Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.42 Membasmi tikus


__ADS_3

"****!" Daniel yang baru saja hendak masuk di pintu kantin kini melebarkan mata ketika melihat kekacauan yang tengah dialami oleh Livia. Jaraknya yang masih cukup jauh membuatnya mustahil untuk sampai tepat waktu dan menolong Livia.


Daniel yang panik pun tanpa sadar mempercepat langkahnya hingga membuat Danis yang belum tahu apa-apa di dalam kantin pun terlihat terkejut dan ikut mempercepat langkahnya di belakang Daniel.


Namun, langkah Daniel tiba-tiba terhenti ketika dia melihat Livia dengan mudahnya melepaskan cekalan dua perempuan yang memegangi tangannya kemudian menepis tangan wanita yang memegang kopi, hingga air kopi panas itu kini berbalik menyiram wanita dengan rok span selutut itu.


"Akh! Panas!" Jerit wanita rok span itu sambil mengibaskan tangannya yang tersiram air kopi panas itu.


"Pak Daniel, Pak Danis?" Suara berisik dari beberpaa karyawan yang menyambut kedatangan


Daniel pun mengalihkan beberapa karyawan senior itu, mereka tampak mendekati Daniel dengan langkah centilnya.


"Pak Daniel, Pak Danis, tolong kami," ujar wanita dengan kutek berwana merah terang itu sambil berdiri di samping Daniel tanpa permisi.


Melihat itu Livia terlihat tak perduli, dia malah mengambil tisu kemudian memilih kembali membantu wanita berkacamata di sampingnya membersihkan kembali bekas jus yang membasahi rambut dan wajahnya.


"Ada apa ini?" tanya Daniel dengan nada datar sambil melirik Livia yang tampak tak perduli sama sekali dengan kedatangannya.


"M--mereka membully kami, Pak. Lihat tangan saya sampai tersiran kopi karena dia," adu wanita rok span sambil memperlihatkan lengannya yang tampak memerah karena tersiram kopi panas.


"Benarkah?" tanya Daniel dengan tatapan yang tak lepas dari Livia.


Beberapa perempuan itu pun terlihat tersenyum ketika melihat Daniel terus menatap Livia. Mereka kira Daniel sedang menahan amarah dan bersiap untuk menegur Livia.


Livia yang merasa terus ditatap oleh Daniel akhirnya berjalan menghampiri mereka sambil menggandeng tangan wanita itu agar berjalan bersamanya, sedangkan tangan satunya lagi di gunakan untuk mengambil hasil laporan yang dibuat oleh wanita berkacamata sebelumnya, kemudian menyerahkannya pada Danis.


"Lihat dulu, baru kalian berkomentar," ujarnya melirik Daniel sekilas.


"Kamu, bereskan barang-barangmu, kebetulan kami juga mau ke rumah sakit. Ayo kita berangkat bersama," ujar Livia beralih pada wanita di depannya.


"Sayang?" Daniel melebarkan matanya, dia tidak suka ada orang lain yang menumpang di mobilnya. Membiarkan Livia saja sudah cukup berat, dan kini wanita itu malah mengajak orang lain yang kotor dan penuh dengan jus untuk ikut? Tidak! Ini tidak bisa dibiarkan.


Memang siapa Livia? Kenapa dia bisa dengan seenaknya memerintahkan dirinya dan membawa orang lain naik kendaraan miliknya? Daniel kini mendesah frustasi. Dia tidak bisa bersikap kasar pada Livia karena banyak para pekerja yang sedang memperhatikan mereka. Hingga akhirnya kata 'sayang' lah yang ke luar dari bibirnya.

__ADS_1


Sementara itu, para wanita yang tadi mengadu pada Daniel dan memfitnah Livia kini tampak melebarkan mata dengan wajah yang mulai pucat, ketika mendengar panggilan yang diucapkan Daniel pada Livia.


"S--sayang?" gumam mereka dengan nyali yang mulai menciut.


Mendengar ucapan Livia ternyata bukan hanya Daniel yang panik, tetapi juga Danis. Adik iparnya itu bahkan tampak melambaikan tangan di belakang Daniel dengan wajah panik, dia memohon pada Livia untuk tidak membawa wanita itu ikut serta di mobil mereka dengan hanya menggunakan isyarat saja. Danis tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Daniel nanti, jika sampai itu akan terjadi.


"Dia akan memakai mobil kantor," putus Livia sambil menghembuskan napas pelan.


"Oke. Danis suruh orang untuk menyiapkan mobil," ujar sumering Daniel.


"Kalian juga boleh pulang dan tidak perlu lagi datang ke sini," sambung Daniel lagi dengan raut wajah berubah datar.


Setelah mengatakan itu, Daniel langsung mengambil tangan Livia lalu memggenggamnya dan membawanya berjalan bersama ke luar dari area kantin.


Livia menoleh ke belakang, dia tersenyum miring pada para perempuan yang tadi membuat masalah dengannya. Hingga membuat wajah para perempuan itu semakin dibuat terkejut oleh sikap Livia.


Tikus seperti kalian memang tidak pantas bekerja di sini, batin Livia.


