Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.51 Bantuan tersembunyi


__ADS_3

"A--apa yang .... Livia?" Daniel terdengar gugup dan bingung harus bereaksi apa ketika merasakan pelukan Livia.


"Bersandar sama aku kalau kamu lelah atau sudah gak kuat lagi. Jangan lagi kamu menyentuh minuman keras itu ketika sedang terpuruk. Cukup datang kepadaku dan peluk aku," ujar Livia sambil memejamkan mata, sementara tangannya mencoba menepuk punggung Daniel pelan.


Astaga, apa yang sedang aku lakukan sih? Gak jelas banget, batin Livia merutuki dirinya sendiri.


Daniel mengerjap beberapa kali ketika mendengar suara lirih Livia, walau akhirnya perlahan dia melingkarkan tangannya di pinggang Livia dan membalas pelukan wanita itu. Dia kembali menumpukan dagunya pada pundak Livia dan menutup mata, mencoba mencari ketenangan dari tubuh wanita yang sudah sah menjadi istrinya beberapa bulan lalu.


Benar saja, perlahan kesedihan dan kemarah Daniel yang sejak tadi begitu bergemuruh di dalam hati, perlahan mulai hilang dan berganti dengan ketenangan. Dia mendapatkan itu dari pelukan hangat seorang wanita macam Livia yang masih banyak menyimpan rahasia darinya. Wanita yang awalnya hanya dia manfaatkan untuk membuktikan jika dirinya bukanlah penyuka sesama jenis. Namun, kini Livia malah membantunya mengatasi masalah dan menyembuhkan luka di dalam hatinya.


...❤️‍🔥...


"Terima kasih, Alisya. Karena kamu, aku berhasil meredam kemarahan dan kesedihan Daniel," ujar Livia sambil menatap ke luar melalui jendela yang menghubungkannya pada balkon kamar Daniel. Sementara laki-laki itu sekarang sedang berada di kamar mandi.


Ternyata sejak tadi Livia menggunakan earphone kecil di telinganya yang sengaja dia tutupi menggunakan rambut pendeknya. Livia bisa berkata manis dan mengontrol emosinya di depan Daniel, itu semua tak lepas dari jasa Alisya yang terus menenangkan Livia dan juga menuntun dia dalam menghadapi laki-laki yang tengah kacau seperti Daniel.


Ya, Livia memutuskan menelepon Alisya setelah merasa tidak akan bisa meredam amarah Daniel, apa lagi dengan emosinya yang sedang tidak baik juga. Akhirnya ketika dia berjalan di tangga, Livia pun menghubungi Alisya dan meminta bantuannya. Untung saja, dulu Livia pernah membawa earphone kecil yang tentu akan sangat berarti untuk dirinya di saat seperti ini.


"It's okey, kita itu saudara, jadi jangan sungkan untuk meminta bantuanku--" Alisya terkekeh pelan sebelum melanjutkan perkataannya.


"Adik," ujarnya dengan nada meledek pada Livia.


"Ish, aku lebih tua dari kamu dua tahun, lho, Alisya," protes Livia tak terima dipanggil adik oleh istri dari kakak angkatnya itu.

__ADS_1


"Tapi, kamu adik suamiku. Gimana dong? Jadi mulai sekarang aku akan panggil kamu adik," ujarAlisya tidak mau kalah.


"Tetap saja, aku labih tua darimu." Livia pun masih kukuh.


"Adik, hahaha!" Livia bisa mendengar dengan jelas suara tawa dari Alisya di seberang sana, karena sudah berhasil menggodanya.


"Ck! Terserah kamu saja. Dasar bucil," dengus Livia dengan senyum tipis di bibirnya. Sepertinya saat ini kakak ipar sekaligus sahabatnya itu sedang mencoba untuk menghibur dirinya. Dia mungkin tahu, jika Livia memang tidak suka pada semua yang berbentuk dengan kematian.


"Bucil? Apa itu?" tanya Alisya yang tampak asing dengan salah satu perkataan Livia.


"Ibu kecil. Kamu, masih kecil udah jadi ibu-ibu," jawab Livia singkat, yang malah membuat tawa Alisya terdengar dari seberang sambungan telepon.


"Sepertinya walaupun kamu terkurung di rumah itu, tapi kamu tau berbagai banyak hal, ya," ejek Alisya.


"Ya sudah, selanjutnya kamu lakukan sendiri, ya. Bye, Livia," pamit Alisya.


"Eum. Bye, My sister," angguk Livia sebelum kemudian memutuskan sambungan teleponnya bersama Alisya.


...❤️‍🔥...


