu menjualnya ke lelang ilegal adalah Daniel. Livia mengepalkan kedua tangannya dengan tatapan lurus ke depan, dia seolah sedang memupuk kembali rasa dendam yang sudah mulai memudar.
Aku akan memubuatmu merasakan apa yang dulu kamu dan ayahmu lakukan padaku dan keluargaku!
__ADS_1