Tentu saja semua itu menjadi perhatian banyak pekerja di kantor itu, hingga mereka tampak tak bisa lepas dari pemandangan langka itu, di mana bos mereka menggandeng tangan wanita di hadapan banyak orang.


...❤️‍🔥...


"Kita tidak punya bukti, jangan sembarangan menuduh orang," balas Livia kesal melihat Daniel yang mudah saja menuduh orang tanpa adanya bukti.


"Tidak perlu ada bukti juga aku sudah tahu kalau itu ulah dia, Livia!" Daniel yang sudah keburu dikuasai oleh amarah malah membentak Livia.


Kebetulan sekali, tadi sewaktu mereka menjenguk menejer itu, di sana ternyata ada polisi yang sedang menyelidiki kecelakaan yang menimpa menejer itu. Kini, mereka mengetahui kronologis kecelakaan itu dari CCTV jalan raya.


Livia menghembuskan napas pelan sambil menggeleng lemah. Dia tidak sakit hati dengan bentakan, hanya saja Livia merasa kesal karena Daniel yang begitu ceroboh dalam menuduh seseorang tanpa adanya bukti. Namun, melihat emosi Daniel yang sedang tidak baik, Livia memutuskan untuk tidak memperpanjang perdebatan di antara mereka.


Sementara itu, Danis yang sejak tadi fokus menyetir hanya melirik kilas pada pasangan yang kini tampak sedang bungkam itu, dia kemudian menghembuskan napas pelan, merasa lebih baik untuk diam dari pada membuka suara dan membuat situasi semakin runyam.


Sepanjang sisa perjalanan mereka lalui dengan keheningan. Semuanya hanya fokus pada pikiran mereka masing-masing tanpa ada yang mau membuka suara untuk memecah keheningan, hingga akhirnya Danis sudah berhasil menghentikan mobilnya di depan rumah.

__ADS_1


Daniel langsung ke luar dari mobil lalu berjalan masuk ke rumah lebih dulu dengan langkah cepatnya tanpa perduli sama sekali pada Danis dan Livia. Sementara itu, Livia tampak menghembuskan napas lelah saat melihat sikap Daniel yang masih saja dikuasai oleh emosi, kemudian memilih melirik pada Danis.


"Makasih, Danis," ujarnya yang langsung diangguki oleh laki-laki itu sebelum kemudian ke luar dari mobil bersama-sama.


Mereka baru saja melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah, ketika tiba-tiba terdengar suara gaduh dari dalam hingga membuat Livia dan Danis saling melihat dengan kerutan dalam di kening mereka, kemudian berjalan cepat untuk melihat apa yang terjadi di dalam sana.


...❤️‍🔥...


Daniel baru saja masuk ke dalam rumah ketika telinganya mendengar suara seseorang yang sedang berbicara. Dia menolehkan kepalanya ke sembarang arah, mencari asal suara yang membuat perhatiannya teralihkan.


"Julio, uang mama udah abis nih. Kamu bisa transfer lagi kan?" ujar Murti pada sang anak yang sekarang sedang berdiri di depannya.


"Gak bisa, Ma. Sekarang Daniel sudah memblokir semua kartuku. Aku juga bingung harus dapat uang dari mana!" jawab Julio dengan raut wajah kesal bukan main.


"Kamu pakai lah pekerjaan kamu di perusahaan. Ambil uang dari perusahaan itu sebanyak-banyaknya kalau perlu sampai Daniel bangkrut," titah Murti dengan santainya.


"Tidak pelru mama ajarkan juga aku sudah melakukannya. Tapi, masalahnya sekarang aku sudah tidak bisa lagi melakukannya," ujar Julio dengan hembusan napas kesal.


"Kenapa?" tanya Murti.


"Karena dia yang sudah melaporkan aku pada Daniel!"


"Sialan!" umpat Murti.


"Tapi, tenang Ma. Sekarang aku sudah memberi pelajaran untuk orang itu," ujar Julio lagi yang membuat Murti kembali menatapnya dengan penuh tanya.


"Benarkah? Kamu memang anak mama yang paling pintar!" seru Murti dengan wajah bangga. "Apa yang kamu lakukan padanya? Pastikan kamu melakukannya dengan bersih, agar tidak ada orang yang tau," sambung Murti lagi.


Julio tersenyum congkak saat mendapat pujian atas apa yang sudah dia lakukan. "Siapa dulu dong, Ma? Julio!" Julio menepuk dadanya berulang kali memperlihatkan kebanggananya.


"Iya, kamu memang an--Julio!"


Perkataan Murti tak lagi bisa diselesaikan karena kedatangan Daniel yang tiba-tiba dan langsung memukul wajah Julio hingga Julio terpelanting ke samping kemudian menabrak meja hias tidak jauh di tempat mereka berdiri.

__ADS_1


"Dasar bajingan! Berani-beraninya lo ngelakuin ini sama karyawan gue!" Daniel mencengkram kerah baju Julio dan mengangkatnya dengan paksa. Wajahnya mengeras dengan pembuluh darah leher yang menonjol dan tangan mengepal erat.


"Daniel!"


__ADS_2