Daniel terdiam di bawah guyuran air shower, bayangan setiap kebersamaan dengan kakeknya kini berputar kembali di ingatan. Kedekatan dirinya dengan sang kakek memang sudah ada sejak kecil. Karsa sebagai sosok seorang ayah untuk Daniel yang jarang berasa di rumah, membuat Daniel malah lebih dekat dengan kakeknya.


Walau, setelah Daniel beranjak remaja kakek dan ayahnya mulai menuntut Daniel untuk menjadi penerus selanjutnya. Mereka mengarahkan Daniel dan mengatur semua kebutuhan Daniel. Karena itu pun hubungan Daniel dengan kakek dan ayahnya pun mulai renggang.

__ADS_1


Daniel remaja yang sudah mulai memiliki ego dan keinginan sedniri pun memberontak, dia jarang masuk sekolah dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-temannya, hingga akhirnya kakeknya mengirim Daniel dan Danis untuk bersekolah di luar negeri.


Luciana yang tidak mau membiarkan kedua anaknya sendirian pun, akhirnya memutuskan untuk pergi bersama dengan Daniel dan Danis. Apa lagi, saat itu rumah tangganya sedang dalam masalah. Dia ingin menenangkan diri dengan alasan menemani Daniel dan Danis bersekolah.


Beberapa tahun lamanya Luciana menemani Daniel dan Danis di luar negeri, sampai sekiranya dia bisa meninggalkan kedua anaknya itu dan perasaannya pun cukup tenang. Akhirnya Luciana kembali ke Indonesia.


Sejak saat itu, hubungan antara Daniel dan kakeknya mulai memudar. Mereka tak bisa lagi sedekat dulu, bahkan hingga akhir hayat kakek Banu, mereka masih saja berseteru. Itu lah yang membuat Daniel kini sangat merasa bersalah atas kematin kakeknya. Dia menyalahkan sikapnya termpo hari yang tidak bisa mengontrol emosi dan membuat kakek harus dirawat di rumah sakit.


"Maafkan Daniel, Kakek," gumam Daniel lirih sambil menghembuskan napas kasar berulang kali, mencoba untuk meredakan sesak di dalam dada.


Setelah dirasa cukup medinginkan hati dan juga pkiran dengan air, kini Daniel beranjak menuju walk in closet untuk mengganti pakaian. Hatinya sudah lebih tenang sekarang, walau penyesalan itu masih ada, tetapi setidaknya dia sudah tak terlalu meratapi kematian kakeknya. Daniel sadar, jika kematian memang akan selalu datang kepada siapa saja dan kapan saja. Itu sudah pasti dan tidak akan bisa diubah, sekarang tinggal bagaimana orang itu menghadapi kematian, entah itu orang disampingnya atau pada dirinya sendiri.


Terpuruk dan meratap diperbolehkan, tetapi jika berkepanjangan hingga menghambat aktifitas, itu tidak harus terjadi. Sebagai orang yang masih hidup, tak seharusnya kita terus meratapi kepergian, tetapi bukankah lebih baik jika kita kembali bangkit dan menjalani hidup kita seperti biasa, agar yang meninggalkan pun tenang di alam yang berbeda.


Lagi pula, orang yang sudah tiada tidak akan kembali walau kita menangis darah sekalipun. Waktunya di dunia sudah habis dan terhenti. Dari pada harus terus meratap dan protes pada Sang pemilik hidup, bukankah lebih baik jika kita berdoa untuk orang yang lebih dulu kembali pada pangkuan Sang pencipta?


Meski berat, karena pasti akan ada kekosongan di dalam hati, tetapi berusaha menerima dan ikhlas tidak akan berakhir dengan sia-sia.


Daniel hendak membuka pintu ke kamar ketika mendengar suara Livia yang sednag berbicara, dia sempat tertegun di balik pintu. Mengingat semua rahasia yang masih belum terpecahkan olehnya, tentang wanita itu. Kini, Daniel memilih untuk mendengarkan, walau suara itu sangat terdengar samar.


"Dengan siapa dia berbicara? Kenapa nada suaranya terdengar hangat?" gumam Daniel dengan kening berkerut dalam.


Selama Livia bekerja di rumah ini dan akhirnya menikah dengannya, sangat jarang wanita itu berbicara dengan nada yang terdengar hangat dan santai seperti ini. Hanya satu orang di rumah ini yang bisa mmebuat Livia berbicara dengan nada seperti itu, dan itu adalah Mami Luci.

__ADS_1


Tak tahan dengan rasa penasarannya kini Daniel mulai memgang gagang pintu sambil perlahan memutanya.


__ADS_2